MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
150



Tangan Ney gemetaran lagi kaget dengan pernyataan ibu Kazen yang celetak celetuk mirip dia tapi masih ada kesan sopan.


"Sekarang mengaku-aku kenal anak saya, kamu itu mau memanfaatkan anak saya ya," tebal ibu Kazen.


Ney kembali dengan perkataan terbata-bata. "Bukan begitu, ya saya kenal tapi tidak terlalu dekat,"


"Kamu mengaku kenal Alex saat kamu tahu mereka saling suka. Sekarang kamu mengaku kenal anak saya, saat mereka berdua sudah jadian.


Tidak habis pikir saya, kamu sangat ingin kenal yang Rita kenal sebagai koneksi?" Tanya ibu Kazen mulai kesal.


"Ti-tidak. Karena saya memang temannya Rita," kata Ney berkata sudah sangat terpojok.


"Mungkin benar kamu memang temannya Rita tapi menurut saya bukan.


Pernyataan kamu beda-beda setiap menit. Banyak ya Nak, orang yang mengaku akrab dengan salah satu keluarga kami.


Saya yakin nanti Rita pun akan mengalami hal yang sama. Niatnya sama semua untuk sebuah Rating atau pamor.


Saya lihat memang tidak ada hubungan khusus antara kamu dan Rita. Jadi hentikan semua tingkah kamu yang memalukan ini," kata ibu Kazen.


Ney pasrahhhh sudah menyerahhh yang dia inginkan hanyalah secepatnya pergi dan keluar dari ruangan ini.


Setiap orang yang dia temui seakan-akan menghalanginya menuju Rita. Bahkan sekarang, dengan wajah yang lemah dan sudah tidak ada harapan, Ney mengatakan dengan jujur.


"Saya memang pernah membuat kesalahan saya hanya ingin bisa berbaikan lagi dengan Rita. Jadi saya ingin meminta bantuan dari Anda," mata Ney sebenarnya.


"Dari saya?" Tanya ibu Kazen yang agak aneh. Lah ya bukan ibunya Rita juga.


"Iya," kata Ney.


"Saya menolak," jawab ibu Kazen dengan cepat.


Ney menatapnya dengan nanar, wajahnya seakan bertanya Whyyyyy???


"Pertama, saya bukan ibunya Rita. Kalau kamu ingin kembali baikan, minta pada ibunya.


Dan kedua, urusan kamu dengan Rita bukan urusan saya! Kazen anak saya, saya yang akan membelanya karena dia anak saya. Kamu sudah menikah?" Tanya ibu Kazen.


"Sudah," jawab Ney.


"Kamu sudah jadi seorang istri sekaligus ibu masa kalau anak kamu bermasalah, harus orang lain yang minta maaf?


Apa itu hasil didikan orang tua kamu? Anak kamu salah, kamu harus bimbing nasehati.


Kalau anak kamu putus teman, apa orang lain yang harus membuat mereka baikan?


Kamu sebagai ibu memiliki peran besar. Begitu pun saya pada Kazen," kata ibu Kazen.


"Tapi saya memang ingin jadi temanya lagi," kata Ney dengan penuh sesal.


"Selesaikan sendiri masalah kamu tanpa bantuan siapapun. Kalaupun Rita enggan menerima, kamu harus berlapang dada.


Itu hak Rita, kamu tidak ada kewajiban memaksanya menerima.


Kalau kamu berani berbuat sesuatu, kamu juga harus berani mempertanggungjawabkannya sampai akhir. Bukan melempar ke orang," kata ibu Kazen.


Ney semakin menunduk niatnya mengejar Rita eh malah semakin menurun. Apalagi ditolak mentah-mentah oleh ibunya Kazen.


Tidak ada lagi yang bisa dia perbuat, dia masih belum sadar segalanya tapi kebanyakan apa kata Alex benar.


Dia sama sekali tidak tahu apapun mengenai keluarga Darma. Keluarga Alfarizki pun belum lho yang mereka tahu kini Alex terbaring karena kenyataan.


