
Harusnya kalau memang dilaporkan ya tidak sampai tiga hari sudah pasti ada laporan penahanan. Ini sudah lewat tiga minggu yah, kelihatannya mereka memaafkan.
"Kejam bagaimana?" Tanya Ney tidak mungkin suaminya berbohong. Sudah sering juga Ney ketahuan melakukan sesuatu di luar nurul.
Suaminya di rumah pusing tujuh keliling meskipun tidak ada kabar pasti akan berpengaruh sekali ada pekerjaannya. Pasti ada yang berkurang.
"Ya kejam tidak seperti keluarga yang lain, aku baru tahu dari teman kantor. Kan dia juga dulu pernah sempat masuk ke sana," kata suaminya membuat Ney menepuk kepalanya.
"Kenapa kamu tidak bilang sih kalau ada teman kamu yang pernah masuk? Kan..." kata Ney tidak meneruskan kalimatnya.
"Benar kan memang itu kamu. Aku tidak mau katakan karena tahu sifat kamu seperti apa. Di depan aku bilang ketemu teman, entah dibelakang bertindak apa," kata suaminya membuat Ney diam.
"Terus soal keluarga Darma apa lanjutannya?" Tanya Ney sambil memilin bibirnya. Bahaya artinya gawat kan?
"Jangan sampai kamu bertemu salah satu dari keluarga itu atau jangan mendatangi anggota keluarganya. Habis kamu nanti.
Mereka dikenal sangat mudah menyingkirkan orang-orang yang mengganggu," kata suaminya.
"Disingkirkan bagaimana maksudnya? Terangkan dong," kata Ney panik.
"Ya coba kamu pikirkan sendiri kelakuan kamu ada batasnya sekarang," kata suaminya membeberkan.
"Itu serius?" Tanya Ney masih menganggap suaminya hanya beralasan.
"Ya seriuslah makanya apa-apa kalau kamu punya strategi tuh mikir plus minusnya jangan langsung nyerobot!
Akibat dari taktik itu kamu harus mulai mikir. Aku dapat surat peringatan gara-gara kamu masuk ke sana.
Aku tidak cerita supaya kamu jujur bilang ke aku," kata suaminya kemudian mengirimkan surat yang dia terima dari Bos.
Ney terkezut Bosnya memberi peringatan bahwa kejadian istrinya memasuki wilayah khusus jangan sampai terjadi lagi. Karena bisa berakhir pemecatan atau pengurangan jam kerja dan tempat yang biasa dia utus.
"Dengar ya Ney soal Rita sudahi saja semua usaha kamu. Kamu sekarang sudah punya beberapa teman, kekurangan mereka terima.
Apa niat kamu sampai melakukan hal minggu lalu?" Tanya suaminya menahan amarah.
Ney sedih kalau suaminya harus dipecat, bagaimana hidupnya nanti? Tidak terbayangkan kalau harus turun ke level nol, sama dengan Safa dan Feb.
"Aku mau bantu kamu mendapatkan posisi yang atas jadi aku berusaha mengejar Rita," kata Ney.
"Ya Allah Ney, ya jelas kenapa banyak orang yang memutuskan meninggalkan kamu sih.
Kamu mendekati mereka hanya untuk kepentingan sendiri. Urusan aku, kamu tidak perlu risau, doakan saja aku terus sehat.
Aku pikir kamu terus mengejar Rita karena sudah berubah jadi lebih baik. Ternyata masih sama!
Posisi aku bukan tergantung pada bagaimana posisi Rita. Aku kerja keras berdasarkan usaha dan aku menolak usaha kamu sampai keterlaluan begini!" Kata suaminya.
Ney menangis mendengar suaminya menolak. Dia menyeka apa salahnya? "Keluarga Rita kan sekarang naik daun. Jadi dia pasti bisa kan membantu kamu,"
"Bukan soal keluarganya juga, Rita sama kamu itu jauh sangat berbeda. Kamu selalu beranggapan ingin seperti dulu tapi kenyataannya semua berubah karena ulah kamu sendiri.
Arnila juga kan, Anna, Solar terus siapa lagi ya semua! Sudah berubah. Kamu cerita soal kedekatannya Rita dengan Alex itu?"Tanya suaminya memastikan.
