
"Terima kasih, Pak Gibran. Bantuan Anda berhasil meringankan keluarga mereka."
Gibran tak menanggapi, ia hanya berdiri tegap dengan kedua tangan terselip di saku. Ini sudah tanggung jawabnya sebagai pemilik perusahaan, hal seperti ini bukan sesuatu yang jarang ia temui.
Seorang dokter keluar dan menjelaskan kondisi tiga pasien yang menjadi korban dari proyek konstruksi milik Gibran. Dokter itu bilang salah satu dari mereka harus diamputasi lantaran kerusakan tulang yang parah, ditambah pasien juga memiliki riwayat diabetes.
"Ya Tuhan." Pria di samping Gibran yang merupakan mandor proyek terhenyak kaget.
Ia menoleh pada Gibran yang tak bereaksi apa pun. Tak lama satu orang lainnya datang, dia adalah Randy, manager perusahaan yang beberapa saat lalu Gibran hubungi.
"Tuan." Randy menunduk segan.
Gibran mengangguk singkat membalas sapaan itu. "Aku serahkan semuanya padamu. Jika ada sesuatu yang penting silakan hubungi Nick."
Randy mengangguk. "Baik, Tuan."
Gibran menepuk pundak pemuda itu lalu pergi meninggalkan rumah sakit. Tepat saat tiba di lobi Gibran sedikit menghentikan langkahnya. Ia baru saja melihat seseorang yang familiar.
Gibran mengernyit, matanya tak henti mengikuti langkah pria tersebut yang kini hilang ditelan pintu lift. Ia segera merogoh ponsel dan menghubungi Nick.
"Ya, Tuan?"
"Selidiki lebih detail tentang Ginanjar Adiwiguna."
"Ginanjar? Dia pria pemilik burung langka yang bulan lalu mati di mansion kita?"
"Hm. Aku baru saja melihatnya di rumah sakit. Cari tahu lebih dalam. Keluarganya, pekerjaannya, semua. Tidak ada yang boleh terlewat satu pun."
"Apa Anda mencurigainya sebagai salah satu anak buah Willis?"
"Lakukan saja," cetus Gibran mengakhiri obrolan.
Ia menoleh lagi ke belakang, menatap cukup lama pada pintu lift yang tertutup, lalu kembali melanjutkan langkah yang sempat tertunda.
***
"Koko habis dari mana?"
Tiba di kediaman, yang Gibran temukan adalah wajah merajuk Maria.
"Pergi tidak bilang-bilang lagi?" Sekarang wanita itu mencibir.
Gibran terkekeh mendekati sang istri yang saat ini duduk di sofa ruang tengah. Ia melesakkan tubuh di sampingnya dan lalu merangkulnya dalam dekapan.
Gibran melabuhkan kecupan di pelipis Maria. "Maaf, Sayang. Tadi darurat. Ada kecelakaan kerja di proyek."
Maria menghela nafas. "Ya sudah. Lain kali bilang dulu."
Tentu Gibran mengangguk. "Kamu tidak bertanya lebih? Biasanya selalu curiga."
"Aku percaya Koko," cetus Maria sambil lalu. Terkesan tak acuh karena ia mengatakannya seraya membuka majalah.
Kembali Gibran mengulas senyum, kali ini ia mengecup singkat bibir Maria. "Tangan kamu masih sakit?"
Maria memutar mata. "Koko tidak lihat masih diikat begini? Ya sakit lah!"
Oke. Ingatkan Gibran untuk lebih sabar menghadapi mood Maria yang seperti ayunan.
"Aku punya sesuatu untuk kamu," ucap Gibran tiba-tiba.
Maria menoleh. "Sesuatu? Makanan?"
Gibran menggeleng, kemudian ia mengeluarkan sebuah kotak kaca tipis dari saku celana. Kaca tersebut sepertinya dibuat dari berlian lantaran tak tembus pandang.
Maria mengernyit. "Itu apa?"
Dengan pelan Gibran membuka kotak tersebut dan seketika itu pula Maria tercengang. Sebuah gelang indah dengan desain simple dan elegan mengkilap menyilaukan mata.
Di sana terdapat inisial M&G yang menggantung cantik sebagai hiasan. Maria sampai tak bisa mengalihkan pandangan saking terpesona. "Ini ..."
"Kamu suka?"
"Untukku?" tanya Maria dengan polosnya.
Dengan sabar Gibran mengangguk membenarkan. "Siapa lagi? Kamu satu-satunya ratu yang aku punya," selorohnya membuat Maria merona.
"Ya ampun, indah sekaliiii ..." jerit Maria kecil.
"Ini desain khusus untuk kamu. Aku sudah pesan lumayan lama, tapi baru jadi sekarang."
