
Minggu kemarin Rita dan Prita sudah ke dokter hewan memeriksakan Bubu. Untunglah Bubu bukan peliharaan yang sulit diatur, meski takut dan lemas.
Dokter duduk, dan Bubu berjalan lemas menuju Rita.
"Takut ya? Tenang ini dokternya baik," kata Rita.
Bubu mendengkur dan Prita memeluknya.
"Bagaimana dok?" Tanya Prita.
"Saya berikan resep lotion ya, Teteh bisa berikan untuk kakinya seminggu tiga kali, pakai satu kali saja,"kata dokter.
"Wah kelinci juga punya lotion ya," kata Rita melihat tulisan tidak jelas.
"Ada dong. Untuk kelinci ya kalau kalian yang pakai, nanti kebalik," kata dokter membuat mereka berdua merinding.
"Kalau dijilat sama kelincinya aman dok?" Tanya Rita.
"Mati," jawab dokter lalu tertawa keras. "Bahannya keras usahakan dia tidak jilat, jangan jilat ya," kata dokter.
Bubu tegang dan lelah juga. Prita masukkan Bubu ke kandang travel, dia selonjoran lega dan tertidur.
Setiap Senin, Rabu dan Sabtu pasti dioles entah oleh Rita, Ibu, Bapak atau Prita.
Bubu mengerti saat semua orang menutup lukanya untuk tidak dijilat. Tampaknya kakinya perih karena dia menyerah dan sering di seret.
Beberapa hari kemudian terlihat kulit yang kering berjatuhan, mengelupas. Bubu tegang dan banyak teriak, dia takut.
Kazen memeluknya membuat Bubu tenang, agak menangis yakin sih perih. Kulitnya nampak kemerahan warna pink, mirip anak ayam yang baru lahir.
"Mulai sembuh. Terus semangat," kata Rita, Bubu menjilat tangan Rita dan mendengkur.
Hari ke empat Bubu demam! Rita sangat cemas, keluarganya pun mencari tahu. Rita mengambil handuk kecil lalu dia celup ke air dingin.
Peras lalu Bubu di selubung handuk itu supaya suhunya turun. Bubu tidak enak badan tapi dia langsung lega setelah badannya terkena air dingin.
Bubu lebih banyak tidur, sedikit sekali berlari atau mencari sesuatu. Dia lebih memilih rehat, meski pintu kandang terbuka.
Karena takut ada apa-apa sementara Bubu tidur di kamar Rita dan dinyalakan lampu hangat. Kadang Prita menjenguk memeriksa Bubu.
Akhirnya Rita kunci agar Prita tidak berisik. Bubu tidur memejamkan kedua matanya, setiap satu jam Rita ganti handuk.
Kazen datang membawakan buah-buahan segar yang sudah dikupas dan diawetkan. Bubu senang sekali, kelihatan ya dia seperti melaporkan keadaannya.
Kazen tertawa dan memeluknya. Bubu menjilat pipinya membuat Rita marah.
"Kamu tidak begitu kalau aku gendong," kata Rita. membuat Bubu menghentikan jilatannya.
"Hahaha sepertinya dia memang betina. Apa kamu salah kasih nama?" Tanya Kazen.
Rita sebal dan tidak mau memegang Bubu, dia nampak meminta maaf dan Rita enggan memegang.
Kazen hanya tertawa memberitahu pada Bubu kalau Rita cemburu.
"Cieee cemburu sama kelinci," goda Kazen saat Bubu ditaruh kembali di kotak.
"Wajar Bubu sayang Kazen kan dia yang belikan. Pakai uangnya," kata Prita kabur.
Rita cemberut apa karena itu? Kazen mengelus pipi Rita menggunakan tangan Bubu. Rita tertawa Bubu menjilat wajahnya juga.
"Kata Bubu, jangan cemburu sayangku merata untuk semua. Tuuh," kata Kazen tertawa.
Kembali ke minggu sekarang, Rita dan Prita dijemput oleh Kazen. Rin tidak tahu karena memang sengaja, setelah tahu ya koar-koar tapi mereka sudah jauh.
Rin kesal dan ingin mengambil toples makana Bubu, ibu untung lebih cepat.
"Ini untuk Bubu," kata ibu.
"Kok sekarang ibu mihak Rita sih!?" Tanya Rin kesal.
"Bukan mihak kan memang benar kamu suka ambil makanan orang seenaknya. Bahkan dulu pemberat buku juga, sampai akhirnya Rita hancurkan semuanya," kata ibu membuat Rin kaget.
"Ibu tahu!? Kok bisa mana mungkin Rita cerita," kata Rin.
"Kak, kamu, Rita dan Prita anak-anak ibu. Kalian bertiga berbeda karakter dengan kelebihan yang berbeda juga. Kalau Rita memang yang paling menakutkan kalau marahnya kelewat batas, jadi ibu bisa tahu," kata ibu.
"Iya, dia ancam kakak lho. Kurang ajar kan," kata Rin.
"Karena kamu yang mengawalinya. Kesalahan kamu menaruh angsa di tempat yang biasa kamu sentuh lalu pecah. Memang siapa yang rela disalahkan?" Tanya ibu.
Rin terdiam. Angsa dan Kura-kura benar-benar sangat hancur.
"Kamu kakaknya, lihat perilaku dia sebaliknya pada mantan teman yang sangat kurang ajar itu.
Bukannya bersyukur malah sengaja buat masalah, kalau Rita balas lebih perih dari yang orang aneh itu lakukan pada Rita," kata ibunya.
