
"Tidak ada yang harus dicampur ke makanan, Dok?" Tanya Rita.
"Tidak boleh harua dipisah ya. Jadi bagaimana?" Tanya dokter.
"Habis tidak ada yang bisa menyuntik sih kalau harua sendiri. Dirawat di sini juga kejauhan Dok dari rumah," kata Rita.
"Sama aku saja dirawat sementara di rumah," kata Kazen muncul membuat perawat lainnya histeris.
"Iiii iiii," kata Bubu saat melihat Kazen seolah tolong aku.
"Aduh kesakitan ya, tahan oke. Kalau begitu sudah saya suntikkan obat untuk tidur.
Makannya dikasih yang ringan saja dulu, yang bergizi perbanyak di buah ya. Kalau bisa kasih keju per hari setengah batang saja," kata Dokternya kemudian menuliskan resep obat suntik.
"Baik dok," jawab Rita. Setelah itu perawat agak salting kehadiran Kazen.
Bubu enggan makan meski sudah diberi obat, mulutnya kering akhirnya Rita berikan air meski ditolak.
Kedua mata Bubu berair menangis karena sakit yang dirasakannya. Rita memeluknya sambil cekok minuman vitamin.
"Kalau di rumah kamu, aku kangen bagaimana?" Tanya Rita.
Kazen senyum, "Nanti kan mau ke rumah sekalian jenguk Bubu," kata Kazen membelai kepalanya.
Sebenarnya ini perasaan Rita saja setiap melihat Kazen menggendong Bubu kedua matanya seakan ada dingin. Biasanya yang suka binatang matanya hangat kan, ini agak dingin.
Apa sih yang Bubu lihat? Kenapa dia menyukai Kazen? Kadang Rita merasakan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan. Kazen tidak pernah mengancam atau posesif.
Tapi sering ramah dan sangat hangat pada Rita namun dia harus hati-hati ada sesuatu yang masih mencurigakan. Mungkin karena kesan penampilan keluarganya yang super glamor.
"Memangnya ada apa minggu depan?" Tanya Prita.
"Iya minggu depan orang tua Kazen mengundang aku makan malam," kata Rita.
Mendengar itu beberapa perawat nampak sedih baru tahu kalau Rita kekasihnya. Prita juga terkejut wah!
"Prita ikut saja," kata Kazen berpikir.
"Eh? Tidak ah kan yang diundang hanya Rita," kata Prita meski mau.
"Tidak mungkin juga Rita sendirian kan. Sudah ikut saja mama pasti senang," kata Kazen senyum.
Rita menatap Kazen yang ahh mungkin hanya perasaannya saja mana mungkin Kazen aslinya sedingin tembok. Senyumnya menawan dan hangat sekali.
Bubu bangun berusaha mengendus-endus karena dirinya sudah disuntik. Kali saja hidungnya bisa menciumi makanan. Nihil.
Prita memeluk Bubu dalam perjalanan pulang. Rita juga sedih sekali namun Kazen terus menenangkannya. Bubu terlelap dalam pangkuan Prita.
Di rumah diberitahukan bahwa Bubu akan menginap sementara di rumah Kazen. Bapak dan ibu menyayangkan tapi tidak ada yang bisa menyuntikkan obat.
Rita mengeluarkan kotak tempat tidur Bubu yang agak mungil. Kazen penasaran dan melihat.
"Lucu sekali," kata Kazen menimangnya.
"Hehehe Rita yang beli benar-benar komplit deh," kata Prita.
"Nih selimutnya jangan sampai kedinginan. AC nya jangan terlalu besar," kata Rita memberikan perlengkapan Bubu.
"Iya iya, sementara waktu kamu dengan aku ya sampai sehat," kata Kazen. Bubu bangun dan menguap.
Rita memperhatikan Kazen. "Memangnya kamu bisa menyuntik?"
"Eh? Euuuhh Ayah bisa tenang saja," kata Kazen.
"Ayah kamu dokter ya," kata Rita baru tahu.
"Kenalannya suka datang ke rumah nadi aku bisa minta tolong. Kenapa sih? Tenang deh obatnya pasti aku berikan," kata Kazen. Dia tahu tampaknya Rita mencurigai sesuatu.
"Oooohhh," kata Rita memandangi Bubu sedih.
