MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
99



"Jalan kaki berani tidak?" Tanya Rita menantang.


"Ya berani saja hanya masalahnya, kaki kamu baru sembuh masa sudah diajak jalan kaki jauh?" Tanya Kazen agak keberatan.


"Tidak apa-apa kan aku suka jalan kaki daripada naik angkot atau mobil," kata Rita.


"Jangan deh kalau sakit lagi bagaimana?" Tanya Kazen.


"Kan ada kamu hehe," kata Rita menggoda.


"Apa dulu nih maksudnya? Aku culik kamu bawa ke rumah dan rawat disana? Mau yaaa," kata Kazen membalas.


"Hahaha kan bisa kamu gendong," kata Rita tertawa jahil.


Kazen berpikir dia agak tertawa sesuatu. "Yakin mau aku gendong? Nanti kan kena,"


"Kena? Apanya?" Tanya Rita bingung.


"Kalau digendong kan berarti depan kamu kena nanti bagaimana kalau punyaku nafsu an?" Tanya Kazen membuat Rita terkejut lalu memukulnya dengan cukup keras.


"DASAR MESUM!!!" Teriak Rita mencubit pinggang dan pipinya.


"Jahahaha bewhandaaa," kata Kazen tertawa.


"Dasar. Nih pakai sepatu punya Bapakku saja, kaki kamu sama besarnya deh," kata Rita agak menyamakan.


Kenapa hapal? Kebanyakan kaki laki-laki kan besar, ukuran kaki Kazen hampir sama dengan Bapaknya.


"Memangnya cukup? Benar kaki kamu sudah sembuh nih?" Tanya Kazen melihat kaki kanannya.


"Kata dokter sudah sembuh bisa diajak lari asal jangan kencang-kencang. Jalan juga bisa," kata Rita memperagakan loncat-loncat di depan kekasihnya.


"Iya sudah sudah jangan loncat lagi aku masih was-was.


Ibu datang, sambil heran melihat Kazen memakai sepatu suaminya. "Kalian mau kemana sih? Berdua saja?"


"Mau jalan-jalan, Kazen mau belikan binatang peliharaan setelah lihat kandang di belakang," kata Rita yang memakai kaos kaki.


"Bahaya ah kalau hanya berdua. Prita ikut," kata adiknya menyembulkan kepala.


"Boleh?" Tanya Rita memandang Kazen.


"Ayo deh rame lebih seru," kata Kazen.


Dan akhirnya semuanya ikut kecuali Rin dan anak-anaknya. Bapak memakai sepatu olahraga yang lain. Mereka tahu kemana arah wisatanya.


Ibu sudah siapkan masing-masing minum satu liter. Tentu Rita malas membawanya dan Kazen yang membawa tas gendong.


"Huf!" Kata Kazen yang berkali-kali meniup udara.


"Capek ya? Pasti jarang jalan kaki," kata Bapak menebak.


"Iya Pak, kalau soal jalan kaki sih agak jarang soalnya tiap hari bekerja," kata Kazen cengengesan.


"Masih muda harus banyak olahraga ya jalan-jalan sekitar rumah, kompleks, apa saja bisa," kata Bapak menepuk pundak Kazen.


"Nih minum dulu," kata Rita menyerahkan dari belakang.


Kazen berhenti dan berjongkok, dia meminum hampir setengah botol. Rita takjub, mereka semua juga sama.


"Masih sanggup kan?" Tanya Rita.


"Masih dong, aku tidak akan kalah sama kamu!" Kata Kazen bertekad.


Di tempat lain, seharusnya sekarang diadakan perjamuan tapi karena Kazen tidak hadir, terpaksa batal.


Kantor mendadak sepi dan para karyawan agak manyun.


"Bos kemana sih? Tumben sepi," kata sekretaris menatap isi kantor Kazen.


"Tumben dia meliburkan diri saat ada acara perjamuan," kata yang lainnya.


"Bos sedang kencan dengan kekasih barunya," kata Shin sibuk mengurus laporan.


"HAH!? KEKASIH BARU?" Tanya semua karyawan dan Shin sudah terbiasa mendengar.


"Asyiiik Bos akan lebih sering keluar dong," kata A duduk dengan selonjoran.


"HOREEEE!!" Teriak karyawan laki-laki dan pegawai baru.


"Saya masih ada lho. Saya bertugas mengawasi pekerjaan kalian," kata Shin.


