MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
Ceramah Time



"Belum juga baru ada empat orang sama Bu Rita. Sudah sarapan?" Tanya Bu Afzan.


Bu Rita masuk sudah ada banyak sarapan di sebuah meja yang panjang. "Huoooo pesta nih? Belum sih buat bekal untuk yang atas,"


"Cieeeee kapan dong menikahnya? Ajak tuh," kata Bu Afzan membuat Rita malu.


"Ini ibu yang masak?" Tanya Rita membuat topik lain.


"Bukanlah, saya kan tidak bisa masak banyak. Bibi sekolah yang buat hehehe sesuai pesanan. Bu Rita suka nasi kuning kan, aku ambilkan," kata Bu Afzan.


"Eh jangan Bu. Aku ambil sendiri," kata Rita cepat pergi.


Rita mengambil secukupnya karena perutnya masih kaget kalau sarapan pagi. Dia duduk bersama guru kelas atas dan mengobrol sebentar.


"Kazen tidak diajak bu?" Tanya Bu Dian baru datang.


"Banyak kerjaan," kata Rita sambil makan.


"Dia tidak sarapan malah membuat roti isi untuk calon," kata bu Afzan yang gosipnya mulut ember alias tidak bisa jaga rahasia.


Yah untungnya tidak terlalu heboh karena yang datang masih sedikit.


"Ah ibu, masih belum tahu. Kita hanya jalani saja," kata Rita.


"Iya ya kalau terlalu serius ternyata bukan jodoh, memang sakit," kata Bu Dian.


Rita setuju, nyatanya dengan Alex saja bukan mungkin. Ribetnya baru kenal lalu bertemu ternyata harus putus lagi.


Kenangan akan dirinya perlahan menghilang diganti dengan sosok Kazen yang masih penuh misteri.


Pukul sepuluh baru deh semua guru berdatangan dengan cepat. Ya beginilah tukang ngaret semua mana mau sarapan dulu.


"Ayo ibu-ibu kita menuju aula atas," kata wakepsek bertepuk tangan.


Para guru juga staf atas bawah mengangguk dan berjalan ke aula mesjid atas, yang luasnya lumayan.


Penceramah sudah ada dan sedang duduk sambil memijat kakinya. Beserta dengan anaknya yang kabarnya juga agak rada judes.


"Aku sudah ada di aula nih. Met kerja ya," ketik Rita lalu duduk bersama Diana. Koma datang kesiangan karena mengurus adik-adiknya.


Ternyata ceramahnya mengenai Istidraj membuat heboh semuanya. Tidak biasanya sih biasanya yang agak umum dan membosankan.


Pas dengan apa yang Rita alami dan dia penasaran juga. Penceramah berdiri, tingginya tidak terlalu pendek tidak terlalu tinggi, normal.


Memakai jilbab seadanya tidak rapi tidak kusut ya normal. Dengan warna tabrak sana tabrak sini, sama juga dengan anaknya.


"Sudah? Bisa kita mulai?" Tanya Mama Dudu.


"Bisaaaa," ucap semuanya menggema.


"Tos tos satu satu satu," kata Mama Dudu.


"Dua maaaa," seru yang lainnya sambil tertawa.


"Lancarrr. Assalamualaikum warahmatullahhi wabarakaaaaatuh?" Tanya Mama Dudu.


"Walaikumsalam warahmatullahhi wabarakaaaatuh!" Jawab semuanya termasuk ibu kepsek.


"Alhamdulillah tampaknya sehat-sehat ya yang sedang tidak sehat, mama doakan sakitnya banyak," kata Mama Dudu.


"Yeeeeey ogaaaaaah," kata semuanua tertawa.


"Dosa Ma mau ceramah ko nambah dosa?" Tanya Bu Dian tertawa.


Semuanya tertawa.


"Bercanda ateuuuuh. Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang membalas doa hamba-hambaNya, apabila kita berdoa dan mengingatNya," kata Mama Dudu.


Semua guru membuka telapak tangan dan berdoa sebagai pembukaan ceramah lagi hari ini.


"Aamiin," kata mereka semua bersamaan.


"Pertama marilah kita panjatkan puja dan puji kehadiran Allah SWT yang mana telah mempertemukan kita semua dalam acara Ceramah dan Silahturahmi.


Dalam keadaan sehat wal afiat yang tadi bercanda ya astagfirullah saya doakan yang sakit makin parah. Nauzubillah," kata Mama Dudu.


"Iye Ma," kata guru-guru.


"Adanya sakit hati Ma," kata Rita yang disoraki guru lain.


"Masya Allah, serahkan segalanya sumber dari sakit hati pada Allah SWT karena Dialah yang bisa mengendalikan dan mengubah seseorang.


Semoga orang yang membuat Ibu sakit hati tersungkur hatinya, sadar dan tobat.


Kalau tidak memberikan maaf, biar Allah yang hantam hatinya. Mengingatkan dirinya bahwa dia bukan Malaikat.


