
Para guru dan kepala sekolah pun kebagian. Masih banyak sisanya.
"Kamu merampok toko lagi ya?" Tanya Rita melihat isinya. Dia ambil dua macam dan diberikan pada Kazen.
"Hehehe begitu amat. Bagaimana dengan jumlah anak?" Tanya Kazen yang duduk dengannya depan ruangan.
"Baru ada lima puluh sih setelah ini aku dan beberapa guru mau membagikan selembaran penerimaan murid," jelas Rita asyik menjilat.
"Aku bantu ya di kantor pekerjaan audah selesai," kata Kazen membaca selebaran.
"Jangan! Bisa gawat nanti mereka mau masuk ke sini supaya bisa lihat kamu," kata Rita.
"Aku tidak minat dengan ibu-ibu kok," kata Kazen tertawa memberikan tisu.
"Kali saja ada yang seksi dan janda. Pokoknya jangan!" Kata Rita sebal.
"Heh," kata Kazen mencubit pipi Rita sampai melar.
"Hahaha," kata Rita tertawa sambil menahan sakit dicubit lalu melepaskan tangan Kazen.
Kazen enggan memperhatikan bibir Rita yang meradang memerah akibat makan es krim. Bisa bergairah dia.
"Oh iya mamaku mau minta maaf," kata Kazen sambil makan es krimnya.
"Soal?" Tanya Rita masih mengulum es krim.
"Itu... soal menguji kamu," kata Kazen sambil fokus menjilati es.
"Ohh tidak apa-apa sih aku mengerti. Mereka pasti takut kamu bertemu perempuan matre kan," kata Rita dengan tenang.
Kazen mengangguk, Alex juga protes dengan cara uji keluarganya tapi memang keluarga Darma lebih di dekati perempuan macam itu.
"Eh, ke sana yuk ada tukang cilok yang ciloknya itu enak banget," kata Rita membuat Kazen tertawa.
Mereka menemukan tukangnya dan Kazen membeli banyak karena memang enak. Mereka duduk tepat di bawah pohon alpukat dengan angin yang sejuk.
"Kamu bisa ke rumah?" Tanya Kazen membuat Rita bingung.
"Rumah? Rumah kamu?" Tanya Rita.
"Rumah Bubu. Siapa lagi," kata Kazen sambil mengunyah.
"Kapan? Aduh tapi aku sudah mulai kerja," kata Rita panik. Setelah jadi dengan Kazen memang soal rumahnya pun masih misteri.
"Iya nantiiii bukan sekarang atau minggu ini. Mamaku orangnya ribet! Segala sesuatu harus sempurna. Nanti mau pakai baju apa?" Tanya Kazen masa iya gaun yang kemarin lagi?
"Baju seksi," jawab Rita.
"Bodoooooh," kata Kazen pura-pura marah sampai Rita menggodanya. Mereka tertawa bersama ya Rita pikir soal Kazen yang dingin itu hanya perasaannya saja.
"Hei hei baru kali ini ada orang pacaran di bawah pohon alpukat mana sambil makan cilok," kata Diana memperhatikan.
Guru-guru yang membagikan es krim buru-buru melihatnya dan menggelengkan kepala.
"Hanya mereka saja yang begitu. Tapi mereka kan sudah tujuh bulan ya," kata Rara.
"Delapan," jawab Komariah.
"Pernah Rita di cium?" Tanya Rara sambil berbisik. Mereka semua kaget!
"Ya Allah, mana mungkin!" kata Diana.
"Aku kan nanya kalau tidak ya mereka hebat sampai bisa menahan hasrat gituan," kata Rara.
"Iya sih pacaran jaman now yang berjilbab juga belum tentu tidak begitu. Berarti memang mereka berdua tidak memandang fisik," kata Asmi.
"Ada tukang siomay, tukang cilok, tukang seblak, lumpia juga ada. Cara kencan mereka bisa dijadikan rekomendasi, jadi pasangan bisa hemat uang," kata Koma membuat semuanya tertawa.
"Bu, masih ada es krimnya? Mau aku kasih ke temanku," kata salah seorang anak.
"Masih nih. Hati-hati," kata Asmi.
"Kazen ini sepertinya memang merampok satu toko deh. Sebanyak ini!" kata Koma yang masih melihat ke dalamnya.
