His Purpose

His Purpose
99. Miss and Mission



Gibran memasuki kursi penumpang sebuah super car yang baru saja berhenti di hadapannya. Mobil itu datang tepat saat ia keluar dari bangunan dua lantai yang merupakan kamuflase markas Otoniel.


Otoniel sendiri adalah orang kepercayaan Willis yang memegang jaringan mafia serta bisnis-bisnis gelap keluarga itu. Di balik perusahaan raksasanya yang menggurita, Willis menyimpan sisi kelam yang tidak banyak diketahui orang.


David Willis menginginkan Gibran sebagai pewaris. Meski dia memiliki Otoniel yang bisa diandalkan, tapi dia menginginkan penerus yang terlahir dari darahnya sendiri.


Penerus yang sehat, kuat, dan berintegritas tinggi. Gibran masuk dalam semua kategori itu. Dalam pandangan David Willis, sosok Gibran yang hebat namun tak mudah didekati orang merupakan aset sempurna yang ia miliki.


Satu permasalahan yang sangat disayangkan dari Gibran. Jangankan dekat dengan orang lain, dengan keluarga sendiri saja dia seperti orang asing. Gibran hidup terlalu mandiri seolah dia sebatang kara. Apa pun ia lakukan tanpa mengandalkan saudara apalagi orang tua.


"Kak, sepertinya orang-orang Otoniel mengikuti kita."


Gibran melihat kaca spion, dan apa yang dikatakan Gabriel benar, sekitar lima mobil hitam tampak mengikuti mereka dalam jarak beberapa meter.


"Tambah kecepatan."


Tanpa pikir panjang Gabriel menekan gas semakin dalam. Dengan lihai ia melintasi jalanan meliuk-liuk menghindari pengendara lain. Sesekali matanya melirik spion melihat keadaan di belakang. Anak buah Otoniel masih kedapatan mengikuti meski jaraknya tak begitu kentara.


Aksi kejar-kejaran pun tak terelakan. Suara klakson yang bersahutan menandakan kacaunya lalu lintas akibat ulah mereka. Dua mobil Otoniel berhasil memangkas jarak menjadi tiga meter di belakang mereka. Hal tersebut membuat Gabriel mau tak mau menambah kecepatan yang sebelumnya sudah di ambang batas wajar.


Tak pelak sirine polisi menambah kebisingan juga kekhawatiran pengguna jalan lain. "Sialan. Aparat keparat memang selalu merepotkan," desis Gabriel.


Dengan tenang Gibran melihat situasi jalan. Ada tiga cabang jalan di depan mereka. Dua di antaranya Gibran ketahui mengarah pada titik yang sama.


"Lurus. Ambil jalur tengah. Melihat dari jaraknya polisi akan mengambil jalur pintas untuk mengejar kita," ucap Gibran.


Dengan patuh Gabriel mengikuti saran Gibran. Benar saja, para polisi itu mengambil jalur kiri guna mencegat mereka di depan nanti. Sementara anak buah Otoniel setia mengekor di belakang.


Sebenarnya Gibran sengaja memisahkan polisi karena ia memiliki rencana lain.


"Tikungan depan belok kiri."


Sreeett ...


Gabriel melakukan drifting menimbulkan decitan nyaring di aspal. Begitupula musuh di belakang mereka. Berbeda dari jalan raya sebelumnya yang luas dan besar, jalan yang kini mereka lewati merupakan jalan sempit yang hanya bisa dilalui satu mobil dan satu kendaraan roda dua.


"Tambah kecepatan. Buat jarak setidaknya 6 meter." Gibran berucap lagi.


Gabriel kembali menekan gas sedalam mungkin. Tepat beberapa meter di depan mereka ada jembatan layang. Mobil Gabriel melintas dengan kecepatan tinggi menimbulkan jarak kentara dengan musuh di belakang.


Saat itulah Gibran menekan handsfree di telinga. Ia menghitung mundur dengan mata fokus ke depan. Gabriel sedikit melirik disertai kernyitan dahi, bertanya-tanya apa yang hendak Gibran lakukan.


Semuanya terjawab ketika mobil Gabriel berhasil keluar dari lintas jembatan. Beberapa detik setelahnya sebuah ledakan besar terjadi di belakang mereka, meluluhlantakkan segalanya termasuk kelima mobil anak buah Otoniel.


Booommm ...!!!


Gabriel sedikit memelankan laju mobil, ia melirik Gibran yang memasang wajah tenang seolah tak terjadi apa pun. Padahal, "Kak, kau baru saja menghancurkan BMN negara orang?"


