MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
109



Rita lega mendengarnya. Sin mengirimkan pesan pada Serenity.


"Aku kira kamu minus peka," kata Shin.


"Enak saja. Aku langsung merasa canggung saat Rita menunduk, sorot matanya juga nampak tidak nyaman. Aku salah! Jadi aku berusaha bertanya yang sesuai," kata Seren.


"Kamunya yang antusias, dianya yang merasa tersisihkan. Dia bukan dari keluarga yang seperti kamu dan Kazen. Banyak mengertilah," kata Shin.


"Iya iya aku agak terlalu terbuka kan," kata Seren.


Rita dan Prita mengobrol merasa ceritanya itu karena memang Kazen anak orang kaya.


"Ingat Kazen menyukai Rita tidak seperti dia menyukai perempuan murahan, yang kita sudah tahu. Kita harus menjaga itu," kata Shin.


Seren menghela nafas, bagaimana dia? Apa masuk ke perempuan murah?


"Aku menurutmu sama dengan mereka?" Tanya Seren.


"Maksudnya siapa?" Tanya Shin berpikir.


"Perempuan gatal," mata Seren.


Shin tertawa yang membuat Kazen, Rita dan Prita kaget. "Maaf,"


"Dasar! Kenapa coba kamu ketawa," balas Seren yang menahan tawa juga.


"Kamu itu beda meski kena tolak sahabatku. Kazen merasa tidak cocok sama kamu, dia tahu aku sudah lama menyukaimu," kata Shin membuat Seren memerah.


"Seren, demam? Tidak enak badan? Flu?" Tanya Rita menatapnya.


Semua yang mendengarnya agak cemas.


"Tidak. Aku tidak apa-apa baru saja membaca pesan yang membuat aku malu," kata Seren dengan logat Inggrisnya.


"Oh, baiklah," kata Rita dan Kazen.


"Kamu juga sama," balas Shin.


"Hahaha aku berdoa mereka berdua pasangan jodoh," ketik Seren.


"Aku juga," balas Shin dan mereka terus mengobrol.


Kazen agak bosan karena dia harus fokus menyetir. Tadinya dia ingin Rita yang duduk di depan, tapi tidak enak karena adiknya ikut.


Kalau Seren dan Shin yang didepan, mereka akan sampai di Jakarta sepuluh tahun mendatang.


"Kamu bagaimana nanti di Jakarta?" Tanya Rita.


"Aku janji bertemu dengan teman-teman waktu SMP. Kan sebagian rumahnya di sekitar Jakarta," kata Prita.


"Rencananya kalian akan kemana selama Rita menghadiri acara?" Tanya Kazen.


"Kami akan ke dufan hehehe lanjut kuliner," kata Prita.


"Iih asikkk," kata Rita.


"Aku ikut boleh?" Tanya Seren membuat yang lain melongo.


"Lah, kamu kan mau ikut pameran," kata Shin melirik ke belakang.


"Kita kan bisa datang belakangan sudah bosan juga, paling beberapa orang memamerkan mobil," kata Seren mengikat rambutnya yang pirang.


"Kamu yakin mau ikut? Nanti muntah," kata Kazen sambil tertawa.


"Hah? Muntah saat ikut bermainnya?" Tanya Prita.


"Iya, dia meski seorang putri ya tapi tidak bisa tahan menaiki permainan," kata Shin.


"A-aku bisa kok. Aku sudah berlatih," kata Seren.


"Berlatih?" Tanya mereka semua penasaran.


"Iya. Jadi aku bisa dan kuat," kata Seren.


Seren memiliki keahlian lewat berbelanja, dari harga sampai bahan, hiasan-hiasan. Tapi kalau permainan sejak kecil sama sekali dilarang. Putri Raja dari kerajaan Bulan.


"Hei, tampaknya Seren cocok dengan Rita ya," kata Shin.


"Yah kalau Seren kan tergantung lawan bicaranya. Mirip Rita. Denganku dia bisa galak kalau aku galak, aku lembut dia lembut," kata Kazen.


"Lebih bagus yang begitu kan setidaknya kalau giliran marah, salah satu harus ada yang turun," kata Shin.