"Sepertinya begitu," kata Ratna menikmati es krim lain.
"Bisa masuk angin kalau kebanyakan makannya," kata guru lain.
Ratna memiliki bibi yang memang memiliki toko agak besar, dia memperlihatkan caption bibinya di instagram.
"Edaaaan siang-siang sudah dapat pembeli Sultanos! Isi es krim ludes!"
Semuanya tertawa melihat penampakan hanya satu kulkas es krim yang habis tidak bersisa.
"Anak-anak hari ini kita belum belajar ya. Karena masih pembukaan jadi pulangnya bebas," kata Ratna memberitahukan.
Anak-anak pun masih dengan baju bebas.
"Jangan lupa kita gosok gigi dulu ya," lanjut Koma.
"IYA BU GURU!!" Seru mereka semua.
Pukul sebelah Kazen pamit menuju kantornya meski enggan. Rita melambaikan tangannya dan tidak lupa memberikan bekal makan siangnya.
Kazen senang sekali sesekali dia melihat ke dalamnya, ada roti isi, nasi kepal serta teman-temannya yang Rita buat dengan unik.
Shin akhirnya menjemput karena sebal Kazen terlalu lama datang. "Kamu ini sudah berapa kali pacaran sih? Klien sudah menunggu,"
Berbalik wajah Kazen berubah meski masih menggendong bekal milik Rita. "Aku akan membawanya ke rumah,"
Shin kaget, "Di Switzerland!? Kamu serius!?" Tanyanya bengong.
Kazen memandangi sahabatnya itu dengan datar. "Di Banduuuung jauh sekali ajak dia kesana. Kesana kalau sudah jadi calon istri,"
"Calon istri bagaimana kamu ajak kesana. Kan tidak ada siapa-siapa, kamu mau ajak indehoy dulu?" Tanya Shin.
Shin lalu mencubit sahabatnya dan itu hanyalah bercanda saja. "Rumah yang mana?"
Mereka berjalan kaki menuju kantornya di atas.
"Oma kan pernah beli. Kamu juga tahulah, rumah sederhana itu," kata Kazen.
Shin berhenti melangkah. "Sederhana!? Yang di jalan 12345?" Tanyanya.
"Iya," jawab Kazen berbalik.
"KAMU GILA APA! ITU SEDERHANA!? Itu masih mewaaaah," kata Shin memukul keningnya.
"Gila apanya? Memangnya itu bukan sederhana?" Tanya Kazen melongo.
"Ya bukanlah! Ya Allaaaah memang beda sih pemikiran anak orang kaya dengan orang biasa," kata Shin.
"Apa sih kamu? Rumah di luar negeri kan lebih besar. Nah yang rumah oma beri itu setengahnya," kata Kazen.
"Yahhh itu mah masih besar. Kalau kamu tetap pakai rumah itu, sudah pasti Rita langsung tahu kalau kamu itu daei keluarga tajir sama dengan Alex!" Kata Shin kesal.
"Yah terus bagaimana dong? Mana mama mau bertemu dia juga," kata Kazen lemas.
Shin garuk-garuk kepala, ya Darma harus menyembunyikan identitasnya kalau tidak bisa gawat. Menyamar juga masih saja terlihat kaya.
"Aaah ini kerjaan aku lagi deh. Kebetulan tadi aku baru saja mengantar Serenity mencari rumah," kata Shin berjalan lagi.
Kazen menatapnya. Mungkinkah... "Kamu jadi menikah sama dia?"
"Mana ada! Aku sama dia belum mantap menikah," kata Shin tertawa.
"Lalu? Rumah itu untuk apa? Jangan bilang kamu mau... kumpul kebo. Hei! Yang benar dong? Kamu yang suruh aku tobat kenapa sekarang..." kata Kazen.
"Gila! Bukan Seren ingin beli rumah sebelah Aku. Bukan satu rumah!" Kata Shin memukul Kazen.
"Kamar?" Tanya Kazen lagi.
"RUMAH! Sudah ah ayo balik ke kantor dulu. Rapat ini," kata Shin dengan cepat.
"Gantikan dulu ya aku mau makan bekalnya Rita," kata Kazen kemudian Shin menjewer kupingnya.
Terpaksa bekal Rita akan dia makan nanti sore. Bekal itu dia simpan di mejanya dan mengancam semua pegawai yang berani membawa atau membukanya.
