
"Aku tidak menyangka Asma kan hijaber sekali tapi bisa ya dia berbuat begitu," kata Koma memakan kue.
"Susah kalau menilai orang hanya dari hijabnya, Kom. Yang tidak berhijab juga banyak yang begitu. Lihat orang baik buruk itu dari sikap mereka ke orang tuanya, teman sama diri sendiri," kata Diana.
Rita setuju dengan pendapat Diana. "Dia dengan Ney bedanya jauh,"
"Iyalah, itu sudah pasti meski ya egonya sama," kata Diana lagi.
"Aku pernah dimintai nomor sama Ney ke Rita," kata Diana.
Koma kaget. "Serius? Betul, Rita? Terus?" Tanyanya.
"Ya aku tidak mau beri. Jadinya doa minta sendiri tuh," kata Rita.
"Wah! Terus kamu kasih Diana?" Tanya Koma menatap Diana.
Diana tertawa. "Aku beri nomor yang sudah tidak aktif,"
"Hahaha! Sudah nya dia marah lho merasa dipermainkan," kata Rita.
"Ya pastilah.Eh dia juga tahu aku kan?" Tanya Koma.
"Lah iya, kan aku kenalkan ke kalian berdua waktu ada kerja kelompok. Kamu lupa ya?" Tanya Rita mengumpulkan sampah.
"Oh iya!" Kata Koma menepuk keningnya.
"Tapi kita tidak ada yang suka sama sia kan, gara-gara omongan kurang ajarnya terus dia juga mengikuti aku terus kemana-mana," kata Diana.
"Kamu dulu tidak tahu orangnya seperti apa?" Tanya Koma.
"Tidak tahu karena dia menutup dirinya sendiri sih. Sekarang mengaku sebagai sahabat aku. Kan eror," kata Rita.
"Iya sih masa SMP itu kan masa pemula kita terjun ke masyarakat ya. Tapi kamu punya teman dekat kan waktu di SMP?" tanya Koma.
"Ada lima orang," jawab Rita.
"Sekarang masih kontak?" Tanya Diana menatap Rita.
"Hmm mereka sudah sibuk sekali karena bukan anak biasa juga. Mirip Alex tapi perempuan semua. Kuliahnya jauh," kata Rita.
"Makanya perempuan aneh berpikir ada kesempatan mendekati kamu lagi, ya siapa tahu jadi Sahabat asli," kata Diana paham.
"Tidak minat aku jadi sahabat dia atau sebaliknya," kata Rita.
"Waktu SMP dia bermasalah?" Tanya Diana.
"Banyak tapi aku tidak terlalu mau tahu juga. Dia jarang cerita soal dirinya, soal keluarga, adik dan kakaknya. Jadi ya aku tidak memaksa," kata Rita makan keripik pedas.
"Hmmm," jawab mereka berdua.
Rita sibuk mengunyah makanannya dan kepedasan. "Dia hanya kaget saat tahu lima yang dekat aku itu anak pejabat,"
"Anak pejabat!?" Tanya mereka berdua bengong.
"Iya," jawab Rita sibuk buka bungkusan keripik yang lainnya.
Rita menjawab biasa tidak ada kesan pamer atau yang lainnya. Datar dan biasa.
Diana bertatapan dengan Koma. Mereka mengerti kenapa Ney masih mengejar Rita, karena Rita tidak bisa terduga dekat dengan siapa.
"Hmmm perempuan aneh itu memang senang mengejek tapi nantinya dia menjiplak apa yang di lakuan orang yang tidak disukainya," kata Koma berpikir.
"Orangnya juga gengsi berat. Merebut teman daripada usaha mencari sendiri," kata Diana.
"Waktu SMP ada teman perempuan?" Tanya Diana.
"Hmmm seingat aku tidak ada, kebanyakan dia temannya laki-laki," kata Rita.
"Oh ya pantas kalau begitu mah Rita. Kalau dari kecilnya teman dia banyak laki-laki, memang minim ada perasaan halus perempuan. Ya memang jelek sih, kecuali dia temannya kolaborasi," kata Koma.
"Perempuan dan laki-laki kan?" Tanya Rita menebak.
"Iya. Kalau aku dan kamu kebanyakan perempuan kan. Diana seimbang, meski menyebalkan tapi masuk akal," kata Koma tertawa.
"Enak saja menyebalkan!" Kata Diana mendorong badan Koma.
Mereka tertawa.
"Orangnya pintar sih Rita tapi minus akhlak, akidah dan adab," kata Diana bisa tahu.
"Jadi ingat waktu kita mengaji itu, dia kan menjauh ya," kata Koma.
"Hahaha masih ingat saja," kata Rita.
"Iya dong sampai akhirnya dia pulang kan. Sepertinya takut ya sama orang yang mengaji," kata Koma.
"Makanya tidak heran kan kalau Koma tanya kamu ketempelan apa dari dia. Karena sikapnya begitu Rita," kata Diana.
"Iya ya. Tapi memang sih aku pernah ajak dia sholat, menolak katanya Haid tapi masa tiap Minggu?" Tanya Rita.
"Ya itulah, kata aku kurang akidah. Sholat kan bisa membuat kita punya adab, sopan ke orang. Bisa membuat kita belajar lah," kata Diana.
"Allah swt membimbing kita begitu lho. Jadi lebih banyak memberi kita perasaan," kata Koma.
"Iya," kata Rita setuju.
"Serius!?" Tanya Rita dan Koma.
"Iya, serius. Aku nakal lebih gila dari Ney, tapi tidak separah dia kelakuannya. Aku masih bisa menghormati dan menghargai orang," kata Diana.
"Iya kan orang tua kamu agamis sekali," kata Rita yang pernah bertemu kedua orang tuanya.
