MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
143



Rita tersenyum meski ada rasa cemas kalau-kalau Kazen akan meledak amarahnya seperti Alex.


"Jangan cemas ya. Kalau dia menelepon lagi, jangan diangkat. Atau... kita berganti ponsel ya," kata Kazen mengeluarkan ponselnya.


Rita yang hanya tahu kalau Kazen memiliki satu cepat-cepat menolaknya. "Jangan! Aku tidak mau kamu sampai kenal orang jahat ini,"


Kazen mengerti, dia tahu Rita pasti sangat takut akan dirinya yang sama seperti sebelumnya. Padahal Kazen memiliki banyak ponsel, yang dia gunakan ponsel kantor.


"Ya sudah, tenang saja percaya aku ya. Apapun yang kamu dengar dan lihat, tetap yakin bahwa aku ada di pihak kamu," kata Kazen.


Sudah tentu itu ulah Ney ya siapa lagi yang memiliki kebiasaan meneror orang menggunakan banyak nomor.


"Tapi buat apa dia sampai menelepon segala? Apa mau mulai berbuat ulah lagi?" Tanya Rita menghela nafas.


"Pasti karena di pameran itu apalagi wajahnya terpampang dalam berita sebagai orang yang berusaha masuk dengan memalsukan data," kata Kazen.


"Hah!? Ada?" Tanya Rita yang ternyata tidak menonton berita.


"Kamu tidak lihat berita?" Tanya Kazen.


"Ya aku kan kelelahan jadi ya langsung tidur lalu paginya ya hari ini," kata Rita memainkan kunci kantor.


"Teman-teman kamu?" Tanya Kazen heran.


"Ya mereka juga sibuk persiapan mengajar kan. Tapi tidak tahu ya mungkin ada yang lihat, kan tidak kenal," kata Rita.


"Aku kira mereka kenal semua. Dia pasti berusaha mendekati kamu lagi setelah dengan yang sebelumnya gagal," kata Kazen.


"Ahhh benar benar. Dia memang begitu orangnya setelah gagal dengan yang satu, baru kelakuannya kelihatan," kata Rita.


"Iya kamu mengerti kan keliatannya Alfarizki mengalami masa kejutan," kata Kazen tertawa.


Rita tidak mengerti dan Kazen tidak menjelaskan. "Kamu mau apa? Nanti aku pesankan,"


"Ada mie yamin tidak? Aku pesan makaroni seblak juga," kata Kazen yang menyukai makanan itu setelah melihat Rita makan lahap.


"Yakin mau pesan seblak?" Tanya Rita tidak yakin.


"Jangan pedas," kata Kazen sambil mengeluarkan dompet.


Rita sudah tahu, dia hanya mengambil uang lima puluh saja dan memesankan lewat WA.


Rita juga pesan hanya pedas level satu, Rita menjaga penampilan wajahnya supaya tidak banyak jerawat.


"Nanti diantar ke sini dan dapat minumannya juga," kata Rita senyum.


Kazen lega sekali baru kali ini dalam hidupnya dia merasakan ketenangan. Berhubung Rita guru Taman Kanak-kanak jadi ya aman.


"Rita, apa kamu masih ingat wajah Alex?" Tanya Kazen mencoba.


"Hm? Entahlah aku sudah tidak ingat bahkan nama panjangnya juga. Hanya tersisa rasa kesal yang memuncak," kata Rita.


"Baguslah. Penyembuhan dariku berhasil," kata Kazen.


"Jadi ini uangnya tidak perlu aku yang traktir," kata Rita memberikan uangnya.


"Pakailah. Belikan apa yang kamu suka, kalau kurang kamu bisa ambil lagi dalam dompetku. Laki-laki yang wajib membayar bukan perempuan," kata Kazen menolak.


"Tidak ah. Aku tidak enak gantian dong meski harga makanannya murah," kata Rita manyun.


Kazen menatap Rita yang tampaknya agak sedih ya hanya karena makanan yang Kazen pesan murah.


"Oke oke kamu yang bayar nanti lagi tetap uangnya dari aku saja. Uang kamu tabung untuk keperluan sehari-hari," kata Kazen menerima uang biru itu.


