
"Apa kita akan menempati rumah yang dibelikan oleh Oma?" Tanya Minna pada orang tuanya.
"Iya tentu saja kamu harus mulai terbiasa, kita tidak mau membuat Rita jadi syok lagi setelah tahu seperti apa sisi asli dari keluarga kita. Untung hanya ujung ibu jari," kata ayahnya.
"Oke," kata Minna setuju.
Mereka sudah tentu berlatih dengan para pelayan dan belajar menggunakan berbagai macam peralatan dengan sederhana.
Mereka akan menjadi keluarga paling sederhana, dari mencuci baju, menjemur bahkan mengepel lantai. Meskipun dia lakukan hanya saat ada Rita saja.
Para pelayan akan dikumpulkan dalam sebuah rumah yang cukup jauh dari rumah utama. Mereka cukup menonton jangan sampai terlihat oleh Rita.
Permainan petak umpet tersebut membuat semua anggota cukup antusias. Apalagi saat para pelayan mengajari mereka, sebagian tugas akan menjadi tugas keluarga.
Kembali ke hotel, dimana obrolan mereka selesai. Cake yang dibeli Kazen telah terpotong dengan rapi dari toko.
Rita saat itu tengah berendam di bathtub dengan hati yang tenang. Dia sudah membicarakan semuanya dengan Kazen dan Kazen mengerti.
Kazen, Seren dan Shin berada di teras kamar mereka yang pintunya dibuka. Prita dan teman-temannya mengobrol dengan seru sambil makan cake.
"Tampaknya Rita agak down ya setelah di uji keluarga kamu," kata Seren yang memakan kue.
Kazen mengangguk, "Aku sudah jelaskan pada keluarga kalau mereka tidak perlu melakukan itu padanya. Tapi mama bersikukuh lakukan, tampaknya Rita enggan ikut acara begitu lagi,"
"Jelas. Apalagi si pengganggu Ney itu datang kan. Gila itu orang setelah mengatakan kasar dan kotor pada Rita, dia bisa seenaknya datang. Memalsukan data juga," kata Seren menggelengkan kepala.
"Semua penjilat kan begitu," kata Kazen menatap Seren.
"Iya iya," kata Seren sebal.
"Dia tidak suka pesta ya. Tampak tidak menikmati," kata Shin yang membuka rokok.
Mereka bercerita mengenai kelakuan Ney dan Rita masuk setelah mengeringkan rambutnya membawakan cake lain dari kamar.
"Lebih enak begini ya," kata Rita duduk sebelah Seren.
"Jakarta memang panas tapi kalau malam ya sejuk lumayan," kata Seren tertawa.
"Besok mau langsung pulang?" Tanya Rita.
"Jalan-jalan dulu yuk," kata Prita dan temannya masuk.
Akhirnya mereka makan dengan makanan lain. ada juga nasi kepal, Rita langsung makan karena masih lapar.
"Kalian bertiga rumah ya di Jakarta?" Tanya Shin ke teman-teman Prita.
"Iya, Kak," jawab mereka.
"Bertemu dengan Prita juga jarang setelah lulus SMA. Makanya kalau ada kesempatan kumpul, sekalian jalan-jalan," kata Fitri.
"Oke deh kita jalan-jalan dulu tapi jangan ke mall lagi deh! Menyebalkan bertemu dengan si Toxic!" Kata Rita kesal.
Mereka tertawa.
"Mau ke dufan? Di sana kan ada SeaWorld juga. Bagaimana?" Tanya Sasmi.
"Boleh! Sudah lama juga kita tidak main," kata Kazen semangat.
Sebenarnya Rita agak kurang suka karena banyak tabung-tabung besar yang membuatnya mual.
Tapi Kazen yakinkan bahwa SeaWorld ada dua jenis, dan mereka akan memasuki gedung lainnya.
Dimana, mereka juga bisa berinteraksi. Karena banyaknya protes orang-orang yang memiliki ketakutan sama dengan Rita.
"Mereka membuat tabung yang kecil dan kolam interaksi. Kamu bisa memegang hiu, pari-pari, kerang bahkan ikan-ikan yang tidak pernah kamu lihat," jelas Shin.
"Soal dufan, Rita tidak bisa naik yang ekstrim," kata Prita.
"Ehehehe," kata Rita agak malu.
"Tidak apa-apa, kita bisa naik yang aman saja," kata Kazen.
