MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
124



"Cay! Pasti kamu lagi mabuk ya makanya bisa bicara dengan garang begitu," kata Iara menyadari gelasnya berubah.


Ney masih terdiam melihat Cay yang dibawa oleh Iara, sedang mabuk tapi bicara seperti normal. Ney merasa lega dan berpikir masa kritisnya sudah lewat.


"Siapa sih Cat itu? Kok bertingkah sok besar," kata Ney.


Rita saja tidak tahu, saat Kazen mau menjelaskan tiba-tiba Seren datang.


"Cuy Xin adalah salah satu pesohor yang juga ikut mendukung acara pameran malam ini. Kalau dia dan keluarganya tidak ada, tidak akan mungkin semeriah ini," kata Seren hadir bersama Shin.


"Ah, Kak Seren bisa saja justru kalau Kakak tidak ada, pasaran kami yang sepi," kata Cay yang kabur dari Iara.


Dia kaget melihat Ney yang gelagatnya ketakutan, mendengus dan tertawa kepadanya.


"Kamu berani juga ya datang ke tempat aku," kata Seren dengan nada super dingin.


Ney tidak berani menatapnya, apalagi suaranya yang membuat bulu kuduknya merinding. Ney berharap Rita menolongnya tapi dia mendengar suara tawa Rita dan Kazen.


"Datang dengan memalsukan data diri, apa mau kamu sekarang? Menghancurkan Rita dan Kazen? Apa kamu pikir semudah kamu hancurkan Alfarizki?" Tanya Seren dengan sikap mengancam.


"Saya tidak bermaksud memalsukan. Hanya ingin berteman lagi dengan Rita," kata Ney pelan.


"Hahahaha kamu banyak bermimpi ya orangnya, terlalu banyak delusi.


Akibat ulah kamu sendiri sekarang ingin dekat lagi. Karena apa? Melihat Rita dengan orang kaya yang lain?


Kamu memang tidak punya malu ya, masih bisa berharap diterima kembali. Sampai mengirimkan Rita Hampers segala," kata Seren dengan angkuh.


Ney kaget mendengarnya. Kenapa wanita bule ini sampai tahu soal itu?


"Rita yang cerita? Iya kan? Dia memang suka sebar," kata Ney agak marah bercampur kecewa.


"Bukan. Saya tidak kenal Rita, saya kenal karena dia kekasih sahabat saya, Kazen.


Saya tahu semua cerita ulah yang kamu perbuat pada Rita dan Alex. Kamu pikir kita semua tidak tahu?


Kasihan. Memalsukan data dengan niat mendekati Rita lagi. Bagaimana kalau teman-teman adiknya tahu ada orang yang berusaha menduplikat ya?" Tanya Seren.


"Jangan! S-saya akan keluar. Saya akan pulang," kata Ney ketakutan.


"Mau di taruh dimana muka kamu? Di sini banyak kamera saya dengan mudahnya akan membongkar kelakuan kamu malam ini. Lihat saja nanti," kata Seren.


Ney tidak bisa berkutik, melawan Seren akibatnya fatal. Suaminya bisa terkena akibatnya, Ney menyesal sekali ternyata perbuatannya bisa membuat keluarganya dalam bahaya.


"Kalau soal nama Xin bukannya ada seorang lagi ya? Yang menikah dengan salah satu keluarga di urutan delapan belas. Artha kalau tidak salah nama suaminya," kata Praya.


Ney kaget mendengarnya, dia kenal dan itu adalah nama Xin, orang yang dia hina dan remehkan sama dengan Rita.


"Oh, dia tidak bisa datang sedang bulan madu. LAGI," kata Seren bergabung dengan ketiganya meninggalkan Ney yang terpuruk sendiri.


Kazen dan Rita bergabung, Rita menatap Ney yang dia balas angkat bahunya.


"Ya ampun sudah keempat kalinya mereka. Kalau dia ada disini pasti cepat akrab dengan Rita," kata Iara.


"Kenapa memangnya?" Tanya Rita.


"Orangnya tomboi dari kalangan bawah juga tapi asik orangnya," kata Praya.


"Mereka terus mengatakan kelas bawah dengan sangat ringan ya," kata Rita pada Kazen.


