MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
71



"Yuk kita pulang sudah mulai sore, aku ada janji mengaji dengan keluarga," kata Koma.


Mereka pun berpisah ke arah yang berbeda. Rita pulang dan berhenti di toko cemilan, seperti biasa untuk cemilan.


Hari itu Rita tidak mengira akan mendapatkan pengalaman mengerikan bersama adiknya.


"Assalamualaikum," kata Rita membuka pintu rumah.


Tidak ada siapapun yang menjawab, Rita melihat jam sudah pukul tiga sore. Dia berjalan ke ruang tengah dan kaget terdapat tumpukan Hokben di atas meja.


"Waah asyik!" Kata Rita masuk ke kamar dan menyimpan makanannya. Lalu keluar lagi.


Dia menghitung Hokben itu yah ada sejumlah keluarganya.


"Walaikumsalam. Itu Prita yang beli katanya mau mentraktir," ucap Bapak yang habis selesai sholat.


Prita keluar kamar sambil menari memperlihatkan gaji yang dia dapat.


"Cieee yang berhasil jadi Asisten Dosen," kata Rita menggoda adiknya.


"Iya dong gaji pertama, sekarang aku juga sudah kerja meski masih magang," kata Prita bangga.


Rita membuka semuanya ternyata semua menunya sama dan dia mengambil bagiannya. Ibu datang agak kaget.


"Eh eh jangan yang itu," kata Ibu membuat Rita menaruh Hokbennya.


"Eh? Kenapa?" Tanya Rita bingung.


"Ibu buat kakak kamu," kata ibu merebut.


Prita bingung, Rita juga. Bapak sudah ambil bagian dan memakannya.


"Oh, ya sudah. Rita ambil yang ini," kata Rita.


"Jangan yang itu, itu untuk suami kakak," kata ibu mengambil lagi.


Prita sudah tidak enak jelas terlihat di wajahnya. Bibirnya manyun, curiga.


"1, 2, 3... Lho? Pri, kurang," kata Rita aneh.


"Eh? Masa sih? Prita sudah pesan sesuai jumlah kita dan kakak Rin," kata Prita memeriksa bon nya.


Rita melihat memang sesuai jumlah lalu kenapa kurang 1? Prita melirik ibunya yang menyimpan beberapa Hokben.


"Ibu sudah ambil satu ya?" Tanya Prita, suaranya bergetar.


Rita tahu itu kode bahwa mungkin ibunya enggan Rita dapat. Rita menundukkan kepalanya, sedih.


"Sudah," jawab ibu tanpa melihat kedua anaknya.


"Ibu ambil dua ya supaya aku tidak kebagian," kata Rita.


"Masa ibu seperti itu," kata Prita memukul punggung Rita. Rita yakin!


Entah kenapa ibunya seperti itu hanya kepadanya saja, dan kagetnya saat ibu berkata,


"Untuk anak yang gagal seperti kamu, Hokben itu terlalu mewah. Kalau mau dapat bagian, coba kamu mencapai peringkat satu atau dua saat kuliah," kata ibu langsung pergi ke dapur.


Rita kesal mendengarnya, toh saat dirinya kuliah juga ibu tidak peduli di peringkat mana dirinya berada.


"Memangnya kapan ibu peduli sewaktu Rita dapat peringkat lima? Sibuk dengan wisata sendiri," kata Rita membuat ibu kaget.


Prita sudah hilang, ini sudah akan berakhir buruk. Prita ambil dompet dan tas kecil lalu mengambil kunci motor juga jaket.


"Ayo makan di luar saja," ajak Prita seret Rita.


"Prita! Untuk apa kamu ajak dia makan segala? Peringkat lima? Tidak sebanding," kata ibu dengan wajah kesal.


Namun Prita tidak peduli, Rita hanya mengikuti dan mereka pergi.


"IBU!" Teriak Bapak dengan kesal.


Rita hanya diam selama di perjalanan, Prita juga tidak bertanya apakah kakaknya baik-baik saja. Dia tahu bagaimana rasanya.


