
Sandra Willis terlihat datar ketika salah seorang anak buahnya mengabarkan kekacauan dari gudang rahasia cabang Filipina. Ia tahu pasti siapa pelakunya.
Tak lain adalah Gibran. Setelah menghancurkan rumah sakit, memotong tangan Eden, sekarang anak itu berusaha mengusik sumber kuasanya.
"Kamu masih saja memberontak," gumam Sandra.
Tak lama seorang pria masuk dan memberi anggukan segan. "Nyonya, mobil sudah siap. Anda ingin pergi sekarang?"
Sandra berbalik dari menatap jendela. Ia hanya bergumam menjawab pertanyaan tersebut dan lekas menenteng tas yang sebelumnya bertengger di atas meja.
Ia berjalan melewati pria tersebut yang dengan gesit mengikuti langkahnya.
Sandra Willis terlihat anggun berjalan layaknya model. Tubuhnya meliuk memasuki mobil ketika seseorang membukakan pintu.
Kaca mata hitam bertengger di hidung. Ia menoleh menurunkan kaca jendela dan berpesan pada pria yang sedari tadi mengikutinya. "Kamu tahu apa yang harus dilakukan pada Eden. Lakukan secepatnya. Ingat, tanpa jejak."
Pria itu mengangguk patuh. "Baik, Nyonya."
Sandra mengangguk puas. "Jalan!" titahnya pada supir.
Mobil mewah itu pun menggeleser pelan meninggalkan kawasan apartemen super megah, di mana lantai tertinggi merupakan penthouse baru yang ditinggali Sandra selama di Indonesia.
Harley, pria berperawakan bule itu langsung mengeluarkan ponselnya begitu mobil Sandra menghilang dari pandangan.
"Bawa dia ke tempat biasa," ucapnya menelpon seseorang.
Ia menurunkan kembali benda pipih itu dari telinganya begitu selesai. Kemudian berbalik memasuki lobi dan menghilang di balik lift.
Sementara itu, Maria tengah kesulitan memakai bajunya dibantu suster. Ia baru saja usai diseka saat tiba-tiba pintu terbuka menampilkan Gibran. Cepat-cepat lelaki itu menutup pintu begitu tahu Maria tengah berganti pakaian. Pasalnya di luar banyak pengawal yang semuanya merupakan pria.
"Kenapa tidak ketuk dulu? Mengejutkan saja," dumel Maria. Kemudian ia memekik saat tanpa sengaja perawat itu menyenggol tangannya.
"Awh ..." ringis Maria yang tentu saja mengundang kemarahan Gibran.
Perawat itu kontan meminta maaf. "Ma-Maaf, Bu. Saya benar-benar tidak sengaja," ujarnya takut. Sebetulnya ia terkejut karena kedatangan Gibran. Tahu sendiri aura lelaki itu bagaimana.
Tapi Gibran yang tidak punya toleransi lantas memaki si perawat dan mengusirnya dengan kasar. Hingga perawat itu lari tunggang-langgang keluar ruangan.
"Sialan. Dasar tidak becus," desis Gibran kesal.
Ia segera menghampiri Maria dan membantunya memasukkan lengan baju dengan pelan dan penuh kehati-hatian. Ia bahkan takut menyentuh sedikit saja tangan yang digips itu.
"Sakit?" tanya Gibran prihatin.
Maria meringis tanpa suara. Ia melirik pintu yang menelan kepergian suster tadi. Tentu saja perasaannya tak enak. Gibran begitu galak pada siapa pun.
"Sudah kubilang Koko jangan galak-galak."
Gibran melirik tak acuh, lalu kembali fokus mengikat tali penyangga di tangan Maria. "Aku hanya berjanji padamu, bukan orang lain," ujarnya santai.
Hampir saja Maria berdecak. Entah harus bagaimana lagi supaya Gibran bisa lebih ramah pada orang lain. Tidak tahukah pria itu semua orang ketakutan hanya dengan mendengar namanya?