Solawat serta salam tak lupa mari kita junjung tinggi kepada Baginda Nabi Muhammad saw.


Bersama ahlul bait nya juga kepada guru-guru kami, orang tua, saudara, pemimpin, muslimin dan muslimat," kata Mama Dudu berdoa.


Mereka semua berdoa dengan khusyuk dan mengusap wajah.


"Perkenalkan nama saya Mama Dudu bukan Mama Dedeh. Banyak yang salah sebut akibatnya ceramah saya dihentikan," kata Mama Dudu.


Gelak tawa bergema.


"Saya tinggal di Cianjur, saya kenal Bu Komariah kita satu kompleks tapi saya berangkat duluan nanti tidak kebagian makanan," kata Mama Dudu.


"Hahaha,"


"Serius?" Tanya Diana.


"Rumahnya aku di depan, Mama Dudu di pojok memang satu kompleks," jawab Komariah.


"Ceramah kali ini semoga tidak dibatalkan ya pemasukan saya berkurang. Kita akan membahas mengenai Istidraj," kata Mama Dudu.


"Ya tidak kok Ma, kalem," jawab staf lain.


"Oke. Hahaha ada yang pernah mendengar soal ini? Atau mengalami mungkin orang lain ya. Nauzubillah bila guru dan staf disini berproses Istidraj," kata mama Dudu mencari siapa saja yang angkat tangan.


"Nauzubillah," jawab semuanya.


"Orangnya memang rame sih dijamin tidak bosan," bisik Komariah.


"Ada yang mengalami?" Tanya Mama Dudu.


"Adaaaa," jawab semua.


"Siapa?" Tanya Mama Dudu penasaran.


"Ya orang lah ma tapi bukan kita. In sya allah," jawab semua kompak.


"Biar orang lain asal jangan kita. Saran saya, hati-hati. Kenapa coba? Kalau kalian bisa melihat seseorang yang mendekati ciri-ciri Istidraj, nauzubillah segera disadarkan," kata Mama Dudu.


"Caranya?" Tanya Kepsek.


"Aduuuh belum apa-apa sudah sakit perut," kata Rita.


"Katakan sama orang itu, Istidraj ai maneh! Dijamin tidak akan tobat," kata Mama Dudu.


Semuanya bergelak tawa sangat meriah. Sampai terdengar ke luar dimana Kazen berada di luar kantornya ikut mendengarkan.


"Tapiiiii kalau masih dengan dikatakan seperti itu dia masih keukeuh menganggap kita berbohong maka ikhlaskan dan pasrahkan.


Tanda tugas kita memperingatinya sudah selesai. Allah yang akan atasi dia," kata Mama Dudu.


"Kalau ada yang mau bertanya nanti ya sekitar lima belas menit," kata anaknya.


"Tidak sedikit orang yang lalai dalam beribadah justru diberikan banyak harta, kemewahan dan kesenangan duniawi berlimpah sekali dari Allah swt," kata mama Dudu.


Mereka semua menyimak dengan serius dan mengangguk mengerti.


"Ada yang pernah terpikirkan ada orang yang tidak mengerjakan sholat tapi bisa dengan mudahnya kaya?


Bisa terkenal? Sholat subuh jarang selama hidupnya tapi rejeki mengalir bagaikan air terjun.


Berlian, emas, permata dan perak semuanya keluar. Menjentikkan jari pun keluar koin emas. Ada? Pamer dia. Punya ini punya itu kita jadi mikir.


'Dia kan tidak kerja, tidak pernah terlihat ada usaha kok bisa?' Pasti pada mikirnya jaga Lilin. Ngaku uuu," kata mama Dudu menunjuk.


"Bahahahaha,"


"Dalam Islam, kenikmatan dunia itu disebut Istidraj. Yang seperti itu biasanya azab ditangguhkan alias dikumpulkan dosa-dosanya sampai sebanyak mungkin.


Wallahu alam ya sampai sebanyak apa sampai usianya berapa, hanya Allah yang tahu. Ibu-ibu ada yang mau menyandang gelar istimewa tersebut? Ada?" Tanya Mama Dudu.


"Mama saja," kata salah satu staf pembersih.


"Naaaajissss amit-amit," kata Mama Dudu memegang dadanya.


Rita tertawa mendengarnya. Di tempat lain Kazen terlihat tegang dengan pekerjaan pegawainya yang agak kacau.


Mereka mengumpulkan pekerjaan yang diberi waktu masa tenggang.


"SELAMA INI APA PEKERJAAN KALIAAAAAAN!!!!" Seru Kazen sangat menggelegar.


Kazen melemparkan berkas dan pulpen ke segala arah, semuanya berusaha menghindar meski banyak yang kena.


"Kelinci bos dimana? Hanya Kelinci itu yang bisa menenangkan,"


"Bubu dibawa Nyonya,"


"TIARAAAAAPPP," Perintah seseorang dan Kazen melemparkan banyak asbak. Ada yang kena alat Tengahnya dan langsung koma.


