MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
147



"Kazen sekalian bawa ini," kata Mina yang kembali lagi membawakan sekantong sesuatu.


"Apaaaa," kata Kazen dengan malas.


"BAWA!" Sentak kakaknya membuat Kazen menurut. Alex juga takut pada kakak perempuannya.


Kazen melihat ke dalam, banyak macam dimsum yang menggoda selera apalagi baunya juga harum.


"Mustahil kakak yang buat," kata Kazen.


"Kakak beli kemarin ditambah bestie kakak memberikan banyak oleh-oleh. Mama sebagian yang buat, makan dengan Rita ya," kata Mina.


Kazen beruntung kakaknya memang paling nomor satu meski menyebalkan sekali cara menyindirnya.


Sayangnya kalau saja dia pandai memasak. Mina memiliki dua orang anak kembar pula tapi dia dengan santuynya merawat mereka. Bahkan bisa berbelanja sendirian.


"Kenapa kamu? Melihat kakak begitu, mau serang dengan taktik apa?" Tanya Mina curiga.


"Suudzon. Aku hanya berpikir beruntungnya aku punya kakak yang pengertian," kata Kazen membuat Mina melemparkan lap ke wajahnya.


"Pergi sana kalau kamu bicara normal, pasti ada maksud," usir kakaknya pergi tapi tersenyum.


"Perempuan galak," kata Kazen menyimpan kantong itu ke dalam mobil.


Di jalan Rita sudah sampai di gerbang besar, dia mencari kantor pemasaran. Jam menunjukkan jam sembilan pagi, dia ragu apakah sudah buka?


Rita tiba ternyata kantornya sudah buka dia menunggu depannya. Wanita yang kecil memandangi dan keluar.


Rita menatap sekeliling termasuk rumah percontohan. Semuanya besar dan nampak mewah pasti mahal.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Wanita itu pada Rita.


"Oh! Aku ada janji disini," jawab Rita bingung.


"Oh baik, kalau bisa lebih baik Anda tidak berdiri disini ya. Ini jalan pribadi," kata wanita itu.


"Oh saya tidak tahu. Maaf," kata Rita menyingkir dan berdiri dekat patung.


Wanita itu tampaknya kesal melihat Rita, maksudnya daerah yang Rita berdiri adalah kawasan pribadi.


"Di situ juga," katanya.


Rita bingung, "Kantor ELITE dimana ya?" Tanya Rita.


"Ya di sini. Anda mau bertemu dengan siapa?" Tanya wanita itu.


"Kazen," kata Rita.


"Maaf?" Tanya wanita itu.


Rita menutup mulutnya. "Maksud saya Pak Kazen Mahendra Darma. Apa dia sudah datang?"


Wanita itu kaget ternyata perempuan ini punya janji dengan bosnya? "Tidak semua orang bisa menemuinya. Ada kepentingan apa ya?"


"Penting saya disuruh menunggu di sini," kata Rita enggan memberitahu.


"Nama Anda?" Tanya wanita itu merasa memiliki saingan.


"Rita," jawab Rita.


"Rita? Apa kamu pegawai baru yang dibicarakan pak Shin?" Tanya wanita itu mengubah nadanya.


"Ah! Shin eh maksudnya Pak Shin juga kenal saya. Bisa tolong dipanggilkan?" Tanya Rita ramah.


Wanita itu lebih menatap Rita tidak percaya dengan omongannya. "Anda tidak sopan ya memanggil namanya seperti itu di sini. Pak Shin itu..." kata Wanita.


"Sahabatnya Pak Kazen ya saya tahu," kata Rita. Ah, dia menyesal malah memberitahukan bertemu dengan siapa.


Wanita itu menelepon seseorang, "Panggil petugas dan keluarkan perempuan yang ada disini,"


Ahh sial harus diusir deh. Tahu begini Rita lebih baik pergi daripada menjelaskan.


"Ya Bu?" Tanya dua petugas.


