His Purpose

His Purpose
164. Misdirected



Gibran tampak begitu profesional ketika berbicara dengan koleganya mengenai pekerjaan. Sedari tadi Maria hanya diam mendengarkan dan tersenyum setiap kali Gibran menyempatkan diri mengusap perutnya.


Pria itu tahu apa yang ia butuhkan. Sementara Kakek Roman dan Rayan sendiri sudah berpencar ketika beberapa mitra mereka menghampiri.


Gabriel? Entah ke mana Maria pun tak tahu. Lagi pula ia memang mengharapkan cecunguk itu pergi sejak tadi.


"Nyonya, minumnya?" Dalam diam seorang pelayan muncul menawarkan minuman.


Maria menoleh dan tersenyum. Ia mengangguk sopan menerima uluran gelas tersebut dari tangan si pelayan. Pelayan itu kemudian pergi dengan langkah terburu-buru.


Maria sempat mengernyit, mungkin dia ingin ke kamar mandi, pikirnya.


Belum sempat ia menyesap minuman tadi, tiba-tiba saja Gibran merebut dan menatapnya berdecak. "Jangan minum sembarangan. Sudah berapa kali kubilang, di sini banyak alkohol."


Gibran membaui gelas di tangannya, dan benar minuman tersebut mengandung kadar alkohol meski tak sampai 1 persen.


Maria mengerucutkan bibirnya kecil. Ia mengangguk tak berani membantah. Gibran beralih memberikan jus yang ia pesan langsung pada penyelenggara acara. Sementara dirinya kembali bicara dengan pria yang merupakan mitra kerjanya tersebut.


Maria menyesap santai jus buah itu sambil sesekali mengedarkan pandangan. Beberapa pengawal Gibran terlihat menyebar di beberapa sisi ruangan. Sementara Nick, ia tak tahu. Biasanya dia selalu mengekori Gibran ke mana pun.


Nah, baru juga terlintas sosoknya sudah muncul dari arah pintu samping. Tapi, kenapa Nick tampak cemas begitu?


"Benar, itu yang akan saya terapkan pada regulasi baru perusahaan kami," ucap Gibran pada koleganya. Tangannya meraih gelas di meja dan meminumnya perlahan.


Selanjutnya Gibran diminta naik ke atas podium untuk memberi sambutan. Ia menepuk paha Maria sebentar sebelum berdiri meninggalkan kursi.


Maria tersenyum menatap suaminya yang begitu bersinar, dan entah kenapa terlihat lebih tampan malam ini. Apa memang ini hanya perasaan Maria? Gibran selalu tampan setiap saat.


Gemuruh tepuk tangan menggema mengiringi langkah Gibran menaiki panggung. Ia berdiri menghadap tamu dengan karisma yang begitu luar biasa.


Nick tiba dan berdiri di samping Maria. Kontan Maria menoleh dan menanyakan hal yang membuatnya penasaran tadi. "Ada apa, Nick? Sepertinya kamu mencemaskan sesuatu?"


"Tadi saya berpapasan dengan seorang pelayan, dia terlihat mencurigakan." Nick kemudian menyentuh telinga guna menghubungi para anak buahnya yang entah tersebar di mana saja.


"Selamat malam." Suara Gibran terdengar dari atas sana dan berhasil menarik kembali atensi Maria pada lelaki itu.


"Pertama-tama saya ingin berterimakasih pada para tamu yang bersedia hadir malam ini. Saya selaku pimpinan perusahaan merasa senang, karena kalian menyambut acara kami dengan tangan terbuka."


Gibran menuturkan pidatonya dengan begitu lancar. Ia tampak seperti manusia normal biasa, padahal di balik itu banyak kegelapan yang menyelimuti hidupnya.


Insiden di kandang harimau adalah pembunuhan pertama yang Maria ketahui. Ia tak tahu apa masih ada pembunuhan lain sebelum dan setelah itu. Yang pasti, Maria hanya berharap Tuhan mengampuni Gibran dan memberinya hidayah untuk menjadi lebih baik lagi.


Maria tidak mau bilamana kejahatan itu akan menjadi bumerang di masa depan.


"Puji Tuhan—"


Tiba-tiba saja Gibran berhenti. Suasana sendiri mendadak hening dan mungkin sebagian dari mereka bertanya-tanya kenapa sang pimpinan mendadak menjeda sambutannya.


