MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
68



Shin panik melihat segerombolan bocah membawa sapu meski tidak sesuai ukuran. "Alamak!! Tunggu tunggu, kakak bukan orang yang jahat!" Jelasnya.


"Jahad! Kata bu gulu Koma jangan cuka pelcaya sama olang lain ( cadel )," kata anak yang giginya ompong.


Shin mengerti dan mengulurkan tangannya, "Kita kenalan deh kalau begitu,"


Seketika gerombolan bocah itu menurunkan senjatanya dan Shin lega. Yang membuatnya kagum, mereka menaruh sapu dan lainnya di tempat semula.


Berlarian mendekati Shin tetapi tidak mengulurkan tangan, mereka masih curiga.


"Nama paman siapa? Jangan pura-pura ramah," kata anak agak besar laki-laki pula.


"Anak jaman sekarang ya. Bukan paman tapi kakak. Ka-ka-k," kata Shin agak sebal dengan sebutan itu.


Karena mereka semua tahu Shin tidak suka dipanggil begitu, akhirnya dia di ejek oleh semua anak.


"Paman. Paman. Paman," semuanya serentak membuat Shin sebal.


Anak-anak tertawa dan ada juga yang menarikan tarian seenak jidat. Awalnya Shin marah berubah menjadi tertawa keras dan ikut menari.


Teringat jaman bocil dia dan Kazen, karena wajahnya paling berbeda sering jadi bahan ejekan. Disebut Paman, apalagi sekarang.


Tapi hanya Kazen yang setia kepadanya, karena Kazen selalu menemaninya kemanapun dia pergi. Sampai bolos dari sekolah sultanos nya dan memilih pergi ke Swedia bersama Shin.


Tapi kebanyakan Shin sering disuruh sih, tukang palak juga kalau ada wanita yang berminat pada Kazen akan dipatok bayaran mahal.


Kaya dengan jalan sesat, kemudian mereka bertengkar dan ternyata Shin melakukannya untuk membeli rumah bagi orang tidak mampu.


Sekarang, dia harus berhadapan dengan bocil-bocil yang dalam penglihatannya mirip cilok.


Saling menempel dan memakai topi mirip ustadz, membuat Shin membayangkan mereka cilok yang kapan saja bisa digulung.


Sambil cengengesan, Shin duduk di kursi yang dia ambil dua. Anak-anak bermain begitu saja tanpa adanya guru. Ruang guru lantai satu dan dua sama-sama sepi.


"Hei, kelas lain libur?" Tanya Shin ke anak besar yang sedang mewarnai.


"Tidak, kan masih belajar mereka semua memilih pindah," jawabnya dengan kedua mata yang besar menatap Shin.


Shin menatap anak tersebut sambil menahan ketawa. "Pindah? Kenapa?"


"Karena kepala sekolah yang baru jahat," anak berponi datang dan duduk sebelah Shin.


Salah satu anak yang memanipulasi teman-temannya untuk menyerang.


"Jahat kenapa? Kamu tidak nurut ya?" Tanya Shin menebak.


Anak itu ternyata lucu sekali berusaha menggelitik Shin dan Shin membalas.


"Guru-guru yang baik diusir, dikeluarkan diganti sama guru yang dibawah. Ola tidak suka," katanya menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Jangan cepat-cepat nanti kepala kamu copot," kata Shin menahan tawa.


Ola diam sambil memegang kepalanya, Shin akhirnya tertawa keras.


"Kalau kepala Ola copot, nanti tidak bisa nonton sponge," katanya terus memegang.


"Sponge? Film apa?" Tanya Shin membuat anak-anak lain menertawainya.


"Masa paman tidak tahu film terkenal itu?" Tanya yang lain lalu ditertawakan.


Merasa masih sebal, Shin menjawab dengan membusungkan dada. "Tahu dong yang mirip tahu kuning itu kan? Punya teman bintang laut,"


"Wooo!" Seru mereka.


Shin bangga menjawabnya, mereka kalah!


"Kok usia paman masih suka nonton Spongebob," teriak anak-anak lalu kembali diejek paman membuat Shin bete.


"Sudah ah! Kakak pulang saja," kata Shin berdiri.


"Paman pundungan. Sudah tua masih pundungan. Pundungan," anak-anak bernyanyi.


"Kalian bisa berhenti tidak sih menduplikat orang yang saya paling merepotkan?" Tanya Shin menatap mereka dengan tajam.


"Duplikat itu apa?" Tanya Ola.


Shin menggaruk kan kepalanya iya ya mereka kan masih anak kecil. Akhirnya Shin balas kelakuan mereka sedikit.


Akhirnya mereka semua mengaku kalah. Shin mengangguk, dan berpikir sebenarnya mudah melawannya namun harus berpikir secara halus saja.


"Kenapa kalian tidak suka guru yang lain? Mereka galak?" Tanya Shin duduk di bawah.


Anak-anak kembali tenang. Mereka duduk bersama Shin membuat barisan yang penuh.


"Pokoknya kita tidak suka! Kita sering disuruh-suruh," kata Ola.


"Paman sudah menikah?" Tanya anak yang besar bernama Mona.


Shin mengira pasti mereka berpikir seganteng dia ingin menjadi kekasihnya suatu hari nanti.


"Belum dan kamu bukan tipe kakak. Masih kecil," jelas Shin dengan percaya diri.


"Siapa juga yang mau dengan kakek-kakek," kata Mona buang muka.


