
"Lho kok beda lagi? Kamu bilang itu bukan tanggung jawab kamu tapi aku. Kenapa sih kamu selaku buat cerita beda isi omongan?" Tanya Feb.
Ney jelas ingat yang dikatakan barusan, dia mencari alasan. "Ya aku memang begini kamu juga sudah tahu kan. Sudah deh jangan cerita lagi bukan urusan kamu juga soal Rita," kata Ney agak jutek. Iyalah... sudah tercapai.
"Ya urusan akulah kan kamu yang minta tolong, aku yang beli kan. Aku simpan lho bukti obrolan kita ," kata Feb menguji.
Ney kaget. "Hah!? Untuk apa kamu simpan segala? Hapus," perintah Ney.
"Nah dipakai untuk sekarang seperti biasa ya kamu pasti tak mau mengaku kan kalau kamu yang minta tolong. Nih ya aku kirim," kata Feb sambil menunggu balasan apakah Ney akan tertantang atau malah...
"Silakan, aku tunggu," kata Ney merasa Feb hanya omong kosong.
Feb kemudian berdoa dan berkata dalam grup, "Semua, aku punya bukti rekaman ya waktu Ney minta tolong aku untuk belikan bedak dari aku nanya soal alamat rumah dia sampai telepon," katanya lalu mengirimkan lagu anak-anak.
"JANGAN! OK OK aku mengaku. Aku minta maaf," kata Ney berharap Feb belum kirimkan.
Beberapa anggota grup menunggu dengan heboh, Feb kirimkan yang ternyata lagu anak-anak. Mereka protes dan Feb berkata bahwa dia ternyata lupa merekam obrolan dengan Ney.
Sudah tentu Ney kaget, wah akalnya saja ternyata! Ney memarahinya tapi Feb tidak peduli dia mengirimkan bukti bahwa Ney meminta maaf.
"Ney sudah bilang maaf lho ke aku," kata Feb memamerkan.
Ney tidak bisa berkata apapun, kesal kena tipu permainan Feb. Kesal karena Rita tahu yang sebenarnya, "bagaimana bisa?" pikir Ney sambil mengacak-acak kepalanya.
Ya bisa dong banyak celah.
"Bagus Feb, lain kali jangan mau deh kalau Ney minta tolong kamu apapun. Biar dia sendiri saja, supaya bukan kamu yang jadi kambing hitamnya," kata Sarah memberikan tepuk tangan.
Ney hanya membaca dan menggebrak mejanya. Tidak sesuai rencana, nyatanya Rita dan Feb kolaborasi. Rencananya kini berantakan karena akhirnya dia harus mengakui kesalahannya.
Ternyata tidak begitu mudah menarik seseorang untuk menjadi perantara.
"Kamu jangan seenaknya dong Ney mentang-mentang Arnila sudah pergi. Kamu pasti jadikan Feb pengganti dia kan?" Tanya Isnan menebak.
Tentu beberapa orang mengetahui hubungan Ney dengan Arnila juga tidak baik. Ney kaget membacanya kok bisa tahu? Apa sebegitu jelasnya?
Ney bergegas membalas dia harus membuat hal itu menghilang. "Jangan asal nuduh ya, aku tidak begitu,"
"Jangan pura-pura Ney, Rita yang bilang kok," kata Feb, sontak semua anggota heboh.
Ney diam tidak bisa berkutik lagi tapi dia sudah tenang karena Alex berada dalam genggamannya sekarang jadi dia akan baik-baik saja.
"Terus dia bilang apa lagi sama kamu?" Tanya Ney japri ke Feb.
Feb tersenyum, dapat juga pancingannya memang benar ya berkenaan soal Rita pasti berbeda.
"Hanya itu," balas Feb.
Hanya itu? Tapi membuatnya terpancing lalu kok bisa Rita bisa tahu taktiknya?
"Ya sudahlah sudah bukan masalah lagi juga. Nama aku sudah bersih rasakan saja dia sekarang hahaha pasti malu saat Alex lebih memilih aku," kata Ney tertawa senang.
