MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
64



Malam tiba, grup chat dalam ponsel Ney bernyanyi, dia melihat beberapa ada yang menanyakan kabar paketnya. Temannya memang ada yang sejalur tukang kepo.


"Ney, bagaimana kabar paket kamu?" Tanya A.


Dengan malas Ney membalasnya, "Jangan tanya deh,"


"Lho, kenapa?" Tanya A.


"Aku tidak tahu paketnya dia terima atau tidak," balas Ney.


"Kok bisa begitu? Pikirkan saja kalau paketnya sudah di terima," kata Bell, anggota lain.


"Supaya kamu tidak terus kepikiran soal paketnya. Kita juga yang baca chat kamu jenuh ya. Maaf saja kalau beberapa orang tidak membalas," kata Anita.


Ney diam, dia terlalu sering membicarakan masalah Rita. Pantas dia merasa banyak sekali yang tidak berkomentar.


"Kata CS GoSay paketnya sudah sampai tapi orangnya tidak ada di rumah. Jadi dia masukkan begitu saja ke dalam," balas Ney.


"Kamu kirim apa sih?" Tanya Varinka.


"Kue nastar dengan hiasan cokelat," balas Ney.


"Mungkinkah sudah dia terima tapi dibuang? Kamu tidak kepikiran?" Tanya Safa.


Ney kaget ya mungkin saja. Dia tidak terpikirkan ke arah sana, tapi masa iya sih?


Teringat apa kata suaminya tadi malam mengenai kemungkinan kue yang dia lihat di ig Rita.


"Menurutku itu kiriman dari orang yang suka dia deh bukan Arnila. Habis romantis sekali dengan bunga tulip,"


Yang membuat Ney berpikir, dalam hidupnya memang Arnila tidak pernah mengirimi orang kue semacam ulang tahun.


Apalagi bentuknya mirip buket bunga, meski dalam versi cake.


Kalau Alex dia terima, lantas kenapa dari Ney, Rita buang? Ney tahu dia selalu ditolak. Tapi ada rasa penasaran ingin terus mencoba.


"Masa dibuang? Kan isinya makanan, dosa dong," kata Ney meski ragu.


"Tumben kamu tahu dosa. Itukan hak dia mau terima paket kamu atau tidak," balas Varinka.


"Iya juga sih tapi masa sih dia tidak bisa lihat niat aku yang baik ini. Aku hanya ingin dia terima pemberianku dan siapa tahu.. ya, bisa dekat lagi," kata Ney.


Beberapa menit tidak ada yang membalas, mereka lebih memilih sibuk dengan kegiatan mereka.


"Aku sih setuju dengan pendapat Arfa. Kamu sudah sakiti dia sepenuh hati, jadi lebih baik mulai lupakan," kata Varinka lagi.


Yang membalas hanya Varinka, Safa atau Bell yang kadang-kadang menjawab.


"Aku bertanya ke Feb juga tidak ada balasan," kata Ney terus menatap ponselnya.


Beberapa anggota sudah malas membaca segala soal Rita dan paket. Tidak ada obrolan lain apa ya?


"Aku tuh heran ya sama kamu, kenapa sih bersusah payah mengejar orang-orang yang tidak suka kamu, atau yang sudah kamu sakiti?" Tanya Anita.


Dia termasuk yang tidak menyukai Ney, hanya terpaksa diterima karena ketua membiarkannya.


"Ya aku berusaha untuk bisa jadi orang yang mereka sukai, Nit. Memangnya salah?" Tanya Ney.


"Usaha kamu agar dilihat baik itu sangat menyebalkan. Karena meski kamu berusaha agar diterima tapi sifat alami kamu, membuat semua orang tercerai berai. Jadi lebih baik berhenti berusaha deh!" Balas Anita.


