
Ney diam, membeku di tempat duduknya. Air matanya keluar namun ibu Kazen tidak percaya itu rasa menyesal.
Ingat mata Ney itu pompa air yang bisa keluar kapan saja dan masuk kapan saja.
"Kazen meminta saya untuk menginterogasi kamu. Menurutnya tujuan kamu mendekati Rita bukan karena rasa rindu sebagai teman.
Karena hubungannya dengan Alex kandas, yah.. kamu tahu sisanya," kata ibu Kazen menatap Ney yang menganga.
Masih menatapi bukti pembayaran tersebut, tidak tahu apa yang harus Ney lakukan.
"Kamu sengaja melakukannya untuk menarik perhatian Rita bukan? Dengan mencantumkan namanya sebagai pemesan dan mengirimkan pesanan ke tempat lain.
Itu sudah menjadi bukti pencemaran identitas dia. Apa kamu sebegitu penasarannya dengan hidup Rita? Atau anak saya?" tanya ibu Kazen memakan cake stroberi.
Pelayan datang dan mematikan layar membuat Ney kembali dalam kenyataan. Dirinya masih harus berhadapan dengan ibunya Kazen.
"Bukan, itu memang Rita yang pesan bukan saya!" Kata Ney tidak sengaja mengatakan sedikit keras.
"Rita tinggal di Lembang kan lantas untuk apa dia memesan makanan dari Bogor? Dia tidak punya teman di sana, dia ada sepupu di Tangsel. Aneh kan?" Tanya ibu Kazen.
"Edaaaaannn ini emak!! Ini keluarga memang bukan main-main! Lebih parah dari Alex! Sampai bisa membuat aku terpojok dengan hanya satu beginian!" pikir Ney sudah butek.
"Kebiasaan kamu memutar balikkan fakta ya," kata ibunya Kazen.
"Saya... bukan... saya hanya... ingin dia tahu...kalau selama ini...saya...memang. Peduli. Tapi dia... tidak pernah... menganggap saya," kata Ney yang kemudian menangis.
"Kamu yakin dia seperti itu bukankah kamu yang menolak perhatiannya?
Anak itu begitu lemah lembut pada orang, sehingga tidak masalah bila orang tersebut tidak menganggapnya sama.
Itulah kenapa anak saya begitu menyayanginya pun dengan Alex," jelas ibu Kazen.
Ney terus menangis. Tapi bukan karena ketidakpedulian Rita, sebagian dirinya mengaku memang perilakunya sudah melebihi batas.
"Bagaimana...Anda bisa...tahu kalau dia...lembut," kata Ney menyeka air matanya.
"Saya suka memperhatikannya bagaimana dia bisa membuat anak saya tertawa.
Dia ada perhatian banyak ke kamu tapi sepertinya kamu yang menolak dia peduli. Aku merasa aneh sama kamu, Ney.
Apa kamu... ingin Rita hanya memperhatikan kamu saja? Menganggap lebih penting?" Tanya ibu Kazen membuat Ney mengangguk.
"Kamulah yang egois kalau begitu," kata ibu Kazen.
"Kenapa?" Tanya Ney dengan wajah merah karena menangis.
"Dia terlahir bukan sebagai Solo Player di bumi. Tapi manusia yang senang bersosialisasi, peduli itu adalah cara dia menganggap mu teman tapi karena sikap kamu yang ternyata membuatnya jadi musuh.
Ya dia menjauh dia mulai mencari teman lain, sahabat. Itu bukan salah dia, tapi kamu harus terima. Belajarlah menerima apapun yang sudah kamu dapatkan.
Menerima kalau tidak semua krang harus menjadi teman. Rita tahu itu, minusnya dia ceroboh kan dan mudah percaya pada kebohongan orang.
Sampai akhirnya orang tersebut memperlihatkan belang, itu tanda dirinya tidak diterima..Apa ada Rita meneror karena tidak diterima? Tidak ada.
Karena dia mengerti bahwa tidak semua orang akan menyukainya. Namun kamu tidak begitu. Semua orang harus menerima dan menyukai kamu," kata ibu Kazen.
Ney diam mendengarnya, ibunya pun sudah bersusah payah memperingatinya untuk selalu bertindak ramah dan lembut.
"Saya peduli pada Rita," kata Ney.