Kena kepala langsung benjol bertingkat, kena wajah langsung bengkak mirip donat. Semuanya menghindar, ada juga yang sudah siap menggunakan pelindung helm.


Barang apapun yang dilempar memantul dan sebagian bersembunyi di belakang orang tersebut.


"Saya bayar kalian masa pekerjaan kalian selama ini tidak selesai!? Berkas jelek begini kalian beri ke saya? KALIAN SEMUA MAU SAYA PECAT?!" Teriak Kazen menaiki meja sambil menjebol kan mejanya.


Penampakan mematikan itu terlihat dari luar dimana Shin bermaksud memberikan laporan hasil anak-anaknya ( pegawai ).


"Kumat," kata Shin tidak jadi masuk ke kantor sahabatnya.


Seren baru keluar dari toilet jangan mikir macam-macam. Shin baru nampak dari kantornya.


"Rita kerja ya? Suruh dia kesini untuk meredam emosi dia," kata Seren.


"Eits jangan. Gila saja kamu lupa bagaimana kebiasaan dia kalau lagi mode Evil?" Tanya Shin.


"AH!" kata Seren memukul dahinya. "Oh iya! Aku lupa biasanya kalau dia mode begini ada perempuan kan..." kata Seren menutup mulutnya.


"Iya makanya Rita juga pasti tidak bisa dia tahan untuk 'Di serang'. Bisa di 'lahap' sama dia," kata Shin berdiri santai.


"Iya juga," kata Seren mengingat tahun lalu sebelum pulang ke Indonesia.


Tidak sengaja dia melihat kelakuan Kazen yang persis sama saat itu kekasihnya perempuan seksi, tidak seperti Rita.


Setelah karyawan keluar, dia ditenangkan oleh kekasihnya dan langsung dilahap selama sepuluh menit dengan ganas.


Seren juga merinding sukur-sukur dia kena tolak. Di lahap maksudnya ciuman basah secara brutal.


Setelah itu emosinya mereda.


"Mantannya itu sampai hamil tidak sih?" Tanya Seren agak merinding.


"Tidak yah meski mantannya menginginkan permainan lebih. Tahu lah kamu juga," kata Shin berjongkok membuka ponselnya.


"Ow tidak sampai intim? Tumben," kata Seren ikut duduk. Shin melepaskan jaketnya dan memberikan pada Seren.


"Dia hanya begitu kalau emosinya memuncak. Aslinya marah biasa tidak kok lebihnya dia masih bisa tahan meski ingin juga.


Rita mendekat dia bisa tahan kan," kata Shin. Menunjukkan foto dimana Kazen mengepalkan tangannya menahan marah.


Shin lalu pamit menuju kantor dirasa sudah mereda. Seren menunggu di luar melihat Shin membisikkan sesuatu padanya.


Kazen diam lalu pergi ke tempat ibu dan Bubu berada. Shin keluar dengan senang.


"Kamu bisik apa ke dia?" Tanya Seren.


"Emosi kamu gawat kalau ada Rita coba tenangkan sambil memegang Bubu, ceritakan kekesalan kamu," kata Shin senyum lebar.


"Iya ya berbicara pada hewan bisa membuat pikiran terang daripada melahap perempuan," kata Seren.


"Kadang aku merasa kasihan pada Kazen yang jalan hidupnya Gelap. Kamu tahu kan kisah keluarganya," kata Shin.


"Ya. Dia menjauhkan kita dari keluarganya agar "Mereka" tidak membuat kita terlibat dan jadi mangsa," kata Seren.


Kedatangan Kazen membuat Bubu merinding, dia tahu Kazen sedang kesal. Telinganya terkulai turun dan dia merendahkan untuk sesuatu yang berbahaya.


Tampak tidur merapat dengan lantai. Kazen lalu mencoba mengangkat Bubu yang gemetaran dan memeluknya. Menceritakan hari-hari sebalnya, wajah Bubu menghangat.


Kelinci makhluk yang paling sensitif dengan aura manusia. Sepertinya mereka bisa melihat orang yang sedang marah, kesal, ceria atau lainnya.


Ibunya membelai Kazen mengatakan jangan menakuti kelinci, kelinci mudah mati bila pemiliknya memiliki aura merah terlalu mencekam.


Ibunya keluar ruangan dan melihat segalanya hancur. Lalu memanggil petugas dan mendatangkan meja yang baru.


Kazen menangis membuat telinga Bubu terangkat dan memeluknya. Meski menakutkan ternyata Kazen memiliki ketakutan.


Ibunya datang dan sedang memperhatikan Bubu memandangi Kazen dengan serius. Kadang Bubu mengeluarkan suara dan tangannya memegangi wajah Kazen.


Kazen memajukan wajahnya dan Bubu menjilati hidung. "Haha geli coba Rita seperti kamu ya,"


"Kalau itu sudah pasti kamu kena tonjok," kata ibunya datang.


Bersambung ...