"Kata siapa sudah punya kekasih, bisa jinak. Semakin garang yang ada," kata pegawai lainnya.
Saat rapat dimulai, Kazen melirik jam dan berbisik pada Shin.
"Rapat sampai jam berapa?" Tanya Kazen.
"Pukul tujuh malam," kata Shin. Kazen memperlihatkan wajah kecewa.
"Tadi baru bertemu. Sehari doang bukan setahun, Zen! Sudah fokus!" Kata Shin bete.
Di tempat Rita, dia senang bernyanyi riang sambil mengibaskan setumpuk lembaran.
"Iya iya, kamu lagi senang. Kita jadi panas nih," kata Rina.
"Maaf deh bagaimana es krimnya? Enak?" Tanya Rita menghentikan tingkahnya.
"Semua es krim itu pasti enak Bu Rita. Sini deh ikut ke toko tempat bibinya Ratna jualan," kata Asna.
"Tuh," tunjuk mereka berdua.
Ada mobil besar dengan logo Campi mendatangi toko besar dan mengisi ulang.
"Ohh besar juga ya," kata Rita.
Mereka lanjut lagi dan mengobrol dengan seru.
"Hebat deh Bu Rita punya kekasih yang bisa merampok satu toko. Kapan menikahnya?" Tanya Rina cekikikan.
"Hahaha baru juga kenalan. Ya bukan pacaran sih ini karena kita kalau kemana-mana tidak pernah bergandengan tangan," kata Rita.
"Lalu apa dong? Teman Tapi Dekat?" Tanya Asna.
"Nah itu. Kalau mau melamar ya ayo saja," kata Rita.
"Asyiiik bisa mewah nih," kata Rina.
"Aamiiin," kata Rita senang.
Sebelum Rita pergi keluar bersama kedua staf, dia sempat menerima panggilan masuk entah dari siapa.
"Siapa ini?" Tanya Rita tapi tidak dia angkat karena tidak kenal.
Rita simpan ponselnya yang sedang di isi daya. Ponselnya kembali menyala kembali saat Rita menuju keluar ruangan.
"Ayo bu," ajak Asna dan mereka bertiga keluar dengan senang.
Mereka mendatangi setiap rumah dan mengatakan bahwa guru telah kembali. Beberapa murid tentu akan senang kembali dan langsung mendaftarkan anaknya.
Setelah itu rapat selesai lebih cepat dan Kazen segera meluncur. Seren dan Shin pun ikut juga. Bekal Rita masih dia bawa, berencana makan di tempatnya.
"Rita masak?" Tanya Seren.
"Iya. Tapi tidak akan aku beri," kata Kazen yang dicubit oleh Seren karena kesal.
Mereka tiba dan hanya ada kepsek saja. "Cari Bu Rita ya, dia lagi keluar sebar brosur. Ayo masuk dulu,"
"Terima kasih," kata Kazen.
Mereka bertiga masuk ke ruangan yang sudah berubah. Diberikan hiasan indah oleh para guru dan Rita sendiri.
Kazen memandangi meja kerja Rita yang berukuran kecil. Dia duduk di sana dan membersihkannya lalu membuka bekalnya.
"Ngapain kamu duduk di situ sih? Tidak muat," kata Seren tertawa melihat badan beruang Kazen.
Kazen senang saja dia duduk di sana sambil makan. Seren pun meminta dan dia suka dengan masakan Rita.
"Dia lagi bucin rapat cepat selesai karena katanya mau makan bekal disini," kata Shin.
"Permisi, Nak maaf ya titip kantor dulu. Ibu mau ke kantor camat," kata kepsek tertawa melihat Kazen yang duduk di kursi Rita.
Kazen berdiri panik dan mengangguk. Kunci serta lainnya disimpan di meja dekat ponsel Rita berada.
Ponsel Rita menyala kembali dengan mengeluarkan alunan lagu BTS ya membuat Kazen bete.
Sama dengan Alex, Kazen pun tidak menyukai boyband yang satu itu. Karena Rita suka jadinya agak cemburu.
"Siapa?" Tanya Seren penasaran.
"Tidak tahu. Nomornya tidak dikenal," kata Kazen menatap foto gadis cantik yang terduduk sendiri.
Seren berdiri setelah memakan setengah makanan Rita membuat Kazen menangis dan mengomel.