"Aku, Safa, Anna lebih bisa menghargai kamu lho. Tapi kamu merendahkan Safa, mau berubah jadi orang yang bisa kita terima. Apa bisa? Ruqyah dulu deh sana," kata Varinka.


Karena sebal Ney memilih tidak membalas. Rita dan Arnila juga pernah menyuruhnya untuk ruqyah karena menurut mereka, ada penyimpangan.


"Soal penerawangan, aku pikir kamu hack orang-orang deh. Karena kata Arfa kamu sama sekali tidak punya kemampuan begitu," kata Anna muncul.


"Iya aku tertipu cuy dari kata-katanya itu dulu. Sampai aku ditinggalkan kekasih," anggota lain menyapa.


"Apa yang dia ucapkan jauh berbeda dengan kenyataan," kata Feb.


"Aku tidak hack Rita ya. Buat apa aku mencemaskan dia segala toh dia akan kembali lagi sama aku," balas Ney kesal.


"Rita? Memangnya kita bicarakan soal dia? Lihat kan otak kamu penuh sama dia. Orangnya saja pasti sedang senang-senang tanpa kehadiran kamu," kata Safa tertawa.


"Bagaikan cinta hanya sepihak ya," komen yang lainnya.


Di sisi lain, terdapat grup chat lain yang berisikan semua orang tanpa adanya kehadiran Ney.


"Kita aktif di grup ini saja yang tidak menyukai dia awalnya keluar. Sekarang mereka gabung lagi setelah meminta aku buat grup lain," kata Mira sang ketua. Ketua sebelumnya di keluarkan karena arah grup menjadi tidak jelas.


Semuanya senang dan bernafas lega.


"Kalau memang Mira juga terganggu, kenapa dia tidak dikeluarkan saja?" Tanya Anna ikut muncul.


"Kasihan. Biarkan dia hadir di grup satunya. Kamu, Anna kenapa gabung kemari? Jangan sampai aku tahu kamu bocorkan," kata Mira.


"Tenang, aku malas lah tema dia soal teman Bandungnya terus, kalau ada topik juga ujungnya melenceng," balas Anna.


"Aku kira kamu dekat sama dia," kata Feb.


"Mana ada. Hanya sekedar kenal saja," kata Anna.


"Entah kenapa semenjak dia gabung, makin banyak cerita yang terlalu melambung tinggi," kata Anita.


"Kita tahu dia itu tidak pernah mau kalah, jadi biarkan dia sesuka hati di grup sana," kata Mira senang.


"Dia senang menghasut orang ya Feb?" Tanya Anita.


"Yahh begitulah. Kalian lihat sendiri kan yang lalu. Dia yang buat masalah, aku yang disalahin," kata Feb.


"Kok kamu mau sih jadi perantara dia?" Tanya Varinka.


"Aku kira dia serius beli karena aku satu-satunya yang tidak datang ke pernikahannya kan," kata Feb.


"Yang namanya Rita itu aku dengar tidak dia undang. Tapi sepertinya sulit ya memanfaatkan dia karena sudah tahu aslinya," kata Anna.


"Oh iya! Rita kalau meledak atau super marah, mengerikan. Makanya dia tidak akan berani. Jadi aku sasarannya," kata Feb.


"Dari cerita kamu Rita ini memang kritis dan fatal. Salah sedikit strateginya, kalau dia penasaran kebongkar semua. Dia banyak mikir sebenarnya," kata Arfa.


"Iya benar. Soal paket saja dia tidak percaya bedak itu salah kirim, ketahuan kan," kata Feb.


"Kamu pernah bertemu dia kan?" Tanya yang lain.


Feb tahu semua orang pasti penasaran namun dia sembunyi kan, biar mereka berusaha sendiri.


"Rahasia," kata Feb.


"Curang," kata yang lainnya.


"Aku sudah tahu juga," kata Sana.


"Kok bisa?" Tanya Feb.


"Aku kemarin ke Bandung dengan Ney. Tanpa sengaja kami bertemu Rita itu tapi dari jarak super jauh sih," kata Sana.


