
Gibran tak menghiraukan suara-suara di sekitarnya. Ia menghembuskan asap rokok hingga kepulan putih itu membaur di udara. Bisingnya kendaraan di bawah sana sama sekali tak menarik minat Gibran.
Mungkin ini pertama kali ia merokok setelah 5 tahun terakhir. Sebetulnya Gibran tak begitu menyukai bau tembakau, tapi entahlah, ia tidak tahu kegiatan apa yang harus dilakukannya sekarang, sementara dua lelaki paling sial dalam hidup Gibran berada di ruangan Maria.
Adalah Abhimanyu dan Romanjaya Wiranata, keduanya benar-benar tak ingin Gibran lihat. Alasan mengapa ia memilih menepi ke atap dan meninggalkan pekerjaan yang belum usai. Gibran lebih baik menyingkir daripada harus membaur dengan mereka, apalagi larut dalam obrolan yang sama sekali tak disukainya.
Asap itu kembali mengepul dari mulutnya. Gibran menatap kejauhan dengan tatapan kosong tak berarti. Bukan melamun, ia hanya berusaha menikmati kesendirian.
Hingga tak lama lift di belakangnya terbuka. Abhimanyu keluar dari sana dan berjalan menghampiri Gibran. Ia berdiri sejenak sebelum memutuskan melesakkan diri di samping lelaki itu.
Mereka terdiam lama. Gibran yang tak menggubris kedatangan Abhi, pun Abhi yang justru larut dalam keheningan. Ini adalah momen langka baginya, duduk berdua bersama Gibran tanpa melakukan kegiatan apa pun. Hanya diam dan saling bernafas satu sama lain.
"Gabriel menghubungiku." Tiba-tiba Abhi bersuara. "Kekasihnya hamil, tapi ia tidak tahu cara menikahinya dengan benar. Orang tua gadis itu tak merestui hubungan mereka." Ia pun terkekeh disertai gelengan. "Ini pertama kali ia mengeluh masalah wanita. Mendadak aku merasa memiliki anak miskin yang hidup di perantauan."
Kemudian ia menghela nafas. "Aku tahu dia salah karena dengan mudahnya mengkhianati Maria. Tapi entah kenapa di sisi lain aku merasa semua ini sudah benar," lanjutnya bergumam.
Abhi menoleh pada Gibran yang setia terdiam. Pria itu masih sibuk menyesap tembakau yang terselip di jarinya. "Nak, apa aku boleh menanyakan sesuatu?"
Gibran bungkam, namun ia tak melarang Abhi untuk mengutarakan rasa penasarannya.
"Apa ... kamu sungguh mencintai Maria?" tanya Abhi hati-hati. "Ini bukan hanya sekedar rasa bersalah karena kejadian masa lalu, kan?"
Sebagai ayah yang kerap mengamati putranya meski dari jauh, Abhi cukup tahu apa saja yang sudah terjadi di hidup Gibran. Termasuk permasalahan pelik asmaranya.
Hening. Gibran tampak mematung dan berhenti merokok sejenak. Ia lalu mendengus setengah tertawa, ekspresinya cenderung sinis dan sedikit kesal. "Kenapa orang-orang senang sekali bicara cinta?" Gibran menoleh menatap Abhi dengan pandangan remeh. "Apalagi pria yang sudah bercerai sepertimu," ejeknya telak.
Gibran kembali membuang mukanya ke depan. "Berhenti bertanya seolah-olah kita dekat. Kita tak sedekat itu untuk membicarakan masalah pribadi."
"Maria adalah privasiku, begitu pula pernikahan kami. Kamu atau siapa pun itu tidak berhak tahu," cetus Gibran menyesap lagi rokoknya.
Abhi bungkam. Ia mengangguk mengerti dan membuang matanya dari Gibran. Ia tahu sudah lancang, tapi Abhi hanya penasaran karena salah satu orang kepercayaannya sempat melapor mengenai Gibran yang kerap melakukan pertemuan khusus dengan temannya yang seorang dokter spesialis kejiwaan.
Tentu ia sangat khawatir. Tapi melihat Gibran yang enggan membuka diri Abhi sangat mengerti. Pertama hal ini bukan sesuatu yang mudah diceritakan, kedua mereka tidak cukup dekat sebagai anak dan orang tua.
Miris memang, tapi mau bagaimana lagi, menyesal pun tak akan mengubah nasib.
