
Rita kembali tanpa penopang dan perban. Kazen memperhatikannya dan mengusap wajahnya.
"Alhamdulillah sudah sembuh yee," kata Kazen.
"Iyaaa," kata Rita senang.
"Sialnya jadi nih kita ke Pameran," kata Kazen terpaksa.
"Kenapa sih? Kalau tidak mau ya tidak apa-apa," kata Rita duduk sambil membawakan minuman.
"Jadi dong orang tuaku khususnya mama ingin bertemu kamu. Kalau sampai malam, Shin dan Seren akan ikut bersama kita. Kalau aku sendiri antar kamu cemas tuh," kata Kazen manyun.
"Mereka tahu kamu suka mesum ya," kata Rita.
"Normal kan aku laki-laki tapi tidak memaksa kok," kata Kazen agak gugup.
Ibunya sudah masuk ke ruangan lain entah sedang apa.
"Aku curiga saja. Hmmm kamu pernah Making Love?" Tanya Rita tiba-tiba.
"Kenapa kamu tanya itu siiih," kata Kazen agak gugup. Takut nih karena Rita bukan perempuan nakal.
"Jawaaaab karena sepertinya sahabat kamu kenal aslinya," kata Rita jadi ingat laki-laki yang terlupakan.
"Du...lu. Sekarang sudah tobaaaaat beneran," kata Kazen menenangkan Rita.
Rita hanya diam mendengarnya ada kecewa juga kenapa dia tidak mendapatkan yang sama-sama bersih?
Rita merasa Kazen ini mirip dengan Alex semua mua mua mua! Ketakutan Rita kembali, apakah dia akan mengalami kejadian trauma kedua kalinya?
Di sumpahi, di caci maki, sampai dikatai pembawa sial bagi hidup Alex. Kazen pun mungkin tidak akan jauh dari itu.
Tapi...
Tidak. Kazen tidak pernah sumpah serapah kepadanya bahkan saat dia temper.
Tetap saja kata-katanya menyakitkan hati itulah Rita sering menangis juga. Kazen menatap Rita yang berwajah sedih.
Kazen menyesal sekali!
"Aku tahu kamu kecewa kan. Tapi tidak ada yang aku hamili kok," kata Kazen.
"Aku tidak tahu," jawab Rita dengan pelan.
Inilah yang tidak enaknya, dulu dia bangga sekali keperjakaannya hilang tanda dia keren. Sekarang? Menyesaaaallll seumur hidup.
"Memang ya aku dan Alex sama, tapi aku tidak pernah sekalipun menghamili perempuan. Aku lebih menjaga meski banyak yang memaksa," kata Kazen.
"Hah? Kamu pernah begitu ya otomatis tidak perjaka. Kamu bego kali ya," kata Rita.
Kazen terdiam. "Setidaknya aku tidak... melakukannya sampai hamil. Itu karena dulu sebagai tantangan. Pembuktian," kata Kazen dengan pelan.
"Hmmm," jawab Rita.
Dari seru sampai akhirnya hening, Kazen juga kaget Rita bisa bertanya begitu.
"Trauma ya?" Tanya Kazen.
Hening sesaat dan Rita memeluk lengan Kazen yang sebelah kiri. Kazen menatapnya.
"Kamu tidak jijik sama aku?" Tanya Kazen agak senang tapi miris hatinya penuh penyesalan.
"Aku sadar tidak semua orang memiliki masa lalu yang bersih. Kamu dan si keparat itu contohnya, karena lingkungan kalian juga banyak anak nakal kan ya," kata Rita.
Kazen membelai tangan Rita. "Maaf ya terima masih kamu masih mau menerima aku. Jujur sih aku menyesal sekali saat tahu ada rasa ke kamu,"
"Pastinya," kata Rita.
"Ya ya ya," kata Kazen tertawa. "Bukan hanya lingkungan tapi yah keadaan keluarga juga. Remaja bebas kan kemana saja, jalan-jalan tanpa melihat teman itu baik atau buruk," kata Kazen.
"Yang penting sudah tobat dan kamu tidak ajak aku macam-macam," kata Rita senyum.
"Sebelum macam-macam juga, alatku bisa kamu bakar duluan, Rita," kata Kazen.
Mereka tertawa dan terus bercanda. Siang itu memang Kazen berencana mengajak Rita pergi. Tapi yang dekat-dekat.
"Lagipula aku juga tidak sempurna hehehe aku juga pernah melakukan hal yang nakal," kata Rita dengan jujur.
"Apa itu? Jangan bilang kamu juga sudah tidak..." kata Kazen menebak.
"Enak saja itu mah kamu! Baca buku por no," kata Rita ketawa.
Kazen bengong. "APA!? KAPAN!?"
"Bahahaha SMA sih itu juga tidak sengaja. Ada di kelas sebelah yang bawa majalah gitu deh. Terus jatuh satu, ya aku pungut," kata Rita tertawa.
Kazen menepuk dahinya dan tertawa. "Masih ingat tidak judulnya? Bolehlah kalau nanti aku lagi datang hasrat, daripada bicara jorok bisa kena jambak seratus kali," kata Kazen.
