
Akibat kecerobohannya dalam berucap, Maria kerap merasa was-was setiap kali berdekatan dengan Gibran, apalagi jika berdua, jangan tanya bagaimana parnonya ia, takut Gibran menyerangnya secara mendadak, seperti saat di lift waktu itu.
Astaga, ternyata orang pendiam bisa jauh lebih menyeramkan dari seorang don juan. Setidaknya mereka para perayu wanita melempar godaan terlebih dulu sebelum menyerang, bukan seperti Gibran yang langsung menerkam hanya dalam hitungan detik.
Maria berdehem, "Koko ... mau berangkat sekarang?" tanya Maria ketika melihat Gibran sudah rapi dengan setelan formalnya.
Sementara Maria, ia baru bangun setelah semalam kelelahan karena jetlag. Dan Gibran sudah akan mulai bekerja?
Daebak! Dari mana dia mendapat stamina sebesar itu?
Gibran bergumam sambil memakai jasnya. Ia tampak elegan dan mewah seperti biasa.
"Itu berarti aku bisa jalan-jalan, kan?" tanya Maria penuh harap.
Gibran berbalik ke arah nakas, pria itu mengambil jam tangan yang tergeletak di sana. Maria mengambil alih benda tersebut dan memasangkannya di pergelangan Gibran.
Gibran mengamati dalam diam, Maria mendongak melempar senyum. Ia tidak malu sekarang, karena sebelumnya Maria sempat membersihkan mata dengan tisu dan menggelung rambutnya supaya tak terlalu kusut, meski sebetulnya rambut Maria masih halus dan wangi kendati bangun tidur sekali pun.
"Ya ...? Boleh, ya?" Ia berusaha merayu.
"Koko kan sudah janji kemarin. Boleh dong aku jalan-jalan hari ini."
Gibran masih diam, ia melirik tangannya yang digenggam Maria, seolah wanita itu tak akan melepasnya sebelum memberi izin.
Maria menarikan jemarinya di perut Gibran yang terbalut vest berwarna abu, sedang matanya mengerling dengan raut yang dibuat semanis mungkin. Maria percaya, meski dia belum mandi kecantikannya masih paripurna.
Gibran memutar pergelangan tangannya yang digenggam Maria, beralih mencengkram halus lengan kurus wanita itu. Sementara tangan satunya meraih jemari Maria di perutnya, menggenggamnya seraya mendorong perlahan tubuh Maria hingga setengah bersandar di kepala ranjang.
Niat hati ingin merayu Gibran, malah diri sendiri yang dibuat tak berkutik. Maria mengerjap ketika wajah Gibran mendekat. Refleks ia memejamkan mata saat hidung mereka bersentuhan.
Alih-alih ciuman yang ia dapat, Maria justru merasakan benda dingin menyelip di sela bra yang ia pakai. Lalu sebuah bisikan mampir di telinga, "Aku menepati janjiku, kau juga harus menepati janjimu."
Tepat saat Maria membuka mata, Gibran menjauh dan berlalu keluar kamar, meninggalkannya yang terpaku dengan jantung berdentam serta wajah yang memerah.
Perlahan kepalanya menunduk, menengok black card yang Gibran selipkan di sela dadanya. Gaun tidur Maria memang longgar hingga besar kemungkinan pakaian dalamnya terlihat.
Maria menggamit kartu tersebut sambil mengulum senyum. Tak lama kemudian ia menjerit meneriakkan kata 'Yes' dengan tangan mengepal.
Abaikan sejenak nasibnya nanti malam, yang penting sekarang Maria bisa jalan-jalan.
***
Rupanya Gibran memboyong mereka ke satu kota di Papua. Nick bilang Gibran terlibat sebuah proyek besar berupa akomodasi wisata.
Baguslah. Siapa tahu suatu saat Maria bisa masuk dengan gratis ke tempat tersebut.
"Yuhuuu ...!!!" Maria berseru keras mengangkat tangannya ke atas.
Wanita itu berdiri di sela atap mobil yang terbuka. Di sampingnya, Laura menatap khawatir sembari menarik-narik kaki Maria dari bawah.