Abhi menghela nafas berusaha santai. Ia menoleh dan melirik kotak rokok serta pematik di samping Gibran. Tanpa izin ia mengambil sebatang dan menyalakannya untuk dihisap.
Gibran hanya meliriknya sekilas tanpa sekalipun berniat melarang. Keduanya kembali larut dalam keheningan tanpa menyadari pintu lift yang baru saja menutup menelan seseorang.
***
"Grandpa kalah! Yeee ...!!!" Maria bersorak hingga tubuhnya hampir melonjak, namun kemudian ia meringis oleh tangannya yang sakit.
Roman mencibir setengah merengut. Mereka baru saja bermain game online dan bertarung saling mengalahkan. Dan hasilnya Maria lah yang menang.
"Halah, menang beginian saja bangga. Kamu belum pernah merasakan rasanya menang tender puluhan milyar." Roman menggerutu. "Pantas saja anak jaman sekarang jarang ada yang pintar, generasinya hobi bermain-main."
"Dan lagi, Grandpa tak perlu mengatakan itu karena malu kalah terus," tambah Maria yang langsung membuat Roman seolah kebakaran jenggot.
"Astaga, ini— dasar anak ini—" Roman tak mampu berkata-kata hingga suaranya terputus-putus.
Maria mengulum senyum geli. "Jangan memandang sesuatu dengan sebelah mata. Kalau Grandpa menghina game ini, itu sama saja Grandpa menghina Koko."
"Kenapa begitu?" Roman melirik sinis yang malah terlihat humor di mata Maria. Entahlah, semua ekspresinya tidak ada yang benar-benar membuat kesal.
"Karena game ini salah satu yang diproduksi perusahaan Koko," ucap Maria bangga.
Bangga, dong. Siapa yang tidak bangga memiliki suami super kaya seperti Gibran? Title-nya saja membuat orang lain gatal ingin menyombongkan diri.
"Oh ..." Roman tak mampu berucap lebih.
Tiba-tiba pintu ruang rawat Maria terbuka. Gibran masuk diikuti Abhimanyu di belakangnya. Roman maupun Maria menatap keduanya dengan mulut setengah terbuka. Sejak kapan ayah dan anak itu menjadi dekat?
Apa Maria keliru? Mungkinkah hanya kebetulan?
Maria melirik Gibran sambil menggerak-gerakkan alisnya. Namun dengan kurang ajarnya Gibran mengabaikan Maria dan melenggang masuk ke kamar mandi.
"Omo ..." gumam Maria tak percaya. "Apa dia baru saja mengabaikanku?"
Roman mendengus. "Jangan berlebihan. Mungkin dia tidak tahan mau pipis."
Kalimat itu mengundang tawa renyah Abhimanyu yang kini mendekat mengusap rambut Maria. "Bagaimana tangan kamu?"
Maria tersenyum malas, "Tentu saja sakit, Papa."
Abhi tersenyum. "Yang sabar, ya. Mungkin tiga bulan lagi akan pulih. Banyak-banyak makan protein dan kalsium serta vitamin lain. Jangan dulu makan junk food, ya."
"Kalau junk food dari dulu Maria memang jarang makan, Pa. Dan akhir-akhir ini Koko juga sering masakin aku."
Perkataan Maria menarik perhatian Roman maupun Abhi.
"Gibran bisa masak?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Abhi. Roman lega karena rasa penasarannya terwakilkan. Ia masih gengsi bicara pada Maria.
Hey, siapa yang bisa lupa kejadian di pasar buah waktu itu?
Maria mengerjap. "Papa tidak tahu, ya? Koko itu pintar masak. Masakannya bahkan setara dengan koki-koki besar. Dan rasanya jangan ditanya, Maria sampai ketagihan. Malah waktu awal-awal hamil Maria tidak bisa makan apa pun kalau bukan Koko yang masak."
Fakta itu membuat dua lelaki di sana tercengang sekaligus menyadari satu hal, bahwa mereka memang setidak-tahu itu tentang apa pun mengenai Gibran.
Ngomong-ngomong, kenapa Gibran lama sekali di kamar mandi? Apa dia sedang pup?
Tanpa Maria tahu sejak tadi Gibran hanya bersandar di belakang pintu. Ia bahkan tidak menyalakan keran atau buang air sekalipun. Hanya diam dengan tatapan menerawang dan tangan bersidekap.