"Beberapa kali dong sampai enam kali. Banyak sekali nomor tidak di kenal," kata Seren yang langsung dia kopi paste.
"Nomornya agak aneh meski berbeda apa Rita tahu ya?" Tanya Kazen langsung menghabiskan makanannya.
Seren dengan cepat menyelidikinya dan... "Kartunya sama. Indosat, IM3," Seren memperlihatkan.
Rita datang bersamaan Kazen memeriksa ponselnya. "Wah sudah datang ya. Seren aku kira pulang,"
Seren menyambut. "Sekitar seminggu lagi, lalu harus kembali ada pekerjaan. Masakan kamu enak deh," kata Seren membuat Rita kelabakan.
"Ah, biasa saja tidak seenak masakan koki," kata Rita malu.
Kazen memegang ponsel Rita dia juga ingin menyelidikinya, siapa saja nomor tersebut.
"Ponselku kok di kamu?" Tanya Rita.
"Kepsek sedang pergi dan menitipkan ponsel kamu dan kunci," jelas Kazen tenang.
Rita tidak pernah keberatan Kazen memegang ponselnya malah terkesan sangat cuek sekali.
"Ohh mau mendaftarkan guru untuk menerima bonus," kata Rita dengan semangat.
"Oh iya apa kamu tahu ada nomor yang terus menerus menelepon?" Tanya Seren memperlihatkan.
Rita melihat ponselnya. "Tidak. Semenjak tadi juga ada nomor yang menelepon tapi tidak aku angkat..Bukan yang ini,"
Mereka saling berpandangan.
"Titip dulu dong aku mau ambil buku besar, tugasku masih banyak," kata Rita memberikan ponsel pada Kazen.
"Rita memang percaya kamu ya," kata Shin.
Kazen tersenyum dan memegang ponselnya lagi. Rita datang membawa banyak buku, dia sudah simpan semuanya dalam laptop sekolah tinggal dimasukkan saja.
"Kamu kok ke sini lagi?" Tanya Rita duduk di bawah.
"Kangen kamu," jawab Kazen membuat Seren dan Shin mual.
"Mau makan cemilan? Di depan ada jajanan yang enak," kata Rita.
Koma dan guru lain pun datang selesai menyebarkan brosur.
"Wah! Ada Kazen dan temannya. Yuk beli jajan dulu," ajak Koma.
Seren dan Shin keluar, para guru senang dengan kedatangan mereka. Suasana pun semakin ramai saat Seren kebablasan membeli banyak jajanan.
"Kamu yang beli semua es krim di toko besar itu?" Tanya Rita.
"Iya. Kok tahu?" Tanya Kazen.
"Bu Ratna itu keponakannya tadi aku diantar ke tokonya," jelas Rita.
Kazen memberikan bekalnya yang ludes dimakan Kazen. Dia jadi ingat Alex yang juga menghabiskan semua buatannya.
"Penggemar kamu banyak ya," kata Kazen memperlihatkan nomor blokiran.
"Masa?" Tanya Rita tidak percaya dan membukanya. Kazen memperhatikan Rita dengan tajam, curiga kalau Rita main-main di belakang.
"Kenal?" Tanya Kazen dengan foto motor. Nadanya berubah agak datar.
Rita menggelengkan kepala, menatap Kazen. "Kapan aku ada main di belakang kamu? Protektif kan," kata Rita menebak.
Kazen menghela nafas dan menunduk menyisir rambutnya. Rita melemparkan buku membuat Kazen lupa.
"Maaf lupa hehehe nomor yang ini terus menerus menelepon," kata Kazen memperlihatkan nomor yang sama.
"Siapa ya? Aku tidak tahu. Fotonya juga seksi begini," kata Rita memperhatikan.
"Aku sudah menyelidikinya," kata Kazen mengungkapkan.
"Siapa? Siapa?" Tanya Rita penasaran.
"Orangnya tinggal di daerah Bogor, Cibinong. Kamu ada yang tahu daerah situ?" Tanya Kazen.
"Ada sih paman tapi hubungannya jauh. Sisanya..." kata Rita berpikir dan ada satu orang yang rumahnya disana!
Kazen dapat menebaknya karena lokasi itu, dia mendapatkan alamat rumah Ney. "Jangan cemas. Aku percaya kamu,"
Bersambung ...