"Yah maklumlah mereka semua hidupnya di dalam sangkar emas. Berbeda dengan orang biasa tapi angkuh pada orang lain, padahal hidupnya dalam sangkar kawat kecil," kata Kazen.


Ney tentu mendengarnya, dia hanya bisa berdiri agak menjauh namun suara obrolan mereka masih terdengar.


"Artha dan Xin maksud mereka? Jadi Xin memang benar masuk keluarga terkaya juga? Sial!!" Pikir Ney mengumpat kesal. Semua orang yang pernah dia sakiti nyatanya sekarang lebih sukses darinya.


"Kalian coba mobil ini ya tadi," kata Seren melihat-lihat.


"Lain kali aku ajarkan kamu memakai mobil," kata Kazen.


"Sayang ya kamu bukan tuan putri jadi tidak mungkin bisa beli semewah ini," kata Ney yang kumat lagi sambil memandangi Rita dengan sengit.


"Kalau menikah sama Kazen, kamu bisa beli sampai lima mobil mewah. Aku tunggu," kata Iara mengedipkan matanya, membuat Ney kaget.


"Yuk, Rita sudah waktunya untuk cemilan sore. Aku sudah sediakan makanan yang super enak," kata Seren.


Rita semangat sekali begitu juga dengan yang lainnya. Ney mengikuti dan Seren menghadang di depannya.


"Dan untuk kamu, waktunya sisa lima menit. Silakan ambil inisiatif meninggalkan tempat ini atau mau menunggu sampai aku suruh petugas menyeret kamu?


Pilih dengan bijak, aku tidak mau sampai melihat penampakan kamu di tempatku!" Kara Seren.


Rita dan Kazen sudah duluan ke luar sisa tinggal Seren, Praya dan Iara. Cay juga sudah tidak sabar untuk memakan beberapa kue.


"Tapi aku memang diundang oleh Rita," kata Ney meyakinkan. Dipikirnya mereka tidak tahu.


Mereka bertiga tertawa keras di depannya.


"Betul, aku salah satu teman adiknya Rita. Namaku Sasmi," kata Ney.


"Ya Tuhan, ternyata kamu ini mungkin terobsesi menjadi aktris tapi sayang kewarasan kamu penghalangnya," kata Iara terkekeh-kekeh.


Seren mengutak atik ponselnya sambil terus tertawa. Kuku yang berwarna sama dengan Cay terlihat menawan meski ditambah glitter perak.


"Sasmi?" Tanya Seren menatapnya.


"Pura-pura amnesia berharap kita menerima dia," kata Praya tertawa keras.


"Iya sih aku mengerti kenapa Rita menolak menganggap kamu temannya. Karena penyakit kamu yang seperti ini," kata Seren.


"Kita semua dengar kok waktu kamu memperkenalkan diri dengan nama Ney Grizelle.


Aku lalu memeriksa daftar tamu tapi sayang tidak ada namamu yang terdaftar.


Itu artinya kamu penyusup yang memalsukan informasi," kata Iara memperlihatkan buku tamu.


"Rita lupa menuliskan nama aku," kata Ney membela diri.


"Apa kamu yakin wujud Sasmi itu seperti kamu? Karena aku berfoto dengan Sasmi teman adik Rita yang asli," kata Seren memperlihatkan foto Sasmi yang berjilbab gaul.


Ney terdiam seribu kata, dia memang tidak tahu hanya mendengar keterangan dari orang hotel. Kalau Anne dan Fitri pernah dia temui sedangkan Sasmi?


"Yang namanya Sasmi itu, yang ini. Kalian jangan sampai tertipu," kata Seren memperlihatkan.


"Suruh dia keluar! Memalukan!" Kata Praya dan Iara.


Ney tidak bisa mengaku apapun lagi, wajahnya memerah sangat malu. Semua omong kosong dan pengakuannya serentak terbongkar.


"Ri-Rita itu awalnya dengan Alex kenapa sekarang dengan Kazen? Sebenarnya Rita itu..." kata Ney yang kemudian menatap mereka ketiga dengan pandangan mengiba, berubah ketakutan.


"Hina sekali diri kamu menjelekkan orang lain.


Apa kamu tidak pernah diajarkan etika oleh orang tua sendiri? Bagaimana berbicara yang sopan menurut usia?


