
Saat perut Rita sudah kenyang, bagiannya masih tetap banyak. "Aku simpan buat besok deh, kebetulan besok tidak perlu pagi datang ke sekolah," katanya berencana untuk menyimpan cakenya di kulkas.
Rita keluar kamar saat Alex terus menerus chat, menuju dapur. Rin ada di sana tengah menunggu suaminya untuk datang menjemput. Berpikir wajahnya akan dalam bahaya, Rita memutar otaknya lagi.
Rin melihat kedatangan Rita, dengan wajah yang bete dia sengaja mengambil piring kecil lagi. "Minta sini, kakak tidak kebagian kuenya. Anak-anak yang makan," katanya seenak mulutnya.
"Enak saja. Ini punyaku, kalau anak-anak kakak yang makan apa urusannya sama bagian ku? Diberi segitu protes, aku dengar sendiri kalau kakak tidak mau memakannya," kata Rita menjulurkan lidah.
"Kamu ini ya dasar adik tidak tahu adab! Kakak ini anak pertama! Kamu harus beri kakak potongan paling besar, adik macam apa kamu ini. Kamu itu posisinya di bawah ya bukan di atas! Kamu yang harus banyak mengalah. Jadi kalau Alex beri kamu apapun ya itu hak kakak!" kata Rin dengan nada yang sangat marah.
"Preeet," kata Rita tidak peduli dan hanya mendengus tidak mendengar apa kata kakaknya itu. Dia tidak jadi menyimpan cakenya karena takut dimakan seenaknya.
Rita mengambil Tupperware milik ibunya dan menaruh di dalamnya kemudian kembali ke kamarnya.
Rin sangat marah melihat tingkah Rita yang tidak peduli. "Aku akan laporkan pada ibu!" Ancamnya melipat tangannya.
Rita berbalik, "Memangnya aku takut? Silakan laporkan. Anak pertama pengecutnya bukan main huh!"
"Kamu ya!" Kata Rin menunjuk Rita.
"Apa?? Selama kakak terima cake ini, apa ada pikiran kakak untuk menaruh bagian suami? Ada?" Tanya Rita menatap meja makan.
"Itu bukan urusan kamu! Dia mana ada makan cake murahan begitu," kata Rin dengan nada jutek.
"Oooh iya ya aku lupa. Ini kan cake murahan terus kenapa memaksa untuk dikasih?" Tanya Rita membuat Rin terdiam tidak bisa membalas.
Rita kembali dan Ayahnya keluar sambil menggelengkan kepala. "Sudah! Sudah! Masalah kue saja masih terus dipermasalahkan! Kalau kamu mau ya beli bukan menuntut orang harus selalu kasih kamu!" Kata ayah dengan tenang.
Ibu menyadari bahwa anak pertamanya menjadi sangat egois perihal cake saja sudah buat kepala sakit. Ibu juga merasa bersalah karena salah terus memanjakannya dibandingkan Prita dan Rita.
Berharap Rin bisa menjadi harapan keluarga ternyata jadi salah semua.
"Nih, makan punya Ayah saja daripada kamu ribut terus," kata Ayah menyodorkan piringnya. Rin hanya menatap dengan nanar.
"Tidak boleh. Semuanya sudah sesuai bagiannya ini untuk Ayah," kata Ibu protes memberikannya lagi.
"Kan aku anak pertama, Ayah," kata Rin masih berdiri.
"Iya kamu anak pertama tapi tidak ada hak menuntut apa yang teman Rita berikan kepadanya, itu adalah hak kamu," kata Ayah mengambil nasi.
Rin menundukkan kepala.
"Lagipula sejak kapan milik Rita itu milik kamu? Kalau begitu berarti Alex juga punya kamu? Kamu tidak bisa seperti itu," kata ibunya mengambil kan sendok.
"Makan saja cakenya," kata Ayah.
"Tidak perlu, Ayah. Aku makan punya suami saja," kata Rin menuju lemari makanan.
"Ya Allah, Rin. Sekalinya kapan sih kamu beri makanan enak ke suami sendiri? Suami kamu kerja dari pagi sampai malam, pernah kamu sediakan dia minuman atau cemilan?" Tanya Ibunya melihat Rin mengambil bagian suaminya yang telah disiapkan oleh ibunya.