Kazen pun terdiam tampaknya Rita mencurigainya sesuatu mungkinkah tatapan dinginnya pada Bubu? Biasanya Rita...
"Tatapan kamu dingin pada Bubu. Kenapa? Kalau tidak suka binatang bilang saja," kata Rita membuat kaget Kazen.
Kazen menggelengkan kepala, "Maaf kerjaan ku membuat isi kepala mumet jadi tanpa sadar aku menumpahkannya pada Bubu,"
"Syukurlah aku kira kamu pura-pura suka binatang," kata Rita lega sekali.
Kazen menatap Rita, ternyata Rita lebih memilih mengungkapkan apa yang dia rasa daripada menyimpannya.
"Jadi kamu cemas karena tatapan aku? Hahahaha kena kau," kata Kazen tertawa membuat Rita mencubitnya.
Setelah itu Kazen pamit sambil menggoda Rita dengan tatapan dinginnya lalu sebuah jambakkan kepala pun terjadi.
"Ampuuun jangan lupa ya," kata Kazen minta maaf karena sudah menggoda Rita. Bubu naik ke pundak Kazen.
"Senang-senang deh di sana," kata Rita melambaikan tangan.
Dalam perjalanan Bubu diberikan makana ringan, dia makan sambil memandangi Kazen lalu tidur dengan lelap.
Sesampainya di rumah, Bubu sudah bangun meski dia sakit tapi antusias melihat rumah sang Pangeran. Kedua matanya terbelalak besar melihat rumah sebesar istana dan penuh lampu cantik.
Pada depan gerbang terdapat huruf ukiran A yang indah, entah apa artinya. Kazen dengan senang memasuki rumah itu sambil menggendong Bubu.
Ternyata rumah itu baru rumah depan, rumah Kazen dan keluarga berada di belakang dan diantarkan semacam mobil.
Petugas membawa mobil pribadi Kazen, Bubu menatap semuanya dan mengedipkan mata.
"Kamu kaget kan? Ini baru rumah persinggahan depan. Rahasiakan ini dari Rita ya," kata Kazen menaruh telunjuk di mulut Bubu.
Bubu menjilat nya sebagai janji dan Kazen tertawa. Mereka melewati pekarangan yang sangat indah. Tercium aroma mawar yang lembut.
"Berhenti dulu. Kamu mau?" Tanya Kazen memetik mawar putih.
Bubu antusias dan memakannya, kedua matanya senang sekali. Sambil mobil tersebut melaju, Bubu melihat berbagai macam yang menarik.
Terutama perempuan berambut pirang mirip Serenity. Dia menyapa Kazen dan membelai Bubu yang penasaran. Dalam mata Bubu, wanita itu laksana seorang dewi.
Kazen menuju rumah pandangan Bubu terus menatap wanita itu sampai hilang. Wanita itu melambaikan tangannya pada Bubu, suaranya pun lembut sekali.
"Kamu suka Alexandria? Dia adalah idola dalam keluarga. Dia juga orang yang paling penting," kata Kazen tersenyum.
Tibalah mereka di sebuah rumah putih yang... biasa sekali. Rumah besar mereka yang aslinya ditinggalkan begitu saja.
Keluarga lain menempati rumah mereka selama waktu yang dibutuhkan. Bubu menatap rumah tersebut. Dari mewah, glamor, penuh lampu cantik menuju rumah biasa. Ya biasa.
Kazen disambut beberapa pelayan menatap Bubu dengan senyuman ramah. "Kelinci Anda?"
"Yah punya Rita sih. Dia akan menginap disini karena sakit," kata Kazen. Beberapa pelayan lain mengambilkan barang.
"Mau saya gendong kan?" Tanya pelayan.
"Tidak perlu takutnya dia cakar kalian. Bawakan semuanya ke kamar saya dan buat jadwal minum obatnya," kata Kazen.
"Baik, Tuan. Nyonya dan tuan besar sedang ada di Rumah," kata pelayan memberikan kode.
"Baiklah ayo," kata Kazen memeluk Bubu.
"Anda yang akan menyuntiknya Tuan?" Tanya pelayan tadi mengikuti.
"Ya aku punya pengalaman menyuntik sendiri kan. Dulu aku pernah menjadi Narkoboy," kata Kazen tertawa.
Bubu juga mendengarkan. "Edan!"
