MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
38



"Iya tinggalkan sajalah," kata Diana sebal.


"Karena dia tampaknya sangat mudah ya menyebut kata Maaf tapi isi maafnya itu bukan penyesalan Rita. Jadi dia akan terus mengulang perbuatannya," kata Koma sambil makan cemilan.


"Aku juga yakin dia lakukan itu ke semua orang yang dia kenal deh," kata Prita.


"Ya penyakit kalau memang sama dan berulang sih," kata Koma sambil berpikir.


"Iya. Ujungnya jadi masuk ke hobi kan saking seringnya dan meremehkan "Maaf" ini," kata Rita.


"Iya kalau sudah jadi kebiasaan ya susah dia tobatnya," kata Diana.


"Dia sering mempermalukan aku tapi bilangnya aku yang buat dia malu. Suka berbohong apapun, yang paling bikin aku jenuh ya. Kalau aku kasih saran jarang di dengar terus saja dia berkutat dengan masalah yang sama," kata Rita melipat kedua kakinya karena pegal.


"Terus dengan kelakuan begitu kamu masih saja mau terima dia. Sampai sekarang kalau dia minta maaf lagi?" Tanya Diana dengan nada kesal.


"Tidak dong semua orang punya batas ya," jawab Rita melambaikan tangan ke arah Diana.


Mereka semua setuju. Teman Prita mengobrol juga dengan tema yang berbeda. Prita mendengarkan dan ikut berkomentar.


"Dari cerita kamu terlihat kok sebenarnya dia itu ingin cari perhatian kamu. Lebih ingin hanya dia seorang yang kamu bisa percayai," kata Diana.


"Iya aku setuju, sayang kamu bukan tipe seperti yang dia mau. Jadi dia buat banyak cara supaya kamu sadar," kata Koma.


Rita bereaksi dengan wajah datar dan menggelengkan kepala.


"Haha kita tahu kok, kamu lebih senang menyebar ya. Berteman itu lebih wajar kalau berbagi perhatian kan. Tapi saat kamu perhatian ke dia, kok tidak menerima ya?" Tanya Koma merasa aneh.


"Karena dia hanya ingin lebih diperhatikan, lebih dipuji. Tipe orang yang gila hormat, Kom. Dia lebih suka jadi pusat perhatian, orang memberi saran bagi dia mengganggu. Seperti jangan urusi hidup aku deh," kata Diana mencari kata yang pas.


"Tapi dia urusi hidup orang kan. Dia ingin dari kamu itu sekedar sahabat. Eh bukan ya memang dia maunya ada gelar Sahabat dari kamu, Rita. Ya kan?" Tanya Koma ke Diana.


Diana mengangguk. "Dia ingin jadi salah satu sahabat kamu tapi tidak mampu menjadi dirinya bersahabat dengan orang lain. Seperti mendekati aku tapi dia menendang kamu, caranya salah. Jadi aku juga akan menendang dia karena dia perlakukan jelek sahabat aku," jelasnya.


"Iya ya dia agak kurang bisa belajar cara bersahabat atau berteman dengan orang. Dia mau berteman kalau orang tersebut tidak jauh dari peringkat dia kan," kata Rita.


"Kenapa dia kejar Diana ya begitu. Dia beranggapan kalau Diana seharusnya bukan sahabat. Karena statusnya sama dengan dia," kata Koma.


"Aku tidak suka kalau ada orang mencari teman dilihat dari status. Dia kaya, banyak harta, suka barang mahal, aku lebih memilih menjauhi orangnya," kata Diana yang di sambut oleh Rita.


"Berteman mah sewajarnya saja. Kalau tidak dianggap teman dekat atau sahabat, yo wes. Cari yang lain tapi kitanya juga harus bisa menghargai," kata Koma.


"Iya dong jangan ada pemaksaan kan," kata Rita ketawa.


"Memuji orang itu ternyata ada dosanya juga ya kalau tidak sesuai hati dan kenyataan," kata Diana.


"Oh ya?" Tanya Rita dan Koma bersamaan.


