
Saat asyik mengobrol soal rencana setelah lulus dan rencana mendaki gunung, tiba-tiba saja mereka berlima ikut ke dalam lingkaran.
"Duh, kaget!" Kata Diana mengelus dadanya.
"Kalian sudah diberitahu oleh Rita? Dia habis putus sama bule Malaysia. Kasihan ya," kata A dengan semangat.
Mereka berdua menatap A dengan pandangan sangat menyebalkan.
"Dari wajah kalian pasti dia belum beritahu ya? Katanya sahabatan kok mereka belum tahu sih?" Tanya B dengan mengejek.
Rita hanya memandangi mereka bergantian. Koma sudah jutek dan Diana tidak menjawab.
"Kalian harus hati-hati berteman sama dia. Aku yakin dia ini Playgirl," kata C dengan sok tahu.
Anehnya mereka tidak malu terus menjelekkan Rita di hadapan mereka. Rita juga bingung kenapa mereka berlima mengusik dia setelah Ney.
"Pindah yuk," kata Koma mengajak.
Diana dan Rita setuju, mereka berdiri bersamaan sudah tentu mereka berlima pun mengikuti. Mirip Ney tapi versi junior yang sangat kurang ajar!
Mereka berlima membuat kode untuk terus mengikuti sampai akhirnya Rita dan Koma melihat wajah merah padam Diana.
"Sudah Na, jangan dibalas," kata Koma berusaha menahan.
"Minggir, tenang aku akan atasi mereka dengan santai," kata Diana.
"Bagaimana nih?" Tanya Koma ke Rita.
"Dia sudah marah begitu, kita lihat saja," jawab Rita.
"Kalian!" Kata Diana dan mereka berlima berhenti dengan cara yang sopan.
"Ya? Jadi bagaimana kalau..." kata A kemudian dipotong oleh Diana.
"Apa sebegitu pentingnya koar-koar soal urusan orang? Saya, Bu Koma dan Rita adalah sahabat dekat jadi tolong ya jaga mulut kalian!" Kata Diana dengan wajah yang mendekati mereka.
Mereka diam, ketakutan begitu juga dengan Rita dan Koma.
"Sudah yuk, biarkan saja mereka kalau mencoba mendekati kita lagi. Aku tonjok wajah kalian satu satu," kata Diana dengan galak.
"Kok kamu mau sih jadi sahabat dia? Putus sudah pasti karena dia selingkuh," kata E menatap panas ke arah Rita.
"Wah kurang ajar memang," kata Rita namun ditahan oleh Koma.
Diana mendorong bahu E sampai mundur dan hampir jatuh. "Heh! Rita itu bukan playgirl seperti yang kalian pikir ya. Dia anaknya rajin tidak seperti kalian yang hobi menumpuk pekerjaan sampai kena potong gaji,"
"Ap..pa sih?" Tanya E yang agak melangkah mundur.
Keempatnya pun sama mereka tidak berani melawan karena badan Diana yang agak besar.
"Apa kabarnya dengan pekerjaan kalian selama sebulan belum kelar?" Tanya Koma.
"Kenapa kalian bisa tahu? AH!" Kata B menunjuk ke Rita.
Rita menjulurkan lidahnya pada mereka. Beberapa anak tertawa syukurnya mereka jauh dari para guru.
Setelah itu mereka bertiga pergi dan mereka berlima menyebarkan kabar tersebut ke beberapa guru dan staf.
Termasuk pada orang tua murid, entah apa yang membuat mereka begitu tertarik menyebarkan kabar soal Rita.
Yang akhirnya kena semprot lebih keras dari Bu Dewi karena mendapat laporan dari sebagian orang tua murid.
"KALIAN SEMUA BERSIHKAN KAMAR MANDI!" Teriak Bu Dewi, mereka kemudian harus kena hukuman lagi sambil menggerutu.
"Bu, pecat sajalah mereka berlima itu," kata Orang tua Nia.
"Iya bu, mereka tidak sopan daripada bekerja malah sebar gosip," kata Bu Anna sangat sebal.
"Mereka tidak pro sebagai staf sekolah pantas saja tugas anak-anak banyak yang belum selesai. Mereka lelet!" Protes Bu Ananda.
Para orang tua murid memberikan gugatan kepada mereka sebagai staf yang pantas dipecat saja.