"Itu yang sempurna. Saling mengisi tapi aku lebih memilih turun kalau Rita meledak marah," kata Kazen.


"Wanita itu makhluk yang lemas, saking lemahnya dia berusaha menutupi kekurangan di depan pasangan," kata Shin.


"Seren begitu kan. Di tol depan kita berhenti, gantian menyetir aku mau ngobrol dengan Rita," kata Kazen sudah jenuh.


"Ayo makan dulu, aku sudah bawa banyak makanan," kata Seren berbalik badan dan membagikan susu cokelat.


"Hah!? Mirip Kazen ya segala isi toko habis dia beli," kata Rita. Prita juga bengong.


"Salah satu keistimewaan anak-anak sultan bisa beli sekalian tokonya," kata Shin.


"Kalian kalau ada yang, ambil saja anggap ini market berjalan," kata Seren meminum Pocar.


Rita tentu senang, dia mengambil pizza dan sandwich yang dimana dia berikan pada Kazen.


"Tenang, aku tidak akan lagi menyetir seperti siput," kata Shin.


Di depan, mereka bergantian, Seren di depan. Belakang Prita, Rita dan Kazen. Prita bersyukur meski dia di pinggir, mereka masih bisa mengobrol.


"Kak Kazen harap banyak sabar ya karena kakak saya memang tidak peka," kata Prita tiba-tiba.


"Hahaha memang iya. Tidak apa, sejak kenal juga aku sudah tahu," kata Kazen senyum.


"Uwuuu romantis yaaa," kata Seren.


Beberapa jam kemudian sebagian tidur dan hanya Rita dan Shin yang masih melek. Kalau Shin ya memang harus melek.


"Kami berdua senang kamu bisa dengan Kazen. Awalnya aku tidak yakin kalau kamu mau dengan Kazen," kata Shin yang jarang mengobrol dengan Rita.


"Aku mencoba setelah terluka cukup parah," kata Rita memandangi pemandangan.


"Apa yang kamu suka dari Kazen? Aku tidak akan membuat pilihan," kata Shin.


"Awalnya terpaksa karena aku takut mengalami kecewa yang besar, aku juga menyembunyikan teman-teman namun ternyata mereka duluan yang menemukan Kazen.


Mereka katakan bahwa Kazen sangat ramah dan baik bukan karena fisiknya sempurna," kata Rita.


Shin mengerti. "Kalau nanti kamu dan dia bukan jodoh, jangan cemas. Dia sangat kuat yah sedikit cengeng mungkin. Aku harap kamu dan dia bisa mengukir kenangan yang manis," kata Shin.


"Kenapa kamu bicara begitu?" Tanya Rita.


"Aku bicara ini ke semua perempuan yang bermaksud mendekati dia, yang melakukan pendekatan dengan yang sudah jadi.


Aku takut mereka terlalu banyak berharap karena kamu tahu Kazen orangnya workaholic," kata Shin.


"Ah! Aku mengerti," kata Rita memandangi Kazen yang bersandar tidur.


"Kamu tahu saingan dia siapa?" Tanya Shin.


"Tahu, dia ada cerita," jawab Rita.


"Oh baguslah dia sudah cerita. Di pameran nanti akan ada..." kata Shin menjelaskan.


"Ada banyak kamera, Aku yakin kamu cemas kalau Alex pasti melihatnya juga kan," kata Rita.


"Iya hehhe lalu hubunganmu dengan Kazen sudah masuk lima bulan. Apa kamu masih teringat soal Alex?" Tanya Shin.


Seren menggeliat dan berbalik badan sama dengan Kazen. Sebenarnya mereka sudah bangun dan mendengarkan percakapan mereka.


"Haha berkat kehadiran Kazen, aku tidak bisa mengingat penampakan Alex lagi. Kan aku dan Kazen lebih sering bertemu dan menelepon bukan sekedar chat," kata Rita.


"Bagus. Apa kamu ada trauma dengan yang bernama Alex?" Tanya Shin ingin tahu.


"Entahlah hanya yang masih menempel saat dia lebih memilik pihak yang salah. Memihak orang yang menjadi musuh," kata Rita.


