
"Gaji aku disini lumayan meski tidak sebesar kamu, Ma. Kalau soal tidak seru ya kamu lempar saja piring sampai pecah," kata Rita tertawa.
"Hahaha itu langsung di pecat kali Rita. Serius di tempat kamu gajinya kecil? Tapi tidak terlihat susah deh kamu selalu senang," kata Asma.
"Yah, guru dan staf kan diajari untuk profesional ya, Ma. Apalagi guru kan tidak boleh memperlihatkan masalah pada anak-anak. Staf juga sama, urusannya sama orang tua, anal-anak dan kepala sekolah," kata Rita menghela nafas.
"Oh begitu. Aku kira karena kamu staf jadi agak beda," kata Asma.
"Kalau dari gaji memang. Guru di sini tugasnya memberikan materi, menjelaskan pembelajaran, bermain juga. Kami para staf yang membuat rencana," kata Rita.
"Kalau begitu aku bisa dong jadi staf saja hehehe," kata Asma.
Diana menepuk keras bahu Rita. Wah! Rita lupa, malah memberitahukan yang benarnya. Dia menepuk kepalanya.
"Kamu yakin mau jadi staf?" Tanya Rita membuat mereka tenang.
Kalaupun Asma berbuat ulah lagi, Rita siap keluar saja. Supaya dia bisa merasakan bekerja keras bagai kuda.
Y kalau lebih besar gajinya hehe. Kok bisa berbeda sih Rita?" Tanya Asma yang sudah tahu harus bagaimana.
"Kamu tidak baca selebarannya? Ada deh penjelasanya yang pemula, sampai empat tahun. Aku saja mengajar selama setahun dapat tujuh ratus ribu," kata Rita.
"Hanya segitu? Setahun? Staf bagaimana?" Tanya Asma.
"Staf juga sama hanya beda seratus saja. Kamu masih mau?" Tanya Rita.
"Hmmm, sepertinya aku akan memilih bertahan di sini saja deh hehe," kata Asma.
Mereka bertiga menghela nafas.
"Jujur deh alasan kamu apa mau melamar ke sekolah aku? Sepertinya bukan berkaitan dengan gaji deh," kata Rita langsung.
Asma tidak menjawab.
"Aku yakin lamu hanya mau ikut-ikutan melamar karena Diana lakukan itu kan?" Tanya Rita lagi.
"Ya hehehe.. Kenapa ya Diana selalu terlihat mengikuti kamu ke manapun? Sampai tempat kerja juga. Terus Rita, kok kamu mau sih berteman dengan Koma?" Tanya Asma.
Rita menatap Koma yang wajahnya sudah sebal, melipatkan kedua tangannya. Dia mengetik,
"Asma kenapa sih tidak suka sekali sama aku?"
Dia perlihatkan pada Rita dan Diana. Diana menggaruk kepalanya yang membuat jilbabnya jadi miring.
"Kamu kenapa sih tidak suka Koma? Baik kok orangnya, dewasa juga," kata Rita menahan tawa.
"Wajahnya itu sombong sekali, ke aku saja jutek terus nadanya tinggi. Dia begitu hanya karena wajahnya cantik dan badan langsing saja," kata Asma membuat Rita tertawa tanpa suara.
Mereka bertiga tertawa tanpa suara, dan Koma mengetik,
"Kalau iri mah bilang saja,"
Diana ijin keluar lingkaran dan berlari jauh lalu tertawa keras, Prita menatap Diana aneh tapi sudah biasa.
"Iri nih ceritanya," kata Rita.
"Ih, siapa juga yang iri! Apa sih bagusnya dia, Rita? Aku lebih baik kok. Kamu berteman sama aku dan Diana saja kan cocok," kata Asma.
"Ya terserah aku dong mau berteman dengan siapa juga. Yang penting sifatnya tidak toxic, atau melakukan hal aneh supaya terlihat baik. Coba deh kenali Koma," kata Rita tertawa.
"Aku tidak suka gayanya itu lho Rita. Sok asyik," kata Asma.
"Gaya dia biasa, gaya aku dan Diana juga biasa. Susmi lebih parah kamu juga tahu kan? Tapi kalau kamu tidak suka, ya itu hak kamu," kata Rita.
Asma tidak membalas lagi, ya sia-sia sih kalau bicara dengan Rita. Tapi Rita ini sumber di mana Diana berada.
Mau tidak mau, Asma selalu berusaha masuk ke lingkaran Rita tapi bahkan Rita pun tidak suka.
Sama halnya dengan Ney, dengan Asma pun sama tapi tidak separah Ney sih.
Asma setidaknya masih bisa bertingkah sopan meski terkadang, lebih banyak membuatnya bete.
Kamu lagi dimana, Rita? Kok berisik?" Tanya Asma.
"Taman kota yang baru di buka itu lho. Aku kesini dengan adikku dan teman-temannya," kata Rita memandang sekelilingnya.
Diana sudah kembali setelah puas tertawa dan membuka bungkusan kue pelan-pelan.
Kamu kok tidak ajak aku sih? Kita sudah lama tidak main bersama lagi," kata Asma.
Rita teringat memang iya sih sudah jarang main dengannya, karena malas!
Kalau diajak main, dia yang seenaknya meminta pulang cepat. Padahal bisa pulang sendiri.
Kalau ada butuhnya, minta dianterin tapi kalau Rita yang butuh, dia banyak alasan. Kesannya memang mirip Ney hanya berbeda tipe.
Asma lebih sadar diri kalau dirinya agak tidak disukai Rita dan banyak orang. Dia tidak memaksa orang untuk menyukainya.
Asma juga lebih bisa mencari kelompok yang sama dengan dirinya. Dia mencari orang-orang dengan hijab yang panjang menjuntai.