Ini membuat Maria risih. Seakan-akan mereka menganggap suaminya monster tak berperasaan.
Mungkin benar Gibran cukup kejam. Sangat kejam malah. Pria itu menghabisi nyawa orang layaknya menginjak semut. Maria tidak tahu berapa orang yang sebelumnya pernah menjadi korban Gibran.
Pria itu duduk di pinggir ranjang, menyibak poni yang jatuh di kening Maria dan membenarkan letak jepit yang menahan rambut wanita itu. Ia tersenyum melihat dahi mulus sang istri yang terekspos bebas. Tanpa bisa ditahan Gibran melabuhkan kecupan di sana.
Cukup lama hingga ciuman itu turun ke pelipis. Gibran tersenyum mengusapkan ujung hidungnya tepat di sudut mata Maria. Ia kemudian mengecup pipi dan terakhir memagut bibir disertai beberapa sesapan.
Maria tak menolak perlakuan Gibran. Ia balas memagut bibir pria itu sebelum Gibran sendiri yang menjauh.
Gibran tersenyum memberi kecupan terakhir secara kilat. "Segini dulu, takut kebablasan," cetusnya ringan.
Maria mencibir. Gibran pikir siapa yang selama ini selalu nafsuan? Tapi, ia kadang juga begitu, sih.
"Mau makan apa?" tanya lelaki itu lagi.
Maria berpikir sejenak. "Apa, ya? Aku sedang tidak terbayang ingin memakan apa pun."
Hal itu membuat Gibran ikut memutar otak.
"Sop ayam? Sapi? Beef? Salad? Kamu juga bisa makan buah saja kalau tidak terlalu lapar. Yang peting waktu sarapan terisi dengan baik."
"Ya sudah, buah saja," putus Maria.
Gibran tersenyum. Ia beranjak ke meja nakas mengambil beberapa buah dan mengupasnya untuk Maria. Pria itu mengupas apel dengan cepat lihai. Tidak seperti Maria, buah yang paling sering ia kupas sendiri adalah jeruk.
"Apa Koko pernah ikut kelas tata boga?"
"Hm? Kenapa?" Gibran menoleh sekilas.
"Tangan Koko sangat ahli."
Gibran terkekeh seolah perkataan Maria terdengar lucu. "Aku murni lulusan bisnis, Plum. Mengupas hanya satu dari sekian banyak keahlianku, begitu pula dengan memasak. Lagian kalau hanya mengupas semua orang juga bisa, kan?"
Maria mencomot potongan apel yang Gibran jatuhkan di piring, lalu menyuapnya setengah merengut. "Aku hanya bisa mengupas jeruk."
Gibran tersenyum kecil. "Aku tahu," ucapnya tanpa sadar.
"Koko tahu?" Maria bertanya heran.
Sontak Gibran terdiam. Lagi-lagi ia keceplosan di depan Maria. "Ah, aku tahu karena sebelumnya kamu tidak pernah terlihat mengupas buah."
Gibran mengendik tak acuh. Ia mengatur meja overbed dan meletakkan piring berisi macam-macam buah di depan Maria.
"Makanlah." Gibran juga meletakkan segelas susu dan air putih di meja tersebut.
"Koko mau ke mana?"
"Aku keluar sebentar. Nick baru sampai mengantar dokumen."
Gibran bergegas keluar dan menutup pintu terkesan buru-buru. Lelaki itu menghilang dengan cepat.
Tentu saja hal itu membuat Maria mengernyit. "Koko kenapa, sih? Aneh. Kenapa juga dia harus repot-repot turun? Biasanya juga Nick yang selalu mencarinya."
Sesaat Maria bergeming lalu mengangkat bahu tak acuh. Terserah. Gibran itu orang yang sangat sulit dipahami. Memaksa memahaminya hanya akan membuat stress dan banyak pikiran.