
Roman duduk termenung di kursi tunggu rumah sakit. Di sampingnya, Gabriel turut bergeming. Sama seperti Nick yang juga berdiri diam dengan raut harap-harap cemas.
Sementara Maria, ia tak berhenti menangis di pelukan Rayan. Mereka semua menanti keterangan dokter mengenai kondisi Gibran yang diduga keracunan.
Di samping semuanya, hati Romanjaya yang paling merasa tersentak. Belum pulih keadaan putranya, kini sang cucu harus turut meregang nyawa.
Pintu di hadapan mereka terbuka. Seorang dokter keluar membuka masker dan menatap satu persatu wajah di sana.
Roman dan Gabriel, Nick serta Maria juga ayahnya kontan berdiri mendekat.
"Bagaimana keadaan cucu saya, Dokter?" Adalah Roman yang pertama kali bertanya.
Dokter itu menghela nafas berat. "Ini racun asing dan langka, hanya si pembuat yang memiliki penawarnya. Kami tak bisa melakukan apa pun selain memperlambat kinerja racun dalam tubuh pasien. Namun hal ini juga hanya bertahan dalam waktu 48 jam saja."
Pernyataan tersebut membuat semua orang di sana terhenyak, terutama Maria yang tubuhnya langsung lemas ditopang sang ayah. Wanita itu menangis di pelukan Rayan sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan diri.
Maria segera dibawa ke salah satu ruangan untuk istirahat dan diperiksa. Karena rumah sakit ini atas nama Wiranata, Roman memiliki kekuasaan penuh menyediakan ruangan tersebut untuk sang cucu menantu.
Kini tersisa Roman, Gabriel dan Nick yang diliputi resah dan tegang. Waktunya hanya 2 hari. Di mana mereka bisa menemukan penawar itu jika bukan pada Willis?
Benar, lagi-lagi Willis si iblis mafia. Roman tidak tahu mereka punya dendam apa padanya hingga bertubu-tubi menyerang keluarganya.
Tidak cukupkah hanya Abhi saja yang celaka? Kenapa Gibran harus turut terkena batunya? Bukankah mereka menginginkan Gibran?
Nick tampak berbicara sesuatu melalui telpon. Ia lalu berdecak menghela nafas panjang.
"Ada apa?" tanya Gabriel.
"Racun itu diduga ditujukan untuk Nyonya. Benar kecurigaan saya, pelakunya adalah pelayan yang sempat saya lihat tadi. Dia ditemukan tewas di sebuah kamar kos. Willis pasti sudah membunuhnya."
"Astaga." Gabriel memijat kening. "Lagi-lagi pembunuhan. Aku tidak mengerti ada apa dengan mereka."
Dan yang lebih membuatku tidak mengerti kenapa Papa masih sempat-sempatnya bercinta dengan iblis betina.
Raut Gabriel terlihat kesal mengingat kenyataan tersebut. Mau percaya, rasanya tidak mungkin. Tidak percaya, bukti visum menerangkan hasil.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Waktunya tidak banyak untuk kita mendapatkan penawar itu." Roman berucap lemas.
"Aku akan menemui mereka."
Roman menoleh cepat. Ia sangat tidak setuju dengan usulan Gabriel. "Jangan. Mereka itu berbahaya. Bisa-bisa kamu hanya pulang nama."
"Lantas bagaimana? Kita memang harus mengambilnya, kan?"
"Biar saya saja, Tuan. Saya yang akan menemui Willis," tutur Nick yakin.
Roman menghela nafas. "Sebentar, jangan terlalu gegabah. Kita bukan menghadapi berandal jalanan. Pikirkan juga keselamatanmu, Nak."
Malam itu, kemunculan perdana Gibran dan Maria yang sejak awal menarik perhatian sebagai pasangan konglomerat fenomenal, publik juga digegerkan dengan beberapa kisah pembunuhan dan gelapnya kehidupan orang kaya.
Berbagai asumsi bertebaran di media. Dari mulai kisah rumah tangga yang sebenarnya retak sampai persaingan bisnis yang menimbulkan insiden berdarah. Foto Gibran yang tumbang ketika memberi sambutan di podium seketika merajai pencarian internet.
