MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
59



"Iya ternyata dia begitu di luar juga," kata Rita menyesal.


"Lalu sudah ketahuan belangnya, jangan kembali dan berpikiran dia akan berubah, Rita. Seperti Ney kan sama, begitu-begitu lagi," kata Diana.


Rita setuju, dalam pikirannya benar-benar membuatnya tidak habis pikir. Asma sebegitu tidak sukanya dan bermaksud menyingkirkannya hanya agar tidak mendekati Diana.


Dia menatap kedua sahabatnya yang bersyukur selalu ada dalam setiap keadaan. Dalam dirinya terkena hinaan atau terlalu berlebihan berpikir, mereka tidak pernah pergi.


Sore harinya mereka pamit untuk pulang di saat ibunya sudah pulang. Mereka menyalami ibunya Rita dan berpamitan.


Makanan Rita simpan di ruang tengah karena ibu dan adiknya meminta. Malamnya mereka mengobrol biasa dan hanya Rita yang tidak digubris ibunya.


Adiknya protes karena ibunya selalu tidak mendengarkan cerita Rita, sang ibu hanya diam dan menanyakan hal lain.


Rita melihat sebuah chat yang dimana dia namai Asmat sebagai Suku Asmat. Karena saking kesalnya.


"Rita, aku diterima bekerja di sekolah kamu tapi katanya kamu dikeluarkan. Kenapkamu


Isi pesan itu membuat Rita sebal dan membalas.


"Tidak perlu sok tidak tahu apa-apa ya kamu! Benar-benar kurang ajar jadi orang, aku niat menawari pekerjaan. Apa kamu bilang? Aku memaksa kamu bekerja disana. Sial sekali aku tawari kamu kesempatan!" Ketiknya.


Asma menunggu jawaban dari Rita dan membacanya, dia kaget dengan isi balasannya dan setelah itu terdapat notif bahwa dirinya dimasukkan ke daftar hitam.


Asma terdiam, di pihak lain dia senang bisa bekerja dengan Diana tapi sisi lain, terasa sakit membaca apa kata Rita.


Ada rasa salah dalam membuat strategi harusnya dia katakan yang sebenarnya saja kenapa harus membuatnya keluar?


Katakan dengan jujur pada Rita, dia akan menolaknya daripada bekerja dengannya dalam satu ruangan yang sama.


Lama Asma meninggalkan ponselnya lalu dia mendengar bunyi notif pesan. Entah dari siapa tapi isinya membuat dia kaget untuk kedua kalinya.


"Sungguh kotor caramu bermain hanya untuk merebut rezeki orang,"


Nomornya tidak diketahui, bahkan tidak ada foto. Dia berusaha melacak tapi terdapat keterangan nomor tersebut tidak terdaftar.


"Apa Komariah ya?" Tanyanya dengan pelan.


Ya pasti Komariah menurut Asma karena dia tahu Asma tidak menyukai Rita. Dan pernah ketahuan sewaktu Asma mengganti nama Rita di karya yang dia buat.


Asma mencoba mengetikkan bahwa dirinya mendapati pesan yang aneh. Dia kirimkan pada Diana tapi tidak mendapatkan balasan apapun, meski terkirim.


"Yah sudahlah toh kalau pesan ini memang Koma, dia tidak akan bisa berbuat apapun lagi. Kali ini posisi Rita akan aku gantikan dan bisa jadi sahabat Diana," kata Asma sambil tertawa.


Berpikir Rita sudah dikeluarkan, rencana selanjutnya adalah Komariah dan memasukkan teman-temannya.


"Pekerjaan Rita sudah tentu sangat mudah dikerjakan. Seminggu aku bisa lebih cepat selesai," kata Asma dengan penuh percaya diri dan teringat janji gaji yang akan diberikan.


Di tempat lain, Rita memandangi tumpukan buku sekolah dan dia menendang semuanya satu per satu. Beberapa buku dia banting dan meledak.


"Asma! Awas kamu!" Teriaknya kesal.


Setelah kelelahan, dia tiduran di kasurnya. Dia ingat ada beberapa tugas yang belum sempat diselesaikan. Dia merapihkan kembali buku itu dan membuka satu.


"Yah, aku selesaikan sebagian saja sebagai bentuk pengabdian ku di sana," kata Rita.


Beberapa detik dia menghentikan pekerjaannya. "Dia kan sudah keterima berarti ya pekerjaanku, tugasnya dia kan? Ah! Untuk apa aku kerjakan," katanya menutup kembali buku.


Dia memandangi pemandangan kamarnya yang berantakan penuh buku dan lembaran rencana guru. Dia rapihkan dan mencabut semua jadwal.


"Baiklah, Asma. Selamat ya atas usaha kamu mengeluarkan aku dan diterima di sana. Ini... akan menjadi awal mimpi buruk mu," kata Rita memandang buku besar dan lainnya.


"Sebagian tugasku pasti kamu terima dengan senang. Makan nih!" Kata Rita memasukkan ke dalam kantong besar. Sebagian akan dia kirim melalui jasa kurir.


Setelah beres, Rita duduk kembali di kasur, dia menyalakan laptop untuk menonton film.


"Rita, kamu dapat pesan dari Asma?" Tanya Diana.


"Pesan apa? Dia keterima di sekolah?" Tanya Rita.


"Bukan. Memangnya dia sampaikan itu ke kamu? Kamu balas apa?" Tanya Diana.


