
Kepalanya berdengung dengan keras, seperti menaiki komidi putar membuat Alex mual.
Kenyataan pahit baru dia sadari yah karena kebodohannya. Padahal dia lebih banyak melihat orang yang palsu kenapa melihat Ney malah jadi aneh?
Mempercayai orang yang salah, ya terlalu bodoh makanya begitu deh.
Ney sendiri tertawa keras sambil menahan perutnya yang sakit. Apa yang Alex kirimkan memang betul, dia kini berusaha keras kembali pada Rita.
Arnila yang dikatakan oleh Arita sebagai informan, memang Alex sudah sadari itu.
Itulah alasan Arnila memutuskan untuk benar jauh dan meninggalkan Ney. Kali ini, semua tipu muslihatnya tidak akan pernah mengena.
Banyak di manfaatkan, ditipu sampai kebohongan. Apa yang Rita ceritakan, Ney akan membuat kebalikannya.
Kisah Rita tentu ada yang dia ungkapkan sebagai kisahnya namun, semua orang yang sudah hafal akan kelakuannya, sama sekali tidak peduli.
Mengenai kasus Bedak dan paket serta hokben adalah kesengajaannya. Dia tentu berkisah salah kirim, namun sebenarnya sengaja.
Sejak Rita kenal Ney, dia sama sekali tidak pernah mendapatkan paket atau sekedar kado saat ulang tahun.
Tidak pernah ada. Jadi kiriman dia yang sekarang, jelas ada tujuan lain. Ingin dikenal sebagai teman baik, sahabat, orang baik.
Sayangnya isi otak dia ber pantulan terbalik dengan kelakuannya. Jadi bukannya dapat yang sesuai keinginan, malah dijauhi bahkan ditinggalkan.
Yang Rita terima pun, dihancurkan oleh pisau dapur intinya itu adalah peringatan keras. Beserta lainnya, Rita ogah dan jijik menyentuh apapun.
Kalau memang dirinya dia katakan jahat, apa susahnya sih pergi kek. Makanya Rita sampai hapus permanen email, tutup akun PB, menggembok ig nya karena Ney selalu nekat. Termasuk soal nomor.
Nomor dahulu Rita pun masuk dalam teror Ney yang akhirnya dia bakar dan dua tahun tenang tanpa kehadiran.
Memang dasar Alex pikasebeleun! Gara-gara dia buat grup, kembali di teror. Dan Rita pun terpaksa mengganti kembali.
Kali ini pun Rita menghapus semua hal mengenai Alex termasuk barang pemberiannya. Dia berikan pada orang yang membutuhkan, dan tidak peduli meski barangnya mahal!
Rasakan kamu!
Alex tidak kuat, dia teringat kembali apa kata Arnila yang dia akui bahwa Ney bukanlah sahabat atau teman dekatnya.
Dirinya pun sangat sama nasibnya dengan Rita, hanya bedanya Rita selalu menolak keinginan Ney.
Bahkan saat Ney terang-terangan mengancam Rita. Rita sengaja kirimkan pada Alex, dan Ney kena damprat.
Tak sepatutnya seorang teman mengancam temannya sendiri. Tapi memang perangai Ney mirip badak ya, tebal rasa.
Dia anggap itu hanya angin lalu, yang membuat poinnya semakin turun drastis, bahkan sampai minus nol persen bagi Rita.
Alex jatuh pingsan, dalam sekilas dia meminta maaf pada Arnila. Menangis menyesal tidak mau mendengar apa kata Arnila waktu itu.
"Orang yang selalu setia kepadaku tetap ada, Alex. Dan Ney bukanlah sahabat aku. Sama dengan Rita yang mengatakan Ney bukan sahabatnya. Memang dia bukan sahabat kami berdua,"
Itulah yang dikatakan Arnila terakhir setelah akhirnya benar-benar tidak ada di mana pun.
Ada dong tapi sudah muak dengan Alex dan Ney, yang menurut Arnila mereka sebelas dua belas. Jadi cocok kalau sebagai sahabat karena sama-sama rusak.
Alex jatuh ke lantai dan darah yang keluar dari hidung dan telinga. Jasmine yang masuk memeriksa, berteriak histeris.
Saat beberapa orang datang, dia mengambil ponsel Alex yang menyala. Pikirnya pasti Rita, tapi bukan! Ney! Orang yang pernah Rita kisahkan kepadanya.
Dia membaca semuanya, dan sangat geram. Kedua matanya menyiratkan energi merah membara. Mirip api naga.
