MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
21



Hal yang sama saat Arnila meminta Alex lebih mempercayai Rita bukan Ney. Karena soal Ney bukanlah bual an semata. Alex memeriksa semua jalan hampir 100% Rita memblok semuanya tapi ada satu aplikasi yang tampaknya dilewatkan.


Alex akan mencoba lagi. "Rita, aku janji tidak akan lagi mencampuri urusan kamu dengan Ney," lalu dia menunggu 5 menit.


Rita memukul kepalanya, oh iya! Aplikasi itu dia lupa hapus! Membaca dan mendengus, janji janji janji. Prettt!!


"Sudah sudah tidak perlu banyak janji buktinya sudah ada kamu banyak ingkar! Aku jenuh terjebak dengan hal yang sama perangkap kamu lagi. Terserah deh kamu mau percaya atau tidak, itu buktinya nyata!" Balas Rita.


Meski iya Rita membalas tapi kebiasaannya yang selalu ingkar membuatnya tidak enak. Dia akan mengalihkan topik saja.


"Kamu tidak tanya kabar aku?" Tanya Alex.


"Bosan! Kabar kamu masih tetap sama," kata Rita jutek.


"Kalau Ney atau Arnila selalu tanya mereka lebih perhatian tidak seperti kamu," kata Alex.


"Iya memang jadi kenapa kamu terus berharap ke aku? Kamu lagi koma atau tidak, aku tidak peduli! Sana dekati Ney sekalian jadi sahabat dia. Lebih enak sama dia kan sama-sama tukang cari muka," kata Rita.


Alex diam niat membuat Rita cemburu malah yang ada menyuruhnya pergi. Benar saja kalau Rita sangat sakit hati kepadanya apalagi sudah membandingkan dirinya dengan mereka berdua.


Kalau Arnila sih wajar karena jarang berkomunikasi dengan Alex. Rita selama 4 tahun chat dengannya, selalu menanyakan kabar,keadaan dia ternyata tidak pernah dianggap ada.


"Aku sudah tanya Ney soal bukti obrolannya katanya itu bohong dan akal-akalan kamu saja," kata Alex.


"BODO AMAT!" Balas Rita sudah sangat marah.


"Tapi aku percaya kamu mana ada kan kamu buat orang lain pura-pura membuat skenario. Meski kamu bisa melakukan hal itu untuk menjebaknya," kata Alex sambil senyum.


"Omong kosong! Jangan chat aku lagi kamu drop banyak istigfar karena kamu banyak salah! Sudah, aku sibuk tidak punya waktu meladeni ocehan kamu!" Kata Rita lalu mematikan aplikasi tersebut.


"Ya," jawab Alex mengirim tapi tidak terkirim. Dia menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Sesekali dia cek ketikannya namun sama sekali tidak bisa terkirim. "Dia sudah hapus,"


Dari Ney sendiri pun tidak ada gerakan lagi, semuanya berantakan soal bedak pun usai. Tidak menduga Feb berani melawannya. Yang Ney inginkan sebenarnya memang memisahkan Alex dan Rita jangan sampai mereka bersatu.


Karena baginya bila mereka saling jatuh cinta maka posisinya dalam bahaya. Dan juga... Semuanya soal dirinya jelas akan terbongkar. Entah kenapa Ney bisa memikirkan hal tersebut, berani menantang tapi enggan melihat mereka bertemu.


Tahun lalu memang Rita dan Alex sempat bertemu, dia tidak menduga laki-laki tegap dan tegas itu adalah Alex. Ney melihat bagaimana Alex memandangi Rita juga keluarganya.


Pikirannya terlalu melanglang buana berpikir bila memang Rita dengan Alex, itu artinya posisi dia akan berada di bawah Rita. Karena itulah sebisa mungkin dia akan terus mengganggu mereka berdua.


Iya memang Ney mencemaskan Rita yang terlalu senang jomblo, itulah baiknya tapi sayang semuanya hancur saat dia mulai berpikir yang aneh-aneh. Ney takut bila dirinya di bawah Rita, Rita akan membalas menginjak.


