
"Tidak Rita, justru aku bekerja hanya di gaji lima ratus saja. Aku juga kena marah sama calonku, katanya tega sekali aku sampai rebut pekerjaan orang hanya demi mengejar target biaya nikah," kata Asma dengan sedih.
"Lho, kan kamu memang Raja tega ya kenapa sekarang menyesal? Dan lagi apa ini, pekerjaannya kosong semua," balas Rita.
"Aku tidak sanggup karena hanya aku yang bekerja. Maaf!" Kata Asma.
"Sekarang kamu mengerti kan? Bagaimana kerasnya aku bekerja sampai sakit punggung. Kamu melihat hasilnya saja tampak aku senang, tapi isinya Masya Allah!" kata Rita.
"Iya Rita," jawab Asma.
"Aku juga bekerja sendiri, Ma tidak ada yang membantu. Dari mengurus kegiatan, ide tugas anak. Baru ya sekarang ada staf lain, tapi ya begitu," kata Rita.
"Maaafffff!! Aku banyak kena akibatnya. Kamu mau kan maafin aku? Aku sangat menyesal!" Kata Asma. Asma ya mirip dengan Ney tapi setidaknya dia lebih pengertian.
Rita menghela nafas, "Benar kamu akan tobat? Ini sudah ke empat kalinya lho. Kenapa sih kamu selalu merebut semua yang aku kerjakan?" Tanya Rita.
Asma membacanya, Rita menghitung semua perbuatannya. Asma ingat bagaimana kreatifnya karya yang Rita buat untuk hiasan kelas saat kuliah.
Diam-diam Asma mengambilnya dan dibawa ke rumah untuk dia mengajar nanti. Tentu dosen pun mempertanyakan hiasan yang Rita buat.
Asma pura-pura sibuk dan akhirnya Rita dihukum membuat lagi dengan bahan yang dia harus keluarkan. Rita menangis, karena dia berkata sudah membuatnya.
Akhirnya Rita kerjakan meski pulangnya sampai malam, Diana dan Komariah tidak boleh membantu. Mereka hanya menunggu sampai malam dan pulang bersama.
"Iyaaaaa aku tobat maaf ya untuk yang sebelumnya juga. Karya kamu aku ambil untuk dipasang di kelas TK," kata Asma dengan jujur.
"Ya Allah, Asma! Kamu kan bisa dong bilang. Lagian juga hiasan kelas kan pulangnya bisa kamu ambil jangan sampai nama aku jelek di depan dosen!" kata Rita baru sadar. Mending kalau Asma menggantikan biaya, lah ini hanya minta maaf! Kesal seubun-ubun!
"Habisnya pasti yang lain kuga mau kan Tamada dan Linda juga untuk keperluan kelas," kata Asma.
Jeleknya Asma itu memang agak pelit mengeluarkan uang yang untuk keperluan dirinya sendiri. Seperti lukisan karena tidak mau mengeluarkan uang untuk membeli bahan.
Asma tahu kalau Rita berasal dari keluarga menengah agak ke atas jadi yah menurutnya Rita tidak akan sebegitu miskin deh kehilangan karyanya.
Asma baru tahu keadaan Rita dari cerita Koma dan Diana, kalau selama ini uang kuliah dari usaha kerjanya. Lalu magang meski ayahnya membantu.
"Aku hanya iri dengan bakat kamu yang banyak," kata Asma membalas lagi.
Rita menggaruk keningnya. Bakatnya banyak katanya? Ya segitu-segitu saja juga.
"Kamu juga bakatnya banyak kamu pikir aku tidak iri? Kamu bisa buat apa saja makanan, tanpa belajar.
Kamu punya bakat itu turunan dari nenek kan. Aku? Harus belajar dulu. Kamu juga pintar menjahit dan membuat baju, aku?
Semuanya miring kamu juga lihat kan waktu praktek menjahit. Jadi jangan mudah iri dulu semua orang memiliki bakat baik masing-masing. Asalkan bukan bakat pelakor atau tukang hasut," kata Rita.
Asma lega dan tertawa. Memang Rita mudah memaafkan tapi kalau berhubungan dengan perundungan jangan harap.
Setelah itu hubungan mereka pun lancar masih sama Asma enggan berteman dengan Koma. Koma pun tidak masalah.
Pagi Rita bekerja seperti biasa kegiatan mengajar masih ditiadakan selama seminggu. Kepsek mengatur dua sekolah yang satunya di kepalai oleh adiknya yang menyebalkan.
"Bu Rita, mau nitip seblak tidak?" Tanya Asna yang baru kembali dari kelas atas.
"Boleh! Pesan makaroni dan spageti ya," kata Rita ambil uang.
"Pasti buat kakanda," kata Asna tertawa.
"Hehehe aku tidak sempat buat bekal sih. Sisanya tip kamu," kata Rita.
"Yes! Terima kasih Bu," kata Rina kemudian pergi.
Syukurlah mereka berdua berubah jadi staf yang terbaik. Rita mengerjakan lagi pekerjaannya.
Tanpa Rita ketahui sepasang sepatu berwarna biru berdiri di mana warung sebelah berada. Ney!