Rita kirimkan lagi isi kalimatnya membuat Diana tertawa di kamarnya. "Ya ampun memang tidak tahu malu sekali,"


"Bangga dan pura-pura tidak tahu penyebab aku dikeluarkan. Pesan apa yang kamu maksud?" Tanya Rita.


Diana kirimkan soal chat aneh yang terkirim kepadanya.


"Aku tidak tahu siapa yang kirim tapi isinya orang itu tahu permainan dia. Kira-kira siapa ya?" Tanya Diana.


"Aku tidak punya nomor lain dan buat apa aku kirim begitu," balas Rita.


Kemudian Diana menerima chat lagi dari Asma yang berisikan kenapa Komariah mengirimkan chat kasar padanya.


"Kita panggil Komariah," kata Diana.


Beberapa saat Komariah mengetik sesuatu. "Kalian dapat chat Asma?"


"Dih! Siapa juga yang kirim orang aku tidak punya nomor dia," kata Koma dalam chatnya.


"Tapi siapa yang tahu soal dia berusaha mengeluarkan Rita? Selain Asmi dan dua staf itu," kata Rita.


"Apa mungkin Alex? Siapa tahu untuk membersihkan dosanya, dia bantu kamu?" Tanya Diana.


"Hah! Mana mungkin dia mengakui salahnya orang tetep aku yang salah. Alex kan tidak tahu nomor Asma, nomor kalian juga tidak pernah aku beritahukan," balas Rita.


"Lalu siapa? Misterius sekali," balas Diana.


"Semua guru dan staf sisanya agak berjarak dengan Asmi lho karena dia saksi kan. Mana benar sampai diancam, semuanya serba tidak enak," kata Koma.


"Kasihan dia," kata Rita.


Rita merasa aneh dan curiga dia kemudian mengetikkan nomor telepon tersebut. Nomor itu ternyata berada di lokasi yang tak jauh dari sekolahnya.


Dia agak aneh dan membaginya di grup.


"Itu di wilayah sekitar sekolah? Kok bisa?" Tanya Koma kaget.


"Aku tidak tahu tapi tempatnya sekitar situ," balas Rita memberikan lokasi lainnya.


"Cieee penggemar baru niih dia sedang berusaha membela kamu," kata Diana senang.


"Jadi penasaran. Oh iya rencana kalian besok mau bagaimana? Jadi mau keluar?" Tanya Rita.


"Iya," ketik mereka berdua bersamaan.


"Besok aku juga mau ke sekolah," kata Rita.


"Untuk apa?" Tanya Diana.


Rita mengirimkan foto buku pekerjaannya. "Ini kan pekerjaannya masih ada,"


Mereka berdua kaget, bertumpuk buku dan lembaran tugas terlihat dalam foto.


"Jangan dikerjakan, Rita. Tugas untuk Asma saja sebagai hukuman dia fitnah kamu," kata Diana.


"Iya tadinya mau aku kerjakan tapi ingat gaji saja tidak diberi. Jadi aku hapus sebagian hehe," balas Rita.


"Masih ada?" Tanya Koma.


"Ya segitu tumpukan tugasnya," kata Rita.


"Pantas kamu sering jatuh sakit," kata Diana.


"Inilah pekerjaanku selama dua tahun terakhir ya. Besok aku akan serahkan semuanya pada Asma dari penilaian siswa, guru, dan orang tua," jelas Rita.


"Selama kamu bekerja di sana saat masa percobaan apa akan diberikan kontrak?" Tanya Diana.


"Iya, ada pilihannya kok kalau mau mencoba mengajar tiga bulan dulu bisa. Sudah terasa nyaman tambah enam bulan," kata Rita memperlihatkan lembar kontraknya.


"Tidak apa-apa kamu perlihatkan?" Tanya Diana.


"Seharusnya tidak boleh tapi aku kan dipecat secara tidak hormat. Jadi aku beberkan saja," kata Rita.


"Hmmm begitu ya," kata Koma.


"Memangnya kenapa? Biasanya setelah tiga hari di uji, langsung diberikan lembaran ini. Tadinya mau aku kasih tapi kalian memutuskan keluar ya tidak perlu," kata Rita.


"Kalau ada yang tekan kontrak bisa dibatalkan?" Tanya Diana.


"Tidak bisa mau kabur atau menerima pekerjaan lain juga tidak akan bisa. Ya tetap harus dijalankan," kata Rita


"Kalau bayar bagaimana?" Tanya Koma.


"Tidak akan diterima, kalau memaksa nama kalian akan dicantumkan sebagai guru tidak baik," kata Rita mengiri.kan contohnya.


Mereka berdua merinding menatap papan hitam itu, dipajang dong meski tidak memakai foto. Itu akan terlihat di setiap sekolah taman kanak-kanak.


"Seram juga ya," kata Diana.


"Asma tekan kontrak yang mana ya? Dia asal masuk dan tendang aku sih," kata Rita.


"Biarkan dia nikmati sendiri hasil permainan kotornya," kata Diana.


"Besok bareng ya ke sekolahnya," kata Rita.


Mereka membalas Ok dan percakapan pun berakhir. Asma masih berusaha berkomunikasi dengan Diana namun nihil.


Rita keluar dari kamar menuju dapur, dia melihat ibunya tengah tidur dan adiknya tampak sedang keluar.


"Permisi," sahut seseorang dari luar gerbang.


Bersambung ...