
"Lalu soal perempuan aneh itu kamu tidak perlu dipikirkan sampai kemana-mana. Biarkan saja kalau dia nanti datang lagi, misalkan," kata Koma.
"Betul yang penting dia sudah tahu kalau kamu sudah tidak mau berteman lagi dengan dia kan. Kalau dia masih memaksa memang dia kesepian sebenarnya," kata Diana.
"Apa gunanya sih masih kejar-kejar aku buat jadi teman dia, hanya sekedar mengobrol juga aku tidak minat. Manusia kan banyak ya," kata Rita mengaduk minumnya.
"Ya itu kenapa dia aneh, yang Malay juga sama. Manusia banyak susah kali ya untuk Move On? Kalau Malay sepertinya sudah ada kena ke hati kamu deh," kata Koma tertawa.
"Ya dia kepo kalau soal perempuan aneh ya sama hidup kamu. Ada sih kepedulian dia tapi hanya 1%, sisanya asli kepo, senang ikut campur urusan orang. Suka pamer juga ya," tebak Diana.
"Kalau aku sih buang-buang waktu untuk urus hidup orang yang urusan dirinya saja belum pasti benar," kata Rita.
"Masih banyak kok kegiatan yang lebih berguna seperti menyibukkan dengan kegiatan pengajian atau ikut arisan ibu-ibu komplek. Kalau kepo sama hidup kamu sih, memang kurang kerjaan," kata Diana.
"Kegiatan dia apa sih setelah menikah? Sepertinya punya waktu banyak sekali ya," kata Koma.
"Entahlah aku tidak pernah bertanya karena jawabannya tidak pernah nyambung. Dia sering tidak baca hal-hal umum yang menurutnya menarik, apalagi soal laki-laki baru dia balas," kata Rita.
"Itulah bedanya perempuan Playgirl dengan yang biasa. Terlihat jelas deh kalau dibawa bicara soal umum kadang otaknya jadi heng," kata Koma yang membuat Rita dan Diana tertawa.
"Iya ya sikapnya harusnya berubah dewasa kalau memutuskan menikah. Tapi teman-teman kita yang kocak, menikah juga suaminya jadi kocak kan. Tergantung dari pemikiran perempuan dan laki-lakinya juga," kata Rita.
Teringat Melinda yang sesudah keluar kuliah menikah.
Ada juga Triple Siti yang sama-sama setelah lulus seminggu kemudian menikah.
Rumah tangga mereka di selang kekocakan mereka sama sewaktu kuliah.
Semuanya harmonis, ada masalah disikapi dengan kepala dingin dan emosi hangat.
Tidak ada yang kepo mengenai hidup orang bahkan Rita atau siapapun.
Sudah bukan anak remaja kata mereka semua, kita tidak harus tahu bagaimana perkembangan hidup orang lain.
Karena hidup mereka pun belum tentu dekat dari sempurna.
Mereka sekedar bertanya yang lain tidak menyangkut soal pasangan atau pernikahan.
"Kalau kamu menikah nanti juga kita tahu pasangan kamu. Dari undangan kita bisa lihat siapa namanya, kalau kamu tidak keberatan. Bisa ceritakan awalnya, itu sudah cukup bagi kami."
Itulah kata mereka semua yang sudah duluan menikah.
Bukan seseorang yang lebih senang merusak hubungan seseorang yang belum tentu bersama.
Itulah kenapa mereka adalah teman-teman Rita yang paling berharga lebih dari emas dan uang.
Tidak bisa tergantikan apalagi oleh seseorang yang hobinya merusak.
Langsung kena Blacklist saat itu juga. Hal itulah yang membuat Ney kesal pada mereka semua.
Karena lebih mengerti Rita dari sifat, kelemahan dan kelebihan.
Mungkin ada yang tidak nyaman pada Rita, namun Rita tidak pernah memaksakan seseorang nyaman dengannya.
Dia membebaskan siapapun untuk mencari orang lain yang lebih nyaman.
Toh Rita memiliki sudah cukup banyak teman dan sahabat yang membuatnya nyaman.
Yang dia cari sekarang adalah pengganti Ney, Arnila dan juga Alex di sisinya.
Sahabat yang dia miliki sejak lama sudah cukup memenuhi kekosongan hatinya.
Rita tidak berminat menambah teman cukuplah mereka yang akan selalu ada sampai dirinya menua.
"Banyak kan yang mengatakan sudah siap menikah secara lahir batin? Ya ini sih menurutku maksudnya. Menikah hanya untuk menambah ke kepoan dan harga, ya ujungnya jadi tidak baik," kata Koma.
Koma dan Diana adalah sosok sahabat yang sangat dewasa menurut Rita dan teman yang lainnya.
Rita menjadikannya sebagai sahabat sekaligus kakaknya, karena itulah dia sangat menghormati mereka.
Asma juga dewasa orangnya hanya sering iri apalagi kalau bukan kepada Rita.