"EHEM!" Kata semuanya menggoda.
"Istana boneka?" Tanya Rita memandangi Kazen.
Kazen garuk-garuk kepala. "Kita lihat nanti saja deh masa kamu hanya bisa naik itu?"
"Hehehe," kata Rita membuat Kazen cemas.
"Kita cari deh permainan yang lain dufan kan banyak permainannya," kata Prita tertawa.
"Badan tinggi ternyata belun tentu juga suka permainan ektrim ya," kata Shin.
"Iyalah," jawab Seren.
"Kalau ada pesta seperti kemarin, aku akan menolak dengan tegas!" Kata Rita.
"Sabar Bu. Kita mengerti alasannya, lain kali orang pemalsu identitas tidak akan pernah bisa masuk lagi," kata Seren menepuk bahu Rita dan menatap tajam Kazen.
Esok paginya, mereka sudah berkemas untuk pulang namun akan bermain ke dufan. Tanpa setahu mereka Ney datang ke hotel tersebut, dengan maksud mencari tahu.
Tapi resepsionis mengatakan bahwa mereka sudan check out sekitar pukul tujuh pagi, membuat Ney kaget.
"Mereka langsung pulang atau berwisata dulu?" Tanya Ney agak lemas.
"Kalau tidak salah, berwisata dahulu baru pulang," kata petugas.
"Kemana ya kira-kira?" Tanya Ney agak panik.
"Hmmm Dufan ya kalau tidak salah soalnya mereka sudah membuat rencana," kata petugasnya.
"Dufan!? Jam segini? Ahh mana bisa aku ketemu, itu kan luas," kata Ney kemudian keluar hotel.
Dia pergi entah kemana, kalau ke dufan juga tidak mungkin. Menunggu mereka pun juga tidak mungkin, kenapa dia bisa datang lagi?
Yah karena misinya hanya mau diberi kesempatan untuk berteman lagi. Ney teringat saat obrolannya dengan Alex, dia gelisah.
Berharap Alex tidak mendatangi Rita saat kejujurannya terbongkar alasan selama ini dia bermuka dua. Dengan perasaan tidak tenang, dia memutuskan menunggu mobil Rita.
Malam kemarin saat Alex pulang menuju kediaman pamannya dan meninggalkan Kyla setelah acara selesai.
Dia sedih, geram dan kecewa namun juga ikut senang. Dadanya mulai sakit melihat Rita dan pesaingnya Kazen ternyata sangat akrab.
Dia menuju kamarnya tanpa mendengarkan suara kakaknya, Jasmine memanggil namanya.
Wajah Alex merah padam dan dia menangis sambil membuka pintu kamar dan menguncinya. Dia duduk di balkon dan memandangi langit.
"Kalau saja itu aku dan bukan Kazen! Alex bodoh!!" Umpatnya pada dirinya sendiri dan tersungkur.
Mereka bertiga mengetuk kamarnya namun tidak ada sahutan. Untung saja mereka sudah meminta kunci lainnya karena yakin anaknya itu akan mengunci diri.
"Nak," kata ibunya memegang pundak Alex.
"Mom, seharusnya itu aku. Bukan dia," kata Alex memeluk ibunya dan berurai air mata.
"Sudahlah. Ikhlaskan. Lepaskan, Nak. Kamu berkali-kali yang meminta Rita menjauh dari kamu kan," kata ibunya.
Ayahnya menghela nafas dan keluar menuju kamarnya. Jasmine kesal juga, bukan salah Rita dirinya kini menjadi kekasih Darma.
"Ini semua akibat ulah kamu yang terlalu mengulur-ulur," kata Jasmine.
"Sekarang dia bahagia kan tidak ingat siapa kamu. Bukankah seharusnya kamu bahagia? Ini yang kamu mau. Sekarang apa? Menyesal?" Tanya ibunya.
"Seharusnya kamu sudah tahu kan kalau Rita tidak main-main. Apalagi sampai kamu terus memihak yang salah!" Kata Jasmine.
"Jasmine, hentikan! Sudah!" Kata ibunya membuat Jasmine duduk di atas kasur adiknya.
"Makanya jadi orang jangan ribet! Apa sih susahnya kamu mengesampingkan semua kecemasan dan ketakutan?
Takut Rita begini, takut Rita begitu sekarang? Dia dengan Kazen," kata Jasmine.