Maria mengangsurkan tangan kirinya. Gibran yang mengerti lekas memasang perhiasan itu di pergelangan Maria.
Cantik. Kulit Maria yang mengkilap seperti mentega semakin bersinar. Gibran mengecup gelang yang sudah terpasang itu, lalu mendongak penuh senyum.
"Kamu suka?" tanya Gibran sekali lagi.
Maria mengangguk antusias. "Sukaaa."
"Harganya berapa?"
"Kamu tidak perlu tahu."
"Pasti mahal."
"Tidak lebih mahal dari semua aset yang kuberikan padamu."
Maria tak bertanya lebih. Toh, ini hanya barang kecil untuk Gibran. Maria tak perlu mencemaskan nominalnya. Alih-alih takut kemahalan, ia justru tersinggung kalau Gibran memberikannya barang murah.
"Papa kamu di rumah?"
Maria berhenti mengamati gelangnya dan menoleh pada Gibran dengan kening berkerut. "Tumben tanya Papa?"
Gibran mengendik. "Apa aku tidak boleh tanya mengenai mertuaku sendiri?"
Bibir Maria terbuka sebelum kemudian mengulas senyum tak percaya. "Wah, apa itu berarti Koko sudah akur dengan Papa?" Ekspresi Maria terlihat senang.
Gibran menghela nafas membuang muka. "Sejak kapan bertanya jadi pertanda akur?" gumamnya malas.
Maria tak peduli, ia mencubit lengan kemeja Gibran lalu menggoyangnya pelan. "Katakan, apa Koko sudah berbaikan dengannya?"
"Memangnya kapan aku bertengkar."
"Koko dan Papa seperti dua harimau yang tak mau kalah."
"Ck, papamu yang memulai."
"Tapi Koko juga kurang ajar."
Gibran menoleh sengit. "Maksudmu aku tidak baik?"
"Bukan."
"Kau mengatakannya."
"Tidak begitu ..."
"Sudah lah." Gibran bangkit dari sofa lalu beranjak meninggalkan Maria yang melongo.
"Dia kenapa, sih? Sensitif sekali seperti kulit bayi."
Apa hormon seorang istri yang sedang hamil bisa menular pada suami?
"Kamu kenapa, Nak?" Tiba-tiba Rayan muncul di belakangnya.
Maria terperanjat. Ia langsung menoleh begitu melihat ayahnya melintas di ruang tengah. "Entahlah. Koko tiba-tiba merajuk."
"Merajuk?"
"Hm. Oh iya, tadi dia menanyakan Papa."
"Papa?"
Maria mengangguk. Rayan tampak berpikir, bertanya-tanya mengenai alasan Gibran mencarinya. Pasti ada yang penting. Orang yang memiliki gengsi tinggi seperti Gibran tidak mungkin mencari seseorang secara cuma-cuma.
"Ya sudah. Papa ke dalam dulu. Capek, mau mandi."
Maria mengangguk, matanya mengikuti langkah sang ayah yang menaiki tangga menuju lantai dua. Maria kembali melihat gelang pemberian Gibran dan cengar-cengir sendiri, kemudian ia mengecupnya berkali-kali dengan hati berbunga.
M&G.
Maksudnya Maria dan Gibran?
"Ah ... romantis sekali suamiku ..."
Tok tok tok.
Tak lama suara ketukan pintu terdengar. Maria beranjak karena memang dirinya yang terdekat dari pintu utama.
"Maaf, Nona. Ini ada sopir barang katanya mau antar pesanan Tuan Gibran." Orang yang mengetuk pintu ternyata satpam gerbang. Dia menunjuk pria di sampingnya yang lantas tersenyum segan pada Maria.
"Pesanan apa?"
Pria itu lekas menunjukkan sesuatu yang terlapis bungkusan serupa kertas warna coklat. Ukurannya sangat besar. Dari bentuknya seperti pigura.
"Sudah datang ternyata." Tiba-tiba Gibran muncul. Ia mengambil alih benda tersebut dari tangan si kurir.
"Itu apa?" Sekarang Maria bertanya pada Gibran.
Gibran tak menghiraukan pertanyaan Maria. Astaga, ternyata dia masih merajuk. Dasar kekanakan.
Gibran memberi tambahan uang pada sopir pengantar barang tersebut. Pria itu terlihat begitu senang karena nominal yang diberi melebihi ongkos kirim biasanya. Padahal katanya Gibran sudah membayar kontan sebelum ini, lengkap dengan biaya kirim.
Astaga, seandainya nanti mereka miskin, Gibran pasti akan kesulitan mengatur pola hidupnya yang royal.