Terlebih, kebenaran bahwa sebelumnya wanita yang diperistri Gibran adalah kekasih sang adik, cukup membuat publik bertanya-tanya dan penasaran, seperti apa kehidupan mereka di balik layar.
***
"Koko ... hiks." Maria tak kuasa menahan tangis. Ia menggenggam erat tangan Gibran seraya menciuminya berkali-kali.
"Koko bangun ... aku takut ... hiks."
"Jangan tinggalkan aku. Jangan tinggalkan anak kita ... bangun ... Koko bangun ... hiks."
"Aku minta maaf. Seharusnya ... seharusnya minuman itu untukku." Maria menumpukan kepalanya di tepi ranjang. Air mata membasahi tangan Gibran yang kian lama kian terasa dingin. Membekukan jantung Maria yang turut melambat seiring ketakutan menjalar setiap kali ia menatap jam.
"Seandainya aku yang meminum gelas itu. Tidak, seandainya aku tak menerima gelas itu dari pelayan, mungkin hal ini tidak akan terjadi."
"Koko benar. Aku bodoh, aku ceroboh, aku selalu membuat kekacauan. Dan kali ini aku menempatkan Koko dalam bahaya. Aku memang selalu menyulitkan Koko ... hiks."
"Aku selalu menghabiskan uang Koko. Aku selalu merengek membuat Koko pusing. Aku sering buat Koko kesal. Aku minta maaf."
Tubuh Maria bergetar, isak tangis terdengar memilukan. Segala keluh kesah ia keluarkan di samping Gibran. Hatinya diliputi rasa takut lantaran waktu sudah berjalan 12 jam.
"Maria." Gabriel muncul di ambang pintu.
Ia berdiri mematung sebelum melangkah pelan menghampiri Maria yang masih enggan beranjak dari sisi Gibran.
Ia menatap sang kakak yang terbaring kaku dengan wajah pias. Dadanya ikut sesak mengingat bukan hanya Gibran yang meregang nyawa, ayahnya pun masih setia dalam keadaan koma.
"Kamu belum makan. Lekaslah sarapan. Biar aku yang menunggu di sini."
Maria menggeleng. Ia tak bicara, namun guncangan pelan di bahunya menunjukkan Maria masih belum berhenti menangis.
"Setidaknya pikirkan bayi kalian. Kamu boleh berduka, tapi jangan sampai ada duka lain yang timbul dari keegoisanmu."
Gabriel menghela nafas dan menelan ludah. "Kamu harusnya bersyukur, kandunganmu terbilang kuat meski ditimpa kondisi apa pun." Ia menunduk dan mendengus. "Aku bahkan gagal mempertahankan anakku sendiri."
Tanpa diduga Maria mengangkat kepalanya pelan. Ia menoleh pada Gabriel, menatapnya tanpa suara.
Gabriel balas menatap Maria tersenyum kecil, cenderung sendu lantaran ia mengerti apa yang saat ini ada di pikiran Maria.
"Maaf." Ia hanya bisa membisikkan itu. "Aku salah. Aku minta maaf." Gabriel menjeda. "Aku ... tidak bisa menjaga kesetiaan untukmu. Aku mengaku aku salah. Maafkan aku, Maria."
Akhirnya setelah satu tahun Maria mengetahui kebenaran dari alasan Gabriel meninggalkannya di hari pernikahan. Sekarang ia mengerti, dan ia bersyukur karena Tuhan menjauhkan Gabriel dan memberikan pengganti pria sehebat Gibran.
Tak hanya sempurna, Gibran juga setia menjaga hatinya dari wanita lain. Maria tak masalah sekalipun pria itu kejam dan kerap menghukum orang dengan cara yang sadis. Karena baginya, Gibran adalah pria yang tahu bagaimana cara memegang kepercayaan.
"Jadi, sekarang kamu makan, ya? Demi bayi kalian, demi Kakak juga. Jika kamu sakit, dia mungkin akan kecewa saat pulih nanti."
Maria beralih menatap Gibran sendu. "Apa ia akan pulih?" tanyanya lirih. "Bagaimana dengan obat penawarnya?" Maria mendongak pada Gabriel. "Di mana aku harus mendapatkan itu?"