"Kenapa kamu tidak hampiri? Tanya," kata Anita.


"Hampir tapi ditahan sama dia. Terlihat sih wajahnya agak takut bagaimana memang masalah dia belum selesai mungkin," kata Sana.


"Mana ada masalah selesai sama dia, Na. Kita sudah tahu ya masalah dia dengan 10 orang disini tidak ada jalan keluarnya," kata Anita.


"Iya juga. Aku sudah beri nasehat, aku lihat orangnya bahagia saja, dia baik-saja tanpa kehadirannya," kata Sana.


"Ya pasti itu mah. Semua orang akan baik-baik saja bila tidak ada pertemuan sama dia. Tukang onar kan," kata Anna.


"Anna agak mirip Rita makanya Ney agak tidak berani membantah. Cerewetnya, agak-agak islami kan," kata Feb.


Semuanya heboh dan Anna hanya tertawa. "Yang mirip, sama karakter banyak! Tergantung sekitarnya juga kan,"


"Aku penasaran. Kapan-kapan aku pasti akan menemui Rita ini dan meneliti seperti apa orangnya," kata anggota lain.


"Kalau diajak kenalan sombong tidak?" Tanya Arfa.


"Tidak, biasa dia mah tapi paling tidak suka kenal sama orang yang nyerocos banyak. Dia juga perlu cerna orang yang mau kenal," kata Feb.


"Hmmm jadi biasa aja ya," kata Anita.


"Ya memang biasa yang menonjol itu hanya fisiknya," kata Sana.


"Eh!? Kamu dari jarak jauh bisa sampai melihat? Bawa teropong ya?" Tanya Safa.


"Mata dia kan normal kali," kata Bell tertawa.


"Hahaha sebutkan ciri-cirinya," pinta yang lain.


"Kalau soal fisik itu jauh sekali. Kulitnya kuning langsat, bukan putih tapi bersih," kata Sana.


Tidak ada yang membalas, mereka semua membayangkannya. Yang dahulu disebutkan tinggi semampai, kini kulit kuning langsat bersih.


"Ya ampun lalu dia bully orang itu? Apa tidak salah? Sepertinya aku jadi tahu alasannya," kata Arfa.


"Bully secara verbal dari ucapan itu kan lebih sakit sekali daripada fisik. Ucapan itu bisa membunuh karakter seorang anak, banyak kan kasusnya," kata Sana.


"Iya iya mau perundungan jalur apapun juga itu tetap salah. Ada kemungkinan dia merundung Rita karena kelebihannya membuat dia insecure," kata Arfa.


"Aku setuju," kata Safa. Semuanya setuju dan tertawa.


"Padahal Rita sendiri orangnya tidak percaya diri karena badannya tinggi. Alih-alih cuek malah menyerang Rita," kata Feb.


"Ya memang salah lawan dia tidak bisa melihat penampilan orang. Memang urakan kan sebutan dia semasa SMP juga," kata Varinka.


"Hah!? SMP di Bandung kan? Ya pastinya sih," kata Feb berpikir.


"Dia cerita sampai menyumpahkan Rita akan menyesal sudah jauh dan pergi dari dia. Dia katakan itu pada Rita langsung, benar-benar tidak tahu malu," kata Sana.


"Dia ada cerita sama kamu? Lalu Ritanya balas apa?" Tanya Anita.


"Dia berikan isi chat, 'Dalam duniaku tidak ada namanya kembali pada orang beracun. Tidak akan ada lagi penyesalan. Kalaupun ada, kamu yang akan menyesal.' Aku sampai tepuk tangan," kata Sana.


"Parah kamu!" Kata semuanya tertawa.


"Tapi benar kan terbukti dong apa kata dia. Ney sendiri kan yang mendatangi dan berusaha hubungi dia," kata Feb.


Bersambung ...