Hahaha bukannya Rita larang malah beritahu semuanya.
"Gila ya usia tujuh belas tahun dong?" Tanya Kazen.
"Itu kan tidak sengaja. Kenakalan remaja lah," kata Rita yang Kazen belai hijabnya.
"Dasar. Hanya itu kan?" Tanya Kazen.
Rita menggelengkan kepala lalu diceritakan lah betapa nakalnya dia semasa SMA. Setiap main dengan sahabatnya selalu pulang tengah malam.
Tapi tidak melakukan kenakalan remaja saat itu Rita belum berkerudung. Dia dan sahabat SMA hanya lupa waktu saat main di TimeZone.
"Hahaha ternyata parah. Dimarahi?" Tanya Kazen.
"Orang tuaku tidak peduli sih soalnya aku masuk SMA bukan yang favorit. Sekolah negeri biasa berbeda dengan kemampuan akademik adik dan kakak," kata Rita sambil memeluk lengan Kazen.
Di saat keadaan Kazen yang terbalik dengan Rita, ternyata dia sama sekali tidak memikirkan bahwa keluarganya akan seperti Rita.
Seperti tanda Tao yang hitam dan putih, terbalik satu sama lain. Rita yang hidupnya agak menyedihkan dengan Kazen yang penuh kebahagiaan.
"Jadi kalau kamu pulang shubuh juga mereka tidak marah?" Tanya Kazen.
"Tidak. Responnya hanya, "Yah anak yang tidak diterima do sekolah favorit memang pasti kelakuannya begitu. Tidak mengherankan," kata Rita.
Kazen memeluknya dan berjanji akan membuat keadaan Rita terbalik. "Aku tidak akan membuat kamu kecewa. Kalau harus menahan nafsu sampai menikah, aku bisa,"
"Harus! Kalau tidak kita putus," kata Rita dengan tegas.
"Bisaaaa. Eh, kamu suka binatang ya? Tadi aku lihat ada semacam kandang," kata Kazen.
"Suka tapi tertentu," kata Rita bangun dan menatap kekasihnya.
"Apa tuh?" Tanya Kazen.
Diajak ya dia ke halaman pinggir dan nampak rumah binatang bertingkat dua dari bahan sederhana. Kawat, kayu dan seng.
"Ini kandang kelinci aku. Tahun lalu," kata Rita.
Kazen melihat-lihat. "Wah luas ya. Satu? Sekarang sudah mati?"
"Iya dong Bapakku yang buat dibantu Prita. Satu biji saja, betina terus aku jodohkan dengan tetangga eh beranak banyak. Aku kan mulai kerja dia TK Seribu, jadi tidak ada waktu mengurus," jelas Rita.
"Ahh kamu beri pada orang lain. Ada fotonya pasti," kata Kazen.
"Nih," kata Rita.
Kelinci cokelat dengan kedua mata yang cemerlang. Berpose berdiri, melompat dan meminta makan. Rita menggendongnya dan kelinci tersebut nampak ramah.
"Baik ya? Masih hidup?" Tanya Kazen.
"Ramaaah sekali. Kelinci lokal kalau aku ada masalah, dia selalu tahu. Masih dong hanya sudah dibawa jauh," kata Rita agak rindu.
Kazen menatap Rita, dia punya ide akan kemana. "Sudah deh aku akan buat perbedaan dengan si berandalan Alfarizki,"
"Hah? Yang sama itu niat mesumnya," kata Rita tertawa.
"Laki-laki mah memang begitu atuh," kata Kazen menggoda.
"Ish! Awas ya. Ada juga kan yang tidak," kata Rita.
"Semuanya! Sama tahu. Kita jalan-jalan yuk ada tempat yang pasti kamu suka," kata Kazen menarik tangan Rita masuk.
"Dimana?" Tanya Rita.
"Kamu kan anak Lembang masa tidak kenal tempatnya? Kemana saja coba," kata Kazen.
"Kau kan sibuk bekerja. Tidak seperti kamu tukang belanja," kata Rita.
Kazen sering sekali tertawa lepas bersama Rita tapi berbeda saat bekerja. Setidaknya dia enggan Rita melihat dirinya bekerja karena akan sangat mengerikan.
"Di Lembang aku lihat ada wisata bunga kemudian sebelahnya ada semacam toko binatang atau kebun binatang. Tapi mini," kata Kazen.
"Kita jaki saja ya sekalian mencoba kaki kanan," kata Rita antusias.
"Jaki? Itu bukannya nama tokoh di film Inuyasha ya? Yang kakek-kakek warna hijau?" Tanya Kazen.
Rita tertawa mendengarnya. "Jaken! Kamu suka Anime? Bukannya benci ya?"
Kazen tersenyum dan membelai hijabnya lagi dengan sayang. Dia tahu sekali Rita menyukai anime tidak seperti Alex yang secara agak kasar, menyuruh Rita berhenti.
Kazen menerimanya meski memang kadang mengganggu tapi kelakuan Rita tidak seperti penggemar kartun lainnya.
Dia bisa bertindak sesuai kondisi, tidak selalu menampilkan gaya kartun atau sebuah kalimat.
Bersambung ...