Bu Dewi jadi pusing, mana kakaknya sedang ada kegiatan di luar kota. Alhasil sambil membersihkan kamar mandi, Bu Dewi secara membabi buta memarahi mereka.
Mereka menyesal dan tidak akan mengulanginya kembali.
Selesai istirahat mereka semua kembali ke kelas masing-masing. Secara tidak sengaja Rita melihat Asma yang memasuki ruang kantor.
"Hei, Asma sudah datang dong," kata Rita melambaikan tangan ke lantai dua.
"Oh ya? Sekarang di mana?" Tanya Diana.
Rita memperlihatkan chat dalam hpnya dan mereka berdua mengerti.
"Terus sekarang dia ada di mana?" Tanya Koma dalam ponselnya.
"Dia ada dalam kantor kan harus diuji dulu dan di tes," balas Rita yang juga penasaran.
"Kita tunggu saja nanti kalau sudah keluar. Sekarang kita harus mengajar lagi," kata Diana ditimpali Koma dengan emoji jempol.
Sekitar satu jam Rita terus melirik ke arah jendela tapi kenapa Asma belum juga keluar?
"Kok lama ya? Masa iya langsung tes hari ini juga?" Tanya Rita merasa aneh kemudian kembali bekerja.
Mereka berlima memandangi Rita dan hanya menghela nafas sambil kembali bekerja. Rita berbalik, tumben.
"Tumben kalian hanya diam," kata Rita.
"Kita baru di marahi dan di ancam juga," kata A dengan datar.
"Ya baguslah," kata Rita kembali mengetik laporan.
Tanpa sepengetahuan Rita, Asma keluar dari kantor dengan buru-buru dan tersenyum. Asmi ternyata berada dalam kantor bersama Bu Dewi. Wajahnya agak pucat dan bingung.
Rita bersandar dan tertidur karena dia kekurangan jam tidur di rumah. Beberapa menit kemudian alarm hpnya berbunyi, dan dia menggeliat.
Tepat saat itu juga Asmi memutuskan untuk masuk ke ruang Rita dan mencarinya. Asmi datang sambil membawa beberapa buku tabungan anak-anak.
"Iya, ini memang untuk tugas dia," kata Asmi dengan tidak semangat.
"Ada apa, Bu?" Tanya Rita melihat wajahnya pucat.
"Bagaimana ya? Aku tidak enak mengatakannya, aku yakin Bu Rita bukan orang yang seperti itu," kata Asmi membuat Rita heran.
"Ada apa sih? Jangan buat aku takut. Cerita," kata Rita memegang tangan Asmi.
Asmi menarik nafas dan mengangguk, "Tadi ada pelamar kan yang datang dia langsung diwawancarai oleh Bu Dewi," katanya.
"Iya terus?" Tanya Rita.
"Kata Bu Dewi, orangnya sopan," kata Asmi agak diungkapkan secara lamban.
"Aduh Bu Asmi ini, katakan saja terus terang," kata Rita jadinya tidak sabaran.
"Aku bingung sih mendengar info dari pelamar itu tapi Bu Rita jangan marah ya. Ini aku dengar sendiri dari orangnya," kata Asmi menatap Rita.
Rita mengangguk.
"Bu Dewi lalu bertanya dari siapa dia tahu ada lowongan disini. Pelamar itu bilang ada staf yang kirim info tapi tidak tahu siapa," kata Asmi menatap Rita.
"Oo whaaat!?" Tanya Rita kaget. Dia yakin itu pasti Asma! Sangat marah sekali Rita.
"Dia bilang lagi staf itu memaksa dia untuk bekerja disini. Masalahnya Bu Dewi melihat dia kuliah di mana, sama dengan Bu Rita kan," kata Asmi.
"Hah!? Memaksa? Nama pelamar itu siapa? Perempuan kan, pakai hijab?" Tanya Rita mengepalkan tangannya.
"Iya Bu Rita. Namanya Asma!" Kata Asmi.
JDENG!
Rita serasa kena timpuk batu bata! Pastilah tuh anak yang sering melakukan ini kepadanya. Dari karyanya yang diambil, sekarang pekerjaan?
"Dia bilang ada yang mengiriminya tapi tidak tahu? Lalu kenapa dia bilang orang itu memaksa?" Tanya Rita sebal.
