His Purpose

His Purpose
119. A Wise for Husband



Gibran tengah menyuapi Maria ketika seseorang datang membuka pintu. "Selamat malam?"


Semuanya serentak menoleh, termasuk Rayan yang tengah sibuk menonton TV di sofa. Lelaki itu segera melepas punggungnya dari sofa. "Lho, Nak Bagas?"


Bagas tersenyum mengangguk segan. "Apa kabar, Pak?"


"Baik, silakan masuk."


Bagas pun masuk dan menutup pintu. Di tangannya ada sebuah buket bunga lumayan besar. Ia mendekat ke tengah ruangan dan berhenti di sana. "Saya dengar puteri Bapak masuk rumah sakit," ucapnya seraya menoleh ke arah ranjang.


Maria tampak mengunyah makanannya dengan bingung, sementara di depannya ada sang suami yang fokus menyuapi. Lelaki itu sama sekali acuh tak acuh dengan keberadaan Bagas.


Rayan mengangguk dengan seulas senyum. "Dia sempat mengalami keram perut kemarin. Tapi, syukurlah tidak terjadi apa-apa dengan kandungannya."


Bagas nampak bergeming, pandangannya beralih pada Maria. "Kandungan?"


"Benar, puteri saya sedang hamil."


"Oh ..." gumam Bagas. Ada seraut wajah kecewa di wajahnya. Namun kemudian Bagas tersenyum. Ia mendekati ranjang pasien dan menyerahkan bunga di tangannya pada Maria.


"Selamat, ya? Dan ... semoga cepat sembuh," kata Bagas terdengar tulus.


"Terima kasih," jawab Maria lengkap dengan senyum seadanya.


Saat ia hendak menerima bunga itu, Gibran sudah meraupnya duluan. Dengan santai pria itu melemparnya ke arah sofa di mana sang mertua berada. Rayan yang cukup terkejut secara refleks menangkapnya.


Menantu sialan. Dasar tidak sopan!


Itulah kalimat yang tergambar di wajah Rayan. Maria meringis di tempatnya. Suasana berubah canggung karena hal tersebut, namun Gibran seolah tak peduli dan kembali menyuapi Maria dengan raut tanpa dosa.


"Ah, Bagas. Mumpung kamu di sini saya ingin membicarakan sesuatu tentang pekerjaan. Kemarilah."


Bagas yang tak memiliki opsi lain akhirnya menyerah dan bergabung bersama Rayan di sofa. Keduanya langsung larut dalam berbagai obrolan bahkan di luar bisnis sekalipun.


Diam-diam Maria merasa iri. Ia juga ingin papanya bisa berbicara seperti itu pada Gibran yang notabene adalah menantunya.


"Kenapa?" Gibran yang menyadari raut Maria, bertanya dengan suara pelan.


Wanita itu sedikit tersentak. Ia pun menggeleng sambil melempar senyum manis yang membuat Gibran terpesona sesaat. "Bukan apa-apa." Kemudian wajahnya mendekat lalu berbisik. "Aku ingat belum mencium Koko sore ini."


Gibran terkekeh lirih seraya menggeleng. "Sepertinya akhir-akhir ini kamu semakin mendamba sentuhan?"


Maria menggigit bibir dan merunduk malu. "Entahlah, tapi aku merasa Koko semakin ganteng."


Gibran mengangkat sebelah alisnya geli. "Aku memang sudah tampan dari lahir," ucapnya narsis.


Sontak Maria tertawa dan tanpa sadar memukul lengan Gibran hingga piring di tangannya sedikit goyang. Untung tidak tumpah.


Tanpa mereka sadari Bagas dan Rayan memperhatikan dari sofa. Mereka cukup terkejut mendengar tawa Gibran. Meski terdengar lirih, hal tersebut mampu menarik atensi keduanya pada dua sejoli yang tampak bergurau mesra itu.


"Koko, kau tidak lupa untuk menyanyikanku sebuah lagu, kan?"


Seketika itu juga wajah Gibran berubah pucat. Pria itu berdehem pelan dan berusaha kembali menyuapi Maria. Maria membuka mulutnya menerima suapan itu. Kepalanya meneleng menunggu jawaban Gibran.


Tidak tahan dengan tatapan Maria, Gibran pun menghela nafas dan membuangnya lamat-lamat. "Nanti akan kukanyikan," ucapnya pasrah.


"Kenapa tidak sekarang saja?" Sebenarnya Maria sengaja mengerjai Gibran.


Lihat saja, sang suami memasang wajah memelas penuh permohonan. "Apa kau berniat mempermalukanku?" bisiknya yang hanya didengar oleh Maria.