Tak terkecuali Maria yang kini menatap lekat sang suami. Tanpa sadar ia berdiri saat menyadari ada yang tak biasa pada Gibran.


Wajahnya pucat, pria itu sedikit mengerutkan kening berusaha menahan sesuatu. Hingga sedetik setelah itu ...


"Uhuk!" Gibran terbatuk memegangi lehernya sendiri.


Semua orang berdiri dan menjerit terkejut karena Gibran tak berhenti batuk dan memuntahkan darah di sana. Lelaki itu masih berusaha berdiri berpegangan pada mimbar.


Maria sendiri turut menyusul dengan cemas. Sedikit kesulitan karena perutnya yang besar membuat ia susah berjalan. Maria bahkan tak ingat ia sempat menyenggol gelas hingga pecah.


Kepanikan menguar membuat acara yang semula tenang kini riuh oleh suara orang-orang.


"Koko! Ya Tuhan apa yang terjadi!!!" Maria yang berhasil menyeruak kini bersimpuh di samping suaminya yang sudah ambruk di lantai panggung.


Nick sedikit menyingkir guna memanggil bala bantuan dan entah memerintahkan apa pada beberapa anak buah Gibran.


Maria menjerit panik melihat darah yang terus keluar dari mulut sang suami. Pria itu balas menatap Maria yang kini menangis sesenggukan mengusapi wajahnya. "Koko ... hiks ... hiks ... Koko kenapa? Koko ..."


Maria hanya mampu memanggil-manggil nama Gibran, ia tak tahu harus bagaimana karena terlalu dirundung panik. Jantungnya bergetar ketakutan melihat kondisi Gibran.


Semuanya terkejut dan bingung, tak terkecuali Gabriel dan Roman yang turut menaiki panggung dengan panik. "Kak!"


"Ya Tuhan ..." Tak berbeda dengan Maria, tubuh renta Roman ikut bergetar mendapati sang cucu yang begitu mengkhawatirkan.


Rayan sendiri berlari dari pintu masuk bersama tim medis yang langsung Nick arahkan menuju mimbar. Semuanya menyingkir memberi jalan, termasuk Maria yang bergeser membiarkan suaminya dibawa ke atas brankar.


Rayan menahan putrinya yang hendak ikut berlari mengikuti Gibran yang diboyong cepat keluar ballroom. Ia menggeleng dan mengingatkan Maria akan perut besarnya.


"Papa ..."


"Papa tahu kamu panik. Tapi cobalah sedikit lebih tenang. Pikirkan bayi kamu. Kita akan menyusul. Ayo, kamu ikut Papa saja."


Maria menggeleng. "Aku mau ikut Koko ..."


"Maria!" tegas Rayan. "Kamu ikut Papa."


Maria tak punya pilihan. Lagipula Gibran pasti sudah sampai di bawah, sementara Maria dan keadaan perutnya tak memungkinkan untuk mengejar cepat.


Ia mengusap sang anak dalam perut. Seakan mengerti kepanikan ibunya dia tak berhenti bergerak aktif di sana.


Tenanglah, Nak. Daddy kamu pasti baik-baik saja.


Sementara di lain tempat, si pelayan yang bertugas membawa minum kini bergetar ketakutan.


"Dasar bodoh! Manusia tak berguna! Kamu salah sasaran sialan!"


"Ma-Maafkan saya, Tuan. Sa-saya tidak tahu. Saya ... saya juga tidak menduga gelas itu akan diminum oleh Beliau—"


"Karena kamu memilih minuman beralkohol! Dia sedang hamil! Tentu saja Gibran Wiranata tidak akan membiarkan istrinya minum. Pikir itu!"


"Saya minta maaf ... ampun, Tuan ... tolong ampuni saya."


"Aarrgghh!!!"


Pria yang adalah Jim, orang kepercayaan David Willis itu melirik sinis si pelayan yang tengah bersujud ketakutan. Ia mendengus dengan wajah bengis. Tanpa peringatan tangannya meraih pistol di balik jaket lalu menodongkannya pada si pelayan.


"Sekali lagi maafkan sa— Dor!" Kalimat si pelayan berhenti di udara saat tembakan itu melesat menembus tempurung kepalanya.


"Gembel tak berguna. Mati saja kau sialan," desisnya tajam.