MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
115



Mereka sudah bisa menebaknya dan mendengus bersamaan.


"Rita terlalu lemah sih," kata Seren.


"Kata siapa. Nanti kamu baca saja yang aku berikan pada Shin. Rita itu mengerikan.


Seharusnya dia diam, menurut aku tapi malah membuat masalah dan membuat Rita mulai menerkamnya," kata Kazen.


"Maksudnya Rita memang semacam macan yang tidur pulas tahu sedang tidur tapi diusik," kata Seren.


"Dia akan menerima pembalasan. Sekarang dia masih memantau keadaan tapi kalau perempuan itu semakin membuat masalah, dia akan menerkam dan membuatnya kehilangan dunia yang dia miliki," kata Kazen.


"Kamu ada rencana membuat dia malu hari ini?" Tanya Seren.


"Ya. Kalau kamu mau ikut di dalamnya silakan," kata Kazen.


"Wow! Aku tidak sabar! Tugas aku apa?" Tanya Seren.


"Alihkan pandangan Rita atau potong semua pernyataan yang diajukan ke Rita oleh perempuan itu. Terserah seperti apa gayamu," kata Kazen bersandar.


"Hohoho serahkan padaku. Aku juga akan mengubah tampilan Rita, tenang lebih berkelas," kata Seren tidak sabar.


"Hei, apa perempuan itu akan datang ke pameran? Aku agak memikirkan itu sekilas," kata Shin.


"Pasti dia mencari cara supaya diterima," kata Seren.


"Kamu undang?" Tanya Shin.


"Hah! Untuk apa? Aku tidak kenal dan tidak mau kenal juga," kata Kazen merinding.


"Caranya sudah pasti memalsukan surat undangan kalau dia bisa. Atau mengaku sebagai teman yang diundang bersama Rita," kata Shin.


"Nah aku yakin begitu. Mau bagaimana?" Tanya Seren.


"Aku sudah kabarkan hal itu pada yang lain, dengan foto mengijinkan dia masuk sekitar lima belas menit. Seren, ajak ibu dan ayahku jalan-jalan jangan sampai mereka melihatnya. Rencana ku akan gagal," kata Kazen.


"Lebih baik mereka tahu kan ibu kamu punya banyak jurus jebakan," kata Seren.


"Ini rencana ku sampai beberapa menit nanti, kamu ajak orang tua berkenalan dengan Rita. Kalau bisa di depan perempuan itu supaya dia sekalian syok!" Kata Kazen.


"Dia akan percaya diri bahwa Rita akan memperkenalkan kepadanya juga," kata Shin.


"Tenang, ada aku. Aku sudah memberitahu teman-temanku salah satunya akan mengajak Rita menjauh," kata Seren memperlihatkan foto seseorang.


"Aaaah dia kalau menyamar mantul juga," kata Kazen.


"Hahhh aku pernah tertipu kan gara-gara dia. Tingkahnya yang mirip dengan orang biasa juga tidak akan terlihat oleh Rita," kata Shin.


"Apa rencana ini akan lancar? Karena manusia hanya bisa berencana lho," kata Shin mengingatkan.


"Kalaupun meleset akan ada pengganti lainnya," kata Kazen.


"Akan ada kemungkinan juga Rita menghadapi beberapa wanita atau di kerjai," kata Seren.


"Kamu lupa bagaimana Rita kalau sudah meledak? Kasus keempat teman palsuku?" Tanya Kazen membuat Seren tertawa.


Rita datang sambil agak kesal. "Apaan kepiting? Itu patung!" Katanya duduk.


"Hahaha maaf aku kira hidup," kata Kazen bertingkah konyol.


Mode garang Seren berubah menjadi seperti biasa dan pesanan mereka pun datang. Lian dan Reza bergabung kembali.


"Aah manisnya sayang sekali kalau dimakan," kata Rita.


"Makan deh kalau kurang bisa nambah," kata Kazen tertawa.


Mengerikan ketiganya memiliki Alter yang sangat garang dan kejam yang sama sekali Rita tidak ketahui. Apalagi Seren.


"Nanti gemuk," kata Rita memencet perutnya.


"Selama rehat dari pekerjaan memang berat badan kamu agak naik ya," kata Kazen.