Tetap saja para karyawan masih bersorak.


"Ah, kalau Pak Shin normal orangnya. Bos kan agak saklek, gila kerja juga," kata B.


"Saya laporin nih kalian bilang begitu," mata Shin menatap mereka.


"Kita bisa laporin balik ke Serenity lhooo," kata yang lain menantang.


"Sial," kata Shin tertawa.


Berbeda dengan respon para karyawan wanita yang memang mendambakan kesempatan biar bisa dekat dengannya.


"TIDAAAAAAKKK,"


Kembali ke tempat dimana mereka akhirnya sampai juga dan Kazen sangat lelah. Dia di kipas oleh Rita yang agak tepar.


Mereka istirahat sekitar lima menit dan kembali berjalan menuju wisata bunga dan binatang. Prita berjalan dengan Rita dan ibu, mengobrol dengan seru.


Rita menceritakan bagaimana bisa putus dengan Alex, tentu menghindari cerita yang agak kasar. Diceritakan dengan bahasa yang ringan dan singkat.


Mereka tentu sangat kaget mendengar Rita sudah memiliki pengganti. Kazen juga tidak kalah gantengnya.


Teringat apa kata Rin saat melihat orang yang mendekati Rita. Dalam hatinya dia sangat kesal apalagi Kazen pun sama dengan Alex senang membawa buah tangan.


"Rita sudah dapat yang baru? Kok cepat sih?" Tanya Rin.


"Tidak juga kok, sudah berapa bulan kan Rita kosong. Yang ini kenal saat Rita kecelakaan di jalan," kata ibu.


"Iya tapi kenapa sih mau sama Rita, Bu?" Tanya Rin.


"Memangnya kenapa? Ibu juga tidak tahu kenapa dia suka sama Rita," mata ibu.


"Yaa Rita kan usianya sudah tua apa jangan-jangan Rita pasang pelet atau susuk?" Tanya Rin.


"Hush! Seenaknya kamu bilang begitu. Kalau Rita mendapatkannya laki-laki yang muda dari dia, ya itu rezekinya. Apa urusannya dengan pelet?" Tanya ibunya yang agak kesal.


"Ya kali kan kita tidak pernah tahu teman-teman dia seperti apa. Yang aneh itu ibu masih ingat? Yang teman dia waktu SMP," Kata Rin.


"Ney bukan? Kenapa?" Tanya ibu.


"Ya itu aneh orangnya kok Rita mau sih jadi teman dia? Kakak saja waktu lihat pertama, sudah ada firasat jelek," kata Rin.


"Ibu juga sudah kasih tahu dari awal jangan terlalu dekat sama Ney. Ibu tidak setuju, tapi dia bilang kasihan selalu sendiri orangnya," kata ibu.


"Sekarang masih?" Tanya Rin.


"Sepertinya sudah hilang kontak. Ibu tidak pernah lihat dia ada kontak lagi. Bagus kan, jadinya yang dulu bermasalah karena Ney ikut campur," kata Ibu cerita sedikit.


"Dengan Alex? Iyalah. Kelihatan auranya juga senang buat masalah sama orang. Kalau bicara tidak nyambung pernah kakak ngobrol dulu," kata Rin.


Ibu hanya menyengir entah mungkin itu juga yang membuat Rita sekarang memilih menjauh.


"Mereka kan memang sering bertengkar. Kadang yang suka datang ya Ney. Rita sih cuek sampai memaksa datang ke rumahnya. Ingat tidak?" Tanya Ibu.


"Ingatlah. Rita sempat bilang kalau temannya itu suka menduplikat omongannya dan perilakunya. Ihh aneh!" kata Rin.


"Kesannya kagum tapi berlebihan ingin menduduki posisi keberuntungannya Rita, Kak. Agak psiko," kata ibunya membuat Rin tertawa.


"Iya. Kakak juga sama ke arah situ. Ada kalimat yang selalu Rita ucapkan, dia ucapkan Bu. Aneh! Seperti tidak punya pendirian, mirip wadah yang kosong. Hiiiii!" Kata Rin.


"Sudah ah. Tidak perlu dibicarakan lagi yang penting, mereka sudah tidak berteman lagi. Itu yang utama karena orangnya bukan tipe Setia Kawan," kata ibu.