"Rasa peduli kamu itu sebuah Pemaksaan. Semua orang tidak suka dipaksa, apalagi sampai kamu kirim barang segala dan mereka tidak suka.
Kalau kamu sudah tahu tidak disukai, menjauh cari yang lain. Tidak perlu harus Rita terus.
Tahu kalau ditolak, putar arah kemana saja asal jangan pernah kembali ke arah awal. Jangan juga menyumpahi orang-orang yang menolak. Itu bukan etika.
Cari orang-orang yang lebih bisa menerima kamu, pemberian. Jujur menurut saya kamu memang tidak cocok dengan Rita, apalagi bila kamu ingin menjadi sahabat anak saya," kata ibunya kazen.
Ney mendengarnya pusing dia, dulu Rita juga mengatakan hal yang sama. Orang tuanya apalagi adiknya. Lalu cerita soal Koko dan Ua Mori, Arnila juga sama sampai Alex!
Tapi bagi Ney mereka semua itu pembohong. Dan akibatnya dia terus mengejar Rita, meski tidak pernah dapat. Rencana jahatnya pun selalu gagal.
"Kamu tidak perlu iri apabila Rita kenal dengan orang-orang seperti kami. Jangan sengaja kamu mengikuti dia hanya agar dekat," kata ibu Kazen.
"Tapi kenapa bisa sedangkan saya tidak," kata Ney keceplosan.
"Rita ramah, kesannya seperti anak manja kan tapi setelah kenal. Seru juga orangnya, anak saya tertarik karena memang sudah lama suka," kata ibu Kazen.
"Menurut saya, sekarang saya sudah pantas jadi temannya lagi," kata Ney membuat ibu Kazen capek deh!
"Kenapa alasannya?" Tanya ibu Kazen sudah bete!
"Dulu Rita itu bukan siapa-siapa karena tidak punya teman seperti sekarang. Kampungan pokoknya, dia lalu kenal Alex terus Kazen.
Jadi saya merasa harus ada menemani Rita, karena tidak ada lagi yang mampu," jelas Ney membuat ibu Kazen berpikir.
"Kamu memandang Rita sebagai alat supaya kamu bisa terkenal ya?" Tanya ibu Kazen curiga. Ini motif aslinya.
"Eh, bukan! Maksudnya..." kata Ney memikirkan kata yang tepat.
"Rita dekat siapapun apa pantas kamu mengatakan hal itu? Urusan Alex dengan kamu apa? Urusan Rita dekat dengan Kazen, itu bukan urusan kamu," kata ibu Kazen.
Ney diam, berusaha mencari kata-kata kalau mengaku sahabatnya tentu sudah tidak bisa dipercaya. Masalahnya aneh kan Rita yang tidak dianggap tiba-tiba dia katakan sebagai teman dekat.
"Kalau kamu merasa Rita tidak pantas dengan anak saya tapi sekarang kamu merasa mereka cocok. Ada niat terselubung.
Tidak akan ada cerita dari keluarga Alex soal perbuatan kamu. Jauhi anak saya dan Rita!" Kata ibu Kazen akhirnya.
"Saya tidak berkata Rita todak cocok. Mereka sangat cocok," kata Ney.
"Kamu katakan itu pada Alex awalnya tapi kamu bilang lagi tidak cocok dan mulai mengatakan hal diluar nalar. Saya tidak mau anak saya mengalami hal sama dengan anak mereka," kata ibu Kazen dengan tegas.
Saat Ney kembali depresot dengan perkataan ibunya Kazen, Rita di minta datang ke sebuah ruangan dimana Ney tadi melihatnya.
Rita diantar seorang pelayan dan melihat ruangan kantor megah yang dimana terdapat Ney di dalamnya. Lalu memasuki kantor sebelah.
"Silakan, dan duduk untuk menunggu," kata pelayan tersebut.
Rita menunduk mengucapkan terima kasih dan pintu ditutup. Rita terkesan dan terkejut dengan isi di dalamnya. Interiornya berbeda dengan kantor Kazen dan Ibunya.
Bibi Lianda masuk dan senyum, membuat Rita berdiri. Inilah yang mengujinya di acara kemarin itu.
"Tenang tenang duduklah," kata Bibi Lianda.
"Anu, Tante.." kata Rita gugup.