"Betul. Baju aku super mini, dada kemana-mana. Kata kamu aku seksi kan, dulu lebih parah. Rambut warna warni, kata Bapakku mirip burung beo," kata Diana yang membuat mereka ketawa keras.
"Masa sih!? Kamu seperti itu?" Tanya Rita.
"Aku jarang cerita takut kamu marah, Rita. Kalau dulu aku sudah bertemu kamu mungkin kena banting ya hahaha," kata Diana tertawa.
"Terus bisa berubah drastis begini pasti ada penyebabnya kan?" Tanya Koma antusias.
"Doa orang tua sih mereka tidak suka penampilan aku. Benar-benar total parah!" Kata Diana merinding.
"Kalau Diana kan aslinya memang manis ya jadi kalau dalam mode nakal, pasti banyak yang suka juga kan," kata Rita.
"Maksud kamu perempuan nakal tapi cantik," kata Koma.
Rita mengangguk.
"Oalaaa kalian ya. Ya karena doa mereka berdua juga terus aku pernah kecelakaan. Dari situ Bapakku bilang, 'Itu teguran untuk kamu karena sudah keterlaluan. Ayo berubah, Bapak akan bimbing kamu.' Begitu," kata Diana meneteskan air mata karena terharu.
Rita dan Koma memeluknya, pasti berat sih kena tampar Hidayah. Sama dengan Rita, bukan karena nakal tapi selalu mengingkari janji memakai hijab.
"Aku juga kan nakal dulu suka ingkar janji pakai hijab," kata Rita.
"Iya ya kalau Rita kan dikerjai sampai cacar itu kan. Setelah pakai hijab, hilang semua. Anak-anak nakal ya kalian," kata Koma.
"Hihihi harus nakal dulu baru tobat," kata Diana dan Rita.
"Ya tidak begitu juga konsepnya. Terus lanjut dong ceritanya," kata Koma.
"Banyak ya kenakalan remaja aku tapi aku tetap menjaga keperawanan itu nomor satu," kata Diana. Mereka berdua mengacungkan jempol.
"Tapi pasti ada kan yang berusaha," kata Rita.
"Ada. Banyak tapi semuanya aku hajar, asli aku tonjok! Clubbing juga aku pernah pulang jam empat shubuh. Masa-masa jahiliyah," kata Diana cekikikan.
"Sekarang tidak kan?" Tanya Koma.
"Ya tidaklah, Kom. Aku bertekad mau jadi anak yang berbakti, sholehah, dan punya teman normal. Ya sekarang aku bisa dekat sama kalian kan, aku tahu Ney seperti apa karena teman aku banyak seperti dia," kata Diana.
Mereka berdua mendengarkan dengan serius, tanpa memotong cerita Diana. Kalau Koma sih normal sejak kecil juga sudah berhijab.
"Kamu mah memang aslinya galak. Orang Palembang kan nadanya lebih bahaya kan, aku pernah ke Palembang," kata Rita.
"Iya sih hahaha," kata Diana malu.
"Jadi harus hati-hati jangan sampai kamu berubah mimik wajahnya. Bahasanya juga agak Melayu kan," kata Koma.
"Iya tapi bukan Malaysia ya. Beda," kata Diana.
"Pantas kamu lebih hapal soal kelakuan perempuan aneh itu, Na," kata Rita.
"Yang seperti dia tidak aneh bagi aku. Dari bahasa tubuhnya, nada, cara dia bicara ke kalian, itu semuanya terlihat. Makanya aku kan tidak suka dekat sama dia," jelas Diana.
"Iya iya, aku mengerti sekarang kan sudah jauh juga. Kalau nanti benar ya dia datang, aku serahkan sama kalian deh," kata Rita.
"Prita pernah lihat perempuan itu mempermalukan teh Rita di depan banyak orang. Mall pula," kata Prita datang dengan temannya.
Rita kaget, ternyata Prita ada? "Kapan? Kok kamu tidak cerita sih?"
"Ah, Teh Rita kan tidak pernah mau dengar segitu jeleknya kebiasaan dia," kata Prita duduk di sebelahnya.
"Wah! Terus? Kamu tidak cerita?" Tanya Koma.
Rita diam menunduk. "Ya.. kan aku masih bloon,"
Keduanya menggelengkan kepala.
"Rita dibilang pelit hanya karena tidak mau beri cokelat. Dasar kurang ajar," kata Prita geram.
"Oh, cokelat yang pernah kamu bawa ke kampus? Oh iya kita baru ingat," kata Diana.
"Iya yang itu Teh padahal Prita lihat kok Teh Rita sudah kasih. Pas habis, minta lagi tapi caranya tidak etis sekali," kata Prita kesal.
"Terus saat Rita tidak beri, dia bagaimana kelakuannya?" Tanya Koma.
"Nangis dong keras itu sengaja, aku mau datangi dan jambak kepalanya tapi ditahan sama teman. Katanya, itu urusan kakak kamu lebih baik jangan ikut campur. Tapi kan aku kesal," kata Prita manyun.
"Terus kamu nurut Rita? Kasih dia cokelat?" Tanya Diana jutek.
"Tidak ada ya. Aku kan sudah tahu taktik jelek dia. Aku tinggalkan saja apalagi ada orang yang lewat bilang, kalau dia pura-pura nangis. Dan aku di kasih saran lebih baik jangan berteman lagi sama dia," kata Rita.
Semuanya setuju.
"Tuh lihat saja orang lain bilang begitu Rita. Gila sekali ya kalau kamu masih dekat sama dia," kata Koma.
"Aku banyak meninggalkan dia sih karena sudah jenuh. Selalu cari masalah, tapi kalau masalahnya menangkap dia, dia memaksa aku jadi tameng. Enak saja!" Kata Rita.
Bersambung ...