Asmi mengangguk, dia tahu Rita pasti akan meledak. Rita menatap mereka berlima yang seakan ingin mencuri dengar dan mengajak Asmi ke pojok kan.
"Kita bicara disini saja. Mereka ingin curi dengar," kata Rita memberi kode pada Asmi.
"Jadi Bu Asmi percaya memang aku memaksa dia?" Tanya Rita.
"Tidak, aku percaya tidak mungkin Bu Rita memaksa dia. Asma bilang nama orang itu Rita yang bekerja sebagai staf," kata Asmi.
"Ya Allah! Itu orang kenapa sih? Masalah dia apa coba sama aku ini? Aku kan niatnya baik ajak dia kerja," kata Rita menonjok dinding karena marah.
"Ibu ada bukti?" Tanya Asmi.
"Aku menelepon dia, Mi," kata Rita menyesaaal.
"Yahh.. kalau bu wakil yang biasanya pasti percaya kan. Ini Bu Dewi gitu lho," kata Asmi yang lemas juga.
"Uh! Tahu akan begini tidak akan aku tawari kerja deh. Lalu Bu Dewi bagaimana reaksinya?" Tanya Rita sudah pasti marah sih.
"Ya marahlah kan aku ada di situ. Aku sudah bilang mana mungkin bu Rita memaksa Asma masuk kesini tapi tidak dipercaya," kata Asmi.
Setelah itu Bu Dewi memanggil Rita dan Asmi cemas. Rita menghela nafas dan bersiap untuk yang terburuk.
"Bu Rita ini bagaimana sih!? Masa memaksa orang lain bekerja disini! Kan saya bilang tanyakan bukan memaksa!" Kata Bu Dewi memarahi Rita.
Rita hanya menunduk, dalam hati dia mengutuk Asma yang jahat sengaja membuatnya alamat dikeluarkan.
"Saya hanya menawari dia saja Bu. Dia kemarin bilang mau mencoba melamar ke sini tapi saya tidak menduga, dia bilang aku yang memaksa," kata Rita.
"Kamu telepon dia?" Tanya Bu Dewi.
Rita mengangguk.
"Saya tidak percaya perkataan kamu! Awas saja kamu kalau hal ini terjadi lagi, sana kerja!" Bu Dewi menyuruh Rita keluar.
"Asma, awas kamu!" Kata Rita sangat marah.
Asmi keluar, "aku turut berduka,"
"Aku belum mati, Mi. Di sentak dengan kasar, aku setuju dengan mereka berlima. Semoga wakil kepala sekolah cepat kembali," kata Rita.
"Ternyata hampir semua orang benar-benar kena damprat Bu Dewi ya," kata Asmi.
"Semua? Bahkan guru?" Tanya Rita menganga.
"Iya semuanya! Termasuk ibu kantin dan ibu tukang bersih-bersih," kata Asmi.
"Haaah? Tapi kok tega sekali ya caranya begitu apa dia cari kesalahan?" Tanya Rita berjalan menuju ruangannya.
"Soal Asma ini, memangnya Bu Rita tidak tahu karakternya bagaimana waktu kuliah?" Tanya Asmi.
"Tahu tapi tidak menyangka dia sampai melakukan hal ini sama aku. Sudah kena teror perempuan aneh sekarang Asma. Sial deh!"
Mereka berlima benar-benar tidak ada yang mengejeknya, dan memang benar apa kata Asmi semua guru pun kena.
Bahkan Diana dan Komariah juga yang selalu bersikap sopan pada Bu Dewi. Mereka berdua hanya mengatakan iya iya saja dan membuat Bu Dewi kesal sendiri.
Istirahat kedua datang mereka berempat duduk di sebuah tepi kolam renang membicarakan Bu Dewi.
"Bu Dewi itu orangnya seenaknya sekali ya," kata Diana sambil makan makaroni.
"Bu Diana kena marah juga? Karena?" Tanya Asmi.
"Alasannya aneh, setiap Bu Dewi bertanya aku memakai bahasa dengan logat yang aneh. Rita! aku dibilang aneh dong," kata Diana agak kesal.
"Hah? Hanya karena itu?" Tanya mereka bertiga menatap Diana.
"Iya lah. Logat aku kan memang begini, Palembang kan. Terlihat dia tidak suka logat aku tapi kata anal-anak malah lucu," kata Diana tertawa.
Bersambung ....