Rita senang sekali dan mengangguk. "Aku blokir semua orang yang memiliki masalah denganku atau yang sering ya. Aku tidak mau menerima lagi,"


Rita kemudian memblokir semua nomor itu yang entah siapa. Saat hendak memblok nomor terakhir, tiba-tiba Rita kaget.


"Dia video call dong," kata Rita. Kazen melihat dan dia tampak tidak senang.


Di tempat lain sebelum menelepon, Ney telah membeli enam nomor baru di konter. Pelayan menatapnya heran tapi tidak bertanya.


Ney kembali pulang, dia tahu kalau Rita tidak akan pernah mengangkat nomornya dan pasti Rita bertanya pada nomor yang tak dikenal.


Ney terus menelepon Rita dengan semua nomor yang ada, berkali-kali semua nomor tidak ada yang diangkat.


"Aku tidak akan menyerah!" Serunya yang gemas memasukkan nomor-nomor.


Dia pakai hanya untuk misscall tidak sampai menunggu jawaban. Karena tahu kebiasaan Rita yang kalau diteror pasti lama kelamaan akan menghubungi.


Kembali ke sekolah.


"Kamu maunya bagaimana?" Tanya Kazen yang gemas juga.


"Aku ada ide," kata Rita kemudian mengarahkan ponsel ke tembok putih.


Ney senang akhirnya nomor dia yang terakhir dijawab setelah tahu yang lainnya di blok.


"Rita! Kok lama sekali sih di jawabnya? Ini apa kok tembok? Rita! Kamu di mana!? Jawab dong!" Kata Ney dalam videonya.


Rita sama sekali tidak mengubah layarnya dan Ney masih terus memanggilnya.


"Aku tadi dihubungi Alex lho dia marah-marah. Tahu tidak kalau dia menjelekkan aku, Rita dan bilang kalau aku sengaja lho menghancurkan kamu.


Rita, kamu dengar aku kan anyway selamat deh sama yang baru. Namanya Kazen kaaaan aku sudah tahu lho coba tebak dari mana. Kamu pasti penasaran kan? Rita, jawab dong!" Kata Ney yang mulai marah.


Tiba-tiba muncul tangan kurus putih dan langsing lalu muncul juga tangan Kazen. Ney melihatnya bingung dan...


Rita menunjukkan jari tengah bersamaan dengan Kazen. Membuat Ney kaget sebelum menjawab, Rita sudah matikan kembali dan memblokirnya.


"HAHAHAHA!" Rita dan Alex tertawa bersamaan. Sampai terdengar ke luar sekolah.


"Rasakan! Siapa juga yang mau meladeni dia," kata Rita sambil tertawa.


Kazen tertawa juga tidak mengira dia pikir Rita perempuan yg tenang ternyata memang sama dengannya.


"Sudah di blok?" Tanya Kazen.


Rita memperlihatkan. Setelah itu Ney sangat marah melihatnya. Benar kata Alex bahwa Rita tidak peduli apa yang terjadi kepadanya. Mau ada masalah sama Alex kek, sama orang kek, urus sendiri!


Pesanan mereka datang dan Rita membayarnya. Kazen masih tertawa sambil mengusap kepalanya.


"Nih pesanan kamu untung sudah makan nasi," kata Rita.


"Harap maklum ya lingkungan Alex dan aku sama sih," kata Kazen pelan.


"Hmmm iya," jawab Rita meski memang sudah tidak ingat siapa Alex.


"Hanya Shin dan Seren yang sangat tulus dekat denganku meski berkali-kali juga aku menyakiti mereka. Dengan kebiasaan ku yang meledak," kata Kazen.


"Sekarang kamu tahu kan bagaimana sikap aku ke makhluk keparat itu," kata Rita memegang tangan Kazen


"Batal wudhu nanti," kata Kazen tertawa.


"Ya tinggal wudhu lagi," kata Rita. Yah hanya kali ini saja.


"Iya," jawab Kazen meremas tangan Rita.


Tidak ada suara yang membuat orang si luar curiga takutnya, mereka lupa diri meskipun Kazen sudah bisa menahan diri.


"Duh duh bahaya kalau kita biarkan mereka berdua saja," kata Seren dengan keras.


"Woi!" Seru Shin menatap keduanya tengah menikmati seblak.


"Apa?" Tanya mereka berdua.


