
Kazen memandangi Rita, dia pikir Rita sedih tapi tidak. "Kamu tidak tidur? Sini di pundak aku,"
Rita menatap Kazen yang senyum. "Tidak usah, kalau aku bersandar takutnya kamu macam-macam,"
"Begitu amat memangnya kamu pikir aku pemerkosa. Ada Seren dan Shin, kalau aku lakukan itu dia sudah membalikkan mobil ini," kata Kazen menghela nafas.
Prita tertawa mendengarnya.
"Pri, kamu mau ikut kami saja? Takutnya teman-teman kamu tidak datang," kata Kazen.
"Tenang, aku sudah hubungi mereka kok. Kita menginap di hotel mana?" Tanya Prita.
"Oh iya. Aku juga belum nanya. Dimana?" Tanya Rita. Dia agak cemas sih kalau harus udunan di atas satu juta.
"Tenang saja kalian tidak perlu bayar, semuanya sudah Seren atur hehe," kata Shin.
"Eh, tapi kami merasa tidak enak," kata Prita.
"Baiklah kalau begitu kalian bisa membayar masing-masing lima juta," kata Seren berbalik dan senyum.
"LIMA JUTA!?" Tanya Prita dan Rita, mereka menelan ludah.
"Hotel yang kita tuju adalah The Ritz Carlton, Pacific Place. Ada yang pernah dengar? Aku bercanda kok. Ini perkenalan dariku untuk kalian berdua," kata Seren tertawa.
Mereka berdua menganga menatap Seren, seolah-olah mereka bertiga tampak seperti kilauan emas batangan.
"Weh, memang beda ya anak orang kaya," kata Prita, Rita setuju.
"Ahh kalian. Itu murah," kata Shin.
"Muuurah?! Lima juta bisa untuk membayar cicilan rumah eh kebutuhan," kata Prita.
"Ada spa juga. Kalian mau? Gratis kok tenang saja aku kenal pemiliknya," kata Seren mengedipkan sebelah matanya.
Prita dan Rita hanya bengong. Kazen dan Shin tertawa melihatnya, mereka membicarakan hal-hal yang agak berat.
Mereka tiba di hotel mewah tersebut. Baru kali ini mereka berdua benar-benar akan menempati kamar di hotel mewah.
Mereka mengambil tas yang dibawa oleh Kazen, lalu Seren memanggil petugas kamar. Dia mengatur kunci dan menyerahkannya pada Rita, Kazen, Shin dan dirinya.
"Aku memesan tiga kamar karena pasti Rita dan adiknya kan. Sisanya kita bertiga," kata Seren menyerahkan tiga kunci.
Sudah tidak sabar lagi, Prita dan Rita berjalan sambil melihat-lihat.
"Suasananya keren kan," kata Kazen.
"Wah! Kamu pasti sering ya," kata Rita.
"Semuanya sudah aku coba sih," kata Kazen.
"Anak sultan," kata Prita menggelengkan kepala.
Mereka semua sampai di lantai enam ternyata kamarnya berseberangan hanya Seren saja yang letaknya agak jauh.
"Kamar kita ternyata berseberangan ya, dekat," kata Rita.
"Aku minta Seren agak didekatkan meski tidak bisa satu kamar," kata Kazen lalu Rita pukul.
"Yuk, nikmati dulu sebelum kita jalan-jalan," kata Seren pergi ke kamarnya.
"Jalan-jalan?" Tanya Rita. Mereka semua memasuki kamar.
Prita membuka pintu kamar mereka dan Kazen mengikuti.
"HUWAAAA LUAAAAS!!" Teriak mereka berdua menyimpan tas dan berlari ke jendela.
"Karena nanti kan ada temannya Prita siapa tahu mau menginap juga. Sini sini," ajak Kazen ke arah meja.
"Apa?" Tanya mereka.
Kazen membuka dan mereka terkejut. Berbagai macam snack, cokelat dan kue tertata rapi di dalamnya.
"Kalian bisa ambil gratis," kata Kazen.
"Waaaahhh!! Semuanya seperti ini?" Tanya Rita.
"Mereka menerima permintaan. Aku selalu tahu kamu suka lapar kan. Di porsi ya takutnya pulang ke Bandung kamu jadi gemuk," kata Kazen.