"Ya jadi mengaku saja kamu sengaja kirim bedak ke dia. Soalnya aneh," kata Feb.
"Bagaimana yaaa habis dia menyebalkan sekali sih sama sekali tidak mau menurut dengan cara aku. Kalau dia nurut, hidupnya pasti bahagia dengan Alex dan aku jadi sahabat mereka deh," kata Ney dengan bangga.
"Bukannya kamu tidak ingin mereka bersatu? Kok sekarang mendukung Alex?" Tanya Feb.
Ney diam tidak membalas, tentu Feb dan beberapa teman lain tahu juga sedikit mengenai kisah Rita dan Alex.
Awalnya memang Ney mendukung Rita hanya karena Rita sangat lamban dalam berpikir, kadang membuat Ney hilang kesabaran dan akhirnya bertengkar. Menyebabkan Rita memilih menjauhinya.
Apalagi kata-kata Ney yang sangat tidak enak didengar olehnya. Intinya setiap Ney membantu, semuanya jadi hancur.
Kemudian dia berbalik arah mendukung Alex dengan perempuan lain yang pernah terlihat di PB. Memberikan tanda Like dan berkomentar yang setelahnya kena hardikan Alex.
Alex menyangka Ney setia kawan namun, terlihat dia mendukung siapa saja yang dapat menguntungkannya. Dia pun kena blokir dari sepupu Alex setelah tahu dirinya kenal Rita.
Mengatakan bahwa dirinya teman palsu karena lebih mendukung Alex dengan dirinya bukan dengan Rita. Ney menghentikan aksinya dan menghilang begitu saja.
Rita? Rita lihat sendiri dan dia memang meragukan kesungguhan Alex. Bertengkar dengannya, Alex langsung memiliki pasangan baru. Itu sangat menyakitkannya dan memutuskan untuk pergi.
Semua teman melihat kelakuannya, mereka tahu kalau Ney senang mencari muka ke banyak orang apalagi yang bisa membuatnya naik.
Dari mendukung kini berubah lagi menjadi penolakan, dia berpikir lagi kalau Rita jadi dengan Alex, posisi dia tidak akan ada lagi di puncak.
Namun hati Alex sudah melekat pada Rita. Ney tentu berusaha sampai menjadi-jadi memisahkan mereka berdua meski dengan cara yang kotor sekalipun. Dan akhirnya dia berhasil!
Sebenarnya sih bukan usaha dia karena Alex dan Rita memang rentan hubungannya. Jadi bukan karena Ney memang sudah agak melonggar. Kebanyakan karena tingkah Alex.
Apakah hal itu akan membuat Ney puas? Oooh tentu saja tidaaak. Akan ada suatu kejadian dimana bisa membuat dia sangat kesal dan tidak menduga.
Saat salah satu dari temannya mempertanyakan dia memihak dan mendukung siapa, Ney memutuskan memihak Alex daripada Rita.
"Kamu bilang Rita teman kamu kenapa sekarang berbalik?" tanya A heran.
"Aku mendukung Alex yaa dia kan orang besar di negaranya kalau sudah dekat otomatis doong banyak yang bisa aku raih. Hanya dengan mengandalkan namanya saja," kata Ney menjawab.
"Istigfar Ney kamu sudah menikah, punya keluarga sudah tidak pantas genit ke laki-laki lain. Apalagi mengejar rezeki yang bukan menjadi bagian kamu," kata Sarah yang memang agak agamis.
Ney sebal juga dengan Sarah yang terlihat mirip Rita meski tidak memakai jilbab. Kalau bicara miriiiip sekali hanya Sarah cepat mengerti orangnya.
"Tahu apa sih kamu! Rita juga tidak kamu kenal kan apalagi Alex," kata Ney membalas dengan agak tinggi.
Sarah menelan ludah, sudah biasa dia menghadapi kekasaran Ney. "Dia juga bukan teman kamu lagi. Kalau Rita masih dengan Alex saja kamu berhalu sebagai sahabat dia," kata Sarah.