Maria tak menghiraukan rengekan Laura. Ia meminta sopir untuk mengencangkan laju mobil, yang mana hal tersebut membuat Laura semakin dilanda cemas.
Di belakang mereka, mobil Jill dan Dean mengikuti, mengawasi Maria dengan seksama. Jill menambah kecepatan mobilnya persis ketika mobil di depannya melakukan hal serupa.
Maria berteriak mengibarkan syal bunga di tangannya, kacamata hitam bertengger menutupi matanya. Rambut panjangnya berhamburan tertiup angin.
Laut membentang di sisi kanan jalan, sementara sisi kiri mereka adalah tebing yang menjulang. Hal yang membuat Laura dilanda ketakutan sejak tadi. Bagaimana kalau tebing itu runtuh dan batu besar menimpa mereka?
Astaga, ia hanya pernah melihat jalan menyeramkan seperti ini di televisi. Tak disangka sekarang ia melewatinya langsung. Dan Laura bersumpah ia tak ingin mencobanya lagi.
"LAURA ... COBALAH BERDIRI ... INI MENYENANGKAN ..." teriak Maria dari atas sana.
Sementara Laura, ia kekeh meringkuk di bawah, merapatkan tubuhnya di jok mobil. Tak henti ia mengingatkan sang sopir untuk berhati-hati. Meski sopir itu sudah terlatih baik fisik maupun mental, tetap saja tidak ada yang tahu kapan musibah datang.
"AKU BEBAAASSS ..."
Raut Maria terlihat begitu senang dan lepas, seolah ia baru keluar dari suatu masalah yang menekannya.
Hal tersebut tak luput dari perhatian Gibran di sela rapatnya, pria itu melihat langsung apa yang dilakukan Maria melalui CCTV dashboard mobil Jill.
Nick yang menyaksikan itu tak berani berkomentar. Meski Gibran terkesan tak mendengarkan, ia yakin seratus persen lelaki itu menangkap keseluruhan persentase di depannya.
Kembali pada Maria, wanita itu melanjutkan perjalanannya ke pusat perbelanjaan terbesar satu-satunya yang ada di Papua. Meski ia tak banyak berharap dan tak berniat membeli sesuatu juga, setidaknya perjalanan ini menjadi satu dari sekian pengalaman bagi Maria.
Mungkin di sana Maria bisa membelikan baju baru untuk para pelayannya. Atau bisa juga barang lain sebagai oleh-oleh untuk mereka. Tentu Laura, Jill, dan Dean ia beri sesuatu yang khusus.
Berbeda dengan Laura yang menyambut terbuka pemberiannya, dua pengawal Maria justru bereaksi sebaliknya. Dilihat dari sikap keduanya yang kaku, hal tersebut wajar karena sepertinya Jill maupun Dean bukan seseorang yang bisa begitu saja menerima hadiah.
Namun bukan Maria namanya jika tak mampu membujuk mereka. Berkat kekeraskepalaanya, dua wanita kaku itu mau tak mau menerima dengan sukarela pemberian Maria.
Asik berjalan ke sana kemari, masuk dari satu toko ke toko lainnya, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang. Jill dan Dean langsung memasang sikap siaga, bersiap menendang siapa pun yang berani menyentuh Nyonya mereka.
Maria menoleh, mendapati lengkung senyum yang terpatri di seraut wajah tampan seorang pria. Maria mematung sesaat dengan mata ta berkedip, mulutnya bahkan tanpa sadar sedikit membuka melihat sosok di hadapannya.
"Maria?"
Maria masih terpaku hingga Laura harus menekan sikutnya untuk menyadarkan Maria. Barulah Maria berkedip memfokuskan atensinya pada pria tersebut.
"Aku tak menyangka kita bertemu di sini," ucap pria itu lagi.
Tak berapa lama senyum Maria ikut mengembang, rautnya sama tak percaya dengan pria itu.
"Odi? Ini benaran kamu?"
Jordian Agna Silalaha, lelaki yang Maria panggil Odi itu semakin melebarkan senyumnya. "Syukurlah kamu masih mengingatku," ucapnya senang.
"Tentu saja aku ingat. Wanita mana yang bisa melupakan seorang pembalap hebat sepertimu?"