"Hahhh syukurlah kalian tidak ada suara sih. Aku pikir jangan-jangan," kata Seren lega juga.


Kazen tertawa, Rita datar. Sebenarnya hampir saja Kazen menyerang Rita kalau saja Shin lama mendatangi mereka.


Karena tangan Kazen, Rita pegang dengan lembut. Dan yah saraf pada Kazen tegang dan bersiap-siap mengecup bibirnya.


Shin tahu dan sangat mengenal Kazen, Diana dan Komariah melihat jelas tangan Kazen dan Rita berpegangan.


"Sampai Rita yang anti saja, bisa pegangan tangan," kata Koma bergabung makan.


"Dari tangan maju menujuuuuu," kata Shin yang langsung di lempar handuk.


Mereka sibuk mengunyah sambil mengobrol saat tiba-tiba mata Kazen melihat nomor asli Ney. Dia geram dan ijin keluar untuk ke kamar mandi.


Rita tidak sadar ponselnya Kazen bawa. Kazen menuju kamar mandi dan bersikap tenang, sifatnya yang asli keluar saat itu sambil menatap ke arah ruangan.


Ney melihat teleponnya diangkat, kali ini menggunakan nomornya. Dia tidak terima video yang tadi.


"Rita! Kenapa sih kamu kirimnya begitu ke aku? Aku ini salah apa lagi sama kamu?


Kok tega sekali sih, maksud aku kan baik. Aku hanya ingin tahu kabar kamu saja setelah putus dengan Alex.


Jangan marah ya, kamu serius putus sama dia? Kok aku tidak kamu beritahu sih? Kan aku ada urusan juga karena tahu masalah kalian. Dia hina aku dong," kata Ney curhat.


"Mau apalagi kamu sama Rita? Mau mulai berbuat ulah lagi?" Tanya Kazen dengan suara es kutub nya.


Ney yang mendengarnya langsung kaget dan dia tampak senang dan bernada ramah.


"Oh hai, ini dengan Kazen ya. Perkenalkan aku ini..." kata Ney dengan sungguh-sungguh.


"Mau apa kamu kembali lagi hah? Tidak cukup ya tampaknya Seren dan Cay mengancam?


Mau merundung Rita lagi setelah meninggalkan Alex? Buat apa kamu terus hampiri Rita? Dasar perempuan tidak tahu malu!" Ucap Kazen dengan ketus.


Ney yang mendengarnya hanya bisa gugup, wah lebih galak dari Alex. Ney berusaha dengan nada yang baik agar Kazen terlena tapi tampaknya sia-sia.


"A-aku sudah minta maaf kok sama Rita tapi dia tidak memaafkan. Jelek kan sifatnya ya," kata Ney yang langsung menutup mulutnya.


"Sifat pemaksa kamu yang jelek! Jangan suka menyalahkan orang," kata Kazen dengan datar.


Ney menggigit bibir bawahnya, mencari alasan lain. "Aku hanya ingin tahu kabar Rita saja,"


"Heh! Dengan bertanya soal Alex? Aku tidak percaya dengan apa yang kamu bilang. Pergi!" Kata Kazen dengan galak.


Ney tampaknya tidak bisa mengatakan apapun, galaknyaaaa hebat Rita bisa sampai delapan bulan dengannya.


"Mau kamu dimaafkan atau tidak itu urusan Rita. Dengan kebiasaan jelek kamu yang meneror dan kirim barang seenak jidat kamu.


Apa kamu pikir masih bisa dimaafkan? Mau saya laporkan polisi?" Tanya Kazen yang membuat Ney sangat kaget.


"Jangaaan maaf aku benar-benar tidak bermaksud mengganggunya. Serius! Aku hanya rindu pada Rita, aku sudah tobat kok," kata Ney.


"Halah! Tobat tobat kamu tobat setelah tahu Rita berhubungan sama saya! Orang tipe kamu itu tidak akan pernah bisa tobat!


Saya tahu kamu mendekati Rita karena sudah berhasil menendang Alex kan kamu pikir saya tidak tahu," kata Kazen.


Ney terdiam, belum usaha apa-apa sudah kena semprot beruang garang.


"Rita ada? Aku mau..." kata Ney berusaha mencairkan ketegangan.


