
"Yah dari dulu memang banyak yang halu sih jadi aku suka tanya langsung ke ibunya. Ternyata, memang tidak ada apa yang dia katakan itu," kata Rita.
"Iya sih memang ya sudahlah biarkan saja dia ribet sendiri. Ngomong-ngomong selama kita berjauhan, apa ada yang terjadi lagi?" Tanya Arnila.
"Maksudnya?" Tanya Rita.
"Begini, aku mau tanya apa ada yang mengirimkan kiriman ke kamu?" Tanya Arnila penuh pertanyaan. .
"Kiriman? Paket? Hmmm tidak ada tuh," kata Rita mencoba mengingat.
"Ah, syukurlah tidak jadi berarti," kata Arnila lega.
"Memang kenapa?" Tanya Rita.
Arnila diam sejenak, kemudian... "Kamu jangan marah ya Ney pernah berkeinginan untuk mengirim sesuatu ke kamu," kata Arnila.
"HAAAA!? Ihhhhh," jawab Rita.
Benar saja pasti begini. "Tapi tenang aku sudah bilang ke dia lebih baik jangan karena Rita masih sangat penuh api. Soal masalah tahun lalu masih memanas di kepalanya," kata Arnila sudah dapat dipastikan pasti Rita menolak.
"Bagus deh. Ih benar-benar ya tuh orang! Sudah buat masalah, minta maaf tapi maaasih saja mau buat masalah lagi sama aku!?" Tanya Rita sebaaal!!
"Iya makanya kan aku kasih tahu dia lebih baik jangan kirim-kirim deh, mending dia kirim buat orang lain saja. Aku sudah bilang ke dia, kalau sudah minta maaf jangan sekali-kali mengulang lagi," kata Arnila menjelaskan.
"Terus dia bagaimana responnya?" Tanya Rita dengan nada kesal.
"Ya kalau waktu itu sih bilangnya 'Oh ya sudah kalau begitu daripada buat dia lebih marah lagi.' Begitu," kata Arnila.
Rita menghembuskan nafasnya ke atas jilbabnya. Ya bagus sih. Semoga saja benar dia tidak kirim, soalnya dia suka sengaja kirim nantinya. Tiba-tiba lupa.
"Benar ya dia tidak akan kirim. Akan aku buang soalnya kalau kejadian," kata Rita dengan jutek.
"Iya aku tahu kamu pasti menolak 500% aku menambahkan kalau dia sampai kirim masalahnya akan memanjang. Kamu kan sudah memaafkan dia tapi dia membuat masalah baru dengan kirim barang kan," kata Arnila dengan tenang.
"Iya, dimaafkan tapi jangan mengira bisa seperti biasa. Salah sekali pemikiran seperti itu!" Kata Rita.
"Aku mengerti kok Rita, dia juga ada nanya kenapa tidak boleh kan aku hanya ingin kirim siapa tahu bisa jadi teman lagi. Begitu katanya," kata Arnila.
"Amit-amit!" Kata Rita langsung.
"Aku jawab Rita itu tidak butuh apapun dari kamu, Ney. Yang Rita mau, setelah kamu minta maaf, kamu menjauh dari dia jangan datang lagi. Apalagi berpikir berharap bisa kembali jadi teman. Sudah tidak ada jalan bagi kamu ke Rita," kata Arnila. Rita setuju.
"Malas aku kalau harus menjalin pertemanan lagi sama dia. Kapok! Aku sudah cukup lah soal tahun lalu ya, ke depannya tidak akan ada lagi kesempatan buat dia. Kalau sudah ditolak jangan memaksa untuk diterima lagi," kata Rita.
Arnila mengangguk yah memang tidak mungkin juga kelihatannya Ney bisa berteman baik lagi. Terlihat dari respon Rita yang benar-benar menolak soal Ney. Bahkan soal kirimannya.
"Tapi aku tidak yakin ya kalau dia benar tidak kirim. Kita tahu dia seperti apa orangnya. Bagaimana kalau dia tetap mengirimkan barangnya?" Tanya Arnila.
"Aku injek lalu buang," balas Rita pada saat itu. Yang dimana aslinya memang kejadian..