"Yaa ada sih," jawab Ney.
"Ke siapaaaa? Kazen Darma?" Tanya suaminya membuat Ney kaget.
"Iya. Pada ibunya juga sih tadi," kata Ney pelan.
Mendengarnya suami Ney hanya bisa duduk lemas dan pasrah. Dins baru menyadari nama-nama keluarga yang dikatakan paling berbahaya. Darma berada di urutan dari lima besar, untungnya bukan nomor satu.
"Siapapun ya Ney kamu cerita soal perilaku anggota lain dimana, kamu bukan siapa-siapa. Posisi kita akan berada di zona berbahaya," jelas suaminya.
"Berbahaya bagaimana?" Tanya Ney ketakutan.
"Aku tidak tahu hanya jangan pernah berhubungan dengan seseorang yang kamu sendiri tidak terlalu kenal. Aku sendiri dapat peringatan dari temanku itu, mereka akan memutuskan untuk mempermainkan sesuatu. Efeknya bahaya," kata suami.
"Lalu aku harus bagaimana? Aku kembali lagi saja minta maaf," kata Ney yang mulai berdiri namun ketakutan sekali.
"Sudahlah sekalinya mereka memberi gertakan, itu bukan main-main. Mereka orang-orang yang sulit ditemui.
Kamu minta maaf pun belum tentu mereka mendengar. Pokoknya sekarang dimanapun kamu berada, jaga sikap, jaga lisan dan jaga semua hal yang selalu kamu lakukan," kata suami.
"Rita bagaimana? Dia juga dalam bahaya kan," kata Ney.
"Rita tinggalkan saja. Dia menjadi kekasih salah satu dari anak Darma kan, aku yakin Rita akan baik-baik saja," kata suaminya.
"Kenapa kamu yakin? Bisa jadi kan dia kena sasaran dimanfaatkan orang sana?" Tanya Ney.
"Dia mah beda sih sudah takdir Tuhan dia harus bersama salah satu anggota Darma," kata suaminya sambil merokok.
"Ada peringatan lagi soal pekerjaan kamu?" Tanya Ney.
"Syukurnya tidak ada tapi jaga-jaga saja. Tampaknya ada efek dari kehadiran Rita dalam Darma, biasanya mereka suka langsung libas," kata suaminya.
"Jadi memang karena Rita ya. Nah ada gunanya kan aku kalau menemuinya," kata Ney lagi.
"Jangan aku tidak yakin Rita mau mendengar keinginan kamu. Aku juga tidak enak bukan orang yang terlalu kenal sama dia.
Meski kamu pernah kenal tapi sejarahnya terlalu buruk, jangan buat Rita marah karena dia terhubung dengan Kazen kan," kata suami dengan serius.
Mendengar sejarah Ney buruk dengan Rita, Ney hanya bisa diam tentu suaminya pun tahu persis bagaimana sikap Ney.
Ney berdebar kencang, dia menyesal tidak memikirkan sisi lainnya. Mengingat aura ibunya Kazen oun sangat mengerikan.
Apalagi dengan secara terang-terangan mengatakan Ney adalah sosok pengganggu. Apakah itu tanda bahaya? Kepalanya berkeringat teringat semuanya.
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Ney panik dan gugup. Baru sekarang merasakannya.
"Kamu tidak mengatakan sesuatu yang kasar kan?" Tanya suaminya.
Ney harus menyembunyikan kenyataan bahwa dia memang agak memaksa kehendak tadi itu.
"Tidak kok justru ibunya yang bicara kasar ke aku," kata Ney. Suaminya tahu pasti karena memang Ney mengatakan sesuatu yang membuat orang tua Kazen marah.
"Lupakan dan jauhi keluarga Darma termasuk Rita. Soal dia apapun cukup kamu ketahui dari jarak jauh dan jangan didekati lagi.
Jangan berusaha mendekat berpikir Rita atau mereka akan mengerti usaha kamu.
Mereka bukan sosok yang ramah, kamu harus bersyukur keberadaan Rita bisa menahan amarah mereka.
Kalau kamu pernah mengatakan sesuatu hal dengan nada tinggi atau chat secara kasar, itu sudah masuk zona merah. Hati-hati," kata suaminya.