"Karena posisi aku susah di keluarga ini! Memangnya kakak pikir aku mau begini? Merelakan orang yang selalu ada saat aku sakit dan susah," kata Alex menyeka air mata.
Kamu pikir posisi dia berbeda? Dia hempas kan semuanya, dia juga melindungi Rita secara langsung.
Dia percaya Rita, lebih baik kamu mukai berlayar dari Kazen!" Kata Jasmine keluar kamar dengan marah.
Sekarang, Alex kembali mengingat bagaimana kisahnya dengan Rita. Bagaimana perjuangan Rita yang terus enggan beranjak darinya.
Bukan karena siapa dirinya, atau materi yang dia miliki. Hanya Rita memang selalu menyukai Alex.
Bukan karena penyakitnya membuat dia kasihan, tapi Alex terkadang menampilkan sisi jenakanya.
Alex melihat dengan siapa Rita sekarang berhubungan, tidak akan ada lagi dukungan kepadanya.
Saat dia nanti kambuh atau bahkan di rawat lama di Rumah Sakit. Biasanya Rita akan selalu mengorbankan waktunya, meski Alex sangat egois.
Selalu berkata Rita tidak pernah ada perhatian, waktu dan mata yang Rita korbankan nyatanya tidak masuk hitungan.
Berkali-kali juga Rita diusir begitu saja oleh Alex seenaknya, sekarang setelah Rita benar-benar keluar. Dia mulai menyesalinya.
Sosok Rita yang tersenyum manis dan hangat pada Kazen, membuatnya terbakar cemburu. Kasihan deh lo!
Tempat Ney saat dia sampai di rumahnya sambil membawa kantong besar berisi gaun pesta. Dengan wajah frustasi dan kesal, dia lempar begitu saja.
Dia memeriksa kamar suami tampaknya pergi ke rumah orangtuanya membawa serta anak pertama mereka.
Ney lega dan menghempaskan dirinya ke sofa yang empuk sambil memukul.
"Sialan! Aku kira bisa menyombongkan diri ternyata Rita sama sekali tidak peduli aku ada atau tidak!
Lalu orang-orang itu, mereka memandang aku rendah!" Teriak Ney yang kesal sekali.
Dia kemudian menceritakannya dalam grup namun tidak ada yang membalasnya. Dia merasa aneh karena sejak siang pun tidak ada notifikasi.
"Kemana sih mereka? Serentak tidak ada yang bicara," kata Ney mencari tahu.
Dia memeriksa semua nomor, aktif kok. Tapi kenapa tidak ada yang kirim obrolan atau apa?
Lama-lama dia sengaja mengirimkan banyak emoji hanya Safa dan Feb yang membalas, itu oun sangat kesal.
"KENAPA SIH KAMU? BERISIK!" Jawab mereka bersamaan.
"YA KALIAN KEMANA? SEPI," Balas Ney.
Safa dan Feb tertawa, mereka sedang menginap di rumah teman lain.
"Memangnya kamu penting?" Balas Feb.
Lalu sebelum dia menjawab, ada chat masuk Varinka!
"Ney, kamu datang ke acara pameran mobil mewah?" Tanya Varinka.
Langsung dooong rasa bangganya kumat padahal dia masuknya memalsukan data. Ini diaaa yang dia inginkan pada Rita, tapi datar responnya.
"Iya doong aku dapat undangan," kata Ney dengan senyuman.
Seketika rasa kesal dan frustasinya berganti menjadi kebanggaan. Tadinya dia mau membanggakan tapi berhubung sepi, tidak jadi.
"Dari siapa? Itu kan khusus," balas Varinka.
"Ya dari merekalah. Suami aku kan kerja dengan salah satu pesohor di sana," kata Ney membuat alasan.
"Mereka? Kamu memangnya kenal sama keluarga disana?" Tanya Varinka.
"Maksudku Rita, Rita dan kekasihnya undang aku kesana," kata Ney mengkoreksi.
"Kok bisa? Bukannya kamu yang sebut dia penyihir jahat karena banyak fitnah kamu. Kok sekarang bisa undang kamu ke sana?" Tanya Varinka heran.
Ney tidak membalas, dia menepuk keningnya lupa pernah bercerita mengenai Rita seperti itu.
Dia berpikir, "Oh dia minta maaf sama aku jadi ya sudah aku kan orangnya baik hati, Va.