Prita melihat sendiri bagaimana Rita menjalani hidup, untungnya kakaknya itu tidak pernah melakukan hal bertentangan dengan agama.


Berkat Bapak mereka yang selalu mengajarkan ilmu agama dan Fiqih. Yang Prita pernah temukan, di saat Rita ditekan sangat hebat oleh Bapak dan Ibunya dulu.


RIta menaiki genteng rumah dan memandangi pemandangan langit malam yang dipenuhi bintang. Itulah yang selalu Rita lakukan.


Setidaknya satu jam Rita selalu ada di atas, menatap langit. Prita selalu bersyukur karena ajaran itulah membuat Rita kuat.


Rita selalu memegang kitab Al Qur'an dan memilih mendengarkan lantunan ayat suci, saat dirinya tertekan.


Rita pernah mengajak Prita naik dan merasakan desiran angin malam sampai akhirnya, kena amukan Bapak dan ibu.


Rita dimarahi untuk tidak mengajak adiknya hal-hal yang aneh. Sejak itu Rita sendiri yang sering naik ke atas.


Prita juga frustasi selalu diandalkan dan disuruh hanya belajar. Frustasi tidak boleh banyak main bahkan Rita pun kena marah.


Akhirnya karena sudah tidak tahan, Prita sengaja membuat jawaban salah sehingga nilainya turun drastis.


Bapak dan Ibu termenung saat itu melihat Prita sebagai anak kesayangan, berjatuhan nilainya.


Sadar selama ini anak ketiga mereka frustasi, Bapak meminta maaf karena terlalu menekan.


Rita stres akhirnya membeli kelinci betina yang lucu. Kelinci itulah yang kini menemani kesedihan Rita.


Kebiasaannya menaiki genteng rumah, sudah jarang dia lakukan. Dia sibuk merawat Baby, sang kelinci berwarna cokelat.


Beriring waktu, kelincinya melahirkan. Dia jodohkan dengan kelinci tetangga dan anaknya dibagi dua. Itu sebelum dia bekerja sebagai staf.


Diterima bekerja Rita takut Baby kurang diurus dan akhirnya menawari tetangga. Kebetulan tetangga memiliki anak seusia Rita, dan dia sangat suka kelinci.


Sang induk enggan lepas dari Rita, namun Rita berkata dirinya mungkin akan kurang memperhatikannya.


Sejenak kelinci besar itu memandangi Rita, meyakinkan Rita tidak sedih lagi dan menjilat tangannya.


Kelinci itu menjilat pipi Rita dan menatap sedih. Lalu melompat ke tangan tetangga sambil enggan melihat Rita.


Sekarang, berkat pekerjaannya agak berkurang Rita bersedih dan... mereka tiba di kedai sushi, ITB Bandung.


"Baru ya?" Tanya Rita membuka helm melihat bangunan Asia.


"Iya, jadi aku ajak ke sini," kata Prita mengunci motor.


Mereka masuk bersama, bangunannya tampak mewah tapi ternyata menu sushi nya murah!


"Hmmm Rita, budgetnya lima puluh ribu ya hehehe," kata Prita malu.


Harga satu sushi di tempat itu dua ribu perak. Sedangkan banyak macamnya, membuat Rita ngiler!


"Mukbang yuk," ajak Rita semangat.


"Hah!? Tapi tapi," kata Prita panik.


"Ayo lah, kamu tetap traktir aku. Aku juga traktir kamu," kata Rita.


"Oke deh kalau begitu," kata Prita menghela nafas. Intinya bayar masing-masing hahaha!


"Minumnya kamu mau apa?" Tanya Rita.


Prita ingin menangis, dia hanya bisa pasrah. Harga minuman ya dia lupa memberikan target harga.


"Rita," kata Prita.


"Aku yang bayar. Ayo!" Kata Rita tertawa.


"Tapi kan... ikhlas?" Tanya Prita.


"Kamu jaga hemat uangnya hasil Asdos. Aku kan kakak kamu, sudah aku yang bayar lagi senang nih," kata Rita.


