His Purpose

His Purpose
150. Flights at Night



Maria melirik dingin pada Gibran yang baru saja masuk membawa nampan. Akhirnya setelah berbagai pertimbangan Maria bersedia makan. Bukan bermaksud menurut pada Gibran, Maria melakukannya lantaran memikirkan sang anak dalam perut.


Maria tak seegois itu dengan mengutamakan emosi hingga mengabaikan asupan gizi dan kesehatan janinnya. Di luar kemarahannya pada Gibran, tak lantas membuat Maria juga merasa marah pada darah daging pria itu.


"Makanan siap ..." Gibran mendekat dan menyimpan nampan tersebut ke atas meja. Ia lalu duduk di sofa tepat di samping Maria.


Gibran menyempatkan diri mencium perut istrinya. "Waktunya makan, Baby. Maaf kita tidak jadi makan di restoran mewah, Mommy kamu marah sama Daddy," bisik Gibran sambil sesekali melirik Maria yang hanya mendelik malas di atasnya.


Gibran tersenyum sebelum meraih piring di meja. "Pasta seafood kesukaan kamu." Ia mulai menyodorkan sendok ke depan mulut Maria.


Sesaat wanita itu diam enggan membuka mulut. Tapi lama-lama aroma lezat itu tak mampu membendung pertahanannya.


Maria berniat meraih sendok dari tangan Gibran. "Biar aku saja."


Namun Gibran segera menjauhkan sendok tersebut. "Biar kusuapi, Plum. Aku tahu kamu kesulitan menggunakan tangan kiri."


"Aku bisa," kekeh Maria.


"Tidak baik makan pakai tangan kiri."


"Tahu apa Koko tentang kebaikan?" balas Maria sengit.


Gibran sempat mematung, namun ia segera tersenyum. "Intinya lebih baik aku suapi. Ayo, biarkan aku menyuapi kalian." Gibran sedikit melirik perut Maria.


"Perut kamu sudah bunyi, Sayang," tambahnya geli.


Dengan kesal Maria membuka mulutnya dan menerima suapan Gibran dalam sekali lahap. Sebisa mungkin matanya tak mengarah pada pria yang sudah resmi ia anggap gila itu.


"Kunyah pelan-pelan."


Sejak kapan Gibran jadi cerewet? Kenapa Maria rasa sejak tadi pria itu berisik terus?


"Mie-nya kepedasan?" tanya Gibran perhatian.


Maria hanya menggeleng menjawab pertanyaan tersebut.


"Baguslah. A lagi."


Sesuap demi sesuap Maria kunyah tanpa terasa. Usai menghabiskan spaghetti, Gibran beralih menyuapinya smoothies buah untuk menyegarkan lidah. Dan yang terakhir pria itu memberinya vitamin yang memang rutin ia konsumsi sesuai anjuran dokter.


"Selesai." Gibran tersenyum puas. Ia mengusap perut buncit Maria setelah meletakkan gelas kosong di meja.


Maria menatap Gibran lama. Perasaannya kembali campur aduk mengingat kembali fakta yang ia dengar saat di restoran tadi.


Kemunculan Gabriel benar-benar mengejutkan. Maria tak menyangka ternyata keduanya memiliki andil besar terhadap nasib Maria yang sekarang.


Tak pernah sekalipun terlintas Gibran dan Gabriel merencanakan hal sebesar ini di belakangnya. Kenapa mereka begitu tega membodohinya sejauh ini?


"Kamu setuju, Plum?"


Maria terperanjat. Ia mengerjap bingung mendapati tatapan Gibran. Ternyata sejak tadi pria itu mengajaknya bicara. Maria benar-benar tidak fokus sampai tak satu pun dari kalimat Gibran ia tangkap.


"Kamu tidak mendengarku?" Maria bisa melihat sedikit raut kecewa di mata Gibran. Ingin rasanya ia bertanya apa yang tadi pria itu katakan. Tapi apalah daya ego dan gengsi sedang menguasai.


"Kamu pasti sudah mengantuk. Kalau begitu tidurlah." Gibran membereskan wadah-wadah kosong di meja. Kemudian ia ingat sesuatu. "Benar, kamu pasti kesulitan melepas semua itu." Gibran memindai dari atas ke bawah.


Maksud Gibran gaun, perhiasan dan make up. Maria pasti tidak bisa melucutinya seorang diri.


"Mau kubantu atau kupanggilkan pelayan?"


"Pelayan," jawab Maria singkat.