Semua anak laki-laki tertawa dengan keras dan Shin hanya mendengus. "Masih muda begini dibilang kakek? Anak-anak Jaman Now. Ampun deh!" Pikir Shin tepuk kening.


"Sudah ah! Tidak lucu tahu! Lalu kelas lainnya tidak akan ada isinya?" Tanya Shin.


"Tidak ada. Setelah Bu Diana dan Bu Komariah mengundurkan diri, lalu Bu Rita juga beberapa guru lain dikeluarkan. Sekolah ini jadi kacau," jelas Komala, anak besar yang sejak tadi mengobrol dengannya.


Shin mengangguk, guru masa iya hanya tiga? "Sisa guru berapa kok hanya terlihat yang di bawah?"


"Yang Paman lihat, ya itu guru tersisa," kata Ola lalu diam.


"Oh iya kakak mau tanya, kalian semua tahu tidak guru atau staf yang sering melewati rumah warna biru?" Tanya Shin mengganti topik.


Semua anak yang masih duduk dengannya berpikir.


"Kalau tidak salah ada kan satu yang pulang pergi lewat sana," kata anak yang paling kecil.


"Oh iya!" Jawab semuanya.


"Siapa?" Tanya Shin penasaran.


"Bu Rita!" Jawab mereka.


Nah! Akhirnya dapat juga namanya jadi dia tidak terlihat lagi karena dikeluarkan?


"Bu Rita saja yang melewati rumah biru itu?" Tanya Shin memastikan.


"Iya, rumahnya kan di Lembang kalau tidak lewat sana, masa ke bawah? Aku dan kakak pernah melihat Bu Rita lewat sana," kata Poni.


"Nama kamu Poni?" Tanya Shin membaca namanya.


"Iya Kak," jawab Poni ketawa.


"Rambut kamu berponi apa karena itu namanya Poni juga?" Tanya Shin.


Semuanya ketawa keras. Poni juga yang kemudian meniup poninya yang terus menutupi mata.


"Kalian punya fotonya tidak?" Tanya Shin.


"Paman mau menculik ya?" Tanya yang lain.


"Mana ada," kata Shin.


"Mau dijadikan calon istri ya?" Tanya anak laki-laki bersamaan.


"Tidak. Teman kakak suka sama dia," kata Shin.


Sontak anak-anak menghampirinya. Shin tahu kenapa.


"Kalian mau dengar cerita kakak?" Tanya Shin.


Mereka mengangguk, sudah lama nampaknya tidak ada yang berbagi cerita.


"Tapi ada satu syarat," kata Shin.


"Kakak cerita dooong!" Seru mereka semua lalu me nyengir.


"Baguslah kalian mengerti. Kita mulai! Ayo duduknya jangan berdesakan, suara kakak kan besar," kata Shin.


Cerita bagaimana sahabatnya menjadi psikopat akhir-akhir ini karena malu berkenalan dengan Rita.


Sedang Bu Dewi masih saja mencari foto itu tapi tidak menemukan dan ingat bahwa dia sudah melemparkannya ke tempat sampah.


"Duuh, tahu begini aku tidak buang deh," katanya marah-marah tidak jelas.


Di ruang atas, anak-anak mengerti dan mengajak Shin ke suatu ruangan, yaitu loker anak yang sudah pindah.


"Foto-foto guru dan staf sebelumnya ada di sini. Bu Rita bukan guru tapi staf," kata Mona.


Sebagian anak berjaga takut ketahuan oleh Bu Dewi, foto yang dibuang juga ada di dalamnya.


Mereka memberikan foto Rita. Ya! Ini dia orang yang Kazen lihat sejak tahun lalu.


Shin memfotonya dan memasukkannya kembali. Anak-anak merasa kehilangan saat Shin memasukkan hpnya.


"Kakak akan datang kemari lagi kan?" Tanya anak yang besar.


"Kenapa kalian? Kan ada guru," kata Shin membungkuk.


"Mereka membosankan tidak ada yang bisa bercerita. Ada sih guru baru tapi kalau bercerita suka terpotong," jelas A.


"Makanya kalian jangan nakal," kata Shin berjalan kembali ke kelas.


"Temanku juga pindah," kata Mona menundukkan kepala.


Shin menghela nafas, kelas yang kosong lalu guru yang tidak ada hanya staf tersisa. Mereka harus kembali!


"Begini saja karena kakak banyak pekerjaan sebagai gantinya, kakak akan mengusahakan semua guru kembali lagi. Bagaimana?" Tanya Shin menatap semuanya.


"Bagaimana caranya, Kak?" Tanya mereka bingung.


"Tunggu saja. Itu janjiku mau antarkan Kakak sampai depan?" Tanya Shin.


Mereka semua mau dan sibuk rebutan menggandeng tangan. Karena tangan Shin besar beberapa anak memegangnya.


Bajunya juga dipegang dan berhati-hati melangkah ke bawah. Bu Dewi salah tingkah, tapi Shin ijin untuk pulang karena yang dicarinya ternyata salah tempat.


Anak-anak agak sedih namun mereka memegang janji Shin.


"Kakak punya teman yang ahli dalam hal itu. Butuh waktu tiga sampai lima hari. Kalian bisa menunggu kan?" Tanya Shin.


"Bisa," jawab mereka.


Bu Dewi pikir, Shin akan kembali berkunjung lagi saat itu dia akan lebih cantik lagi.


Bersambung ...