Akhirnya mereka pesan sushi dengan dua paket berisi masing-masing dua puluh jenis sushi.


"Benar Rita dikeluarkan? Lalu mau kerja dimana lagi?" Tanya Prita.


Rita ceritakan semuanya yang membuat Prita kaget.


"Teh Asma yang jilbabnya panjang sampai lantai itu? Karya kamu diambil dia?" Tanya Prita kaget sekali.


"Iya. Masalah sama dia juga banyak tapi dia dulu yang memulai. Semua orang satu kelas sudah enek," kata Rita yang mulai makan.


"Wah. Memang sih menilai orang tidak bisa dari seberapa panjang dan pendeknya jilbab, Rita. Tidak bisa dilihat dari cara berpakaian juga tapi karakter saat kita kenal orangnya," kata Prita.


Rita mengangguk yah salah dia dan teman lainnya mengira Asma lebih bagus adabnya.


"Tapi aku pernah lihat Rita buat lagi dan dapat nila tertinggi kan. Kreatifitas seseorang memang tidak mungkin bisa di jiplak sih," kata Prita.


"Iya dong, Asma dari kegiatan seni sampai kreatifitas menari, origami, semuanya kurang. Sudah terlihat sih," kata Rita.


Mereka makan sambil mengobrol, Prita cepat sekali makannya serasa makanan hanya numpang lewat saja.


Dua jam kemudian mereka selesai meski kurang bagi Rita. Pemilik kedai bertepuk tangan.


"Kalian hebat! Makan banyak tapi tidak gemuk," katanya mengambil piring kotor.


"Kurang hehehe," Kata Rita tertawa tapi sudah cukuplah.


Tanpa mereka sadari berdirilah seorang pemuda berkacamata hitam di seberang jalan. Dan...


PLAK!


Sebuah gulungan koran tebal mendarat di kepala belakangnya. Sambil meringis kesakitan pemuda itu menatap tajam ke sebelah.


"Kamu buta ya sore begini pakai kacamata hitam," kata Shin.


"Duuh! Keparat!" Kata Kazen berusaha membalas.


"Lihat apa sih? Serius sekali," kata Shin membelai kepalanya yang kena koran dari Kazen.


"Tidak ada," kata Kazen membuka kembali korannya. Ada secuil bolong dua biji.


"Bolong apaan nih?" Tanya Shin mencolok.


Kazen lalu melipat korannya pura-pura sibuk melihat kacamata hitam. "Itu," katanya.


Shin melihat ke seberang dan tampaklah yang dilihat sahabatnya."Kamu menguntit dia!? Sampai sebegitu nya?"


"Enak saja! Aku hari ini kebetulan ingin sholat di ITB. Memangnya tidak boleh? Kamu sendiri?" Tanya Kazen menatap Shin.


"Aku juga kebetulan mengikuti bos hehehe," kata Shin kabur sebelum di lempar sepatu.


"Dasar kamu ini," kata Kazen hanya menatapnya.


Beberapa wanita lewat terus memandanginya. Yah tidak heran mereka berdua bagaikan Pangeran Siang dan Malam.


Shin, pangeran siang karena senang bergaya dan menggoda wanita. Sedangkan Kazen, pangeran malam yang enggan terganggu.


Sekarang sifatnya berubah merasa usianya sudah tua bukan waktunya bermain cinta.


"Yuk kesana," ajak Shin.


"Tidak, tidak waktunya belum tepat. Aku belum siap!" Kata Kazen menolak jantungnya berdebar.


"Ya elah! Seperti mau ketemu calon istri saja. Kenalan doang," kata Shin menyeret Kazen.


Saling tarik menarik pun terjadi dalam kedai, secara tidak sengaja Rita memandang ke seberang. Dia diam lalu tertawa melihat perilaku aneh Shin dan Kazen.


"Kenapa kok ketawa sendiri?" Tanya Prita.


"Itu lihat di luar. Ada-ada saja tuh orang," kata Rita masih tertawa.


Bersambung ...