MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
Alex Mencari Tahu



"Did you spy on Rita?"


( Apa kamu memata-matai Rita? )" Tanya Alex mencoba memancing.


Ney membaca dan memperbaiki kalimatnya, dia agak panik membaca kembali kirimannya.


Tidak mungkin dia bisa hapus karena hanya ber waktu lima detik. Dengan kalimatnya membuat Alex curiga kepadanya.


"Oh no, no, how could I spy on her? Not important either,"


( Oh tidak, tidak, mana mungkin aku memata-matai dia? Bukan orang penting juga )," kata Ney dengan cepat menggeser topiknya.


Sana dan Ney kembali berjalan menjauhi Rita. Sambil jalan itu, Ney terus membalas Alex.


Sana memperhatikan gelagat aneh Ney dan sudah bisa menebak pasti mulai membuat masalah lagi.


Biasanya kalau masalah yang dia buat sudah semakin gawat, tindakan selanjutnya dia akan kabur dan agak menangis.


Lalu menyalahkan orang-orang dengan membuat dirinya sendiri yang paling benar. Sana sudah terbiasa dan tidak pernah menggubris permasalahannya.


Alex merasa ada sesuatu yang tidak beres pada Ney. Alex berpikir ada benarnya apa yang dikatakan oleh Rita dulu.


"There's something strange about you,"


( Ada sesuatu yang aneh mengenai kamu )," balas Alex yang tengah berpikir.


Ney membaca mulai gelisah, dia mengerutkan dahinya apa maksud dari perkataan Alex? Ney kemudian panik dan Sana mengangkat bahu meninggalkan Ney yang panik sendiri.


"What it means?"


( Apa maksudnya? )" Tanya Ney sambil diam.


Alex langsung menjelaskan dan menunggu reaksi dari Ney.


"Rita is very disturbed by your behavior. I just feel you have some intentions of approaching her now. Whereas before you were not close,"


( Rita sangat terganggu dengan perilaku kamu. Aku hanya merasa, kamu punya niat tertentu mendekati dia sekarang. Sedangkan dulu kan kalian tidak dekat )," jelas Alex.


Ney terdiam sesaat, dia berdiri di samping tiang sebuah cafe. Ney heran kenapa Alex bisa sampai tahu semua yang terjadi padanya dan Rita?


Dia teringat dulu apa kata Rita bahwa aplikasi mereka ada kemungkinan sudah terdeteksi oleh Alex.


Kalau memang benar, itu bencana untuknya. Ney panik dan mencari Sana namun dia tidak ditemukan di manapun.


Saat itu Sana tengah bertelepon dengan seseorang sangat serius, melihat arah belakang. Ney berusaha mencarinya dan Sana tersenyum dengan misterius.


"Why doesn't she ever admit that I'm her best friend? Is she shy because know me?"


( Kenapa dia tidak pernah mau mengakui bahwa aku teman baiknya? Apa dia malu karena kenal aku? )" Tanya Ney.


Alex membaca dan tertawa. "Best friend? Are you sure?"


( Teman baik? Apa kamu yakin? )" Tanya Alex.


Ney merasa memang dia teman terbaik yang Rita miliki, memangnya apa lagi? Banyak yang membuat dia kecewa setelah berkenalan dengan Rita.


Di antaranya tidak pernah sekalipun dirinya dimasukkan dalam grup temannya.


Rita tidak pernah sekalipun menawari atau mengajaknya masuk.


Ney pernah menanyakan hal itu namun Rita berkata tidak berminat memasukkannya ke grup karena dia bukan teman kuliah ataupun teman SMA.


Rita juga tidak pernah meminta Ney untuk memasukkan dirinya ke grup pertemanannya.


Yah, yang ada juga ketua grup dia yang meminta nomor Rita dimasukkan namun karena tidak kenal, Rita sendiri kemudian keluar.


Grup SMP dirinya berada dulu pun tidak dia ikuti meski diajak oleh teman sekelasnya. Yang ikut hanya Ney itu juga tidak ada yang mengajaknya mengobrol.


"Yes, I am always there for her when she have many problems,"


( Ya, aku selalu ada untuk dia saat dia memiliki banyak masalah )," aku Ney.


"Oh really? Example?"


( Oh sungguh? Contohnya? )" Tanya Alex ingin tahu masalah apa yang Ney ketahui.


Ney kemudian merenung mencari tahu hal apa yang pernah Rita katakan padanya. Rita selalu bermasalah dengan keluarganya.


"About her family, she slacks affection from her parents. So she told me a lot,"


( Mengenai keluarganya, dia kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya. Jadi dia memberitahuku banyak soal itu )," cerita Ney menyangka sudah tepat.


Ney yakin bahwa Alex tidak mengetahuinya soal itu karena Ruta selalu merahasiakannya. Lalu kenapa dia ungkapkan pada Alex?


Alex tertawa secara misterius. Soal itu sudah tentu Alex tahu, Rita selaku menceritakan apa-apa saja permasalahannya.


Dan bukan karena kurang kasih sayang tapi ada hal lain yang menurut Alex lebih pokok.


"Only that?"


Ney merenung, apa lagi? Ya memang hanya itu. Dia menerangkan segalanya pada Alex, yah bukan rahasia lagi dong kalau sampai dijelaskan.


"Aku tahu soal itu dan kamu tidak tahu bukan masalah baru saat ini yang dia hadapi?" Tanya Alex membuat Ney kaget.