Gibran sudah menduga jawaban tersebut. Ia pun mengangguk dan lekas keluar kamar guna memanggil pelayan untuk membantu Maria. Tak lupa ia berpesan agar pelayan itu sekalian membawa nampan yang sengaja Gibran tinggalkan di sana. Ia malas mengembalikan piring-piring itu ke dapur apalagi jika harus mencucinya.


...


Setelah memastikan Maria tidur, Gibran menutup pintu kamar dengan pelan. Ia berjalan menuruni tangga dan menghampiri Nick yang sudah menunggu di lantai bawah.


"Hm." Gibran bergumam seraya memakai jaket dan sarung tangan yang diserahkan Nick.


"Motornya di depan, Tuan."


"Oke, kamu tetap awasi kediaman ini. Jangan sampai lengah. Pastikan tim keamanan kita bekerja dengan baik."


"Itu sudah pasti, Tuan."


Gibran melangkah keluar diikuti Nick. Kakinya berayun elegan ketika menunggangi motor. Usai memakai helm, ia menoleh sekali lagi pada Nick.


"Katakan pada Laura, Maria sering bangun dan minta makan. Suruh gadis itu untuk tidak terlalu lelap tidur. Kalau bisa suruh dia tidur di kamar Maria. Ada sofa di sana."


Nick meringis dalam hati. Gibran meminta seorang gadis tidur di sofa? Kejam sekali.


"Baik, Tuan. Anda tak perlu khawatir. Nyonya akan baik-baik saja."


Setelah itu Gibran mengangguk dan pergi meninggalkan Nick bersama angin malam.


Gibran melajukan motornya dengan lihai. Tak sampai satu jam ia sudah tiba di mansion Wiranata yang berdiri megah di kawasan Kelapa Gading.


Bruum ... bruum ...


Gibran menarik starter-nya kencang hingga menimbulkan suara bising di depan rumah besar tersebut.


Pintu terbuka, dan nampaklah Gabriel yang sudah siap dengan pakaian rapi. Pria itu juga memakai jaket dan helm persis seperti Gibran.


Gabriel naik di boncengan. "Apa tidak apa-apa Kakak meninggalkan Maria seperti ini?"


"Dan membiarkanmu terus merengek membuatku kesal?" timpal Gibran sinis. Ia mendengus. "Kau bahkan tidak bisa menjaga kekasihmu."


"Sudah kubilang jangan hamili dia dulu," desis Gibran hampir tak terdengar.


Ia lalu men-starter motornya hingga melaju kencang meninggalkan daerah tersebut.


Tujuan mereka adalah bandara. Karena tengah malam lokasi penerbangan itu sangat sepi, hanya ada segelintir orang yang masih wara-wiri di sana.


Derick menyambut begitu mereka masuk. Gabriel menghampiri lelaki tinggi itu dan mengajaknya bersalaman ala pria. "Kapten, apa kabar?"


Derick mengulas senyum membalas sapaan tersebut. "Baik, Tuan Muda." Kemudian ia beralih pada Gibran dan segera membungkuk segan. "Pesawat sudah siap, Tuan."


Gibran hanya mengangguk dan turut berjalan mengikuti Derick, melakukan pemindaian dan prosedur lain sebelum kemudian di arahkan menuju landasan.


"Kak, Maria apa kabar?" Gabriel bertanya saat mereka sudah duduk di pesawat. Ia mengedarkan mata mengagumi interior di sekelilingnya.


"Amazing. Ini lebih mewah dari milik Papa," gumamnya tanpa sekalipun menyadari lirikan tajam dari Gibran.


"Fokus saja pada tujuanmu sekarang," ucap Gibran datar.


Gabriel menoleh. "Oh, oke."


"Sudah berapa bulan?" Nampaknya Gabriel tak bisa menahan mulutnya untuk diam.


Gibran yang hampir terpejam kini harus rela membuka matanya kembali. "Empat setengah."


"Jalan lima bulan?"


"Pikirmu?" Apa Gabriel harus sebodoh itu?


"Oh." Kemudian ia terkekeh. "Lucu sekali. Topik ini sudah seperti pembicaraan dua calon ayah."


Namun sesaat kemudian wajah Gabriel meredup. "Sayang sekali aku tidak jadi memiliki anak sekarang," bisiknya sambil menghela nafas.


Gibran tak jadi memaki, ia lebih memilih membuang muka dan bersandar nyaman dengan mata mulai terpejam. Tangan dan kakinya bersilang seperti biasa. Dalam hati ia berdoa semoga Maria baik-baik saja saat ia tinggal.


Wanita itu ceroboh. Gibran selalu dibuat tak tenang setiap detiknya.