"Akhirnya lagi-lagi kamu juga yang kecewa kan," kata ibu Kazen menatap Ney yang menunduk.


"Apa itu memang keinginan Rita," kata Ney.


"Iya nyatanya sampai sekarang kamu tidak bisa menggapai dia kan. Kalau tidak, sudah sejak tahun lalu dia terima kamu dan pastinya tetap tidak akan banyak cerita," kata ibu Kazen menatap wajah Ney.


Kalau dia anaknya, sudah habis dia sentak dan pukul karena terlalu banyak membuat masalah.


Meski begitu ibu Kazen tetap saja penasaran mengapa Ney begitu sulitnya melepaskan orang yang memang sudah tidak berminat menjadi teman.


"Tampaknya kamu tahu soal Alex saat mereka baru kenal ya bukan sejak kuliah. Soal Kazen, dia akan baik-baik saja," kata ibu Kazen menatap aneh.


Ney kemudian bangkit dan mengambil minumnya lalu membuka kue. Sang pelayan memberikan kode aneh dimana ibu Kazen curiga.


Akhirnya Ney mengemukakan pendapatnya dan memang sangat aneh, jelas wajahnya kembali menyebalkan.


"Sekarang kan Rita sudah setara dengan saya jadi sudah sepantasnya dia menerima," kata Ney.


Ibu Kazen mengangkat satu alisnya. "Setara karena apa?"


"Karena Rita dengan anak Ibu jadi supaya keluarga Ibu tidak malu, saya pantas menjadi temannya," kata Ney senyum dengan riang.


Semuanya tertawa. Ney juga tertawa entahhh dia itu kenapa ya sama sekali tidak mendengar apa penjelasan ibunya Kazen yang panjang.


"Berarti dulu kamu mau kenal sama dia karena statusnya di bawah? Sekarang hanya karena jadian dengan Kazen, di atas?" Tanya ibu Kazen tertawa.


"Ya karena aku kan malu kalau dikenalkan ke teman-teman lain," ungkap Ney.


"Hahaha aduh maaf ya, memangnya Rita pernah mengungkapkan ingin dikenalkan ke teman kamu?" Tanya ibu Kazen menahan tawa.


"Ya tidak sih," kata Ney seingatnya mau dengan siapa Ney kenal, Rita sama sekali tidak peduli.


Beda dengan dirinya, yang selalu ingin tahu dengan siapa Rita kenal. Sekali kenal dia akan berusaha menghancurkan makanya soal. Rita bekerja sampingan juga tidak tahu.


"Lalu kenapa kamu pikir Rita mau dikenalkan?" Tanya ibu Kazen.


"Tidak tahu juga tapi dia sama sekali tidak mau mengenalkan teman-temannya ke aku. Pasti takut direbut," kata Ney manyun.


"Iya memang kan," kata ibu Kazen.


Ney bengong menatapnya.


"Kamu memang ada maksud merebut semua yang dia miliki termasuk Alex. Tadinya. Saya tahu kenapa Rita enggan mengenalkannya padamu," kata ibu Kazen.


"Kenapa?" Tanya Ney tidak tahu.


"Teman-teman dia menolak. Karena? Rita sendiri tidak pernah bercerita soal kamu, mereka tahu tampaknya hubungan kamu dan Rita seperti air dan minyak.


Jadi kamu tidak perlu bertanya-tanya kenapa kenapa, pikirkan saja sendiri ya," kata ibu Kazen masih tertawa.


"Tapi... masih belum puas. Masih tidak tahu," kata Ney.


"Hhhh kamu mengatakan sesuatu yang mereka tidak sukai mengenai Rita.


Kepada salah satu sahabatnya bisa jadi dan karena itulah sejak lama mereka menutup pintu kedatangan kamu.


Rita memihak mereka kan? Karena mereka paling banyak waktunya dengan Rita," kata ibu Kazen.


"Itu.. tidak benar. Kapan aku..." kata Ney berusaha memotong.


Tangan ibu Kazen terangkat membuat Ney harus menahan pembelaannya. "Apa yang kamu lihat tidak semuanya nyata. Saya tidak tahu apa yang terjadi di usia kecil kamu.


