MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
13



"Masa kamu tidak merasa aneh sih? Dia kirim paket katanya salah kirim tapi jelas-jelas ya nama penerima aku dong. Kan aneh!" Kata Rita mem foto kan buktinya.


Alex hanya diam, dia juga agak curiga sih ada yang ganjil. "Aku yakin dia sudah tahu dari awal,"


"Lalu kenapa baru sekarang bilangnya?" Tanya Rita.


"Ya mungkin karena sibuk, dia kan sudah menikah," kata Alex agak tidak yakin.


"Sibuk selingkuh iya. Contoh Arnila ya dia sudah menikah, sibuk iya kadang-kadang balas email dan chat saja bisa malam. Iya aku percaya dia sibuk sudah menikah. Ney? Dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore dia terus balas chat," kata Rita.


"Setiap hari?" Tanya Alex.


"Iya, makanya aku heran kalau ada pembantu masa sih dia sampai se luang itu? Arnila juga pembantunya ada tapi tetap sibuk kan," kata Rita yang pernah melihat foto dirinya berpose dengan tiga pembantu rumahnya.


"Dia suka selingkuh?? Tapi kan sudah menikah," kata Alex.


"Aku ingat ya seseorang pernah berkata bahwa Orang yang sudah terbiasa selingkuh sekali, dua kali bahkan berkali-kali sebelum menikah. Saat menikah hal itu akan terus dilakukan," ketik Rita.


Alex tertawa, karena ya mantan-mantannya begitu juga sih. "Kamu masih ingat! Ya bisa jadi sih sudah ah jangan bicarakan dia lagi!" Kata Alex.


"Kamu ini mana sering sekali ya kena tipu perempuan. Dia sering mengatakan sesuatu yang aku tidak suka bahkan mendoakan buruk soal kamu," kata Rita.


"Doa apa?" Tanya Alex. Sebenarnya dia sudah tahu sih karena dulu sempat hack WA Rita. Jadi soal chat Rita, Ney dan Arnila sudah lebih dulu Alex ketahui.


"Dia bilang selalu berharap kamu mati saja," kata Rita dengan pandangan sedih.


( Hal ini sama dengan yang diceritakan oleh Arnila pada Saya. Sama dengan yang saya alami, dia juga mengatakan hal itu pada Arnila. Arnila sangat kaget ternyata Rita menceritakan persis sama dengan yang dialami dirinya. Dengan kata lain memang Ney tidak menyukai Alex sepenuhnya ).


Alex membacanya dan menundukkan kepalanya, dia sudah tahu. Yang enggan menerimanya hanya Rita dan Arnila, merekalah yang selalu mendoakan untuk kesembuhannya.


Meskipun Alex selalu meragukan bila Rita bersungguh-sungguh, mencemaskan kondisinya. Alex tidak pernah percaya bahwa Rita selalu mendoakan kesehatannya kembali sehat.


"Semua orang pasti mati, Rita kamu pikir aku akan abadi," kata Alex tersenyum.


"Kamu kan cita-cita bisa jadi seperti Edward Molen. Ya kali mau hisap darah," kata Rita membuat Alex tertawa keras.


"Edward Molen hahahahaha!! Bukan darah yang dihisap dong tapi pisang," kata Alex masih tertawa. Ahhh Alex akan kehilangan masa-masa konyol ini bersama Rita nanti.


"Hahahaha pasti bela kaaan," kata Rita manyun.


"Ya Allaaaah.. aku tidak bela. Kamu kenapa sih?!" Kata Alex cape deh.


"Dia bilang begitu bukannya komentar dong malah bilang ya pasti mati. Aku tahu kok semua manusia pasti mati, tapi masa kamu tidak bela diri ada orang mendoakan kamu mati!?" Balas Rita dengan cepat.


"Mau aku tanyakan ke orangnya? Soal paket ini," kata Alex.


Rita berpikir sudah pastilah itu harapan Ney, memang ingin Alex yang datang. "Itu harapan dia. Mau taruhan?"


"Apala aku menang atau kalah pun, kamu pasti marah," kata Alex menghela nafas.


"Harapan dia itu memang kamu yang datangi dia. Dia yakin kamu pasti bertanya ke dia, dia akan mengaku salah kirim," kata Rita sebal.