Sebenarnya sih boro-boro Rita berpikir ke arah sana, dia sama sekali tidak peduli siapa yang di atas dan di bawah. Yang penting tidak ada yang mengganggunya saja atau bicara aneh.


Cara Ney adalah termasuk mengganggu Rita dengan banyak kiriman. Ini baru satu ya masih ada beberapa lagi yang membuat Rita sebal! Dirinya yang disebut jahat ke dia tapi dia juga yang terus mengganggu Rita entah untuk niat apa.


Dalam hatinya dia terus berharap Alex dan Rita masih memperdebatkan bedak tapi tidak ada info apapun. Dia mencoba membuka akun PB Rita tapi sama sekali tidak bisa dia temukan.


Yang anehnya PB Arnila juga tidak ada, Ney berpikir ini sangat kebetulan sekali apalagi waktu dan hari juga bersamaan. Ney sadar bahwa mereka kedua berjanjian untuk menutup akun masing-masing.


Alex juga tidak menghampirinya lagi, apapun Ney kirimkan pesan Alex tidak pernah membalasnya lagi. Ney katakan bahwa bedaknya sampai pun, Alex tidak membalas.


Ney tidak mengerti kenapa Alex tiba-tiba saja menghentikan chatnya? Apakah isinya memang tidak terlalu menarik? Ney mondar mandir dengan gelisah, Feb juga tidak ada memberitahukan soal apapun lagi.


Dia tersadar saat anaknya menangis dan berlari, menyuruh pembantunya menenangkan.


Beberapa hari berlalu, Alex memutuskan untuk membiarkan Rita sementara waktu meski dia tidak tenang. Rita itu semacam ekstasi baginya, dia sakiti masih saja berani datang mirip Ney sih hanya beda jenis kelamin.


Ney juga sama dia biarkan masalah itu supaya tenang kemudian chat pada Feb. Memang itulah kebiasaan dia kalau sudah buat masalah, ya kabur 3 hari kemudian datang dengan wajah biasa.


Makanya tidak heran sih banyak yang meninggalkan karena dia memang aneh. Selalu berpikir cukup mengatakan Maaf maka masalah yang dia perbuat ya selesai. Tapi tidak dengan orang-orang yang dia hancurkan.


"Feb, tidak ada kabar apapun lagi?" Tanya Ney mencoba bertanya.


"Maksudnya?" Tanya Feb yang sibuk menjaga toko.


"Yaaa soal aku yang salah kirim. Apa Rita tidak penasaran?" Tanya Ney.


"Urusan bedak kan sudah selesai, dia hanya mau membantu mengembalikan nama aku seperti sedia kala saja. Dia juga butuh bukti kan soal dugaannya, ya sudah selesai. Kalau mau ganggu dia lagi, lakukan saja sendiri jangan bawa-bawa orang," balas Feb kemudian tidak membalas lagi.


"Dia tidak ada seperti tanya nomor ponsel aku, gitu? Ya kali kurang jelas aku mau kok dengar pemikirannya," kata Ney.


Feb membacanya dan tidak pernah membalasnya lagi membuat Ney mendengus. Akhirnya Ney tampak lemas dan mencari cara lain yang lebih efektif. Membuat Rita mencari-carinya dan bisa kontak lagi deh.


Malam berikutnya Rita tertidur lelap di meja belajar. Kemunculan astral Alex merasa iba karena pasti lelah, mirip dengan dirinya. Bertumpuk-tumpuk buku laporan, hitungan, SKH, rapot serta yang lainnya.


Kemudian Rita terbangun sambil mengucek-ngucek matanya. Punggungnya sakit karena terlalu lama menunduk dan dia menguap lebar.


Rita bangun perlahan dan mengambil handuk lalu mandi, Alex tidak ikut dia hanya menatap pekerjaan Rita yang memang sangat banyak. Tidak heran sih Rita sering marah-marah karena stres.


Syuut Alex menghilang bagaikan jin lampu. Rita datang lalu berganti baju kerjanya dan menyiapkan buku yang harus dibawa. Bahkan tidak sempat sarapan, nasi goreng moza yang dibuat ibunya.