Sampai menghormati yang tua? Nada kamu itu tinggi tapi tidak sadar bahwa diri kamu sebenarnya rendah," kata Iara dengan pandangan sinis.


"Untuk apa kamu membongkar siapapun? Apa urusan kamu? Kami tidak peduli apa yang kamu katakan, keluar!" Kata Praya.


"Kamu ini hobinya mempermalukan orang lain ya aku yakin, kamu sering melakukan ini pada siapapun!


Orang yang menurut kamu tidak pantas mendapatkan keberuntungan," kata Seren mendorong bahu Ney.


"Soal Alex. Laki-laki keparat itu tidak akan pernah bisa mendapatkan Rita juga kamu," kata Praya.


"Jangan banyak berkhayal deh kamu bisa setara dengan kami. Jangan terlalu berkhayal juga bisa dekat dengan kami, kalau bukan Rita sebagai jalan penghubungnya," kata Iara.


"Tapi mana mungkin Rita tidak akan mau lagi menerima orang seperti kamu, yang mudah menghancurkan kepercayaannya," kata Seren tertawa.


Mereka bertiga pergi dengan gaya elegan dan masih tertawa. Ney hanya terdiam, tidak berani berkutik apalagi bicara.


An datang. "Kamu masih disini? Cepatlah keluar, kamu itu orang asing yang bukan dari kalangan atau koneksi manapun," kata An melihat mobil yang lainnya.


Ney berjalan dengan lunglai, ada rasa sesak dalam dadanya. Penyesalan kenapa dia harus mendapatkannya, agak menangis.


Kemudian dia berdiri tegak lagi dan tampak banyak makanan. Waktunya tersisa sedikit setidaknya dia bisa ambil beberapa makanan.


Rita sedang makan, Kazen entah dimana. Ney mendekatinya namun tidak berbicara. Rita tidak tahu dan ponsel nya berdering.


"Rita, aku pergi sekarang ya," suara adiknya Prita.


Ney hanya diam sambil memakan kue dan makanan lainnya. Obrolan mereka tentu terdengar karena Rita memasang speaker.


Suara hiruk pikuk bergema.


"Yaya sekarang ya. Kita lagi makan sore nih, cemilan. Mudah-mudahan kalian datang masih ada," kata Rita.


"Waah asyiiik siap deh. Supirnya menjemput kami," kata Prita.


"Sip!" Kata Rita sambil makan.


"Aku, Anne, Fitria dan Sasmi sudah di jalan nih. Topeng dan tiket juga sudah siap!" Kata Prita ceria.


"Bagus! Eh Pri, tahu tidak disini ada yang menduplikat nama Sasmi lho," kata Rita sengaja.


"Apa!? Serius Kak?" Tanya Sasmi sendiri.


"Iya. Dan tebak deh siapa orangnya," kata Rita.


"Siapa? Siapa? Tampaknya Prita tahu deh. Orangnya yang sebut Kak Rita penyihir kan? Yang sebut Rita tukang kirim teluh," kata Prita dengan keras.


"Iya dia mengaku-aku dong sebagai teman. Ihh amit-amit aku punya teman tukang penipu.


Nih orangnya masih ada disini, sebelah. Parah ya bukannya pergi masih bisa makan tenang, padahal semua taktik dia ketahuan lho.


Kalau Teteh sih mana ada punya wajah masih menempel di badan," kata Rita tertawa.


Ney tersentak dan membanting piring kertas, beberapa orang memarahi kelakuannya. Ney tidak peduli dia langsung beranjak pergi.


Sekilas dia melihat Rita memegang kotak cokelat berpita krem. Dia memandangi dengan miliknya yang hanya mendapatkan kotak kecil, mirip untuk cincin.


Ney sempat bertanya dan petugas menjelaskan orang yang membawa tiket dan kelengkapan, memang akan diberi sekotak besar berisi cokelat Praline.


Berbeda dengan orang yang berusaha masuk dengan banyak alasan, contoh undangan ketinggalan atau menggunakan topeng yang tidak bersyarat.


Dari situ pun Ney berusaha menutupi wajahnya yang memang sudah duluan di foto.


Wajahnya lebih malu saat beberapa petugas menertawainya dan mengatakan dia adalah penipu.


Bersambung ...