"Orang ini mengaku kenalannya pad Kazen. Usir dia," kata wanita itu kemudian berjalan masuk.


"Eh tapi memang saya kenal Kazen. Dia itu..." kata Rita yang akhirnya di persilahkan keluar.


Rita akhirnya memilih diam dan berjalan keluar gerbang. Lalu mobil BMW datang dan menghalangi Rita.


"Ini kan mobilnya..." kata petugas itu berdiri tegak.


Kazen turun membuat Rita memandanginya lega dan takjub menatap Kazen.


"Rita. Ada apa ini?" Tanya Kazen membuat dua petugas itu kebingungan.


"Maaf Pak, kata Bu Permita wanita ini mengaku kenal Anda," kata petugas satu.


"Iya, dia kekasih saya. Ada masalah?" Tanya Kazen menarik Rita.


Petugas tadi meminta maaf dan bergegas pergi.


"Kamu tidak apa? Saya sudah memberitahukan tadi bahwa kamu di sini," kata Kazen.


"Tidak apa-apa, sudah aku lega kamu sudah datang. Harusnya aku menjawab menunggu teman ya," kata Rita mencium bau parfum yang lembut.


"Maaf ya terlambat. Yuk," ajak Kazen yang kemudian memberikan kunci mobilnya pada petugas lain.


Mereka masuk kantor mewah itu dan Rita takjub dengan isinya. Wanita tadi bergegas menyambut dan kaget melihat Rita.


"Selamat pagi, Pak. Lho kok masih disini?" Tanya Bu Permita.


"Dia kekasih saya. Kalau dia datang kemari, perlakukan dengan baik. Saya sudah katakan bahwa ada yabg menunggu saya, masa kamu usir," kata Kazen suaranya bergema.


Rita mencolek pinggangnya dan keberatan. Namun Kazen tidak mau tahu sambil memegangi tangan Rita.


Semuanya menunduk dan memandangi sengit pada Rita. Setelah itu para pegawai perempuan keluar dan terkejut.


"Itu siapa?"


"Kekasihnya,"


"Bohong!"


"Pak, jadi Anda sudah punya kekasih?" Tanya karyawan.


"Iya. Kumpulkan semua laporan kalian! Saya akan memeriksanya di taman," kata Kazen dengan tegas.


"Tidak apa-apa aku ikut?" Tanya Rita melihat semua pegawainya lari terbirit-birit.


Kazen tidak menjawab dan terus memegangi tangan Rita. Rita memandangi taman yang luas dan penuh berbagai macam permainan.


"Waaaah!" Seru Rita. Angin lembut menyapa kerudungnya membuatnya melambai.


Kazen tahu Rita pasti senang karena susunan halaman yang menyediakan banyak permainan dan juga taman puzzle.


Kazen mulai menggunakan kacamatanya, "Aku akan memeriksa laporan disini jadi kamu bisa jalan-jalan daripada menunggu aku selesai,"


Rita berbalik dan Ups! Baru pertama kali ini melihat Kazen menggunakan kacamata yang membuatnya lebih berbeda. Duh semakin ganteng!


"Kamu pakai kacamata?" Tanya Rita menghampiri.


Selama kenal Kazen, dia memang jarang melihat penampakan kerjanya Kazen seperti apa.


"Ya. Kalau bekerja memang selalu menggunakan kacamata. Kenapa?" Tanya Kazen agak berbeda.


Rita memegang kedua wajahnya, "Kamu semakin ganteng. Lebih baik begini,"


Kazen senyum membuat Rita meleleh. "Nanti banyak yang menjahati kamu," kata Kazen sambil duduk dan beberapa dokumen tersimpan.


Rita bisa sepuas hati memandangi wajah lain Kazen. Sambil menghela nafas, Kazen sama sekali tidak mempedulikan Rita.



Seperti inilah penampilan Kazen bila berkacamata. Memang membuat mata tidak bisa kemana-mana.