"Bagaimana reaksi Rita setelah Anda menceritakannya?" Tanya pelayan lain.
"Ya habis nyawaku," jawab Kazen sambil tertawa keras. Mereka berjalan menelusuri lorong dan keluar menuju Rumah biasa mereka.
"Tapi Anda memang ceritakan?" Tanya Shad pelayan laki-laki membawa barang Bubu.
"Yah sudah kalian lihat sendiri kan hasilnya dari jauh. Dia banyak menjambak dan mencubit aku di sekitar badan. Remuk sudah semua kulit aku," kata Kazen.
Tidak ada yang tertawa tapi mereka memang melihatnya. Tampak sangar sekali saat Rita menjambak kepala Kazen.
"Tapi kelihatannya Nona tidak keberatan. Demi uang kah?" Tanya yang lainnya.
"Demi makanan enak HAHAHA tidak Rita bukan perempuan begitu. Dia banyak membeli kebutuhan kelinci ini, kalau jalan juga saat aku berikan dompet penuh uang dia hanya memakai 100 ribu," kata Kazen.
"Haah!? Anda memberikan dompet langsung?" Tanya Shad menganga.
Dompetnya sangat tebal sengaja untuk melihat apakah Rita matre atau tidak. Selama pacaran dia hanya ambil satu lembar uang berwarna merah jambu.
"Iya," jawab Kazen tenang.
"Uhh enak sekali! Kalau perempuan lain langsung habis kan," kata pelayan perempuan.
"Dibelikan apa saja Tuan?" Tanya mereka penasaran.
Kazen menyebutkan semua jenis makanan yang membuat mereka menganga. Makanan semua yang Rita beli untuk dua orang.
Semuanya tertawa dan minggu depan Rita akan datang. Para pelayan pun memang selalu diberi uang bonus oleh Kazen.
"Tuan, kenapa Anda memilih untuk mengalah? Anda bisa membantingnya kapan saja seperti wanita lain," kata Shad dengan serius.
"Ya ampun Shad, wanita-wanita itu kan berusaha merayu orang lain di hadapan Tuan. Apalagi ada yang berusaha melemparkan pisau," kata pelayan perempuan.
Bubu mendengarnya begitu ketakutan dan menatap Kazen yang sudah biasa. "Aku tidak akan melukai Rita. Jangan cemas, Aku memang menyukainya,"
"Dia perempuan yang diluar dugaan, Shad. Mana mungkin aku sanggup membantingnya meski dia menjambak ku.
Cubitannya juga tidak begitu melukai kulit, dua hari langsung sembuh kan," kata Kazen.
Membuat semua pelayan baru tertawa pada perkataan Kazen. Kazen hanya termenung.
"Memangnya aku salah?" Tanya Kazen.
"Baru kali ini saya melihat sosok lembut pada Tuan, biasanya Tuan akan langsung gilas perempuan.
Tuan yang hebat dalam persenjataan, ilmu bela diri, hack bahkan memata-matai bisa tunduk pada perempuan biasa," kata Shad terus terang.
Seraaaam Bubu menatap Kazen tidak percaya.
"Cinta bisa membuat semua pria jadi bodoh. Se galaknya Tuan muda, bisa jinak juga sama perempuan," ucap Pri yang menyambut.
Kazen hanya tertawa nampaknya itu benar. Biasanya bila dia memiliki kekasih akan banyak di uji, dari daya tariknya, pikatannya.
Tapi hanya Rita saja yang tidak dia lakukan. Tidak ada kebohongan hanya memang sedang terluka, seseorang memintanya menyembuhkan luka tersebut.
Alexkah? Cieee penasaran kaaan. Ya kapan-kapan aku ceritakan hehehe..
"Anda di jambak apa Anda benar-benar menangis, Tuan?" Tanya Shad penasaran.
Kazen memandangi mereka semua dan tertawa keras. "Kalian semua penasaran ya dengan kisah aku dan Rita? Astaga!"
"Habis, tingkah Anda tidak biasanya," kata Pri setuju.
"Yang buat kalian penasaran itu kekuatan sepuluh tangannya ha ketika menjambak rambut aku kan? Aku juga heran dalam badan se rapuh itu dia bisa mengeluarkan tenaga kuat," kata Kazen heran.
"Rapuh?" Tanya Shad.
"Dia juga banyak sakit, Shad," jawab Tuan besar yang mendengar obrolan mereka.