"Iya betul sekarang Rita tidak dengan Alex mulai kamu dukung Alex dengan orang lain. Kelihatan sih niatan kamu," kata Safa.
"Helloooo Rita sudah jauh lho dari pandangan kamu. Semua orang yang dekat sama kamu selalu kena masalah, sepertinya kamu harus di ruqyah deh," kata Feb tertawa.
"Apa sih mau kalian? Tidak perlu ya kalian urusi hidup aku!" Balas Ney yang sedang marah.
"Kamu sendiri terus urus hidup Rita, Arnila terus Alex sedangkan mereka bertiga tidak ada tuh yang mengurus hidup kamu," kata Isnan menimpali.
"Sudah jelas kan Rita tidak menyukai kamu sejak dulu herannya kenapa kamu terus kejar dia? Kalau kesepian, dia banyak teman kok aku pernah bertemu," kata Sarah secara tidak sengaja.
Namun Rita tidak mengenalnya dan menurut Sarah, Rita sosok pendiam tidak terlalu banyak bicara.
"Idihhh, siapa juga yang kejar dia?" Tanya Ney.
"Ada saksinya teman aku ternyata dia pernah satu sekolah dengan kamu waktu SMP. Dan dia jelas lihat secara nyata kalau kamu sering kejar Rita. Rita itu punya teman 5 anak PM kan?" Tanya Isnan.
Ney kaget membacanya. "Nama teman kamu siapa? Kalau kenal aku, mungkin teman dekat aku disana," kata Ney mencari tahu.
"Rahasia. Sekarang kamu lagi senang karena nama kamu sudah bersih kan? Tapi kamu sadar tidak kalau kamu yang jahat sesungguhnya?" Tanya Isnan.
"Maksudnya apa? Kok jadi tuduh ke aku?" Tanya Ney keberatan.
"Iya kamu jahat, nama kamu mau bersih? Tobat! Bukannya cari masalah lain sampai sengaja Salah Kirim segala," kata Isnan.
"Tapi aku..." kata Ney.
"Empat hari. Kamu baru sadar? Itu sudah bukan salah kirim, aku kenal kamu ya Ney sudah lama. Kamu tidak pernah salah kirim apapun ke siapapun! Aku di pihak kamu memang sengaja cari masalah," kata Isnan mengirimkan emoji palu hakim.
Ney tertawa membacanya. "Terserah aku ya. Kalau aku bilang memang sengaja bagaimana? Aku tahu Rita itu sangat benci aku! Makanya aku sengaja buat perhitungan sama dia! Lihat? Alex tetap membela aku dong karena aku memang sahabat dia," katanya bangga.
Arfa datang dan membaca semuanya, dia hanya menggelengkan kepalanya masih saja Ney berbuat ulah.
"Kamu tahu Rita benci kamu, kenapa kamu semakin senang ganggu dia? Menyesal ya sebenarnya kamu bukan teman dalam lingkaran dia? Makanya saran aku ya, kamu ubah deh perilaku dan tutur kata mulut kamu," kata Arfa.
Ney menggenggam erat tangannya, mulai deh keluar lawan yang sama dengannya.
"Wah wah, Arfa sudah keluar mah pasti seru nih," kata yang lain semangat.
"Kamu itu terlalu banyak yang tidak suka bukan hanya Rita. Hobi kamu yang suka ikut campur urusan orang membuat mereka tidak nyaman. Apalagi kalau kamu sudah menyerang zona mereka," kata Arfa.
"Iya iya," kata beberapa anggota setuju.
"Kalian semua bersuara kalau Arfa datang dari tadi ada dimana?" Tanya Ney geram.
"Ada, kita kan baca malas sih balas chat kamu karena tidak mau kalah. Sudah tahu salah malah lempar ke orang lain," Amel membalas.
"Jangan ikut campur ya! Kamu juga Arfa berhenti deh dengan omongan tidak guna kamu itu. Aku tidak percaya ya dengan semua ramalan kamu!" Hardik Ney.
Mereka menertawakannya, kalau tidak percaya kenapa datang?
Bersambung ...