Rita kemudian menatap bibirnya dan hidung serta lainnya membuatnya tersadar dan menampar wajahnya sendiri. Memutuskan untuk mencoba semua permainan.


Para karyawan sudah berbaris untuk menunggu diperiksa. Beberapa berbisik sulit dipercaya bahwa bos mereka memiliki kekasih.


"Pak, anu kapan Anda mulai memiliki kekasih? Karena tidak ada pemberitahuan," kata salah seorang karyawan.


"Itu bukan urusan kamu. Perbaiki di bagian ini, ini dan ini. Salah!" kata Kazen melemparkan dokumen itu.


"Baik," ucap karyawan mengejar kertas yang berhamburan.


Kazen kesal dan sedikit yang lulus sensor pemeriksaan. Salah seorang pesuruh membawakan kardus dan menyuruh mereka menyimpannya.


"Ini salah! BAGAIMANA SIH KAMU MENGERJAKANNYA!?" Teriak Kazen mulai mode Iblis.


Beberapa orang mengejar kertas yang Kazen lempar seenaknya karena marah dan kesal.


"Bi, bawakan makanan yang ada dalam mobil! Dan sediakan minuman segar," kata Kazen pada petugas kebersihan.


"Baik, Tuan," katanya kemudian bergegas ke luar. Kantong besar mereka ambil, masih panas dan menyediakan minuman.


Kazen menggebrak beberapa dokumen dan dia lempar tanpa memeriksa. Sebagian kertasnya dia robek dan membuat gumpalan membuat yang lain histeris.


"ULANG!! SAYA PEKERJAKAN KAMU BUKAN UNTUK MAIN-MAIN!!" Teriak Kazen.


"Siap-siap," bisik yang lainnya memberikan kode.


Tidak ada teriakan, atau membalas amarah sang bos atau sumpah serapah yang biasa mereka terima. Semuanya sudah siap dengan sentakan memilukan telinga.


Dalam hitungan 5, tidak ada yang keluar dan mereka semua saling berpandangan menatap bos mereka yang kembali duduk.


"Kamu yang buat taman ini?" Tanya Rita dengan suara riangnya.


Emosi Kazen masih menyala dan menatap Rita. "Aku sedang kerja,"


"Yayaya ini apa?" Tanya Rita tidak peduli.


Kazen mengepalkan tangannya dan masih bisa menjawab dengan tenang. "Itu dari kakak dan mamaku. Buka saja,"


"Kamu mau meledak ya?" Tanya Rita menatap tangannya.


Kazen kemudian tersungkur, dia tidak mampu meledak depan Rita. Rita hanya ketawa melihatnya.


"Dimsum! Wah, ada sausnya juga. Kamu makan juga ya," kata Rita dengan gembira.


Kazen mengusap wajahnya baru kali ini emosinya mereda mendengar suara perempuan yang begitu membuatnya gemas.


"Makanan itu untuk kamu. Bukan aku," kata Kazen memperhatikan Rita.


Tanpa mereka sadari, ibunya Kazen telah lebih dahulu datang dan memperhatikan mereka. Beberapa pelayan rumah pun turut hadir dan berdiri di pintu depan dan dalam.


Pembantu kantor membawakan piring dan juga sendok garpu. Rita atur semuanya dalam piring.


"Ada banyak lho aku tidak mungkin memakan semuanya," kata Rita pusing.


"Yah, kebiasaan mama dan kakakku turun juga ke aku yang kalau beli apapun hampir semuanya," kata Kazen sambil bekerja.


"Hmmm. Yah cukuplah untuk kita dua puluh lima ya. Sisanya buat petugas tadi saja..Bagaimana?" Tanya Rita.


Kazen tidak menjawabnya dan Rita keluar sambil membawa nampan berisi dimsum. Rita berikan pada petugas tadi, yang terkejut.


"Ini buat ibu saja dengan yang lainnya," kata Rita.