"Rita sudah muak sama kamu! Jangan macam-macam!" Kata Kazen.


Ney mulai sebaaal dan marah akhirnya tanpa bisa menahan lagi, Ney keluar aslinya. Setidaknya dia sudah tahu sedikit mengenai masa lalu Kazen.


"Aku tahu lho masa lalu kamu seperti apa justru kamu yang jangan macam-macam. Aku akan beberkan semuanya pada Rita!" Kata Ney membuat Kazen tertawa keras.


Ney hanya agak gemetaran mendengarnya. Tidak seperti Alex yang bersuara masih ada lembut-lembutnya. Kalau Kazen jujur, Ney agak ada rasa merinding.


"Kalau berani, tunjukkan wajah kamu dan hadapi saya bukan Rita!" Kata Kazen dengan dingin.


Tangannya mengepal sudah lama juga dia tidak menghajar seseorang. Toh Rita juga tidak akan melarangnya menghajar Ney.


Ternyata Kazen lebih mencekam daripada Alex tapi Ney pun tidak mungkin mundur.


"Oke, lihat saja aku pasti datang dan hadapi kamu!" Kata Ney menutup teleponnya.


Kazen mendengus menatap nomor Ney dan memblokir dan menghapus secara permanen.


"Kita lihat saja apa yang akan Rita lakukan," kata Kazen.


Kazen kembali setelah sedikit batuk, Shin mencoba seblak nya sedikit. Tidak ada yang mencurigainya, Rita juga tidak bertanya.


Di tempat lain jantung Ney berdetak kencang. Dia kaget sekali yang mengangkat telepon adalah Kazen. Ditenangkan nya jantungnya, kedua tangannya lemas dan gemetaran.


Tidak mungkin dia mundur setelah menjawab tantangan Kazen dan akan menghadapinya. Ney gugup berjalan mondar mandir.


Akhirnya mau tidak mau Ney memberitahu suaminya bahwa dia harus pulang ke Bandung. Beralasan janji bertemu beberapa teman semasa SMA.


Suaminya memperbolehkan tapi hanya satu jam saja. Suaminya akan ikut kebetulan dapat libur keluarga. Ney memutar otak bagaimana caranya agar bisa terpisah dari keluarga kecilnya.


Untungnya orang tua Ney tidak keberatan mengasuh anak perempuannya. Dan Ney sudah berada di Bandung.


Tempat lain Kazen menceritakan semuanya dan Rita sangat meledak. "Buat apa lagi sih kamu lagi-lagi menantang begitu? Belum cukup puas dia ganggu aku!?"


"Tenaang kita lihat saja apa yang akan dia lakukan. Biar aku yang hadapi," kata Kazen.


Rita sangat marah dan enggan menjawab, di luar dugaan ternyata Rita memang tidak mau lagi melihat wajah Ney.


"Kamu tidak akan menerima dia kan?" Tanya Kazen.


"Ya tidaklah menjijikkan! Ujungnya pasti ancam kamu kan," kata Rita menebak.


Kazen senyum dan Rita semakin marah. "Ya sudah setidaknya aku sudah beritahukan semuanya. Kita lihat saja rencana dia seperti apa nanti,"


"Kalau dia mau bertemu kamu bagaimana?" Tanya Rita manyun.


"Ya bertemu saja aku tetap di sisi kamu," jawab Kazen.


"Benar ya jangan kemana-mana meski dia memohon," kata Rita.


"Iyaaaaa," jawab Kazen.


Keesokan harinya yang dikatakan Kazen, Rita bersiap-siap. Rita kembali mendapatkan nomor tidak dikenal yang langsung mau dia marahi.


"Rita, ini dengan Asma. Aku mau terus terang. Aku minta maaf ya sudah membuat kamu dikeluarkan.


Aku mau menelepon tadinya tapi kamu dan Diana blok aku," chat dari Asma.


Rita balas melalui WA dan menyimpan nama Asma dengan Bintang.


"Ah untuk apa minta maaf kan kamu juga senang bisa dapat bayaran besar disini," balas Rita sebal.


Dari masa kuliah selaluuuu saja akhirnya minta maaf tapi ya selalu ada saja yang lain dia berusaha ambil. Kali ini pekerjaannya.


Bersambung ...