Ney meneteskan air mata soal peringatan Alex sudah katakan secara terang. Kalau dirinya sama sekali tidak tahu bermain dengan siapa.
"Kalau... aku berkata sangat kasar bagaimana?" Tanya Ney ingin tahu kemungkinannya.
Suaminya terdiam dan merasa itu paling buruk. "Darma itu dikenal sebagai keluarga Pembalasan. Mereka bisa membalas apapun dan ke siapapun.
Tidak aneh kalau Alfarizki meminta tolong pada mereka, sekedar mengorek informasi dari seseorang,"
Ney terdiam, wajahnya tegang pucat! Ibunya Kazen membeberkan bahwa memang Alfarizki meminta dirinya menginterogasi Ney.
Kabar dirinya berkata kasar pada Alex sepertinya sudah tersebar dan yang melaporkannya adalah Jasmine.
"Bukan. Apa ya hmmm kamu bisa menyebutnya sebagai Pelindung semua keluarga di dalam lingkaran.
Koneksi mereka memang lebih parah tapi sekalinya ketahuan ada permainan mencurigakan yaaaa habis," jelas suaminya.
Ney menutup wajahnya dengan tangan, sudah sudaaaahhhh semuanya dikeluarkan soal pengakuan. Bagaimana sebenarnya dia memang tidak suka Alex dekat dengan Rita, lalu ada Kazen.
"Kamu tidak mengatakan apapun kan sama Alfarizki itu? Aku baru sadar dari awal Rita kenal dengan keluarga Dalam ya pasti Darma juga tahu semua," kata suaminya membuat Ney terkejut.
"Tahu soal apa?" Tanya Ney memastikan.
"Ya semuanya yang ada di sekitar Rita. Soal kamu sudah tentu mereka pasti tahu. Apalagi sejarahnya," kata suaminya.
Ney hanya kaget super duper klemerrrr... semua bayangan ke depan, tentang rencana hubungan hancur total.
Ya Kazen pernah mengatakannya secara gamblang bahwa dia tahu bagaimana Ney membuat Rita hancur.
"Tidaaak kok, biasa saja aku tidak ada kontak lagi dengan Alex," kata Ney dengan suara lemah. Ingin menangis mengingat semua perbuatannya.
"Karena Rita sudah tidak dengan Alex lagi kan. Lebih baik sekarang kembali kamu ke jalur awal, urus aku dan anak.
Soal Rita lupakan, dunia dia sama kamu berbeda. Dari dulu aku selalu merasa takdir kamu dan dia sangat jauh.
Semoga kamu mulai bisa ikhlas tentang semua yang terjadi," kata suami sudah bisa tenang.
"Kenapa sih harus Rita? Masih banyak orang lain yang lebih pantas," kata Ney.
"Tanyakan pada Allah swt. Perbanyak sholat wajib bukan rajin sholat tahajud Ney. Yang wajib dulu kerjakan baru sunah," kata suaminya.
Nasehat itu selalu Ney dengar dan selalu pura-pura dikerjakan. Tapi kenapa Dins tahu dia tidak pernah kerjakan ya?
"Apa karena Rita jarang berpikir?" Tanya Ney.
"Hah? Mana ada bukan itu," kata suaminya tertawa.
Mau di cari seperti apapun menurut Ney ya aneh kenapa Rita bisa mendapatkan seseorang yang... kaya. Kesannya Ney apakah Rita selalu menyembunyikan pesonanya?
"Mungkin ya Rita memiliki sesuatu yang mereka tidak miliki," kata suaminya asal.
"Apa contohnya? Perasaan aku tidak ada yang istimewa deh," kata Ney melihat mobil dan suasana yang menuju sore.
"Aku tidak tahu soal itu. Kenapa kamu tidak bertanya pada Alex sebelum putus kontak?" Tanya suaminya.
Karena sibuk mengejar kepentingannya, banyak hal yang dilewati oleh Ney termasuk yang sederhana.
Ney kemudian mencari nomor Alex tapi teringat setelah itu dirinya sendiri memblokir Alex. Dia cari lagi nomornya untunglah masih ada.
Setelah ditelepon, nomornya sudah tidak terdaftar. Ney sangat lemas ternyata bahkan alamat emailnya pun sudah lama terhapus.