"Ya kita tanyakan. Memangnya kenapa menurut kamu dia ingin aku datang?" Tanya Alex.


"Kamu akan melindungi dia sama seperti tahun lalu, dan menganggap aku penjahatnya. Aku tahu, kamu meragukan aku. Lalu untuk apa kamu habiskan waktu saling kenal?" Tanya Rita yang dimana Alex tidak menjawabnya.


Ya memang ada keraguan tapi Alex sudah memiliki suatu rencana dan hal itu harus membuat Rita jauh. Dia mencurigai sesuatu.


"Aku tanyakan," Kata Alex dan Rita menyerah.


Setelah itu cukup bagi Rita yang sulit membuat Alex mengerti soal niatan Ney sebenarnya. Rita tahu dan lebih mengenal Ney yang sudah lama memanfaatkannya. Tapi Rita tidak pernah tersadar, karena Ney menutupnya dengan sangat rapi.


Berkat banyak orang-orang yang membantunya membukakan mata sehingga akhirnya bisa melihat sendiri Ney yang sesungguhnya.


Alex memang menanyakannya pada Ney dan Ney sangat senang, sesuai pemikirannya Rita pasti menceritakannya pada Alex. Cerobohnya Rita.


Dan sesuai yang Rita duga memang Ney mengaku salah kirim dan alamat yang diberikan salah.


"Kenapa kamu baru sadar setelah 4 hari? Bukankah itu sangat aneh?" Tanya Alex. Ney tidak menjawabnya, pikirannya cukup senang hanya dengan Alex bertanya.


Itu sudah cukup jawaban dan Alex mengatakannya pada Rita. Alex mengakui memang sesuai omongan Rita. Maling mana ada yang mengaku maling.


"Sekarang minta maaf sama dia," kata Alex yang menahan emosi.


"Oke, hanya minta maaf saja," kata Rita yang mengalah.


"Dengan tulus!" Kata Alex.


"Tidak akan. Dia tidak pernah tulus berteman dengan aku, dan berusaha menjatuhkan aku di depan kamu. Dan sama dengan kamu yang tidak tulus denganku, selalu mencari kekurangan aku," ketik Rita.


"Rita, aku..." balas Alex menutup wajahnya, meskipun dia meragu tapi pemikiran Rita entah kenapa semuanya tepat.


"Aku bersumpah akan membuktikan bahwa dia memang sengaja mengirimkan paket ini padaku. Soal salah kirim, itu hanya alasan!" Balas Rita membara.


Alex terdiam, dia hanya menghela nafas dan pusing. Kemudian tiduran. "Mungkin memang aku terlalu membela orang yang salah," katanya bicara sendiri.


Akhirnya Rita meminta Feb untuk mengatakan maaf pada Ney, Feb kaget sekali.


"Hah!? Alex percaya begitu saja?" Tanya Feb bangun dari kasurnya.


"Iya," balas Rita tersedu-sedu.


"Parah! Aku kira dia benar-benar akan memihak kamu, Rita kan kalian sudah kenal lama," kata Feb dengan bahu yang lemas. Hal ini terjadi pada beberapa temannya yang lain.


"Sudahlah sudah biasa dari 2 tahun lalu juga dia lebih percaya Ney kok," kata Rita.


"Aku baru sadari itu Feb. Karena dia kalau cerita ke aku sama Arnila beda. Arnila cerita yang aku tidak tahu, aku juga cerita yang dia tidak tahu. Akhirnya kita sama-sama merasa aneh," balas Rita sambil memandangi kandang kelinci yang sudah lama kosong.


"Dia selalu begitu kok Rita ke aku berbeda, Safa beda, nanti ke yang lain beda lagi. Jadi kalau kamu mau tahu ya dalam grup semuanya bertanya tapi hampir sering dia hanya diam," kata Feb.


"Dia suka berbohong?" Tanya Rita.


"Wah, jangan tanya deh. Kebohongan dia itu bisa kita buktikan Rita dan itu semua sudah diketahui oleh anggota grup. Makanya tidak ada yang menanggapi dia. Ada sih chat dari teman aku yang lain, dia kuliah jurusan Psikologi," kata Feb kemudian mencari chat itu.


Kemudian Feb memberikan sebuah chat agak panjang dari temannya, berisikan :


Mythomania


Mythomania atau kebohongan patologis merupakan masalah yang membuat seseorang melakukan kebohongan secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama.