"Aduh, bukannya saya tidak mau tapi..." kata ibu itu antara bersyukur tapi takut akibatnya.


"Makan saja," kata Kazen membuat mereka bengong.


"Terlalu banyak," kata Rita lalu undur siri dan duduk di sisi Kazen lagi. Rita juga menyiapkan minuman untuk dirinya dan Kazen.


Kazen tahu bahwa Rita senang disini.


"Kazen," kata Rita yang menggunakan sumpit.


"Hm," jawab Kazen.


"Makan," kata Rita membawakan dimsum ke mulutnya.


"Aku lagiiiiii," kata Kazen yang menghadap ke Rita dan langsung Rita masukkan dimsum ke dalam mulutnya dan meninggalkannya memandang datar.


Kazen lalu memakannya dengan nikmat sambil senyum kemudian bekerja lagi. Pelayan melaporkan keadaan itu dan ibunya tertawa.


Semua takjub pada Rita yang sama sekali tidak takut pada beruang ganas tersebut. Bahkan di cekok nya paksa agar makan.


"Kamu juga makan," kata Kazen melihat laporan lain.


"Aghi," kata Rita yang menjawab dengan mulut penuh dimsum. Rita membicarakan apapun meski Kazen tidak menjawabnya.


"Minum," kata Rita menuangkan teh hijau.


Kazen menerimanya dan meminumnya dengan segar. "Terima kasih maaf ya aku tidak bisa membalas obrolan kamu," kata Kazen memandangi Rita.


"Tidak apa tidak apa, kerja saja. Aku juga tidak akan kemana-mana," kata Rita membuka ponselnya.


Kazen mengerti kemudian berdiri entah kemana dan kembali dengan sambungan kabel yang panjang.


"Pasang charger nya," kata Kazen.


Rita senang Kazen juga mengerti dan Rita masukkan sambil bersandar pada kekasih beruangnya itu.


"Edan! Kapan lagi kita bisa melihat bos kita sejinak itu," kata yang lain.


"Kalau kalian ada waktu perbaiki pekerjaan atau saya buat kalian lembur sebulan!" Kata Kazen.


"Jangan marah-marah nanti cepat tua dari aku," kata Rita. Kazen tertawa mendengarnya.


Kadang Kazen penasaran dan meminta Rita memperlihatkan gamenya. Dia melihat hasil permainannya.


"Kamu itu salah seharusnya begini. Tuh kamu menang," kata Kazen memainkannya dengan cepat.


"Kamu berisik! Kerja saja sana, aku kan tidak mengganggu," kata Rita merebut ponselnya.


Dalan hati, Kazen menyayangkan kelakuan Alex pada Rita yang seenaknya. Rita sama sekali tidak masalah bila Kazen bekerja dan kurang perhatian.


Ada Rita di sisinya Kazen tidak cemas melewatkan makan siangnya. Rita juga tidak lupa membawakan cemilan yang enak dan selalu dia suapi Kazen.


"Rita, aku masih lapar," kata Kazen memegang perutnya. Dua piring dimsum sudah musnah.


"Sudah kuduga kalau hanya dimsum saja pasti tidak kenyang," kata Rita menaruh ponselnya dan membuka tasnya.


Kazen senang Rita membawakan banyak makanan dari hasil pemberiannya. Ada juga yang Rita simpan dari lemari makanan.


Rita menyuapi Kazen dan dirinya juga ikut makan.


"Coba kita suami istri ya," kata Kazen menyimpan pekerjaannya dan makan bersama.


"Huh, kamu semakin malas makan. Kazen, pindah yuk. Panas," kata Rita menatap matahari.


Kazen setuju dan mempersiapkan semuanya. Mereka pindah ke bawah pohon besar yang sejuk.


Sudah disiapkan meja dan lainnya, kadang membuat Rita sangat takjub dengan kesigapan Kazen.


Bersambung ...