BMN yang dimaksud Gabriel adalah Barang Milik Negara.


Pernyataan Gabriel sama sekali tak membuat Gibran terusik. Gabriel tak habis pikir Gibran bisa membuat kekacauan sebesar itu di negara orang. Kalau ditangkap polisi, bagaimana? Lebih-lebih dihukum mati!


Gibran tak menghiraukan kekhawatiran Gabriel. Ia kembali menekan handsfree di telinga. Entah kali ini dia bicara dengan siapa.


Kalimat Gibran barusan membuat Gabriel mematung sesaat. Ia menoleh dengan raut tergagap. Apa katanya? Presiden? Gibran bicara dengan Presiden mana? Yang jelas tidak mungkin Presiden Indonesia.


Saat ini mereka ada di Amerika. Jawabannya sudah pasti Gibran bicara dengan siapa.


Yang tidak Gabriel ketahui, Gibran sudah mempersiapkan semuanya, termasuk mengosongkan jalan terutama jembatan yang mereka lalui tadi guna menghindari banyak korban.


***


"Kondisi Nyonya semakin buruk, Tuan. Beliau tidak mau makan dan terus memuntakan apa pun yang dimakannya."


"Dokter Harla sudah memberinya infus. Tapi, karena kurangnya asupan gizi, janin dalam kandungannya dikabarkan melemah."


Gibran terdiam mendengar penjelasan Nick. Ia menunduk menghela nafas berat. Kali ini tindakannya terbilang gegabah karena diketahui Maria. Ini salahnya. Jika terjadi sesuatu dengan bayi mereka, Gibran lah yang patut disalahkan.


Terlebih, Maria mungkin membencinya setelah ini. Hubungan mereka tak akan sama lagi. Kemungkinan itu membuat perasaan Gibran mencelos.


"Tapi, kemarin Nyonya sempat menanyakan Tuan," tambah Nick.


Raut Gibran berubah serius. "Apa?"


"Tuan jangan terlalu khawatir. Sepertinya Beliau mulai merindukan Tuan."


"Benarkah?" Gibran tak percaya.


"Benar, Tuan. Maka dari itu, sebaiknya Tuan cepat pulang jika sudah selesai di sana."


"Aku sudah selesai," sahut Gibran.


"Itu bagus. Tuan cepatlah pulang. Dengar-dengar Nyonya mengulang kebiasaannya menyemprot parfum. Tuan jangan heran jika stok dalam lemari berkurang. Kemarin saya sempat memergoki Nyonya diam-diam memasuki kamar Anda," ujar Nick setengah berbisik.


Mendengar hal tersebut sudut bibir Gibran menyungging tipis. Setidaknya perkataan Nick cukup menghibur dirinya. Benarkah Maria melakukan semua itu?


Tak peduli benar atau tidak, Gibran sudah sangat merindukan Maria.


Bukan tanpa alasan ia pergi. Gibran sengaja menyingkir sejenak guna menghindari luapan emosi Maria yang mungkin saja tak terkendali jika bertemu dirinya. Hal itu dapat membahayakan bayi mereka.


Selain itu, Gibran perlu memberi peringatan pada Otoniel yang cenderung suka ikut campur dengan urusannya. Bukan membabat habis anak buahnya, Gibran berhasil mengambil sesuatu yang akan membuat Willis terguncang jika benda ini ia beberkan di seluruh negara.


Gibran tersenyum sumir menatap chip di tangannya. Data-data barang terlarang juga penyelundupan senjata yang dilakukan Otoniel memang tak akan banyak berpengaruh besar terhadap Willis. Mereka bisa menyangkal keterkaitan dan mengkambinghitamkan Otoniel untuk menanggung semuanya sendiri. Namun, kerugian yang diperoleh tidaklah kecil. Omset perusahaan hanya seperempat jika dibandingkan keuntungan bisnis gelap mereka.


Sebelum mengacau di markas Otoniel, sebelumnya Gibran meretas keamanan rahasia dan membobol data kelompok tersembunyi Willis itu.


"Ini baru permulaan," bisik Gibran menyeringai.


Lelaki itu menoleh ke luar jendela. Andai bersama Maria, villa tepi pantai yang ia tinggali sekarang akan terasa lebih menggelora. Sudah berapa hari sejak terakhir mereka bercinta? Rasanya Gibran haus sekali dan ingin meledak dalam pelepasan.


Sialan. Pusat tubuhnya mengeras hanya karena membayangkan senyum Maria.


Maria, kamu membuatku gila, Sayang.