Tapi maaf ya kamu terlalu banyak berhalusinasi tentang apapun,"


Ney terdiam dan membeku, dia banyak bertanya-tanya segalanya. Tapi pemikirannya serasa tengah bertengkar antara hitam dan putih.


"Kalau ucapan saya agak kasar, mohon maaf tapi yang saya perhatikan begitulah keadaan kamu.


Termasuk soal Rita apapun pendapat dalam benak kamu soal dia lebih baik hentikan.


Kamu sudah sadari kesalahan dan cukup hentikan semua ulah kamu, takutnya nanti akan ada yang membalas.


Dan kamu juga yang repot, apa yang kamu lakukan menyakiti Alex mungkin. Kamu harus meminta maaf dan setop semua yang kamu rencanakan," kata ibu Kazen.


"Rita berubah seperti sekarang ini karena ulah Alex kan," kata Ney.


"Ulah kamu," jawab ibu Kazen segera.


"Kok saya?" Tanya Ney.


"Pikirkan saja sendiri. Kamu sudah menikah, sudah cukup dewasa melihat segalanya.


Saya juga bukan ibu kamu, tanyakan saja pada ibumu sendiri.


Yang mau saya katakan bahwa tidak ada kesetaraan pada dunia Persahabatan. Kalau itu yang pernah kamu alami, itu bukan persahabatan murni.


Kalau kamu menilai orang dari materi dan harta lalu mengatakan cocok dijadikan teman, kamu memang tidak berhati murni untuk menjadi teman itu sendiri," kata ibu Kazen berdiri dan kembali ke tempatnya.


Tampaknya Nyonya Darma ingin menyudahi kegiatan interogasinya dan mengambil sesuatu dari lubang dapur.


Sebuah bungkusan lumayan besar yang dihias oleh kain kotak-kotak berwarna merah.


Wajah Ney tampak hendak menangis juga tapi tidak jadi setelah melihat bingkisan tersebut.


"Selain Rita aku punya teman-teman yang lain. Dan menurutku mereka lah teman-teman yang setia kawan," kata Ney.


"Baguslah. Jadi tidak perlu lagi kamu memaksa Rita jadi teman dekat kan," kata ibu Kazen lega.


"Tapi mereka..." kata Ney.


"Hargai mereka yang mampu menerima kamu meski menurut kamu masih banyak kekurangannya. Apa kurangnya mereka?" Tanya ibu Kazen.


"Mereka tidak seperti Rita," jawab Ney menunduk.


"Yang bisa dimanfaatkan?" Tanya ibu Kazen lagi.


"Bukan," jawab Ney dengan pelan.


"Yah, saya sudah cukup menginterogasi kamu. Saya minta kamu jauhi keluarga kami, dan jangan berbuat ulah lagi. Anak saya tidak suka," kata ibu Kazen.


"Saya pikir Ibu juga menyangka saya akan menyakiti Kazen padahal saya murni ingin menjadi teman mereka," kata Ney berusaha.


Ibu Kazen menggelengkan kepala. "Itu tidak mungkin kalau kamu sadar betapa berharganya Rita, saat dia dengan yang lain.


Pergilah cari orang yang mirip dengan Rita di tempat lain, meski sifat atau karakternya berbeda," kata ibu Kazen duduk di kursi meja kerjanya.


Ney berdiri pelayan memberikan bingkisan itu. Ney menerimanya sangat berat entah apa saja isinya. Setidaknya dapat bingkisan mewah.


"Saran saya kalau kamu masih belum puas dengan posisi kamu, ubah dari terbiasa pembuat onar menjadi pembuat solusi.


Itu bisa membuat diri kamu jadi lebih baik," kata ibu Kazen memeriksa sesuatu.


Ney terdiam dan berjalan.


"Tunggu, satu hal lagi. Kamu tahu warna kesukaan Rita?" Tanya ibu Kazen.


"Warna. Ah hijau!" Jawab Ney.