"Siapa orang yang suka beli makanan satu toko ya?" Tanya Rita melirik tajam ke arah Kazen.


"Hehehe," kata Kazen.


Mereka makan dengan tenang, Lian dan Reza hanya diam tampaknya Rita tidak tahu karakter lain dari mereka bertiga. Mereka saja langsung pergi karena tahu berbahaya.


Selesai Kazen dan Shin membayarnya dan mereka jalan-jalan ke pertokoan. Seren sangat senang belanja, dia membawa enam kantong dengan isian berbeda.


Shin dan Kazen berada di toko parfum entah dimana. Rita keluar karena pinggangnya sakit dan kaki pegal.


Dia keluar toko dan bernafas lega duduk sambil bersandar.


"Duduk itu memang nikmat," kata Rita memutar lehernya.


Lian dan Reza menghampiri Rita dengan sedikit menunduk. Rita menatap mereka, bersiap entah apa yang akan mereka muntah kan lagi.


Mengejeknya masih muda sudah capek kah? Atau...


"Kak, kami mau minta maaf atas kata-kata kami sebelumnya," kata mereka.


Rita kaget, "Ohhh iya kenapa kalian seperti itu?"


"Habis kebanyakan yang mendekati om Kazen, ya pasti kakak tahulah karena pernah dekat dengan Om Alex kan," kata Lian membuat Rita kaget.


"Kok... kalian..." kata Rita.


Mereka berpandangan. "Beritanya memang ada tapi nama kakak tidak disebutkan dan agak disamarkan," kata Lian.


"Oalaaah! Jadi kalian sayang Om ya," kata Rita bernafas lega.


"Iyalah Om Kazen yang terbaik. Kami dukung kakak kok," kata mereka lalu pergi setelah Rita mengangguk.


"Ahhh syukurlah ternyata hanya menguji," kata Rita mengeluarkan ponselnya.


"Rita kemana?" Tanya Seren agak panik.


"Ada di luar, kelihatannya tidak bisa tahan dengan hobi belanja tante," kata Reza.


Kazen menyusul dan melihat, Rita duduk bersandar sambil memainkan ponselnya. Rita membelakangi pagar mall yang sebelahnya ada eskalator.


"Kamu lelah? Biasanya perempuan suka jalan-jalan," kata Kazen duduk di sebelahnya.


"Aku salah satu yang tidak tahan berdiri sampai delapan jam. Dan keluar masuk semua toko sampai delapan kali? Gila!" Kata Rita kelelahan.


"Ya sudah kamu tunggu disini ya jangan kemana-mana," kata Kazen yang berdiri lagi.


"Iya iya," kata Rita yang membuka kunci login ke gamenya.


Kazen agak ragu-ragu sebenarnya tapi dia perlu membeli sesuatu dan berharap Rita bisa menunggu.


Saat itu Rita memakai baju atasan putih panjang dengan motif bunga ungu dan kerudung yang senada. Dia memakai celana panjang agak mirip rok.


Sepatunya hitam berpita hadiah dari kepala sekolah karena Rita sudah mengajar selama tiga tahun. Rita menunduk fokus pada gamenya.


Tanda disadari olehnya, Ney kembali muncul dari arah belakang menaiki eskalator. Ney juga tengah membuka ponselnya, membuka instagram milik Rita.


Si tukang kepo yang kemana-mana selalu harus wajib memeriksa semua targetnya termasuk Rita. Ney menatap sesuatu dengan terkejut.


Rita merapihkan jilbabnya tanpa melepaskan pandangan ke ponsel. Ney berhenti berjalan di depan Rita duduk.


Mulut Ney menganga dia melihat sosok laki-laki yang sama dan itu bukan Alex. Dia membaca tagar yang Rita tuliskan, "Meet with you I'm very happy#Lovely".


"Ini siapa? Apakah laki-laki yang berbeda? Kok aku sama sekali tidak tahu sih? Apa jangan-jangan Rita sebenarnya sudah punya yang lain saat putus kontak dengan Alex?" Pikir Ney menggigit jarinya.


Dia merasa ini tidak mungkin lagipula dia lebih terkejut setelah melihat tanggal dan bulan, sudah berlalu 5 bulan!


