His Purpose

His Purpose
22. Saling Mendekat



"Waahh ... daebak, Nyonya. Sepertinya kita harus menambah beberapa lemari di sini. Tidak hanya pakaian. Tas, sepatu, perhiasan juga sepertinya patut dipertimbangkan. Kita tidak tahu Tuan akan seroyal apa nanti." Laura tampak sibuk membereskan ruang wardrobe Maria yang kini bertambah drastis muatannya.


Maria memutar mata jengah, "Kenapa tidak sekalian saja diperluas ruangannya?" ucapnya malas.


Laura menjentikkan jari dengan senyum mengembang. "Benar juga. Kenapa saya tidak kepikiran? Berhubung kamar Nyonya di atas masih direnovasi, bagaimana kalau sekalian saja melakukan perubahan ruang? Kita bisa memperluas ruang wardrobe-nya!"


"Laura, apa kamu selalu menganggap serius perkataanku?"


Laura berkedip, "Tentu saja. Siapa yang berani bermain-main dengan Anda?"


"Astaga ..." Maria mendesah lelah. "Sudahlah. Lupakan semua itu. Apa kamu lupa renovasinya sudah hampir 90 persen?"


"Memangnya kenapa?"


"Laura, kamu akan menghancurkan pekerjaan orang dan membuat orang kesal! Mengerti? Sudah. Jangan bertanya lagi. Aku sangat lelah hari ini." Maria keluar dari walk in closet dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Ia menutup matanya dengan sebelah tangan. Kedua kakinya menggantung di pinggiran kasur. Nafasnya terhela panjang. Kehidupan apa sebenarnya yang tengah ia jalani?


Ia tidak tahu sedang tinggal di mana. Ia juga tidak bisa bebas berbelanja. Memang, semua kebutuhannya terpenuhi di rumah ini. Namun, Maria seolah terkurung dalam kemewahan yang menelannya.


"Nyonya ..." Laura menyusul Maria dan berdiri di samping wanita itu.


Maria tak merespon. Ia tahu apa yang hendak Laura sampaikan akan membuatnya kesal.


"Nyonya, seorang desainer tas lokal meminta bertemu."


Benar saja. Mendadak Maria ingin mengubur gadis itu hidup-hidup.


***


Maria berjalan gontai memasuki lift. Ia baru saja selesai menemui seorang desainer tas yang Laura katakan. Satu lagi tamu yang datang, perancang sepatu juga perhiasan turut hadir memenuhi harinya.


Sungguh, Maria benar-benar ingin bersantai sekarang. Ia tidak akan segan-segan memarahi siapa pun jika mereka berani mengganggunya lagi.


"Astaga. Apa Gibran seorang Raja? Kenapa orang-orang itu sangat mengagungkannya?" gerutu Maria sembari melesakkan bokongnya di sofa. Ia menyandarkan punggungnya dan menutup mata sebentar.


"Sebenarnya sebesar apa pengaruh Koko di daerah antah berantah ini?"


Dilihat dari wajah dan bahasa, Maria tahu dirinya masih ada di Indonesia, tapi entah Indonesia bagian mana.


Maria membuka mata, menatap langit-langit kamar di atasnya. Bayang-bayang wajah Gibran yang tanpa ekspresi simpang-siur memenuhi otaknya. Ia segera menggeleng. Kenapa tiba-tiba ia memikirkan Gibran?


Maria bergidig. Lebih baik ia pergi mandi sebelum matahari terbenam.


Malam harinya, Maria menghabiskan waktu di perpustakaan selepas makan malam. Ia tidak ditemani Laura. Ia hanya ingin menghabiskan waktu sendiri setelah dari siang hingga sore tadi sibuk menemui tamu.


Membaca novel dengan ditemani camilan dan teh hangat adalah yang terbaik. Maria mendesah nikmat saat manisnya biskuit cokelat melelehi lidahnya. Ia membuka lembar bab baru dari novel yang dibacanya sembari terus mengunyah dan sesekali menyeruput teh.


Maria larut dalam dunia fiksi itu. Hingga suara decitan yang berasal dari jendela membuatnya merinding sekaligus terkejut.


Astaga. Mengejutkan saja. Batinnya mengusap dada.


Ia kembali menoleh pada buku. Namun, jendela itu terus berderit hingga membuatnya terganggu. Alhasil mau tak mau Maria bangkit meninggalkan rasa nyamannya dan menghampiri jendela di sudut perpustakaan itu.


Sembari berjalan ia bergumam, "Yang lain kelihatannya tertutup. Kenapa kamu terbuka sendirian?"


Baru ia mengulurkan tangan hendak meraih tepian yang bergoyang oleh angin, sebuah tangan terulur dari belakang. Maria diam mematung memerhatikan lengan kekar yang nampak keras itu.


"Tadi aku sengaja membukanya."


Itu suara Gibran.


Maria berkedip. Jantungnya kembali berdetak tak normal. Apalagi posisinya sekarang yang terhimpit dari belakang. Maria bahkan bisa merasakan panas tubuh Gibran yang menghangati punggungnya.


"Ko-Koko ... sedang apa di sini?" Maria berbalik. Namun, sedetik kemudian ia menjerit saat menemukan sebuah dada bidang tanpa kain.