"Ya sudah terserah kamu saja deh mau diapain. Mau dibuang silakan, diberikan ke orang silakan," kata Arnila menghela nafas.
"Wah, yang benar saja kalau iyaaaa," kata Rita kesal dan gemas. Buat apa sih berharap sekali sih jadi teman setelah semuanya terjadi kacau. Mana banyak fitnah juga dia ke Rita.
"Jangan lupa paketnya kamu doakan dulu lalu ditiupkan," kata Arnila mengingatkan.
"Ah! Kamu lihat juga ya di Video On soal paket bertuah? Itu mengerikan sekali yang menerimanya sampai kerasukan," kata Rita teringat tayangan terbaru itu.
"Iya Rita, aku dapat dari teman aku. Yah bukannya suudzon ya sama yang mengirimnya tapi kan sekarang sudah banyak yang begitu. Kirim barang tapi sambil baca sesuatu," kata Arnila.
"Iya. Aku selalu lakukan itu semenjak nonton videonya. Kalau beli barang atau makanan, sudah nya aq baca ayat Kursi terus ditiup ke kedua tangan baru deh dibuka paketnya," kata Rita.
"Meminimalisir kan bahaya ya Rita. Oke deh kalau begitu, aku pamit ya. Aku selalu mendoakan untuk kebahagiaan kamu Rita dan keluarga," kata Arnila yang sudah lega sekarang.
"Sama-sama terima kasih juga kamu mau memaafkan aku," kata Rita terharu juga.
"Iya. Assalamualaikum, Rita," kata Arnila.
"Walaikumsalam, Arn," jawab Rita dan komunikasi mereka pun berakhir.
Beberapa bulan berlalu dengan tenang, Rita kembali ke aktifitasnya seperti biasa. Hari itu adalah hari Minggu dimana adiknya, Prita mengajaknya ikut olahraga.
Mereka datang ke kompleks TNI untuk bergabung senam bersama emak-emak dan pelatih. Rita dan Prita sampai pukul 10 pagi dan ikut senam.
Pukul 11 mereka selesai dan berlari kecil di sekitar perumahan yang memiliki lapangan sangat luas.
"Cappeeeh," kata Rita berbaring terlentang di aspal yang penuh bebatuan.
"Lumayan kan. Prita kesana dulu ya," katanya berlari kecil menuju teman-temannya yang juga sering mengikuti senam.
Rita istirahat sambil nafasnya tersengal-sengal. Senam aerobik dengan gerakan mirip tarian K-Pop lumayan buat keringat keluar banyak.
Rita mendengar dering telepon dari ponselnya dan dengan nafas masih lelah, dia mengeluarkannya.
"Aku hanya ingin mengabarkan kalau Ney berencana mengirimkan kamu paket lagi. Tapi kali ini dia bilang di grup," kata Feb.
"HAH!? Duh, ngapain sih!?" Teriak Rita sambil berdiri. Beberapa peserta menatapnya dan Rita menundukkan kepalanya menjauh dari mereka.
"Aku juga tidak tahu," kata Feb dari kejauhan sana.
"Aish! Dia tidak katakan alasannya?" Tanya Rita menghentakkan kakinya ke tanah kesaaal.
"Katanya sih mau baikan sama kamu jadi teman lagi. Nah lhooo," kata Feb tertawa renyah.
"Tidak MAAAUUUUU," Jawab Rita dengan marah.
"HAHAHAHA ya terus mau bagaimana? Kali ini bukan salah kirim aku kan nanya sampai jutek dia jawabnya, 'Bukan salah kirim ya!' Begitu," kata Feb masih tertawa.
"Ya bukan salah kirim juga aku tidak mau! Kalau tidak salah, Arnila pernah deh kirim peringatan begini," kata Rita mengingat-ingat.
"Wah! Kalau dia sudah pernah bicara begitu sih pasti kejadian. Dia kan heboh nih di grup, sebagian orang sih sudah malas," kata Feb.
"Terus kamu tahu isinya apa?" Tanya Rita benar-benar malas dan tidak mau deh menerima itu paket!