Bubu datang meminta cemilan, ibunya membukakan kaleng. Anak-anak Rin bergantian memberikan.
"Tapi tidak ya?" Tanya Rin.
"Antara belum atau dia serahkan pada Semesta. Biar alam yang hukum orang-orang seperti dia," kata ibu.
Bubu menghampiri Rin saat ibunya ke dapur untuk masak. Rin melemparkan buku untung Bubu cepat bertindak.
Lambat laun, hati Rin simpati pada Bubu dan tertarik. Dia datang membuat Bubu berdiri agak waspada.
Rin membelai lembut kepala Bubu, "Maaf ya aku mengusir kamu. Aku memang benci adikku, aku tidak suka tapi kalau binatang aku suka,"
Bubu tidak mengerti kenapa Rin tidak menyukai majikannya. Meski Bubu senang, tetap dia merasa harus mengambil jarak.
Rin heran melihat perban di kaki Bubu saat hendak menyentuhnya, Bubu berpaling dan menghentakkan kakinya lalu kabur.
Dalam perjalanan, Rita melihat-lihat mobil yang sudah ditukar oleh Kazen.
"Wah, aku kira mobil kamu yang pintunya digeser itu. Ternyata yang besar," kata Rita.
"Hahaha kalau pakai mobil itu mana bisa kita masuk, Rita," kata Kazen.
"Oh iya," jawab Rita cekikikan.
"Kamu tahu? Mobil ini hasil usahanya dia bekerja lho. Didikan orang tuanya sangat keras, dia juga pernah jualan," kata Seren.
"Oh ya jualan apa?" Tanya Prita dan Rita.
"Jualan parfumnya dia," kata Seren.
"Hah? Kenapa dijual?" Tanya Rita.
Seren menceritakan kalau Kazen pernah ingin membeli sebuah game termahal tetapi orang tua tidak ingin memberikan banyak uang.
Alhasil dia jual semua parfumnya dan sangat laku.
"Kamu jual berapa rupiah?" Tanya Rita penasaran.
Kazen berpikir, dia harus menghitungnya ke dalam rupiah. "Satu parfum berbeda-beda sih,"
"Aku tahu! Yang pertama, Dolce & Gabbana Light Blue Eau Intense. Ini favorit beberapa mantannya," kata Seren membuat Kazen sebal.
"Haha berapa dia jual?" Tanya Rita yang tidak lah itu parfum seperti apaan.
"Dia beli satu juta, dijual dua juta juga laku," kata Seren dengan tenang.
Rita dan Prita menganga mendengarnya. Mereka saja beli parfum dengan harga dari lima ribu sampai lima belas ribu saja, sudah lumayan.
Rita melirik Kazen yang mengobrol dengan Shin. "Tampaknya dia memang bukan laki-laki sekedar sederhana," pikirnya menghela nafas.
"Kedua, ada Bvgalri Pour Homme. Aku jelaskan saja ya langsung, dia beli sekitar satu koma enam," kata Seren.
"Juta kan ya," kata Rita yang menebak mana ada juga ratusan.
"Iya dong.. Kazen itu kalau beli apapun tidak pernah dibawah lima ratus ribu. Dia pernah bilang dulu, hanya orang miskin yang beli dengan harga segitu," kata Seren.
"Hahaha kamu masih ingat saja," kata Kazen.
"Aku.. suka beli parfum seharga lima ribu. Memang orang miskin sih, yang paling mahal aku beli ya lima belas ribu," kata Rita DALAM HATI.
Menatap mereka semua dan Prita yang menatap iba, memberikan kode jangan beritahukan pada mereka.
Hahhh Rita malu sekaliiii!!
"Dia jual tiga juta, laku keras dan ada yang berebut ya," kata Seren.
"Akhirnya dibagi dua isinya hahahaha," mereka tertawa. Tidak bagi Rita yang serasa kena timpuk pohon kelapa.
Seren sebutkan semua membuat Rita terdiam, dia agak menunduk. Yah, agak malu dan merasa apalah dia hanya kerupuk rangginang yang sudah kehabisan renyahnya alias peyot.
Kazen menatap Rita, dia melihat sudah keterlaluan apa yang diucapkan Seren.
"Sudah hentikan. Itu masa lalu kok," kata Kazen.
"Duh! Si Seren tidak peka," kata Shin.
"Apa sih? Memangnya salah? Oh iya Rita, kamu sudah pernah kasih Kazen apa? Maksudku bukan ke arah mesum ya," kata Seren membuat Rita bingung.
"Euh... mmmm... aku lupa," kata Rita.
"Zen, Rita beri apa?" Tanya Seren penasaran.
Rasanya Rita ingin menangis meminta pulang. Prita tahu bagaimana rasanya.
"Aku membuatkan Kazen makanan sih. Memang ya bahannya tidak mahal dan kualitasnya biasa," kata Rita tidak peduli.
"Oh! Bagus dong," kata Seren.
Mereka semua bengong.
"Makanan yang dibuat sepenuh hati lebih mahal ketimbang harga parfum busuk dia. Lain kali buatkan untuk aku ya," kata Seren senyum.
Rita memandangi kazen, dan dia senyum. "Tapi rasanya mungkin berbeda ya,"
"Tidak apa-apa kok, aku pasti akan makan. Boleh kan Zen?" Tanya Seren
"Boleh asal jangan tiap hari kau minta buatkan!" Kata Kazen.
Bersambung ...