Rita dan Diana adalah orang yang memakai hijab pendek, sebatas menutup punggung. Pemikiran mereka juga sangat berbeda.
"Ya maaf deh. Aku kan jarang main keluar selama itu Rita. Tapi nanti aku tidak akan begitu lagi deh," kata Asma.
Rita menunjukkan terbukti semua kata-katanya juga ceritanya tentang Asma.
"Ya sudah kesini saja," kata Rita.
"Maunya sih kita pergi bersama. Kamu disana sendirian?" Tanya Asma lagi, tampaknya setengah mau datang.
"Dengan adik tapi dia terpisah. Aku sudah hubungi Diana dan Koma mereka lagi on the way ke sini. Ayo kamu juga datang saja," kata Rita senyum.
Mendengar nama Koma, membuat Asma surut untuk datang.
"Kalau ada Koma, aku tidak jadi datang! Kecuali kamu bilang ke dia jangan datang," kata Asma.
"Ya mana bisa mereka sudah di jalan," kata Rita menaruh telunjuk di mulutnya. Mereka berdua mengangguk, dan masih tertawa.
"Terus, kamu juga ada undang siapa tuh? Teman kamu yang aneh," kata Asma.
Ya, Rita ada cerita juga ke Asma soal Ney karena mereka agak mirip hehe. Tapi ternyata Asma juga tidak suka, ada kesan tidak baik dari Ney.
Waktu pertemuan kelompok mengaji, memang Asma berbeda kelompok dengan Rita dan Diana.
Tapi tentu saja dia mendengarnya dari beberapa orang di kelas.
Dia kemudian bertanya pada Rita, dan Rita menceritakan semuanya. Meski Asma juga kurang menyukai Rita, namun dia bisa lebih bersikap.
"Oh, dia. Mana mau aku undang atau ajak dia lagi, Ma," kata Rita.
"Jangan terlalu dekat deh Rita. Meski aku belum bertemu orangnya ya, dari cerita semua teman di kelas agak minus ya," kata Asma.
"Sudah put-us kontak kok, Ma. Sudah lama," kata Rita.
"Dari kamu lulus SMP, terus SMA sampai kuliah juga sebenarnya sudah jauh kan ya. Hanya dia yang terus mengejar. Ya sepertinya ada penyesalan sih Rita. Dia berusaha baikan tapi ya kata aku, lebih baik jangan," kata Asma.
"Oke deh Asma. Tenang, aku tidak ada niat untuk baikan. Sudah cukuplah soal tahun lalu, membuktikan aslinya bagaimana," kata Rita.
"Iya atuh kalau begitu mah. Nanti lagi kasih tahu ya kalau kamu mau jalan-jalan. Kita saja bertiga sama Diana. Oke deh Rita, sudah dulu ya. Assalamualaikum," kata Asma.
"Walaikumsalam," kata Rita. Hp tertutup.
Rita dan Diana bersamaan berkata, "Koma punya Haters," kata mereka tertawa.
Koma tertawa juga. "Kenapa sih dia? Serius iri sepertinya ya. Dia sebut aku langsing terus cantik," katanya.
"Haha harap maklum saja deh kita tahu fisik dia bagaimana," kata Rita membuka bungkusan lain.
"Aneh. Hanya karena bentuk badan saja bisa begitu benci sama saya," kata Koma.
"Iya kan dia memang iri sama kamu. Menurut pandangannya fisik kamu lebih sempurna dari aku," kata Rita semangat.
"Aku tidak sempurna, Rita. Ada yang lebih seksi, cantik ditambah glowing," kata Koma menepuk pipinya.
Rita lalu mengeluarkan beberapa botol yoghurt dan membagikan pada mereka.
Prita datang meminta cemilan, Rita memberikan minuman enak itu kepadanya sejumlah orangnya.
"Asma kan pernah fitnah Rita juga Kom," kata Diana membuka botol.
"Oh yang martabak itu kan?" Tanya Koma sambil minum.
"Siapa yang beli, siapa juga yang makan sampai habis. Bilang aku yang habiskan, makanya teman lain tidak kebagian. Badan aku sekurus ini jadi alasan," kata Rita.
Mereka berdua tertawa mendengarnya. Rita yang beli, dia juga yang habiskan. Saat teman-teman datang, martabak sudah setengah.
Saat itu Rita sedang ke toilet sepulangnya beberapa teman menanyainya kenapa martabaknya sisa setengah.
Ya masalahnya, mereka juga udunan. Rita hanya bengong martabak yang dia beli masih banyak.
Nyatanya membuat dia syok sekali dan bingung. Akhirnya hampir semua teman sekelas, menjauhinya. Perkara martabak!
Hanya Diana dan Koma yang berada dekat dengannya, di mana mereka semua enggan satu kelompok.
Asma mengatakan bahwa Rita menghabiskan semua martabak teman-temannya.
Namun Diana tidak percaya, Rita bukan tipe orang yang rakus.
Karena Rita kesal, akhirnya dia bersama Diana membeli martabak sejumlah orang di kelas.
Dia membagikan semua martabak itu, membuat satu kelas terdiam. Kemudian Rita juga mengembalikan semua uang temannya.
Hanya Asma yang tidak di bagi karena dia juga tidak menitip. Koma mencurigai Asma karena sewaktu Rita beli, dia meminta.
Koma hanya memberitahukan orang yang tidak dibagi martabak adalah pelaku yang memakan martabak Rita. Dan bagian mereka.
Asma terdiam, dia tidak bisa membantah. Diana dan Koma yang selaku ada di saat Rita sendiri, Rita juga tidak pernah meminta untuk ditemani.
Bersambung ...