"Biar supaya mirip dengan Bubu!" Kata Rita tertawa.
Kazen menatap Rita, dia bersyukur ternyata Rita memang berbeda dari perempuan sebelumnya yang dia jumpai.
Perempuan yang mendekatinya selalu mencari muka entah ke keluarga atau Mina, kakaknya. Ada juga yang menariknya dengan berpakaian seksi, aurot tersebar.
Rita tidak ada semuanya iyalah berhijab, kesannya juga tomboi meski sekilas anggun. Pernah Kazen menguji Rita dengan berjalan bagaikan seorang model.
Entah mungkin terinjak kakinya sendiri, Rita pun jatuh tersungkur dengan wajahnya membentur lantai.
Kazen pun panik dan melihat hidung Rita mimisan. Kedua pipi Kazen hancur Rita cubit sekeras mungkin, sampai menangis.
"Aku menerima telepon dulu ya," kata Kazen.
"Oke," kata Rita menutup laci meja itu dan tiduran dengan senang.
Sudah lama semenjak kepulangannya dari New York, teman-teman Jakartanya langsung menelepon. Malas sih karena mereka datang kalau ada maunya.
"Yo, Bro!! Apa kabar kamu? Tidak ada kabar kalau mau ke Jakarta," kata Toni.
"Baik. Ya habis keperluan keluarga sih. Ada apa nih? Eh, kamu dimana sekarang?" Tanya Kazen.
"Aku di rumah saudara nih Jakarta juga. Ketemuan yuk, anak-anak juga yang lain kangen," kata Toni.
Kazen memandangi langit, super malas kalau sudah kumpul dengan Toni cs. Pasti ajak dugem, klub benar-benar ajakan negatif.
"Aduh, bagaimana ya?" Tanya Kazen.
"Ayolah Bro! Sudah lama tidak kumpul kan. Yang lain sudah di jalan kalau kamu tidak mau minum-minum, ya kita ketemu di Cafe saja. Kirim lokasi," kata Toni seenaknya.
Kazen terdiam dan mengirimkan lokasinya kemudian kembali ke kamar Rita.
"Aku mau ke bawah ada teman-temanku," kata Kazen.
"Lebih baik jangan deh mereka teman-teman palsunya Kazen," kata Shin.
"Hah? Kok mau?" Tanya Prita.
"Anak-anak yang tersesat. Kamu tunggu saja ya," kata Kazen lalu pergi, agak kesal.
"Memangnya palsu bagaimana sih?" Tanya Rita.
"Anak orang kaya mah sudah biasa sekitarnya orang-orang bermuka empat. Mendekati dia saat ada uang, seperti itulah," kata Shin.
Ya Rita mengerti karena ada yang semacam itu juga kepadanya. Rita dan Prita dihampiri Seren yang sudah ganti baju pakai celana training dan atasan agak mini.
"Nanti kita jalan-jalan. Sudah siap kan?" Tanya Seren.
"Ayo," jawab Rita.
Di lantai bawah keempat temannya sudah ada dan menyambutnya. Kazen pura-pura senang melihat mereka. Masih teringat apa kata Shin mengenai mereka sebagai Teman Palsu.
Mereka merangkulnya dan duduk bersama.
"Kamu kemana saja sih? Kabari kek," kata Tony yang bertubuh agak gempal.
"Aku pulang ke Indonesia karena ada urusan. Kalian bagaimana kabarnya, Hay, Raksa dan Keyno?" Tanya Kazen agak datar.
"Yah, biasa deh Keyno butuh dana segar tuh dia lagi mau buka usaha pemijatan," kata Hay tertawa.
"Oh," kata Kazen. Ah sudah biasa beginilah mereka mendatanginya kalau ada sesuatu.
"Raksa yah masih suka pesta. Kamu kapan nih? Penyambutan dong," kata Toni menepuk bahunya.
"Heh," kata Kazen.
"Kamu sendiri Ton? Katanya mau menikah?" Tanya Keyno.
"Tidak jadi aku unboxing dulu ternyata mengecewakan," kata Toni tertawa.
"Kamu Zen? Dengar-dengar gosip sudah punya pacar ya? Mana? Kenalin dong. Seksi bohay?" Tanya Hay yang agak playboy.