"Hahaha saya ini kepala pelayan, Lianda. Duduklah maaf ya nyonya Darma menyuruh saya menguji Teteh. Mau minum apa?" Tanya Bibi Lianda menyerahkan menu.
Rita melihat menu tersebut dan bengong. Kantor tapi punya menu!? "Seperti di cafe ya,"
"Hahaha kantor ini memiliki dapur, kamar dan kamar mandi. Ayo aku perlihatkan supaya kamu tidak penasaran," kata Bibi.
Rita ingin tahu dan dia sangat terkejut melihat semuanya. Dapur audah tentu ada beberapa pelayan yang tengah memasak sesuatu.
Setelahnya duduk kembali, Rita masih melihat-lihat. Isi ruangan tampak seperti rumah saja dengan karpet yang nyaman untuk diinjak.
"Sudah memutuskan mau apa?" Tanya Lianda tertawa.
"Susu stroberi saja," kata Rita karena agak pusing karena masalah berhalangan nya.
"Iya hehehe hari kedua," kata Rita.
"Oh kalau begitu nanti saya siapkan makanan supaya Teteh semangat," kata Bibi menuju dapur.
Rita menunggu dan melihat ke semuanya. "Wah, seperti dunia Alice Wonderland," katanya.
Lemari yang penuh buku cerita versi bahasa asing, dengan warna warna indah. Ingin dia lihat tapi tidak sopan ah.
Bibi datang dan membawa gelas berisi susu dipesan Rita serta teko cantik dan juga beberapa makanan enak.
"Ayo diminum dulu saya yakin Teteh suka susu dingin kan. Dan ini ada salad buah untuk menambah energi," kata Bibi.
Rita senang sekali dan langsung meminumnya. "Alhamdulillah langsung segar," katanya tertawa.
Rita lalu mencoba salad nya dan segaaar sekali, apalagi mayones nya yang berlimpah.
Bibi langsung duduk, pelayan menyediakan teh kental serta makanan lainnya.
"Kita mengobrol ya. Kamu punya teman saat SMP?" Tanya Bibi.
"Tidak banyak tapi ada," jawab Rita dengan sopan.
"Sambil makan saja, wajah kamu pucat," kata Bibi Lianda.
"Iya maaf, tapi tidak apa-apa selalu begini kok," kata Rita.
"Kenapa tidak banyak? Teman di sekolah," kata Bibi.
"Yah aku pendiam orangnya sekolahnya itu banyak yang kelas menengah atas. Jadi.. mereka pilih-pilih," kata Rita.
"Iya aku mengerti. Tidak banyak itu bisa dihitung jari?" Tanya Bibi dengan pembawaan yang tenang.
"Ada... lima di semester tengah. Pindahan juga," hitung Rita dengan menyebutkan nama mereka.
"Lumayan. Anak Bandung?" Tanya Bibi.
"Dari negara luar, mereka anak PM," kata Rita mengambil salad lagi.
"Mereka anak yang baik pastinya," kara Bibi.
"Iya. Aku pikir mereka mendekati aku karena yaa anak kelas bawah tapi ternyata memang baik. Mereka bantu aku belajar jadi prestasiku naik," kata Rita tertawa. Tampaknya Rita merindukan mereka semua.
"Siapa saja namanya? Ah Bibi ingin tahu yang dekat dan Teteh kenal siapa saja," kata Bibi.
Rita menyebutkan nama lengkap dan nama panggilan. Bibi mengangguk mengerti. Pembicaraan mereka ternyata dipasangi penyadap yang alatnya kecil terpasang di kerah kepala pelayan.
Ny. Darma mendengarkan semua sambil mengobrol dengan Ney yang sudah baikan. Hal yang sama pun ditanyakan pada Ney.
"Apa teman kamu hanya Rita saja semasa di SMP?" Tanya ibu Kazen.
"Tidak, aku kenal lima orang lainnya," jawab Ney memikirkan hal yang sama dengan Rita.
"Oh ya? Siapa saja mereka?" Tanya ibu Kazen.
Ney garuk kepala dia tidak begitu ingat nama panjangnya karena memang tidak dekat. Berbeda dengan Rita yang lancar karena mereka berlima memang dekat.
"Saya lupa nama lengkapnya karena seringnya mendengar nama panggilan saja," kata Ney senyum.