Di tempat lain, Ney merasakan ketegangan yang luar biasa. Dia merasakan firasat bahaya yang mencekam.
Ke depannya ada resiko terbesar dari ulah dan kelakuannya yang harus dia terima.
Kita pindah...
Kazen terus menerus melakukan pendekatan secara perlahan. Waktunya masih banyak dan tidak membuatnya buru-buru.
Dia menikmati proses, begitu juga dengan Rita yang mencoba sekali lagi membuka hatinya untuk Kazen.
Rita agak malu dengan kondisinya tapi tidak masalah bagi Kazen. Diana dan Komariah juga sangat mendukung, dan mereka berpamitan untuk pulang sore harinya.
"Kalau begitu, kami duluan ya. Aku ada rapat," kata Kazen yang agak kecewa.
"Iya. Hati-hati," kata Rita.
Seren tentu saja membungkus semua makanan tradisional tanpa membagi pada kekasih dan sahabatnya.
"Nanti kita telepon lagi ya," kata Kazen dengan wajah malu.
"Iya," jawab Rita yang juga malu apalagi sahabatnya menggoda.
Mereka pergi dan bertiga duduk di teras. Mengobrol soal Kazen sedikit lalu membahas Asma.
"Kapan kalian ke sekolah?" Tanya Rita yang duduk pelan.
"Tadi sebelum kita selidiki nomor Kazen. Kasihan lho Rita, asli," kata Koma.
"Dia dimarahi pengawas dibilang tidak becus bekerja. Wajahnya merah dan dia terus menangis," mata Diana.
"Kamu tidak membantu, Na?" Tanya Rita.
"Habis, dia sama sekali tidak minta maaf kan?" Tanya Diana.
Rita memberikan ponselnya sebagai bukti. "Jadi belum beres?"
"Yang kita dengar sih dia tidak sempat kerjakan. Ya mana mungkin juga dia mampu, Rita. Banyak sekali!" Kata Koma.
"Belum ada pengakuan dari Asma?" Tanya Koma.
"Tidak ada," kata Diana.
"Memang dia keterlaluan sekali aku juga malas membantunya kalau dia masih belum mengaku," kata Rita.
"Iya aku mengerti Rita, kali ini sudah keterlaluan. Biarkan saja dia menikmati hasil usahanya, kan untuk menikah," kata Diana.
"Dua kali ya semester ini berbuat curang ambil karya kamu," kata Koma.
"Pantas dia belum lulus. Aku ikut lomba saja dia ikut eh tidak tahunya jadi hak milik," kata Rita menggelengkan kepala.
"Dia tidak ada rasa kreatif sih untungnya bukan orang yang menjiplak skripsi," kata Diana.
Selagi mengobrol, Ibu datang dengan biasa. "Rita, kapan kamu mau potong kuenya?"
"Ya sudah," kata Ibunya pergi.
"Ibumu agak berubah ya?" Tanya Diana.
"Ya semenjak ibuku sadar disukai laki-laki kaya kali. Awal Alex, sekarang Kazen," kata Rita.
"Hahaha bisa jadi sepertinya tidak terduga ya nasib kamu bertemu yang berondong tapi tajir," kata Koma.
"Sepertinya karena hal itu deh yang membuat si haters iri sekali," kata Diana.
"Iya memang itu. Kan dia kalau lihat orang dari kaya atau tidak. Tapi akhirnya kena getahnya sih, yang dia remehkan eh ternyata orang kaya," kata Rita.
Mereka mengobrol sebentar kemudian pamit karena sudah pukul lima sore. Rita masuk dan melihat cake dari Kazen.
Karena kuenya memang hanya untum Rita, jadi ukurannya ya memang agak kecil. Semuanya dapat hanya bentuknya seadanya.
"Rin jangan diberitahu. Karena bagiannya harus banyak," kata ibu.
Rita dan Prita berpandangan. Tumben juga biasanya ada apa-apa Rin harus selalu yang pertama diberitahu. Ibu juga sudah bisa diajak berdiskusi.
Prita berpendapat kemungkinan ibu sadar bahwa yang peduli pada Rita, ternyata ada.
Kazen kadang datang setiap hari Sabtu atau Minggu, membawakan buah tangan dan kejutan lainnya. Tidak bunga.
Mengajak nonton bersama dengan dvd yang dia bawa atau berwisata. Prita sudah mulai sibuk bekerja sebagai asisten dosen.
Ruta juga sudah bisa mengganti perbannya sendiri meski masih terasa pegal dan perih.
Ibu lewat kamarnya dan membantu Rita mengganti perban. Perban dicelupkan ke dalam wadah obat.