"Kalau Rita memuji orang selalu sesuai dengan keadaan orang tersebut dan tidak ada unsur terpaksa. Apa yang kamu rasakan, ya kamu utarakan. Kalau ada yang tidak berkenan, kamu lebih memilih diam meski semua orang memuji seseorang," kata Diana dengan tepat.


Rita mengacungkan jempol. Koma juga sama.


"Kita semua begitu kan, tidak ada yang memakai topeng hanya agar terlihat baik di depan orang," kata Rita.


"Dulu... aku begitu," kata Diana.


"Eh!?" Seru mereka. Termasuk Prita, wajah Diana malu dan tertawa


"Karena ingin dilihat tapi sudah nya menyesal. Orang itu malah menceritakan hal yang bukan aku," kata Diana.


Rita dan Koma menghela nafas, menepuk bahu Diana dengan lembut.


"Celakalah orang-orang yang berlebihan dalam memuji yang isinya ternyata tidak sesuai kenyataan dan tidak jujur. Ya jadi celaka ke kitanya kan," kata Koma tertawa.


"Aku jarang memuji orang sih kalau tidak ada yang istimewa," kata Rita.


"Banyak memuji juga itu menurunkan adab kita. Kata HR Bukhari Muslim juga kalau harus memuji saudaramu, lakukanlah itu secara jujur dan objektif," Diana membaca dalam hpnya.


"Lidah itu berbahaya kalau tidak di jaga. Pujian bisa melenakan akidah orang, termasuk yang memujinya juga," kata Prita.


"Jadi kalau ada yang memuji, kembalikan lagi supaya kita tidak terlena. Itu cara yang baik," kata Anne.


"Iya kalau ada orang memuji tapi dia bangga tidak bersyukur ya celaka dia hidupnya. Jadi gila pujian kan," kata Dinda juga.


"Jangan sampai seperti itu, kalau kebiasaan menerima pujian saat seseorang mengatakan kebalikan, dia akan jadi stres," kata Diana menghela nafas.


"Kalau memuji tapi kalimatnya jelek bagaimana tuh?" Tanya Dinda.


"Ya itu masuknya otomatis menyakiti hati orang kan. Macam body shaming, terima diri kita dan orang lain," kata Diana.


"Memujinya jujur tapi ya harus hati-hati juga. Makanya memberikan pujian itu sulit sih, yang sudah tahu lebih memilih diam. Meski dia tahu orang itu banyak bagusnya," kata Koma.


"Kamu pernah ditendang kan. Bagaimana rasanya?" Tanya Diana cekikikan.


"Alhamdulillah sekali. Perasaanya senang sekali, karena aku bisa jauh sejauh nya dari orang itu. Karena sering tandanya kan dia tidak butuh. Aku sih dibawa hepi saja," kata Rita.


"Ditendang kaki?" Tanya Koma kaget.


"Ish! Tendang sama orang keluar dari pertemanan dia maksud Diana," kata Rita.


"Ooh aku kira," kata Koma lega.


"Karena sebal ya sering permalukan aku teriak di lingkungan banyak orang, berarti dia sengaja kan," kata Rita.


Mereka semua mengangguk.


"Awal aku berpikir mungkin memang aku yang salah tapi lama-lama, 'Oh jadi ini kebiasaan dia.' Ya aku tinggal pergi saja sih. Sering kok, lama-lama juga dia jarang nanya," kata Rita.


"Aneh ya sudah banyak perilaku minus dia sampai tendang kamu seenak jidat. Tapi dia sendiri datang lagi terus begitu lagi," kata Koma.


"Ya memang ada yang putus kan syaraf otaknya. Orang normal kalau sudah di begitukan malu lah Koma, untuk kembali lagi," kata Diana dengan logat Palembang nya.


Mereka semua tertawa mendengarnya, Diana juga tertawa sampai wajahnya memerah.


"Lucu kalau kamu pakai logat," kata Koma.


"Ah, kalian nih," kata Diana mendorong badan Rita dan Koma yang ringan seperti kertas.