"Tuan," jawab mereka menundukkan kepala dan memberikan hormat.
"Rita itu banyak sakit bukan sakit hati seperti tahun lalu. Tapi tubuhnya lemah semua penyakit yang dia punya kadang kumat ya mirip Alex sih," kata Kazen.
Mereka mengerti pantas Kazen tidak bertindak seperti biasanya.
"Tenaganya itu lho serasa mau cabut nyawa dan aku memang menangis," kata Kazen setelahnya mengelus kepala sambil manyun.
Dalam rumah pun disambut banyak pelayan yang membantu ibunya serta anak pertama memasak. Kazen juga bersiap memakai baju kaos yang biasa.
Paman dan Bibi juga ada, mereka berasal dari keluarga sederhana dan Darma memanggilnya untuk membantu melatih.
"Malam," kata Kazen.
"Ya Allah, Malam juga Kazen. Aih, kamu bawa apa? Untuk dimasak?" Tanya Bibi membuat Bubu panik.
"Bukaaan tenang tenang kamu tidak akan diapa-apakan. Ini kelinci pacar saya," kata Kazen menenangkan Bubu yang tiarap di bawah ketiak Kazen.
"Kenapa dibawa kemari? Dia sakit? Hallooo," kata Bibi melihat ke bawah ketiak Kazen.
Bubu hanya ketakutan. Bibi tertawa keras. Paman dan Bibi beragama Islam dan juga ramah.
Kazen menceritakan semuanya sambil menaruh Bubu dalam.kandangnya. Dia masih ketakutan melihat api yah salah-salah jadi kelinci panggang.
Para pelayan menyiapkan handuk dan air es karena Bubu demam kembali.
"Kasihaaan maaf ya saya kira kamu bahan makan malam. Ada obatnya? Tipes duh," kata Bibi membelai lembut.
"Uk uk uk," Bubu bersuara pelan karena tidak nyaman dengan suhu tubuhnya kadang kedinginan atau kepanasan.
"Kaget ya," sambut pamannya yang Bubu bereaksi lompat saat disentuh. Kazen membelai memperkenalkan pamannya.
"Ini paman aku. Dia suka kelinci, rumahnya banyak sekali," kata Kazen.
"Wah lucunya punya Rita ya," kata Mina membawa kedua anaknya yang kembar. Anaknya juga senang dan memeluk Bubu.
"She was sick," kata Kazen.
"Oke, uncle," jawab keponakannya menaruh kembali.
Mina tanpa diduga membelai di tempat dirinya disuntik dan tangannya dikep lak lalu sembunyi di sela kaki Kazen.
"Dia disuntik di situ Kak, sakit ituu," kata Kazen.
Mina ditertawakan dan meminta maaf pada Bubu. Kazen membawakan suntikan mereka menenangkan Bubu agar tidak kaget.
Bubu pasrah saat semuanya tiba-tiba terdiam dan merasakan sentuhan tipis sebuah jarum. Dia pasrah dan terus menangis sambil dipeluk Mina. Tangan dan kaki dipijat lembut.
"Bubu perempuan ya pantas sih," kata Ibunya memperhatikan.
Paman lalu menaruh makanan, dan bibinya mengambilkan minum dan menaruh terpasang di kandangnya.
Bubu terus menangis, Kazen menciumnya dan mengatakan sudah. Beberapa menit Bubu mencoba makan dan minum meski sedikit dia sudah lega dan tidur.
Ayahnya datang dan menggendongnya, Bubu terbangun sebentar dan menjilat tangan ayah Kazen.
"Hahaha tenang ya kamu aman. Kamu boleh rehat sampai sembuh di sini," kata ayahnya.
"Ayah, kelincinya sedang sakit nanti saja kalau sudan sehat bisa digendong," kata Mina protes.
"Paman kenapa tidak bawa kelinci sebagian?" Tanya Kazen. Ternyata mereka semua penyuka binatang.
"Yah masa dari Swiss bawa binatang. Kalau mati bagaimana? Lagipula mereka banyak yang beranak," kata pamannya tertawa.
Bubu tidak nyaman dan ayah mengerti. Diberikannya pada Kazen yang langsung membuat Bubu tidur.
"Kamu disayang juga kok di sini," kata Kazen mencium pipi dan kepala Bubu.
Bersambung ...