His Purpose

His Purpose
184. Wicked : Wounds that Breed Cruelty



David Willis tertawa culas. Akhirnya Sandra memutuskan kembali pada habitat yang seharusnya.


Circle wanita itu dan Abhimanyu jelas berbeda. Sandra terlahir sebagai kalangan atas sedari lahir, sama sekali tidak cocok dengan Abhimanyu yang menurutnya masih miskin kendati perusahaan lelaki itu sedang berkembang pesat.


David terkekeh menghisap pelan cerutunya. Matanya jatuh pada bocah lelaki yang saat ini sibuk memeluk kaki Sandra, berusaha menyembunyikan setengah wajahnya sambil mengintip.


"Aaron Willis. Sekarang itu namamu," cetus David.


Gibran mendongak menatap ibunya yang setia terdiam sejak tadi. Wajahnya datar tak beriak. Gibran belum pernah melihat raut wajah Sandra yang seperti itu.


Ia tak berani bersuara lantaran Sandra juga seperti enggan membuka mulut. Padahal Gibran ingin sekali bertanya kenapa mereka harus pindah ke luar negeri. Kenapa Papa dan El tidak ikut.


Rasa penasaran itu mengendap dalam benak Gibran selama beberapa hari tinggal di sana. Rumah besar bak istana dengan patung-patung yang terlihat mahal. Tapi, bagi Gibran rumah itu sangat mencekam. Kesan kelam dapat ia rasakan dengan jelas.


Gibran tidak nyaman. Ia ingin pulang ke rumah yang ada Papa serta El adik kecilnya yang lucu. Gibran tak punya teman bermain di sini.


"Mom, kenapa Papa dan El tidak diajak? Nanti kalau El mau mimi bagaimana?" Gibran akhirnya menyuarakan tanya di suatu kesempatan.


Sandra menjawab tak acuh. "El sudah besar, dia sudah berhenti minum ASI. Dan berhenti ungkit-ungkit Papa dan El. Mulai hari ini kamu di sini bareng Mom dan Grandpa."


Gibran merapatkan bibirnya lesu. "Tapi Grandpa menyeramkan. Kakak takut, Mom."


Helaan nafas panjang terdengar dari mulut Sandra. Ia beralih menatap Gibran yang sedari tadi berdiri lugu di sampingnya. Sandra meraih bahu anak itu hingga sepenuhnya saling menatap.


"Jangan katakan itu lagi lain kali. Kamu harus jadi anak baik di sini. Jangan nakal, dan hentikan kebiasaan bicara ceplas-ceplosmu kalau tidak mau dipukul Grandpa. Mengerti?"


Gibran mengangguk pelan.


Sandra bohong. Grandpa Willis tetap sering menghukumnya. Padahal Gibran sudah berusaha menjadi anak baik sesuai arahan Sandra.


Misalnya saat ia mendapat nilai di bawah seratus dalam les bahasa dan pelajaran lain, David pasti memukulnya. Atau saat ia kalah bertarung saat latihan bela diri, David pasti menyuruhnya berjalan di atas papan yang di bawahnya ada piranha.


Gibran selalu urung mengadu karena ia lihat hari-hari Sandra pun tak kalah berat. Tak jarang Gibran mendapati sang ibu melamun dengan pandangan sedih. Ia juga sempat memergoki Sandra memegang alat tes kehamilan. Gibran tahu karena alat itu pernah dipakai Sandra saat hamil El si adik kecil.


"Mom, Kakak mau punya adik lagi, ya? Berarti El bukan lagi adik kecil karena nanti ada yang lebih kecil dari kita. Iya, kan? Kita harus beri tahu Papa dan El!" seru Gibran antusias.


Tubuhnya penuh darah. Sandra berjalan tertatih dengan raut kosong dan terguncang. Gibran menyaksikan sendiri bagaimana ibunya dipukuli. Perutnya ditendang-tendang hingga sang ibu menjerit kesakitan.


Tidak hanya itu, Gibran juga menyaksikan saat-saat di mana Sandra yang tak berdaya dirudapaksa secara ramai-ramai oleh para pengawal.


Kaki Gibran bergetar ketakutan. Ia ingin menolong Sandra, namun saat itu nyalinya masih ciut melihat betapa besarnya tubuh-tubuh orang bule itu.


Gibran hanya bisa mematung di ambang pintu sampai tiba di mana ia melihat sang ibu mengayunkan kayu dan memukuli pria terakhir yang menikmati tubuhnya dengan membabi-buta.


Pria itu tewas dengan kepala yang pecah. Sandra menjatuhkan balok kayu itu, membenarkan pakaiannya yang koyak sebelum kemudian berjalan terhuyung ke arah Gibran.


Darah memenuhi dari atas hingga bawah. Gibran juga melihat cairan merah itu mengalir dari sela paha sang ibu. Yang ia pikirkan saat itu, apa kabar adiknya di dalam sana?


Gibran tersentak saat Sandra meraih bahunya kencang. Wajah wanita itu pias dengan sorot bergetar. Sandra terengah ketika mulutnya berucap. "Kamu lihat, kan? Manusia itu kejam. Mereka monster tak berperasaan. Jangan sekali-kali kamu berbuat baik pada orang. Jangan pernah ampuni mereka yang berbuat salah. Tidak ada orang baik di dunia ini. Mengerti?"


Gibran yang turut bergetar kontan mengangguk. Sandra beranjak dan berjalan gontai dengan langkah tertatih berpegangan pada dinding.


Sementara Gibran, ia bergeming menatap ke ruang penghukuman di mana satu mayat pria tergeletak di sana. Pengawal lain sudah pergi setelah puas melepaskan hasratnya pada sang ibu.


Perlahan Gibran masuk mendekati mayat tersebut. Ia mengambil balok kayu yang teronggok berlumuran darah, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi, dan ...


Crat!


Crat!


Gibran menghentak kayu tersebut berkali-kali mengenai kepala yang sudah pecah itu. Ia menghancurkan dua mata di sana, meremukkan tulang dan saraf-saraf yang menjalar hingga darah turut mencerat mengenai wajahnya.


Gibran mengusap pipinya dengan pandangan datar. Sorotnya menajam penuh dendam. Tangannya mengepal erat dengan amarah terpendam.


Ia sudah tahu kenapa mamanya pergi dan memilih pindah ke tempat menyeramkan ini. Mom benar, tidak ada manusia baik di muka bumi ini sekalipun itu papanya.


Papa menduakan Mom. Mom terluka karena Papa berciuman dengan wanita lain. Itu kata Grandpa, dan Gibran melihat sendiri buktinya.


Semua ini gara-gara Papa. Aku dan El kehilangan adik gara-gara Papa. Semua orang jahat. Mereka adalah monster.