"Hah? Rita ada cerita soal yang aku sebutkan?" Tanya Ney tidak percaya.


"Ada. Tapi berbeda dengan yang kamu cerita, intinya bukan itu tapi sepertinya kamu hanya mengerti secara dasar," jelas Alex membuat Ney terdiam lagi.


"Dia cerita soal apa? Masalah keluarga kan?" Tanya Ney.


"Iya," jawab Alex.


"Ceritakan dengan begitu siapa tahu pemikiran ku sama," kata Ney yang ternyata sudah berbeda lagi.


"I'm sorry it was secret. I don't want anyone know about her problem,"


( Maafkan aku itu adalah rahasia. Aku tidak ingin siapapun tahu mengenai masalahnya )," balas Alex.


Ney terperangah, bagaimana bisa dia merahasiakannya sedangkan dia membeberkan segalanya.


"But I told you everything! Now I ask, you keep secret? Not fair!"


( Tapi aku memberitahumu segalanya! Sekarang aku bertanya, kamu bilang rahasia? Tidak adil! )" Kata Ney marah.


"Bila kamu benar-benar teman dekatnya, mau masalah gawat seperti apapun tidak akan kamu ceritakan. Apalagi pada orang asing sepertiku," kata Alex membuat Ney mati kutu!


"Tapi Rita memberitahukan masalah sama kamu! Dia lebih memilih orang asing dari pada aku yang lama dia kenal!" Kata Ney.


"Karena dia tahu kamu tidak bisa dipercaya. Pernahkah kamu berpikir bahwa dia banyak menebar jebakan? Soal masalah kurang kasih sayang, itu bukan masalah pokok keluarganya," kata Alex.


Ney memegang keningnya, tidak percaya perkataan Alex. Jebakan? Dia pasang jebakan kepadanya? Kenapa?


"Jadi soal keluarganya itu bisa jadi jebakan untukku? Tapi kenapa?" Tanya Ney.


"Dia ingin tahu seberapa jauh kah kamu bisa dipercaya. Sekarang saja kamu ceritakan rahasia dia kepadaku, sedangkan aku menjaganya," kata Alex.


"Kenapa dia lebih percaya sama kamu? Kamu bukan siapa-siapa dia, kamu juga banyak membuat dia menderita!" Kata Ney.


"Meski aku orang asing tapi aku yakin banyak perkataan ku yang membuatnya mengerti. Kamu tidak pernah memberinya solusi dari masalahnya. aku sering menjelaskan kenapa dan apa, itulah yang membuatnya lebih percaya aku," jelas Alex.


Sana keluar dari persembunyiannya berjalan ke arah Ney.


"Woi! Masih lama? Aku tinggal ya takut tokonya keburu tutup," kata Sana.


"Eh, tunggu! Aku ikut. Ini lagi ada masalah," kata Ney.


"Masalah terus kapan sih kamu kapok buat masalah sama orang?" Tanya Sana.


"Ih, bukan aku kok!" Kata Ney.


"Berawal dari sebuah foto lalu kamu pasti memancing orang dengan sebuah kalimat. Berakhir dengan munculnya masalah yang kamu buat sendiri. Itulah kamu, Ney," kata Sana berbalik dan jalan sendiri.


Ney memandangi ponsel miliknya, tidak ada lagi chat lanjutan dari Alex. Mau tidak mau Ney bergegas menyusul Sana yang berjalan agak jauh.


"Kamu tuh sibuk sekali sih. Kalau tidak mau ikut bilang saja," kata Sana.


"Aku ikut. Oh ya soal tadi, mereka berdua itu memang bukan kuliah di tempat kita," kata Ney jujur.


"Kan? Untuk apa sih kamu terbiasa berbohong? Supaya kamu dikenal?" Tanya Sana memandangi Ney yang menunduk.


"Tidak kok," kata Ney.


"Memang kamu kenal?" Tanya Sana.


"Iya, aku kenal mereka dan sudah jadi teman baik juga," kata Ney.


"Teman? Teman baik? HAHAHA memangnya aku percaya? Aku rasa bukan deh, mereka terpaksa mau jadi teman kamu," kata Sana menonjok hatinya.


"Tahu apa kamu!?" Tanya Ney dengan garang.


"Tahu dong. Mana ada yang tahan dengan pribadi kamu yang selalu ingin berada di depan. Aku tidak percaya ya soal mereka teman kamu," kata Sana mendengus sambil tertawa.


"Bukan urusan kamu deh! Kamu kan teman saja sedikit beda sama aku," kata Ney.


"Ya ya ya beda apalagi siapa yang mengekor orang? Supaya dianggap banyak teman ya?" Tanya Sana berjalan dengan gaya menyebalkan.


"Kenapa sih kamu terus saja dengan topik yang sama?" Tanya Ney mengibaskan rambutnya.


"Jadi? Mereka siapa? Dan kenapa kamu bisa kenal?" Tanya Sana memaksa.


"Iya iya! Huh! Aku dikenalkan ke mereka sama Rita, yang memakai jilbab hijau! Puas kan?" Tanya Ney akhirnya membeberkan.


"Sudah aku duga yang hijau itu Rita meski kamu tidak beritahukan. Soalnya kamu pernah menyebutkan ciri dia nadi aku rasa tebakan aku benar," kata Sana.


"Kamu ya!" Kata Ney menahan amarah.


Bersambung ...