Maria yang kasihan pun lekas mengulas senyum lembut. Ia mengangguk sembari mencubit pelan pipi Gibran. "Aku hanya bercanda. Kenapa wajahmu sudah seperti akan kalah perang?" kikiknya tak tahan.


Gibran mendengus sedikit melengos menghindari presensi Maria.


"Koko marah, ya?"


Gibran kembali menyuapi Maria tanpa kata. Meski begitu wajahnya tetap melembut melihat senyum manis Maria yang tampak begitu bersinar di matanya.


Tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat meski kecil. Sementara di sudut lain Bagas memperhatikan lekat keduanya. Sejak tadi Rayan memang menyadari tatapan lelaki itu pada Maria.


Ia tahu Bagas menaruh ketertarikan pada puterinya. Tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Di luar ia pernah menjodohkan mereka berdua, Rayan tak ingin mengekang keinginan hati Maria. Terlebih cengkraman Gibran membuatnya tak mampu bergerak sedikit pun. Apalagi Maria sudah sampai mengandung.


Suara pintu yang dibuka kembali memecah suasana. Seorang petugas medis masuk, menunduk segan sebelum memberitahukan bahwa jam besuk telah usai.


"Mohon maaf, demi kenyamanan pasien silakan yang tidak bersangkutan segera keluar."


Bagas yang sadar dirinya adalah orang asing lekas berdiri. "Om, kalau begitu saya pulang." Rupanya ia sudah melepas formalitas sejak keduanya berbincang.


Kemudian matanya beralih pada Maria, tanpa sedikit pun melirik Gibran. "Maria, cepat sembuh, ya. Sampai bertemu lagi," ucapnya sebelum pergi.


Maria hanya mengangguk dengan senyum canggung. Ia bukan wanita polos yang tidak mengerti makna tatapan Bagas. Jelas ia tahu Bagas tertarik padanya.


Hal itulah yang sejak tadi membuat Maria tak nyaman dan berusaha menyibukkan diri dengan bercanda bersama Gibran. Sepertinya Gibran juga tahu.


Pria itu menyimpan piring ke atas nakas. Lalu memberi Maria gelas berisi air.


"Tumben Koko tidak marah?" Maria bertanya setelah menandaskan isi gelas hingga tersisa setengah.


"Marah kenapa?"


Maria mengangkat bahu. "Biasanya Koko selalu cemburu dengan lelaki mana pun."


Gibran tersenyum miring. "Aku tidak punya alasan untuk cemburu di saat kau sudah mengetahui semua asetku, kan?"


"Dia hanya sepotong roti tak berharga jika dibandingkan denganku. Bukankah begitu, Mrs. Wiranata?" Mata Gibran mengerling penuh kemenangan.


Maria tak kalah menyeringai. "Of course. Kau tetap yang terhebat di mataku, Lord."


Gibran terkekeh mencubit pelan dagu Maria. "Panggilanmu terdengar seksi, Queen."


Maria tersenyum senang. Ia mengecup kilat bibir Gibran yang dibalas pagutan singkat oleh lelaki itu.


"Ehm!" Sebuah deheman memecah suasana keduanya. "Sepertinya Papa harus pulang, kan?"


Gibran menoleh tanpa rasa bersalah. "Bagus, kau cukup tahu diri."


Maria segera berdesis, "Koko." Ia menatap tak enak pada sang papa yang sepertinya cukup tersinggung.


Ada sedikit rasa bersalah karena sejak tadi Maria mengabaikannya.


"Tidak apa-apa, Maria. Kebetulan memang Papa ada urusan dengan Liem. Kamu baik-baik di sini. Jangan segan melapor jika perbuatannya membuatmu tak nyaman." Rayan sedikit melirik Gibran sebelum benar-benar keluar.


"Koko kenapa, sih? Sepertinya Koko sangat tidak suka dengan Papa?"


"Apa dia pernah berbuat salah, atau membuatmu kesal?"


Gibran hanya mengangkat alis tanpa berniat memberinya penjelasan.


"Koko tidak bisa seperti ini terus. Sikap Koko yang seperti ini membuat orang salah paham dan membenci Koko."


"Di luar sikap Koko terhadap Papa, setidaknya ramahlah sedikit pada orang lain. Koko tidak berniat menambah musuh, kan?"


"Aku tahu Koko punya segalanya, tapi itu tidak menjamin kesejahteraan karena Koko tak pernah mau menghargai siapa pun."


"Bukan bermaksud mengatur, tapi aku tidak nyaman dengan pandangan orang lain terhadap Koko."


"Koko bukan orang jahat."


Tanpa Maria sadari satu kalimat itu saja mampu menggetarkan perasaan asing di hati Gibran.