Padahal Rita sendiri iri padanya karena tubuhnya yang normal, tidak seperti dirinya yang tinggi.
Sedangkan Rita kurus, makanya dia sedang usaha menggemukkan badannya.
Banyak mengemil tidak membuatnya gemuk juga tetap harus dari makanan utama.
"Menikah tanpa niat karena agama juga bahaya. Jadi kalau kamu menikah dengan niat apa?" Tanya Diana.
"Agama dong. Sama-sama Islam, yang lainnya nanti mengikuti. Sudah agama, adab, sopan santun, perilaku yang baik minus sedikit," kata Rita.
"Iya betul. Inginnya kan kita seimbang ya agama baik ya perilaku, kepribadian baik. Tapi sekarang jaman sudah berubah kan," kata Diana.
"Sudah keluar orang agama baik, kepribadian kusam. Kepribadian kusam, agama tidak punya, ada juga yang semuanya bagus eh kebiasaannya minum," kata Koma.
"Sudah akhir jaman kan. Jadi semuanya mulai keluar," kata Rita.
Mereka bertiga merinding. Memikirkannya saja membuat perasaan tidak enak.
"Kenapa dulu mau-maunya jadi teman dia?" Tanya Koma masih aneh.
"Pasti karena kasihan kan?" Tanya Diana.
"Iya karena dia kemana-mana sendirian, atau temannya ituuu saja. Tapi bisa jadi memang dia sukanya begitu, kalau aku kan berbeda orang suka ajak main," kata Rita.
Masa SMP menurutnya tidak terlalu kelam meski dia tidak nyaman sekolah di sana.
Dia teringat pada teman SMP di Lembang, lebih ramah.
Tapi mungkin itulah perbedaan sekolah kota dan desa sepertinya.
Di kota dia harus menyesuaikan mode dan gaya berteman yang membuatnya jenuh dan memutuskan sendiri saja sampai akhirnya bertemu kelima teman yang lainnya.
Disana juga bertemu Ney yang selalu memandanginya sinis karena kelima anak PM tersebut.
Yang dimana Rita juga kurang percaya diri namun mereka memaklumi.
"Hmmm pasti dia yang menunjuk bahwa dia yang kasihan sama kamu karena selalu sendirian," kata Diana menebak.
"Dia pernah ya bicara begitu ke kita tapi kita bilang kalau Rita merasa jenuh memang dia lebih memilih sendiri sih. Bukan karena tidak punya teman," kata Koma.
"Iya dia bilang begitu ke aku. Aku bilang saja buktinya apa? Aku keluar dengan 5 anak PM siapa yang minta untuk selalu ikut? Siapa yang menghindari supaya kamu tidak ikut terus?" Tanya Rita.
"Dia bilang apa?" Tanya Koma.
"Ya diam. Kalau nuduh aku tidak punya teman, apa kabarnya dia yang selalu memaksa ikut aku kemana. Waktu dengan kamu saja, dia memaksa kan ikut," kata Rita ke arah Diana.
"Dulu itu, iya dia maksa tapi akhirnya aku bilang saja. Kalau aku hanya ingin jalan-jalan sama Rita bukan dia terus pura-pura menangis," kata Diana ketawa.
"Kebiasaannya begitu ya kalau orang lain tidak mau sering nangis?" Tanya Koma.
"Iya, tapi bohong. Sudah sering sekarang dia sudah menikah sudah lepas kan, aku juga tidak mau lagi tahu kabar dia bagaimana," kata Rita angkat bahu.
"Iya dia ada kesan iri sekali sama kamu dan ke banyak orang. Padahal kehidupan dia sudah lebih bagus ya," kata Koma.
"Dia sudah punya segalanya hanya kurang satu," kata Diana.
"Apa?" Tanya Rita dan Koma.
"Teman baik. Teman sejati. Teman sehidup dan semati. Kenapa dia kejar kamu terus ya mungkiiin menurut dia kamu sahabat dia, Rita. Tapi kalau kamu tidak merasa ya itu sepihak dia saja," kata Diana tertawa.
"Iyyuh," kata Rita sebal.
"Itu kan pendapat sajaaa jangan marah dong," kata Diana menggoyangkan badan Rita.
"Kalau sudah memutuskan menikah sih seharusnya dia sudah tahu dunia yang dia masuki bukan dunia remaja lagi. Apalagi sudah jadi ibu misalkan, kepo sudah bukan dunia dia lagi," jelas Koma.
"Harusnyaaa. Kalau dia masih begitu meski sudah menikah, banyak mengganggu orang ya patut dipertanyakan tujuan dia menikah apa," kata Diana.
"Teman-teman kita sudah menikah tidak ada kok yang kepo soal yang jomblo. Termasuk Rita ada 18 kan yang masih jomblo," kata Koma menghitung. Diana tertawa melihatnya.
"Memang dia yang aneh sendiri," kata Rita.
Bersambung ...