Aku juga tidak tega menyakiti orang jadi aku memaafkan dia," kata Ney.
Varinka tertawa membacanya, tampaknya Ney kurang mengerti apa kata-katanya.
"Ney, coba deh kamu baca ulang lagi apa kata Varinka. Sepertinya kamu berpikir seolah dia yang menyebut kamu penyihir," kata Anita keluar.
Ney membaca lagi dan terdiam. Lalu dia baca apa yang dia ketik. Dia yang sebut Rita penyihir kenapa dikatakan Rita minta maaf? Aneh kan.
"Kenapa Rita yang meminta maaf? Kan kamu yang sebut dia penyihir, ya harusnya kamu yang minta maaf.
Salah Sebut atau memang inginnya dia ada minta maaf? Cerita kamu jangan-jangan dibuat-buat ya?" Tanya Safa.
"Hahaha kita sudah tahu kan ya dia ini seperti bagaimana," kata yang lainnya muncul.
"Baik hati katanya. Kalian baca kan? Jadi kamu itu terobsesi ingin disebut baik hati? Haduuh haduuuh," kata Feb tertawa.
Ney hanya terdiam, mulai kesalahannya terbaca apalagi semuanya sudah tahu seperti apa orangnya.
Yaa memang aneh sih semua ceritanya dan banyak kebenaran yang dia sendiri ungkapkan.
"Kamu itu baik hati untuk mencari masalah pada semua orang ya. Bukan baik hati tapi memang kamu sumber masalahnya.
Soal pameran itu aku yakin sih kamu memalsukan data suapan bisa masuk," kata Varinka.
"Tidak, Rita memang mengundang aku kok," kata Ney membalasnya.
"Buktinya?" Tanya Varinka.
"Bukti apa?" Tanya Ney agak gelisah.
"Buktikan undangan yang Rita beri untuk kamu. Aku nonton lho yang masuk juga undangannya tidak ada yang diberikan ke panitia," balas Varinka.
Ney menutup kedua matanya tentu tidak ada, dan tepat apa kata Varinka memang dia mengaku sebagai salah satu teman Prita.
"Undangannya terjatuh tapi memang dia undang aku," kata Ney.
"Wah bohong. Sudahlah tidak perlu dijelaskan, taktik kamu sudah kampungan!" Setu yang lain..Varinka juga sependapat.
"Undangannya mana mungkin bisa terjatuh karena ada ukiran emas asli. Jadi bisa dijual kalau kamu butuh uang," jelas Feb mengirimkan undangan yang dia foto dari televisi.
Semuanya tentu heboh mereka juga menonton berita tersebut. Ney hanya terdiam tidak bisa membantah apapun.
"Lalu bagaimana bisa kamu diundang oleh teman itu? Toh kamu sudah dia anggap musuh," kata Anita.
Ney berpikir dan memutuskan sedikit memberitahu yang dia lakukan tahun lalu.
"Aku sempat bilang ke dia lewat email aku mengaku memang aku yang salah. Karena aku terlalu secara gamblang mengatakan kesalahan dia, dan agak menghina," kata Ney.
"Bukan terlalu gamblang tapi memang kamu sejak dulu tidak suka dia. Kamu yang pertama Ney bukan dia.
Kamu terpaksa membalas padahal dia sendiri tidak terlalu peduli, kamu mau jadi temannya atau tidak, Ney.
Kamu yang terlalu banyak salah paham, karena dia lebih dulu tahu kalau kamu tidak menyukainya. Paham?" Tanya Varinka.
Ney tidak percaya menurutnya memang Rita yang tidak menyukainya sejak awal mereka kenal.
"Masa sih Va? Bukannya dia duluan, kamu tidak kenal dia," kata Ney.
"Aku berkata begini karena Aries lho. Dia kan sudah lihat fotonya Rita.
Yang banyak salah paham ya kamu, secara gamblang Rita sudah perlihatkan lho.
Dia banyak menghindar kan tapi kamunya yang tidak mengerti. Sampai kamu membully, mengatakan hal yang tidak sepantasnya kamu katakan.
Karena dia memaklumi perilaku eror kamu. Seharusnya kamu sadar, hanya dia yang bisa memaklumi dan bertahan bukan sampai kamu hina," kata Varinka.
"Wah! Kalau Aries berkata begitu sih, memang pasti benar," kata yang lainnya membuat Ney terdiam.
Bersambung ...