Maria kalang-kabut menutup mata dan mengalihkan kepalanya ke samping. Pemandangan tubuh kekar Gibran berhasil membuat wajahnya merah padam. Rasa panas itu menjalar hingga ke telinga. Tapi Maria bersyukur lampu bagian sudut tidak menyala hingga menghasilkan suasana remang. Ia jadi tidak khawatir Gibran melihatnya.


Sesaat kemudian ia bernafas lega karena merasakan Gibran yang menjauh, meski hanya mundur beberapa langkah. Jarak mereka masih kurang dari satu meter.


"Gerah," jawab pria itu singkat.


Angin malam berhembus meniup punggung Maria. Mengalirkan udara dingin pada tubuhnya yang bergejolak tanpa alasan. Ia menurunkan tangan yang tadi menutupi wajah. Masih dengan muka berpaling Maria berkata, "Gerah apanya? Udara di sini bisa menyebabkan orang hipotermia."


Gibran tak memedulikan Maria yang bersungut. Ia kembali mendekat hingga membuat Maria kontan bersiaga. "Ko-Koko mau apa?" tanya wanita itu was-was.


Maria mundur hingga pinggangnya membentur birai jendela. Ia terhenyak menahan nafas saat Gibran mencondongkan tubuh hampir memeluknya. Maria terpaku menatap kulit Gibran yang sedikit mengkilap. Dada pria itu tepat satu senti di depan mata. Rupanya Gibran benar-benar berkeringat.


Dalam udara sedingin ini? Tanya hatinya tak percaya.


Suara klik di belakangnya tak lantas membuat Maria tersadar. Ia masih terpaku menatap satu titik. Aroma maskulin yang berasal dari tubuh Gibran juga mulai merambati hidungnya.


Astaga, situasi macam apa ini?


"Tubuhmu yang lemah itu merepotkan," ucap Gibran tiba-tiba.


Maria berkedip, "A-Apa?"


Gibran menjauh. Rupanya pria itu baru saja menutup jendela.


"Menjauhlah dari sana. Dan lagi, bukankah sudah kubilang untuk memakai baju yang tebal?"


"A-Aku pakai selimut tadi." Maria mengejar Gibran yang berjalan ke arah sebuah pintu. Maria memang sering melihat pintu itu, tapi ia belum tahu isinya apa.


Dan setelah Gibran membukanya, ternyata itu sebuah lorong yang mengarah ke suatu tempat.


Maria setia mengekori Gibran. Selagi pria itu tidak melarang ia tidak akan berhenti merasa penasaran. Sesekali matanya mengagumi figur Gibran dari belakang. Sang suami begitu tinggi dengan ototnya yang kekar.


Tidak. Maria segera menggeleng. Lama-lama otaknya semakin tidak waras.


Mereka sampai di depan sebuah ruangan dengan dinding kaca besar di sekelilingnya. Ruangan itu merupakan ruang olahraga lengkap dengan berbagai alat yang Maria tidak ketahui namanya. Ia hanya mengenali treadmill dan barbel. Selebihnya ia hanya pernah melihat tanpa tahu apalagi mencobanya.


Gibran mendorong pintu dan masuk. Namun sayang, Maria tertinggal di luar. Yang tidak Maria sangka-sangka adalah pintunya amat sangat berat hingga ia kesulitan meski seluruh tenaga ia kerahkan.


Maria menggedor kaca tebal itu, mencoba menarik perhatian Gibran yang sepertinya tidak mendengar. Maria tidak tahu bahwa ruangan itu kedap suara.


Beruntung Gibran menoleh dan melihatnya. Sejenak wajah datar itu membuat Maria geregetan dan ingin memukulnya.


"Bukannya bantuin malah lihatin," sungut Maria kesal.


"Buka!!!"


Gibran mendekat dan membuka pintunya. Segera Maria masuk dengan kaki menghentak kesal. Sementara Gibran menatap Maria dengan kening berkerut.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya sarat akan keheranan.


"Memangnya kenapa? Aku hanya penasaran dengan tempat olahraga suamiku," jawabnya tanpa sadar cemberut.


"Suami?" Gibran mendekat.


Maria gelagapan. "Y-Ya! Apa aku salah?" Ia menelan ludah. "Kita memang suami istri, 'kan? Jadi aku juga berhak berada di sini."


Entah kenapa, tapi Maria rasa ia semakin berani menghadapi Gibran. Termasuk saat mereka berdekatan seperti sekarang.


Sebenarnya, Maria mengikuti Gibran kemari karena merasa takut. Perpustakaan mendadak horor setelah insiden jendela terbuka itu. Padahal jelas-jelas ia tahu Gibran lah yang membuka jendelanya. Dan jendela itu berbunyi karena tertiup angin.


Kedua mata itu saling menatap. Dan Maria tidak bisa menahan jantungnya yang lagi-lagi berdebar kencang. Maria menekankan dalam hati bahwa itu pengaruh dari rasa gugup. Karena sifat Gibran memang mengintimidasi siapa pun.


Gumpalan ludah ia telan dimana Gibran menunduk mendekatkan wajah. Maria menahan nafas saat hidung mereka tanpa sengaja bersenggolan. Pria itu mendekatkan mulutnya ke telinga. Kemudian berbisik di sana.


"Tapi aku merasa kita belum menjadi suami istri sepenuhnya."