"Iya memang. Dia pasti tidak punya teman yang seperti Rita makanya, dia ada niat hancurkan Rita," kata Rin.


"Seperti kamu," kata ibu.


"Ih, apa sih bu? Masa Kakak disamakan dengan teman dia yang freak?" Tanya Rin kesal.


"Kamu juga sama ingin menjatuhkan Rita kan? Hampir sama dengan Ney bedanya, kamu saudara kandung dan Ney orang luar. Setidaknya, Rita leluasa blok Ney sedangkan Rita masih harus memaklumi kamu sebagai kakak." Kata ibu yang men skak mat anak pertamanya.


Rin hanya terdiam saat itu, kesal karena ibunya kini agak berubah tidak seperti dahulu. Ibunya selalu membela Rin, membuatnya seenak hati memperlakukan Rita.


Ternyata meski begitu, ibu selalu memperhatikan kelakuannya. Tidak ada yang bisa Rin lakukan apalagi membaca dirinya yang memang sangat iri pada Rita.


"Kamu tidak perlu iri soal Rita. Semua orang memiliki porsi keberuntungan," kata ibu datang kembali membawakan apel.


"Tapi...kan aneh selalu dapatnya yang muda," kata Rin mengupas.


"Tidak aneh yang penting Rita bukan yang duluan menggoda. Ibu lihat soal Alex, dia memang suka Rita hanya Rita nya kurang ngeh. Kenapa? Kamu bersyukur ya mereka bubar?" Tanya Ibu memperhatikan.


Rin diam.


"Ibu tahu meski kamu agak tidak dekat dengan Rita. Kamu selalu mencari kesempatan untuk membuat dia jatuh. Sama dengan Ney, tidak heran menurut ibu. Rita melihat "Beracun"nya kamu sama dengan anak itu," kata Ibu.


"Habis... kok beda ya takdir aku dan Rita?" Tanya Rin.


"Ya iyalah. Yang kembar saja beda takdirnya, apalagi yang tidak kembar. Syukuri apa yang sudah kamu punya Kak. Apa pernah Rita protes dia lama jomblo?" Tanya ibu.


Rin terdiam masih berusaha mengupas apelnya.


"Tidak," jawab Rin.


"Iya. Jadi kalau dia dapat laki-laki berondong lagi, tidak akan protes. Ya sekasih nya Allah saja," kata ibu.


"Tapi kenapa harus kaya sih? Biasa saja jangan melebihi Kakak dong," kata Rin.


"Yeeh memangnya kamu siapa? Wakil Tuhan? Mau kaya atau biasa apa hak kakak? Kalau pasangannya kaya, apa Rita pernah menyombongkan diri?" Tanya ibu.


Teringat Rin yang belum menikah, sombong nya luar biasa karena mendapatkan lelaki kaya. Sampai Rita diejek tidak laku, didoakan terus miskin..Sekarang?


"Ibu ingat siapa ya yang baru jadian sudah angkuh? Eh akhirnya putus karena selingkuh. Siapa namanya ibu lupa," sindir ibu.


Rin terdiam, karena merasa dirinya lebih cantik, berpikir kekasihnya dahulu tidak akan tahu kalau dia terpikat yang lain. Hampir mau di lamar akhirnya, yo goodbye.


"Coba saja ya kalau orang itu sadar diri paras itu hanya sementara yang akan menua seiring waktu. Mana kaya, mau dilamar juga alhasil hangus semuanya," kata ibu.


"Tapi aku tetap tidak setuju mau Rita dengan Alex juga sama. Sekarang dengan Kasen, ya sama saja mereka lebih mirip nenek dan cucu. Kalau jadi, apa ibu dan bapak tidak malu?" Tanya Rin.


"Kazen. Pakai Z bukan S. Malu kenapa?" Tanya Ibu tertawa.


"Dipandang orang, dicemooh dikatai kalau Rita menggoda berondong. Kakak malu, Bu jadi lebih baik cari yang biasa deh. Yang wajahnya pas-pasan dan hidup di bawah Kakak, supaya aman," kata Rin.


"Terus kamu bisa hina dia, begitu? Ibu tahu ya maksud kakak apa. Kalau kakak tidak kuat menahan malu, jangan datang saat Rita nanti menikah kalau calon suaminya berondong. Rita juga pasti setuju," kata ibu pergi ke dapur membuang kulit apel.


Bersambung ...