Di saat itulah Ney benar-benar hancur setengah termasuk soal suaminya yang mendapatkan peringatan. Membuat suaminya malu seantero kantor, Ney menangis menyadari semua perbuatannya di luar kendali.
Bukan seperti ini yang dia harapkan dan setelahnya dia kembali pulang dan memutuskan kembali ke Jakarta.
Sebelum Rita menuju rumahnya, dia sudah kan menghindari Ney. Lalu jalan dengan cepat menuju belokan menunggu angkot.
Hari mulai sore dan kecemasan Rita semakin meningkat. Angkot yang ditunggu sama sekali belum datang, dirinya ingin menangis saja ketika...
"Rita!" Teriak Kazen melaju dengan mobil berwarna biru.
"Kazen! Kok," kata Rita.
"Ayo masuk," kata Kazen membuka pintu sebelahnya.
Rita bergegas masuk meski keheranan. "Kamu bolos?"
"Iya. Aku cemas sama Bubu juga. Sudah tahu Bubu sakitnya?" Tanya Kazen melihat wajah Rita yang cemas.
"Kata Prita dua hari lalu tidak mau makan, minum sedikit terus memojokkan diri," kata Rita dengan sedih.
"Jangan cemas kita jemput lalu langsung menuju dokter," kata Kazen menghapus air mata Rita.
Rita merasa bersalah akhir-akhir ini dia kurang memperhatikan Bubu karena ada Kazen. Menyesal punya kelinci ternyata sampai lupa.
Sesampainya di rumah Rita langsung menuju kandang. Prita dan ibunya sudah ada disana menunggu.
"Bagaimana?" Tanya Rita heboh.
"Tidak mau dipegang," kata ibu.
Rita melihat Bubu mojok dan menatap Rita. "Sini, ayo kita ke dokter ya," kata Rita memancing dengan membelai kepalanya.
Karena kandangnya ada dua pintu, Prita mencegat bila Bubu kabur dan memang iya. Berhasil ditangkap Bubu meronta tapi tidak lama dan berakhir lemas.
Kazen datang dan memeriksa, badan Bubu demam. Panas sekali. "Bubu kamu kenapa? Tidak mau makan?"
Mata Bubu terbuka menatap Rita dengan lemas, suaranya pelan tampak kesakitan. Telinganya panas dan lunglai.
Kazen memasukkan ke dalam rumah dimasukkan ke kotak yang agak dingin. Kazen menyiapkan es batu di sekitar dan Rita memeluknya.
"Ke dokter ya supaya kamu cepat sembuh," kata Rita dengan berlinang air mata.
Bubu hanya diam, nafasnya juga panas nampaknya pusing menikmati kepeningan. Tangannya terangkat saat Kazen di belakang Rita memegang tangan Bubu.
"Pegang dulu aku siapkan makanan siapa tahu dia mau," kata Rita. Ibunya juga sedih karena memang suka pada Bubu.
"Aku ikut ya," kata Prita siap-siap.
"Sebenarnya dia mulai puasa waktu kamu di Jakarta. Makannya sedikit sekali makanya anak-anak Kakak cemas," kata ibu membuat Rita kaget.
"Kok ibu tidak bilang? Itu toplesnya kosong," kata Rita.
"Ibu dan yang lain makan semua kalau kamu tahu kan pasti heboh. Mana baru pulang dari sana juga," kata ibunya dengan mata sembab.
Bubu berusaha jilat dagu Kazen namun karena lemas dia pasrah hanya tiduran di bahunya.
Mereka bertiga menuju dokter tanpa harus mengantri. Dokter memeriksa dan...
"Dia kena tipes," kata dokter.
"TIPES!?" Tanya mereka bertiga kaget.
"Kelinci bisa kena tipes?" Tanya Prita.
Sekejap Bubu berusaha berdiri namun ambruk lagi dan membuat Rita memijat kakinya bergantian.
"Bisa dong kan makhluk hidup," kata dokternya membelai Bubu.
"Harus rawat inap dong? Bisa tidak di rumah habis disini jauh," kata Rita.
"Bisa saja saya beri obat untuk disuntik dulu ya supaya banyak tidur. Nanti kasih makanan sedikit saja," jelas dokter menuliskan obat.
Bersambung ...