"Sudah sudah, biarkan saja. Akibat ibu selalu memanjakan dia jadi seperti ini. Ayah sudah bilang rata ke Prita, ke Rita sekarang bisa Rin jadi kakak teladan? Jauh!" Kata Ayahnya sambil makan.
Ibu terdiam mendengarnya tetap saja Rin memakan milik suaminya dengan nikmat. "Kamu itu sudah menikah! Sudah bukan anak kecil yang harus selalu diutamakan," kata Ibu menghela nafas.
"Dia kan bisa cari makan sendiri. Dia juga tidak keberatan," kata Rin memainkan krim hijau.
"Kamu itu sudah menjadi seorang istri. Kalau bisa cari sendiri buat apa dia menikahi kamu? Buat apa kamu memaksa dia yang saat itu masih kuliah untuk cepat menikahi kamu? Status untuk pamer?" Tanya Ayah menusuk hati Rin.
Rin hanya diam mendengarnya, ibunya tidak banyak komentar. Toh semua ga memang terbukti benar.
"Tujuan hidup kamu apa sih, Kak? Sampai sekarang Ayah rasa kamu masih saja iri dengki ke adik-adik kamu terutama Rita," kata Ayahnya sambil makan.
Untunglah anak-anaknya masih bermain di halaman rumah dengan Prita yang menyalakan kembang api. Ayah memakan cake itu dengan nikmat.
"Alex baik ya sama Rita. Apa ada bunga-bunga cinta?" Tanya Ayahnya senyum-senyum.
"Sepertinya begitu," kata ibunya membalas.
"Rin yakin itu hanya bercanda," kata Rin tidak ingin mengakui.
"Jangan iri. Laki-laki sudah beda niatnya kalau dia sampai mengirimkan cake selezat ini ke perempuan. Tapi... Rita pasti tidak tahu artinya ya," kata Ayahnya tertawa menggaruk dahinya.
"Dia kan memang tidak peka kalau dengan berlawanan jenis. Yah kita lihat saja ujungnya bagaimana," kata ibu tertawa.
Rin hanya diam mendengarnya. Awas saja kalau benar Rita dengan Alex, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi pikir Rin.
Mirip dengan pikiran Ney karena dari kakaknya lah Rita mampu melihat seberapa toxic kakaknya dan juga Ney. Benar-benar sama dari cara menghancurkan Rita sampai mengejeknya meskipun Ney sangat jauh dengan tabiat Rin.
Beberapa jam kemudian, datanglah suami Rin yang sangat kelelahan.
"Robi, makan dulu. Ayo," sambut ibu membukakan pintu dapur.
Robi mengangguk dan duduk mengusap wajahnya yang penuh keringat. Ayah kemudian pindah setelah menepuk bahu Robi menuju ruang tengah.
Rin masih duduk sambil memakan kuenya, suaminya memandanginya dengan senang.
"Kamu makan apa sih? Tampaknya enak," kata suaminya yang sudah duduk di kursi.
"Cheesecake," jawab Rin lalu menyodorkan piring itu ke suaminya.
"Wah, mau dong. Sudah lama tidak makan cake," kata suaminya ceria mengira bagiannya ada.
"Ya ini bagian kamu," kata Rin dengan wajah bodo amat.
"Jadi ini bagian aku? Astagfirullah! Kenapa kamu makan? Disisakan hanya satu sendok, Subhanallah sekali," kata suaminya menahan emosi dan mengambil lauk pauk yang ada.
"Ya bagian aku sedikit itu juga yang makan anak-anak," kata Rin tidak merasa bersalah.
"Terus tanpa ada perasaan dosa kamu makan LAGI bagian aku? Kapan kamu bisa mikir ya aku kerja banting tulang, selelah ini! Kamu siapkan aku makanan enak. Kamu ingin gaji aku besar tapi tidak pernah memikirkan aku. Subhanallah sekali kamu itu sebagai istriku," kata Robi dengan suara jutek.
"Si Rita tuh bagian dia lebih besar dari kakaknya sendiri. Kamu marahin saja Rita," kata Rin menatap kukunya yang masih pendek.
"Urusan aku sama Rita apa? Kalau tahu seperti ini kamu sekalian tidak usah sisakan untuk aku," kata suaminya mulai makan dengan kesal.
Bersambung ...