"Masih sakit?" Tanya Ibu.
"Pegal sih dan agak perih di sekitar sini," kata Rita.
Untungnya luka sudah tidak ada darah dan mulai tertutup. Nanah pun sudah hilang bersamaan dengan garis luka.
Hari itu mereka bertiga menuju rumah sakit untuk periksa. Bapak juga heran melibat perubahan ibu namun bersyukur.
Sedikit demi sedikit ibu mulai ramah meski masih nyelekit kalau bicara. Nada nyelekit Rin itu turun dari pembawaan Ibu, sedangkan Rita dan Prita dari Ayahnya.
Besoknya Kazen menelepon, dan Rita sedang bersantai menikmati susu dan roti keju.
"Bagaimana keadaan kakimu sekarang?" Tanya Kazen dalam telepon.
"Alhamdulillah, sudah mulai mendingan. Aku sudah bisa ganti perban sendiri," kata Rita senang.
Kazen yang sedang santai pun ikut senang. Nada bicara Rita sudah ceria.
"Tidak ada yang membantu?" Tanyanya.
"Ada. Ibuku," jawab Rita senyum.
"Wah, tumben," kata Kazen.
"Hahaha kita juga agak aneh. Mungkin tersadar kalau aku disukai laki-laki ganteng," kata Rita asal.
Kazen tertawa mendengarnya ya bisa jadi sih selama ini dia merasa Rita sering diremehkan ibunya.
Seharusnya hari ini Rita kembali bekerja tapi ternyata masalah sekolahnya sangat rumit.
Anak-anak diliburkan sampai kondisinya membaik, apalagi Asma pun mulai jarang masuk membuat Bu Dewi kelabakan.
"Perkiraan kamu bekerja lagi kapan?" Tanya Kazen.
Rita berpikir, "Mungkin awal bulan Juli ya. Bersamaan kaki ini juga sudah mulai bisa berjalan normal," katanya memandangi perban yang semakin memendek.
Para guru pun sudah berhasil ditarik kembali meski sebagian tidak di suruh kembali. Mereka senang dan akan diatur ke sekolah yang baru termasuk Rita.
"Kalau sudah sembuh, kamu bisa menemani aku kan?" Tanya Kazen yang mereka sudah semakin dekat.
Hubungan keduanya pun akhirnya terjalin tapi yah, dengan versi konyol. Rita agak manja kepada Kazen, yang membuat Kazen gemas.
Bukan kesal tapi agak gemas ingin memeluk, karena tingkah Rita yang kadang diluar dugaan.
"Kemana?" Tanya Rita heran.
"Ada Pameran Mobil. Orang tuaku cerewet, meminta aku membawa kamu katanya sudah dua Minggu masa masih pendekatan," kata Kazen.
"Itu yang bilang orang tua atau kamu sendiri?" Tanya Rita kurang percaya.
"Aku sih tapi benar kok orang tuaku ingin bertemu," kata Kazen.
"Lagian baru dua minggu sudah mau dekat saja," kata Rita.
"Yaaaa mereka lihat aku cocok sama kamu. Sudahlah, mau ya sudah! Kita jadi," kata Kazen memaksa.
"Yo weslah," kata Rita.
"Yes!! Kita pergi kencan pertama ke sana ya," kata Kazen.
Rita berpikir dia tidak mau ah kalau sendirian. Hal itu juga ditangkap oleh Kazen.
"Adik kamu bawa juga kalau merasa tidak aman denganku," kata Kazen membuat Rita ketawa.
"Aaayooo!" Balas Rita semangat.
"Benar nih? Oke! Terus ada satu lagi masalah," kata Kazen yang selanjutnya.
"Apa?" Tanya Rita. Awas saja kalau soal baju dia atur.
"Pameran itu tempatnya sangat besar jadi akan ada banyak kamera dan wartawan. Mungkin kita bisa ditangkap gambar sama mereka. Kamu tidak masalah kan?" Tanya Kazen.
Kelakuan Rita berbeda dengan perempuan mantan-mantannya, jadi harus di pastikan dahulu.
"Ooh aku kira ada apa. Ya tidak masalah asalkan mereka tidak banyak bertanya. Malas soalnya," kata Rita membuat Kazen lega.
"Tidak. Tenang saja, mungkin akan masuk ke dalam beberapa berita di TV," kata Kazen.
"Ooh," hanya itu jawaban Rita. Membuat Kazen bingung tapi dia tidak menangkap pikiran Rita yang mungkin, membuatnya bangga atau bahkan pamer.
Bersambung ...