Di angkot, Rita masih mengantuk dan tidur sesaat setelah akhirnya tujuannya tiba. Di sekolah dia mengerjakan lagi tugas yang belum selesai. Rita memijat lehernya yang pegal, para staf sudah datang sebelumnya.


"Selesaaai," ucap semua staf bersamaan.


"Sebagian," kata Rita memijat bahunya.


"Ahhh banyak sekali. Kita rehat yuk, beli seblak?" Tanya Asna yang langsung di acungi jempol termasuk Rita.


"Aku titip makaroni panggang saja deh belum sarapan soalnya," kata Rita mengeluarkan uang Rp 25.000.


"Sip deh, ketagihan ya makaroni panggang buatan bibiku hehehe," kata Dewi staf yang baru.


"Aku suka kejunya banyak," kata Rita.


Dewi dan Asna kemudian keluar untuk membeli pesanan yang lain. Rita membuka ponselnya, dia menghela nafas melihat notif dari chat aplikasi.


Ting Tung! Dering notif Alex berbunyi bersamaan dia tengah makan siang. "Sudah selesai?" Tanyanya mencoba berusaha chat lagi.


Rita juga hanya lemas Alex terus berusaha membuatnya chat sebenarnya bisa saja Rita tidak membalas, tapi...


"Belum," balas Rita.


Alex tidak membalas tapi dia cukup senang melihatnya. Jantungnya agak kumat dan mengharuskan dirinya minum obat. Rita juga lebih mementingkan pekerjaannya karena diawasi.


Setelah selesai, semuanya dikumpulkan lalu diserahkan pada Kepala Sekolah.


"Hoaaa," kata Rita menguap dengan lebar sambil rebahan di atas karpet.


"Lelah ya?" Tanya Alex.


"Ya," balas Rita.


"Sudah selesai?" Tanya Alex lagi.


"Belum semua," balas Rita.


Alex diam, Rita membalasnya sangat sedikit sekali 1-2 kata saja. Alex merasa memang Rita butuh banyak waktu sendiri.


"Hanya itu?" Tanya Alex tidak puas.


"Kenapa?" Tanya Rita.


"Tidak minat tanya soal keadaan aku?" Tanya Alex kecewa.


"Tidak," jawab Rita membuat Alex kesal.


"Aku baru drop," kata Alex.


"Sudah biasa," balas Rita.


"Masa hanya jawab begitu?" Tanya Alex.


"Aku sudah bilang tidak peduli lagi keadaan kamu. Sudah terbiasa baca kabar kamu drop," balas Rita akhirnya panjang.


Alex diam lagi, dia berpikir benar juga sih sudah bukan berita kejutan juga kalau dia drop.


"Kamu akan bahagia nanti," kata Alex tiba-tiba.


"Oh," balas Rita tidak tertarik.


"Aku bermimpi kamu punya pasangan tapi bukan aku," kata Alex ingin tahu jawaban Rita. Kalau dulu sih Rita seakan sedih.


"Baguslah," jawab Rita ternyataaa...


"Kamu tidak bertanya bagaimana soal aku?" Tanya Alex agak manyun.


"Paling sering drop," balas Rita dengan malas.


"Begitu amat sih ya aku juga bahagia dengan orang lain," kata Alex.


"Ya bagus," jawab Rita lagi sambil tiduran.


"Aku hanya ingin bilang kalau aku bersyukur bisa kenal kamu," kata Alex akhirnya.


"Sama-sama," jawab Rita datar.


"Waktu kita pertama kenalan itu karena komputer ku error," kata Alex agak sedih.


"Menyalahkan barang, menyalahkan orang hobi kamu melempar kesalahan ya. Dulu kamu bilang foto aku yang datang ke akun kamu. Mirip Ney kalau bicara beda-beda," balas Rita.


"Benar laaa aku kira kamu lupa. Aku tertarik dengan foto kelinci kamu," kata Alex berusaha memanjangkan percakapan.


Bersambung ...