Shin pernah membaca isi percakapan soal Ney saat Kazen lupa keluar dari akunnya. Dia sempat kaget yang dilakukan Ney juga rencana jahatnya.


"Aku sudah peringatkan kalau dia bermuka dua dan mulutnya seperti ular.


Aku juga sempat berkata peduli padanya tapi.. yah aku ditolak," kata Rita teringat percakapannya.


Shin, Kazen dan Seren terdiam.


"Tenang saja mereka berdua sedang berproses menyesali sangat dalam. Yang namanya Alex akan menyadari semua yang kamu katakan itu benar.


Dia akan menyesal karena sudah membuat kamu tenggelam dalam kesedihan. Kazen akan membuatmu aman," kata Shin.


"Ya itu yang aku harapkan," kata Rita.


"Hahaha sekarang dia akan lebih menyesal saat tahu dengan siapa kamu bersanding," kata Shin.


"Pastilah meski aku sudah lupa seperti apa rupa, suara dan perawakannya. Bukan berarti aku mau balas ya tapi karma akan selalu ada," kata Rita dengan yakin.


"Dia pasti sedih karena terlalu memihak dan setuju pada orang bermuka dua, lidah seperti ular. Musuh kamu perempuan?" Tanya Shin.


"Iya. Awal kenal dia aku kira bisa jadi teman, lama kelamaan kenal kok malah banyak yang tidak nyaman sama dia, ditambah aku bertahan sama serampangan nya dia, ehhh yang aku dapat malah kena bully," kata Rita.


"Itu dari coba-coba berubah terpaksa dan akhirnya pergi kan. Kalau sudah dari awal tidak nyaman ya pergi saja," kata Shin.


"Memang pergi tapi dia sendiri yang datang lagi. Beberapa kali dia sengaja mempermalukan aku di depan publik ya.


Akhirnya aku bisa balas perlakuan dia, dan dia kaget. Ah, lokasinya di Jakarta," mata Rita tertawa.


"Eh!? Apa kamu bisa tunjukan?" Tanya Shin.


"Restoran Burger, sekalian di traktir teman dia yang sama korban seperti aku. Restoran itu hanya ada satu, dia hampir mempermalukan aku. Tapi aku balas duluan," kata Rita.


"Hahahaha kamu balas bagaimana?" Tanya Shin ketawa.


"Aku sentak dia langsung nantang di depan semua orang. Suara aku tinggi kan dia pikir aku tidak bisa melakukan hal yang sama. Dia hanya diam," kata Rita.


"Hahaha jangan mencoba membangunkan naga yang sedang tidur ya," kata Shin.


"Ya dong," kata Rita.


"Kok bisa dia jadi musuh kamu sekarang? Eh, ya memang musuh kan sedari dulu karena kamu sudah jauhi dia, dia yang berulah terus kan," kata Shin.


"Aku tidak tahu kalau dia duluan yang tidak menyukai kenal aku. Tapi anehnya dia sendiri juga yang selalu dekat-dekat. Aku jujur ya bukan teman dia karena aku hanya kasihan," kata Rita.


"Iya mengerti. Teman kamu ada yang suka dia?" Tanya Shin.


"Tidak ada. Kebanyakan mereka justru bertanya kok bisa kamu mulung teman kaya gitu," kata Rita.


"Hahahaha habis memang kelihatannya tidak cocok sih. Kalau ngobrol lebih baik seminggu dua kali saja jangan setiap hari. Kesannya dia senang adu domba orang," kata Shin.


Rita merenung beberapa dia harus tampak bertengkar dengan sahabatnya tapi tidak terjadi. Mereka dengan mudah mengetahui apa niat Ney.


"Aku hanya menyapa dan bicara biasa. Aku juga banyak kok selesai belajar, istirahat dengan orang lain bukan hanya dia saja. Sok Kenal Sok Dekat," kata Rita.


"Jadi memang dia yang salah paham soal seseorang. Menyapa mengajak mengobrol bukan berarti mau jadi teman dia. Berbasa basi kan?" Tanya Shin.


Bersambung ...