"Sebelah mana ya?" Tanya Ney bingung. Dia datang untuk menemui Rita meminta bantuan akan Kazen.
"Bu, beli seblak nya tiga. Lalu spageti dan makaroni," kata Asna.
"Satu untuk Bu Rita ya," ucap seorang ibu keluar. Ney tersentak mendengar nama Rita. Tidak salah memang disini kerjanya.
Mereka berdua masuk dan duduk sambil mengobrol soal pekerjaan mereka. Ney juga masuk dan ikut duduk sambil memperhatikan sekitar.
"Mau pesan apa?" Tanya anak ibu itu pada Ney.
"Nanti," jawab Ney.
Setelah selesai mereka berdua keluar dan Ney menyusul. "Hei, kalian! Temannya Rita ya?"
Asna dan Rina berbalik menatap Ney. "Nama Rita kan banyak,"
"Dia guru TK katanya," kata Ney.
"Guru TK tidak ada yang namanya Rita," kata Rina.
"Ah! Namanya Rita Ashalina, dia teman aku. Panggil ya ke sini bilang saja Ney datang," kata Ney dengan seenaknya.
Keduanya menatap aneh pada Ney mana disuruh juga, siapa ente?
"Tidak sopan," bisik Asna.
"Teman? Setahu aku temannya Bu Rita tidak ada yang namanya Ney. Yang ada Diana dan Komariah," kata Rina heran.
"Ya aku temannya yang lain. Panggilkan ya memangnya dia tidak cerita soal aku?" Tanya Ney.
"Yah apa pentingnya juga sih," kata Asna yang tidak peduli.
"Ih tidak sopan ya padahal guru," kata Ney pelan.
"Situ juga tidak sopan seenaknya suruh panggil orang kesini. Belajar etika tidak?" Tanya Rina.
Ney jadi kesan jutek juga tapi dia butuh Rita. "Iya maaf deh. Dia begitu ya kenapa sih soal aku tidak cerita ke kalian. Kalau cerita pasti yang jeleknya," kata Ney.
Asna mengajak Rina pergi daripada terus membalas ocehan Ney yang menurut mereka aneh.
"Seblaknya ditunggu yuk," ajak Asna.
"Eh jangan lupa tolong panggilkan ya penting!" Kata Ney.
"Daripada dipanggilkan kenapa sih tidak datang saja ke sekolah? Malah menunggu disitu," kata Asna berbalik.
"Sepertinya ada masalah deh bukan hanya dengan Bu Rita," kata Rina menebak.
"Bisa jadi," jawab Asna.
Belum setengah jalan tiba-tiba Rita muncul berlari. Ney melihatnya langsung senang.
"Asnaaaa, Rinaaaa lama sekali sih," kata Rita mengejar.
"Nah itu dia," kata Ney merapihkan rambutnya dan bersiap tersenyum.
"Siapa?" Tanya Rita melihat ke belakang mereka.
"Hai Rita!" Seru Ney dengan gembira.
"Loh, tidak kenal?" Tanya Mereka.
Rita mengangkat bahunya dan mengambil pesanannya.
"Katanya teman Bu Rita. Siapa namanya? Ah, Ney! Bukan?" Tanya Rina.
"Aku tidak punya teman nama Ney. Rita lain kali," kata Rita berjalan dengan mereka.
"Rita! Ini gue! Jangan pura-pura bilang tidak kenal lagi deh!" Kata Ney menghampiri.
Rita tidak peduli, Rina dan Asna menebak memang benar Ney ini memiliki masalah dengan Rita.
Ney mengejar namun tidak berani mendekat. "Aku ke sini dari jauh ya untuk bertemu kamu, aku mau minta bantuan. Bantu kek! Masa begini sih sikap kamu sama teman sendiri?" Tanya Ney dengan keras.
Rita dan keduanya tidak peduli. Mereka masuk ke sekolah dan tidak keluar lagi. Rina dan Asna enggan bertanya karena bukan urusan mereka.
Akhirnya Ney menunggu dengan kesal di sebelah warung. Orang tua dan suaminya menelepon soal temannya. Ney beralasan dia sedang bekerja.
Rita sama sekali enggan menyambutnya bahkan sampai siang pun, sama sekali tidak menghampirinya.
Rita katakan itu pada Diana dan Komariah. Tentu keduanya marah dan Rita memanggil Kazen.
Pukul empat sebuah mobil hitam mewah datang dan berbelok ke sekolah Rita.
"Hah? Mobil siapa tuh? Jangan-jangan..." kata Ney mengintip.
Ternyata milih Kazen! Ney sangat terkejut jadi selama ini Kazen selalu menjemput Rita? Wajahnya berubah menjadi masam.
Mobil Kazen keluaran terbaru, Rita datang melambaikan tangannya. Diana dan Komariah juga muncul menggelengkan kepala.
"Diana! Komariah! Apa kabar? Sudah lama ya tidak bertemu," kata Ney muncul.
Wajah Kazen berubah menatap Ney, berani juga dia tapi sengaja tidak menatap Kazen. Ya Ney ketakutan melihat badan besarnya.