"Aku sempat nanya sih dia hanya jawab sesuatu yang kamu suka, entah apa," kata Feb.
"Iiiihhh buat kamu saja deh!" Kata Rita merinding.
"Idih! Aku juga tidak mau! Buang saja kalau kamu terpaksa," kata Feb menolak juga.
Rita kesal, sebal dan marah bersamaan rasanya ingin terbang ke langit saja toh tidak akan ada paket yang bisa sampai dari tuh orang!
"Ya sudah aku hanya mau mengabarkan itu saja supaya kamu tidak terlalu kaget kalau paketnya daaataaang," kata Feb lalu menutup teleponnya.
"Harus diapain ya tuh orang supaya tidak kirim-kirim barang lagi? Enak saja mau berteman lagi, Mimpiiii!" Kata Rita menutup ponselnya dan berjalan agak malas.
Memaksa sekali sih ingin jadi temannya, kenapa sih tuh orang? Menyesal sayang sudah tidak akan ada jalan dan kesempatan lagi!
Setelah itu Rita menuju loker TNI, dia menitipkan tasnya disana. Sebuah pesan muncul dari Feb lagi.
"Kalau dia benar mengirim, saran aku jangan ribut. Langsung saja kamu buang dan jangan pasang status di media sosial. Aku curiganya itu jebakan buat kamu, sama seperti gangguan pertama," isinya begitu.
Rita berpikir, ya mungkin saja sih jadi lebih baik buang saja deh! Rita duduk di sebuah kursi panjang yang ada mejanya dan mengeluarkan beberapa cemilan.
Emak-emak lewat dan Rita menawarkan. Beberapa menyambut dan makan bersama, mereka juga mengeluarkan beberapa makanan berat.
Yah namanya juga guru TK temannya kebanyakan ibu-ibu juga sih. Mereka tertawa dan menceritakan pengalaman anak-anaknya.
Prita datang, "Masih ada makanan?" Tanyanya. Rita memberikan tas dan Prita ambil beberapa. Temannya juga ikut bersama, jadilah kelompok besar para ibu-ibu dan remaja.
Setelah pukul setengah 12, sebagian pulang Prita dan Rita juga membereskan sampah.
"Sudah lama ya tidak beli persediaan makanan," kata Prita membuat kode.
Rita yang sedang membereskan tas berpikir, "Iya juga ya. Ya sudah kita mampir dulu ke Junction deh," katanya.
"Asyiiikkk," kata Prita kesempatan untuk jajan.
"Kamu semangat karena ingin di traktir ya?" Tanya Rita dengan wajah datar.
"Hehehe tahu saja," kata Prita menepuk bahu Rita dengan keras.
Mereka saling membalas di jalan sampai saling tendang. Kemudian berjalan tertawa.
"Eh, Pri kalau kamu dapat kado dari orang yang tidak kamu suka, akan kamu apakan?" Tanya Rita ingin tahu.
"Hmmm diberikan ke orang sih," kata Prita memandangi kakaknya.
"Kenapa?" Tanya Rita. "Kenapa tidak dibuang saja?"
"Meskipun aku terima kado dari orang yang tidak disukai, yang entah apa niatnya kan lebih baik diberikan ke orang saja. Misalkan niatnya jelek kan tidak akan kena sial," jelas Prita.
Rita mengangguk.
"Kalau diberikan ke orang misalnya yang lebih membutuhkan seperti pengemis, tukang becak, atau pelayan toko misal kan kita bisa dapat pahalanya," kata Prita.
"Jadi daripada nambah dosa dengan buang paket yang entah apa niatnya. Lebih baik diberi ke orang ya?" Tanya Rita.
"Iya. Kalau niatnya baik tapi kitanya tidak suka ya lebih baik berikan ke orang saja. Kalau niatnya jelek, tidak akan kena ke kita karena kita berikan ke orang yang lebih membutuhkan. Tidak dosa kok," kata Prita.
Rita lalu mengacungkan jempol membuat Prita tertawa besar dengan gaya Sinchan kemudian Rita memukul bahunya dengan keras. Yang berakhir saling tendang dan pukul lagi.
Bersambung ...