Ney terus menunduk mencari tahu hal lain tapi tidak bisa, tampilan ig Rita ternyata sudah dibuat batasan. Dia kesaal sekali ternyata Rita sengaja beberapa foto tidak bisa dibuka.


Ney menghentakkan kakinya kesal dan bertingkah aneh, Rita yang menunduk memainkan game hanya melihat sekilas sambil juga bete.


Ney dibuat kembali penasaran selama ini dia sama sekali tidak tahu keadaan terbaru Rita. Ney mondar mandir usahanya yang mendekati Alex sekarang sudah sia-sia.


"Jadi memang benar hubungan Rita dan Alex sudah berakhir. UGH! Dasar Rita kenapa sih dia tidak ada kabar ke aku? Tahu begini, sia-sia dong selama ini aku berusaha dekati Alex untuk jadi sahabatnya. AAAAA!!!" Teriak Ney dalam pikirannya.


Kemanapun dia lihat foto dan berusaha membuka dengan menyuruh teknik yang dia kenali namun nihil. Seolah ada yang memegang kendali ig Rita.


Apalagi "orang" tersebut menghapus sang teknik dengan cepat, membuatnya kehilangan semua data dan memberitahukan Ney.


Ingin rasanya Ney lemparkan ponselnya namun dia ingat, bagaimana marahnya suami kalau tahu ponsel yang dia beli hancur.


Ney menenangkan diri dan kembali berpikir, "Yah kalau begitu aku tidak memerlukan keberadaan Alex lagi hihihi. Sekarang aku harus berusaha mendekati Rita agar bisa terlihat sebagai sahabatnya,"


Rita agak terganggu dengan suara yang dibuat oleh Ney, hampir saja dia ingin caci maki kemudian mendapat telepon dari rumah.


Ney berbalik menatap Rita yang sudah berbalik membelakanginya. Ney melihat ternyata dia melihat ponsel yang berisikan game yang sedang booming.


Rita duduk bersila di arah yang lain, Ney kemudian bergerak menuju toko gelato sambil tersenyum senang. Dia punya taktik untuk mulai berbuat ulah.


Dia tidak akan membiarkan Rita senang sendirian, dia akan meminta haknya sebagai teman masa perjuangan. Lupa bahwa sekarang di sekitar Rita terdapat beberapa orang yang berbahaya.


Tapi tidak jadi dan akhirnya dia menuju arah eskalator yang berlawanan dengan Rita. Saat turun, Rita berbalik lagi dan tertawa keras.


Pas sekali saat Ney sudah di tengah perjalanan, dia memandangi ke atas dan terkejut melihat penampilan Kazen.


"Edan! Ganteng sekali! Kira-kira siapa dan dari mana ya? Wah, kalah berat kalau dengan Alex," kata Ney yang buru-buru naik kembali.


Kazen yang berada di atas menyapa Rita tanpa memanggil namanya, dia menepuk bahunya.


"Lagi-lagi main permainan," kata Kazen.


"Habis bosan. Kamu sama Seren lama sekali," kata Rita manyun.


Seren yang berada tepat keluar dari toko menatap Ney yang berusaha naik dan memandangi ke arah Kazen. Seren memberi kode pada Shin.


Shin memandang ke bawah dan kaget. "Gerak gerak," kata Shin kepada Kazen.


Kazen mengerti dan mengajak Rita oergi, meski Rita terlihat kelelahan. Kazen memberikan cokelat yang sangat enak.


Ney yang akhirnya berada di atas mencoba jalan setengah berlari sambil sesekali melihat ke atas. Punggung Kazen terlihat dan dia tersenyum.


"Kita mau ke mana lagi sih?" Tanya Rita sudah bete.


"Tunggu aku di dalam saja ya. Sebentar lagi selesai," kata Kazen.


"Lagi duduk posisi uenak juga!" Kata Rita sebal.


"Iya iya," kata Kazen.


Mereka sampai di dalam toko yang berisikan banyak parfum. Kazen memberikan kantong parfum yang baru dia beli, Seren dapat ide supaya tidak ketahuan.


"Pakai ini ya. Titip," kata Seren.


Rita menguap sebelum Kazen pergi, Rita meminta ponselnya untuk dimainkan. Kazen berikan, mereka bertukar ponsel.


Bersambung ...