Kondisi ini berbeda dengan berbohong biasa yang memiliki tujuan khusus.


Pengidap mythomania biasanya berbohong tanpa disertai tujuan khusus untuk menutupi kesalahan, memutar balikkan fakta atau penyebab lainnya.


Salah satu jenis gangguan mental ini terjadi akibat ketidakseimbangan kadar hormon kortisol dalam otak.


"Aku yakin kamu sudah tahu soal ciri-cirinya karena yang aku lihat kamu kritis orangnya Rita. Kamu lebih kepo dalam bidang seperti ini kalau kamu merasa orang itu seperti sakit, kamu selalu menelusuri," kata Feb.


Rita mengangguk. "Iya,"


"Itu bagus Rita setidaknya kamu bukan kepo akan kehidupan orang lain juga bukan biang gosip. Kamu lebih mencari sumber penyakit, kamu tidak berminat jadi dokter?" Tanya Feb.


"Aku dulu minat masuk jurusan Psikologis tapi yah karena biayanya mahal. Aku belajar sendiri saja apalagi sekarang ada internet kan," balas Rita.


"Padahal kamu cocok lho. Oke kita lanjut ya," kata Feb mengirimkan artikel lanjutannya.


Penyebab Mythomania :



Gangguan Buatan



Gangguan buatan atau sindrom Munchausen merupakan kondisi ketika seseorang bertindak seolah-olah mereka mengalami sakit secara fisik atau mental, padahal sebenarnya tidak.


Penyebabnya adalah dirinya sendiri. yaitu :


- Faktor biologis atau genetik alias turunan,


- Pelecehan atau penelantaran masa kecil,


-Tingkat percaya diri yang rendah,


- Mengidap gangguan kepribadian,


- Penyalahgunaan zat atau obat terlarang, dan


- Stres yang berujung pada depresi.


"Beberapa orang yang kenal dia lebih lama lebih percaya yang ini. Karena sudah sering Rita, kita lihat ya dia mengeluh tiba-tiba. Tapi karena sudah terbiasa, kita cuekin sih sudah nya dia jalan biasa," kata Feb.


"Tampaknya kalian lebih kenal ya," kata Rita.


"Lingkungan dia berbeda jauh dengan kamu sih. Kamu lingkungan penuh dengan orang beragama, menyimpang sedikit juga tidak akan parah. Kalau aku, Ney dan lainnya memang kurang sekali tapi ada beberapa yang mirip kamu Rita. Sering ajak sholat, sedekah," jelas Feb.



Gangguan Kepribadian



a. Gangguan Kepribadian Ambang (BPD), yakni gangguan kronis yang ditandai dengan ketidakstabilan suasana hati, citra diri dan perilaku.


b. Gangguan Kepribadian Narsistik (NPD), gangguan yang menganggap diri sendiri sangat penting dan harus dikagumi.


c. Gangguan kepribadian Antisosial (APD), gangguan yang membuat pengidap tidak dapat membedakan benar atau salah.


"Semuanya ya masuk ke dia," kata Rita bengong.


"Iya aku setuju dengan kamu. Ini semuanya sama berpendapat begitu jadi dia memang yang membutuhkan penanganan medis. Kamu pernah tidak di bilang dia harus periksa ke psikiater?" Tanya Feb.


"Pernah dan aku lakukan dong," kata Rita.


"Ya ampun, Rita! Jangan didengarkan karena bukan hanya ke kamu saja teman dia sendiri saja begitu, makanya ditinggalkan. Aku juga sama, Safa, ada banyak. Tapi kamu sadar?" Tanya Feb menghela nafas.


"Yang bermasalah dia, aku normal," kata Rita.


"Nah itu. Justru dokternya aneh dan meminta kita dong bawa Ney ke sana tapi Ney menolak dan dia kabur. Dia yang butuh penanganan psikiater bukan kita," kata Feb. Rita memijat keningnya.


"Intinya dia penderita Mythomania?" Tanya Rita.


"Iya dan masih banyak yang lainnya, Rita. Makanya tidak salah kok keputusan kamu ataupun Arnila meninggalkan dia. Toh banyak juga yang pergi meninggalkannya," kata Feb.


"Top sekali," balas Rita.


Bersambung ...