"Dia..." kata Kazen kemudian mendengar seruan.
"Kazen!" Teriak Rita.
DEG! Jantung Kazen serasa mau keluar berbalik dan melihat Rita turun seorang diri. Kazen menghela nafas dan menghampirinya.
"Kamu kenapa ke bawah?" Tanya Kazen.
"Aku mau minta gelas tadi di telepon tidak bisa. Mau ke dapur," kata Rita.
"Wah! Ini pacar kamu? Haha masa sih? Kamu suka perempuan seperti ini? Kamu main-main kan?" Tanya Hay tidak percaya, yang hampir memegang ujung jilbab Rita.
"Heh! Jangan macam-macam," kata Kazen mengancam.
"Wooo teman-teman, lihat deh kekasihnya Kazen Darma modelan seperti ini," kata Hay mengejek.
Kazen melindungi Rita, dia tahu seperti apa keempat temannya itu. Bertiga datang dan menertawakan Kazen menyebutnya menyedihkan.
Rita memandangi mereka menahan kesal. "Aku ke dapur ya," kata Rita dengan jutek.
"Hei hei, setidaknya kenalan dong. Sapa," kata Toni.
Mereka berempat terus mengejek Kazen, membuat Rita sangat kesal apalagi mereka mulai menyerang soal fisik.
"Lebih baik si Shala tubuhnya wuihh.. Toni dan Keyno saja sampai taruhan antara kamu atau Raksa yang akan tidur dengannya," kata Toni tertawa.
"Cukup! Aku tidak pernah ya ikut permainan kotor kalian. Sudah ke dapur saja," kata Kazen.
Tahu wajah Rita sudah berubah kejam dan Kazen menghela nafas.
"Hei, kamu itu bukan tipe dia jadi pergi sana. Mau cari jodoh tuh jangan cari laki-laki high class. Cukup tahu dirilah!" Kata Hay.
"Yang harusnya tahu diri itu kalian! Mendekati Kazen hanya untuk uang kan? HAHAHA kalian menyedihkan, teman palsu. Kasihan kamu Kazen punya teman tidak punya muka," kata Rita mengejek.
"Heh CEWEK! Jaga ya omongan kamu!" Ancam Keyno.
"Hah! Buat apa jaga mulut dengan orang-orang sampah seperti kalian! Kamu dekati Kazen untuk pinjam uang kan? Tidak punya malu ya badan saja yang keren isinya KERE!!" Teriak Rita dengan suara melengking.
Kazen hanya terdiam, Keyno dan Hay tidak sanggup membalas. Kena telak!
"Kamu pikir perempuan itu mangsa terlemah! HEH PARA SAMPAH!!
Kalian aku sumpahi terkena karma HIV!!!
Jangan dekati Kazen lagi kalau kalian niatnya hanya memanfaatkan dia!
Kalian pikir alat kalian keren, ditendang seribu bayangan sama perempuan, kalian akan jadi perempuan!!!" Teriak Rita sambil pergi dengan kesal.
Mereka berempat hanya terdiam lalu tertawa, Kazen memperhatikan Rita yang membuka pintu aula.
Suara tawa mereka berempat terhenti saat melihat Rita menyentak kan pintu besar itu.
"Berhentilah menghina perempuan," kata Kazen dengan dingin.
"Kekasih kamu sadis juga tapi siapa juga yang takut. Aku akan beri dia.." kata Toni yang langsung di hajar oleh Kazen.
"Lho kok," kata Raksa.
"Mau kasih dia pelajaran? Hadapi aku dulu," kata Shin datang bergabung dengan Kazen.
"Eh Shin apa kab..." kata Raksa yang langsung dihempas tangannya.
"Tidak perlu sok bersahabat lah, kamu bilang aku laki-laki hina yang mendekati Kazen demi jabatan. Kalian sendiri apa?" Tanya Shin.
"Wah, sombong ya kamu sekarang. Orang miskin berubah angkuh setelah mendekati Kazen," kata Keyno.
"Aku setuju semoga kalian berempat terkena kutukan HIV. Jadi bisa tahu betapa berharganya nyawa," kata Kazen menepuk bahu Shin.
Bersambung ...