"Ya kamu benar. Alasannya?" Tanya ibu Kazen.


"Dia suka katak," jawab Ney.


"Katak?" Tanya ibu Kazen berpikir katak mana yang warnanya hijau?


"Keroppi! Dia pernah bilang suka warna hijau karena katak animasi yang dia sukai," kata Ney masih ingat.


"Hmmm begitu," kata ibu Kazen.


"Saya permisi mau pulang," kata Ney berjalan ke pintu.


"Baiklah, Rita sedang menuju kemari kalau mau bertemu dia untuk yang terakhir, silakan," kata ibu Kazen tanpa melihatnya.


Ney tidak menjawab dia bahkan heran terakhir? Bertemu dengan Rita untuk yang terakhir? Kenapa?


"Tadi kamu bicara soal ketidaksetaraan dengan Kazen atau kamu kan," kata ibu Kazen masih berlanjut.


Ney berbalik, "Ibu berpikir hal yang sama dengan saya kan. Memang Rita tidak cocok dengan Kazen, saya juga mengatakan hal itu pada Alex,"


Berharap dirinya dipanggil kembali tapi tidak. Mereka berbicara sambil berdiri. Pintu masih ditahan oleh para pelayan.


"Mengatakan soal apa?" Tanya ibu Kazen menatap Ney.


"Kalau Rita mana mungkin sepadan dengan keluarganya, dengan saya pun jauh. Status Rita kan di bawah saya, jadi saya sarankan ke dia cari yang lain," kata Ney tertawa.


"Jadi kamu lebih mendukung Alex dengan orang lain ketimbang Rita? Karena itukah kamu memberi dukungan pada dia dan sepupu?" Tanya Ibu Kazen.


"Iya," jawab Ney tanpa ragu.


"Jadi memang kamu mudah berkhianat ya," kata Ibu Kazen menutup buku besar.


Ney tidak bisa menjawab lagi mendengar yang terakhir. Rita juga mengatainya seorang pengkhianat karena hal tersebut.


"Yang ingin saya katakan dari awal saya menginterogasi kamu adalah.


Kamu tidak setara dengan kami, jadi jangan merasa paling tinggi hanya karena Rita dengan Kazen atau siapapun.


Kamu harus bersyukur memiliki teman yang rendah hati dan tidak memikirkan apapun soal diri kamu. Mau buruknya kamu atau lainnya.


Jangan pernah membangunkan seekor naga yang tidur terlelap. Rita lebih kaya dari kamu.


Hati-hati di jalan, Kalau Rita kemari suruh masuk saja," kata ibu Kazen ke pelayannya.


"Baik, Nyonya," jawab mereka.


Pintu kantor dibuka dan Ney keluar dengan pemikiran yang lemas. Kedua kakinya terasa berat seperti baru dipukul oleh kipas besi.


Pintu tertutup, dan Ney menatap pelayan yang tadi berbicara seenaknya.


"Kamu mengerti apa maksud majikan kamu?" Tanya Ney.


Pelayan itu menatap Ney dengan mengangkat sebelah alisnya. Nada bicara Ney memang terkesan tinggi dan angkuh.


"Maksud dari perkataan nyonya adalah Hati," kata pelayan tersebut.


"Hati? Kok bisa bilang Rita lebih kaya? Karena hatinya?" Tanya Ney mendengus.


"Ita, teman anda lebih kaya hatinya daripada orang yang mengaku-aku sebagai sahabatnya. Permisi," kata pelayan itu berjalan berlawanan arah.


"Apa kamu bilang," kata Ney kesal sekali. Ingin rasanya dia mencaci maki pelayan itu namun tidak bisa. Akhirnya mengepalkan tangannya ke arah dinding karena sangat kesal.


"Sial! Sekalinya bertemu dengan orang yang memiliki kedudukan tinggi, malah kena marah ibunya Kazen.


Ini semua gara-gara Rita! Kelihatan sekali aku tidak disukai ibunya. Tapi ini pasti mahal sekali isinya, kira-kira ada apa saja ya?" Tanya Ney penasaran.


Bersambung ...