"Oh oh lihat siapa yang datang lagi. Kurang ya ditampar?" Tanya Koma.
Ney senyum kecut. "Hai, Kazen lihat aku datang kan," katanya.
Kazen mendengus sorot matanya dingin membuat Ney tidak kuasa lama menatapnya.
"Ingat dong orang yang telah merundung sahabat kita. Bagus kamu datang jadi kita bisa hajar kamu," kata Koma geram.
Ney gugup berharap Rita menolong tapi tidak! "Kok kalian begitu sih? Aku sudah mengaku salah kok ke Rita. Rita kok kamu tidak bela aku?"
Rita tidak membalas apapun sudah diancam masih saja datang mengganggu. Heraaaan! Alasannya banyak lagi.
"Aku ingin sekali jambak kamu. Sini!" Kata Diana dengan galak.
"Kau kemari untuk berdamai dengan Rita. Hanya itu," kata Ney berusaha menjelaskan.
"Kamu ini tidak mengerti ya mirip anak TK. Berdamai itu artinya kamu jangan datang lagi! Harus diajarin dulu baru paham?" Tanya Komariah dengan galak.
"Pergi sana! Untuk apa berdamai segala. Alasan!" Kata Diana.
"Kamu yang suruh aku datang ya tanggung jawab dong," kata Ney marah pada Kazen.
Diana dan Komariah menatap Kazen dan Kazen mengangguk.
"Memang aku yang suruh dia datang agar dia lihat sendiri bagaimana sikap Rita. Lihat? Kamu tidak diperlukan, mau berdamai atau apapun itu cukup pergi. Damai? Dengan kamu yang masih meneror, jangan harap!" Kata Kazen.
"Pergi sana! Apa yang dikatakan Diana dan Komariah itu benar, berdamai itu maksudnya kamu pergi dan jangan datang lagi!" Kata Rita menuju mobil Kazen.
"Pergi sana! Menyusu pada Alex, mengadu sana!" Kata Koma.
"Kau sudah tidak sama Alex lagi kok dia kan bukan teman aku. Aku ingin kita seperti dulu lagi Rita! Aku akan belajar jadi teman yang baik sama kamu," kata Ney berusaha mengejar.
Rita menjulurkan lidah dan melebarkan satu matanya.
"Yah iyalah mau baikan mau damai, toh karena Rita dengan Kazen kan. Usaha kamu untuk membuat pamor dengan menjadi "sahabat" Alex pasti sia-sia karena Rita dengan orang lain," kata Diana.
"Muka badak," kata Koma.
Ney tidak memperdulikan apa kata kedua besti nya. "Rita, aku disini hanya tiga hari saja. Kita jalan-jalan yuk ada resto yang enak lho. Aku traktir deh,"
Rita tertawa mendengarnya, tidak terbayangkan dirinya bisa disuap begitu saja.
"Kita balik mencoba berteman lagi seperti dulu. Kamu kan baik pasti mau kan memaafkan dan menerima aku," kata Ney.
"Dulu? Maaf tidak ada pengulangan waktu. Nikmati saja hasil dari kelakuan kamu! Aku tidak akan membantu kamu lagi. Kalau kamu dalam masalah sulit pun, jangan harap aku mengulurkan tangan," kata Rita.
"Aku tunggu besok di BIP jam sembilan ya," kata Ney tidak peduli apa kata Rita.
Dalam mobil Diana dan Koma merinding.
"Kalau aku jadi dia malu setengah abad deh," kata Koma.
"Jangan jadi dia Koma, jelek!" kata Diana.
"Dia itu tidak sadar dirinya banyak minus tapi masih memaksa dirinya patut diterima. Padahal sudah kamu tampar juga," kata Rita.
"Hah!? Ditampar?" Tanya Kazen kaget.
Rita ceritakan semuanya pada Kazen yang membuatnya menganga dan tertawa.
"Kamu itu terlalu polos Rita, Dulu ya. Kenapa aku sangat marah karena kamu membiarkan orang tipe dia memasuki kehidupan kamu. Apalagi ikut campur urusan asmara ya bubar lah," kata Kazen.
Diana dan Komariah pulang sebelumnya dan kemudian menuju Lembang.
"Ya aku kan tidak tahu kalau aslinya begitu. Aku sadarnya pas SMA," kata Rita.
"Sadarnya karena apa?" Tanya Kazen.
Rita ceritakan soal pertemanan aneh mereka, jalinan kawan yang memang seharusnya diakhiri sejak lama.
Dari sikap seenaknya Ney yang selalu menyuruhnya mendatangi dia ke rumah, tetapi dia sendiri enggan datang ke rumah Rita.
Kazen gemasssss sekali sampai mencubit pipi Rita saking harus ditahannya hasrat Yakuza nya.
"Sudah tahu begitu, masih sajaaa yaaa anak nakal," kata Kazen.
"Hadewwwh!" Kata Rita menepuk tangan Kazen.
"Sewaktu aku lulus SMP aku sudah merasa sih kalau dia itu bukan teman yang cocok. Makanya aku SMA sampai kerja mencari sahabat dan teman dekat yang lain," kata Rita mengelus pipinya.
Bersambung ...