"Biarkan sajalah dia itu akan tetap seperti itu ke siapapun," kata Koma yang masih tertawa.


"Memangnya tidak akan ada kemungkinan kapok, Teh?" Tanya Prita.


"Ya bagaimana ya, Pri. Itu sudah jadi kesenangan dia seperti apa kata Rita ya, jadi hobi. Teman Teteh ada yang seperti Ney, sekarang dia jadi orang gila," ungkap Diana membuat semuanya kaget.


"Maasaa!?" Teriak semuanya.


"Serius. Kita belajar akidah akhlak dan fiqih kan di kampus, mengatakan kalau orang kepo sampai iri dengki itu penyebabnya diri sendiri. Pemikiran sendiri yang berlebihan mengenai seseorang," kata Diana mulai ceramah.


"Oh, dosen Pak Adam itu kan? Materinya seru lho," kata Rita ke adiknya.


"Iya, tidak buat kita suntuk apalagi bosan," kata Koma.


"Wah, asyik ya," kata Dinda.


"Jurusan guru tea," kata Koma bangga.


"Hahaha tapi lumayan ketat kan. Terus kalau soal Ney, aku akui agak mirip Asma. Mereka berdua sangat mudah 'Panas' sama orang, Rita contohnya. Kesannya sama mereka tuh apa yang mereka tidak miliki dan orang memiliki, pasti ujungnya iri," kata Diana.


"Oh benar. Asma kan terang-terangan ke aku bilang kok bisa satu kelompok sama Diana. Kan di undi ya semua juga lihat," kata Rita.


"Iya, dia kan inginnya satu kelompok sama Diana tapi tidak dapat terus kan," kata Koma.


"Iya jadinya dia membalas dendamnya dengan membuat karya kamu jadi milik dia kan. Terus sekarang pekerjaan, dia mulai ikut-ikutan," kata Diana.


"Banyak. Aku yakin orang seperti mereka berdua, dan mungkin lebih parah lagi. Ini mah baru di tingkat Pemula ya," kata Anne.


Mereka semua tertawa mendengar penuturan Anne sahabat dari Prita.


"Kita bisa belajar dari perilaku mereka untuk ke depannya. Kita sudah tahu ciri-ciri teman beracun, teman palsu, tukang tikung, dan semua ya. Jangan sampai kita down," kata Diana menatap Rita.


"Iya Rita, jangan down. Takutnya ke depannya ada yang lebih bahaya dari mereka. Anggap saja latihan, lambat laun kamu sudah punya semacam baju besi untuk hadapi orang-orang," kata Koma memberikan semangat.


Rita tertawa keras mendengarnya. "Ya ampun deh Diana, kalau sampai bertemu seperti mereka lagi,"


"Ya pasti Rita selama kamu masih hidup, semuanya kan berputar. Hanya beda karakter saka sih bisa jadi beracun tapi kamu dapat ilmu," kata Koma.


"Iya jangan takut dulu. Bisa jadi mereka beraninya di chat, pas bertemu memilih kabur. Kalau Asma sih langsung ya dia bilang," kata Diana.


"Haha dia mengaku dong kalau sedikit beracun ke aku," kata Rita membuat kedua temannya kaget.


"Wah! Hahaha bagusnya Asma begitu ya tapi dia agak mikir dulu sih kalau mengaku," kata Diana.


"Kalau takut aku marah kenapa juga dia buat ulah?" Tanya Rita.


"Kalau Asma sih beda, dia bukan ingin di puji tapi ingin kita dekat sama dia. Hanya dia lihat kamu itu sama dengan aku, lebih ke minder ya," kata Koma.


"Minder kenapa juga memangnya dengan aku sama?" Tanya Diana sambil memperlihatkan badannya.


Sontak mereka semua tertawa keras. Rita menimpuk Diana dengan plastik kosong. Mereka bercanda dengan seru, dimana hari semakin panas. Untungnya mereka memilih tempat yang terlindungi dari cahaya matahari.


Bersambung ...