Ibu Kazen sangat yakin kalau Ney memang anak yang aneh. Dari wajahnya soal pembicaraan tadi seperti hilang begitu saja. Termasuk soal Ney yang menangis.
"Hanya sejak SMP saja?" Tanya ibu Kazen.
"Iya. SMA nya saya jarang kontak lagi karena berbeda sekolah," kata Ney memulai aksinya.
"Apa Rita juga kenal dan berteman dengan mereka?" Tanya Ibu Kazen karena sekolah mereka dan kelas sama.
"Kenal tapi tidak terlalu dekat. Saya suka belajar sama mereka, kalau Rita hanya sebatas kenal saja," kata Ney.
Ibu Kazen mengangguk menatap tajam ke arah Ney yang seakan tidak berefek. "Kamu katanya teman dekat Rita kenapa tidak mengenalkan mereka?"
Ney diam, "Mereka bilang Rita tidak setara dan mereka tidak nyaman kalau di dekatnya jadi, aku tidak pernah kenalkan.
Ya tidak ada gunanya juga mereka kenal Rita, dia kan anak bawah," kata Ney dengan mantap tanpa menyaring isi ucapannya.
Ya jelaslah terlihat motif Ney apalagi mengatakan hal begitu. Semakin terang juga taktik Ney seperti apa.
Intinya kalau dia kenal orang yang di atas, dia akan menendang orang di bawahnya. Sama seperti Rita dan Arnila.
Dulu jaman sekolah Ney menganggap Rita manusia rendah, jadi dia menendang kehadiran Rita dan menerima, memuji tinggi Arnila.
Sekarang keadaannya ternyata membuat dia menyesal. Rita dekat dengan Alex kalangan Z dan akhirnya dia menendang Arnila sampai menjelekan nya. Yang beginian bagi Ney wajar tapi tidak menyadari efeknya.
"Keluar SMP masih kontak sama mereka?" Tanya ibu Kazen.
"Tidak ada karena mulai sibuk masing-masing," kata Ney dengan ramah.
Berbeda kenyataan dengan yang ibu Kazen dengar bajwa Rita dengan lancar menyebutkan nama kelimanya..
Dan mereka masih suka berkontak meski dirinya kuliah di tempat berbeda. Saat kuliah pun mereka masih berkontak termasuk Rita ceritakan soal Alex pada mereka.
"Hmm jadi kamu juga tidak berteman dekat ya sama mereka berlima," kata ibu Kazen membuat Ney diam.
Pelayan mengisikan lagi air minum namun ibu Kazen menolak. Dan mereka memasuki ruangan lain.
"Apa benar kamu tahu soal Alex dari Rita?" Tanya ibu Kazen.
"Iya memang dari Rita," kata Ney. Ya memang.
"Dari kapan?" Tanya ibu Kazen lagi.
Ney menghitung tepatnya dia lupa juga karena banyak hal yang terjadi. "Oktober saat kuliah,"
"Saya kira bukan karena kamu cerita SMA sampai kuliah beda tempat kan. Menurut saya saat Rita diterima kerja atau pertengahan," kata ibu Kazen.
Ney diam, ya memang di saat itu. Ney selalu lupa dengan apa yang sudah diucapkannya. Membuat ibu Kazen yakin bahwa ada sesuatu yang salah pada ingatan Ney.
"Dia ceritakan dimana soal Alex?" Tanya ibu Kazen.
"Chat Pacebuk," kata Ney.
"Kamu kenal sekali dengan Alex? Teman kah?" Tanya Ibu Kazen mulai merambat.
"Oh tidak dekat hanya dikenalkan saja, saya hanya kenal Kazen saja," kata Ney membuat ibunya menggelengkan kepala.
"Aneh sekali anak saya tidak pernah mengatakan bahwa Alex punya teman krang Indonesia.
Alex tidak pernah menceritakan siapa kamu. Kamu yakin karena awalnya kamu mengaku sebagai sahabat Alex," kata ibu Kazen.
"Saya tidak..." kata Ney kaget.
"Alex yang cerita bagaimana hubungan aneh kamu dengan Rita. Banyak bentrok dan selalu masalahnya pada kamu.
Masalah yang ada pada Rita adalah kebodohannya percaya kamu bahkan saat dia ditipu. Benar?" Tanya ibu Kazen.
Bersambung ...