
"Tuan, ada tamu."
Harley menoleh menatap anak buahnya yang melapor. "Siapa?"
Pria itu tak menjawab, meski begitu Harley tetap mengikutinya ke ruang tamu. Seketika Harley membungkuk melihat siapa yang datang. Gibran membalik tubuhnya perlahan menatap Harley.
"Tuan Muda," sapa Harley tampak segan.
Gibran tak bersuara atau pun membalas sapaan tersebut. Pria itu seolah bingung hendak berkata apa. Harley yang mengerti lantas memberi isyarat agar Gibran mengikutinya.
Mereka pergi ke sebuah kamar luas yang nampak sudah disterilkan. Ruangan tersebut kosong, hanya ada peti mati yang menjadi pemeran utama.
Pelan-pelan Gibran mendekat dan menyentuh peti berpolet emas tersebut. Ia bersimpuh menggeser lamat penutupnya hingga nampaklah seraut wajah cantik Sandra Willis dengan gaun putih yang sederhana namun elegan.
Wajah yang selalu beraut dingin itu kini tampak damai dan bercahaya. Gibran tak berkata apa-apa saat ia kembali berdiri dan berbalik menatap Harley.
"Kau tidak perlu membawanya ke New York, aku sudah siapkan tempat peristirahatan untuknya," ucap Gibran, datar.
Gibran kemudian berlalu setelah Harley menunduk singkat, pertanda ia setuju dengan pemberian terakhir Gibran untuk sang nyonya.
Pada akhirnya, Sandra Willis dikebumikan di Indonesia. Sebuah perbukitan asri dengan lahan yang lapang di tanah pribadi. Suara burung bersahutan menyambut kedatangannya yang diiringi doa para pendeta katedral.
Angin berhembus mesra membelai kedamaian. Sandra Willis kini mendapat ketenangannya di istana yang dibangun sang putra. Gibran mendesain sendiri pendopo pemakaman sang ibu, termasuk pilar-pilar besar yang dilapisi berlian bergradasi biru. Semuanya tampak berkilau dalam waktu kurang dari satu minggu.
"Ini hadiah terakhirku untukmu. Kamu sudah melindungi keluargaku di penghujung nafasmu. Aku benar-benar berterimakasih terlepas dari semua yang sudah kau lakukan dulu."
Gibran berdiri mematung menatap lurus pusara sang ibu. Ekspresinya tak beriak. Namun tak ada yang tahu sebesar apa gejolak dalam hatinya ketika mengingat kenangan demi kenangan yang sempat terukir baik di benak Gibran.
"Selamat hari ibu, Mom ...!" Gibran kecil berseru sambil merentangkan karton yang sudah digambar dan diwarnainya menggunakan crayon.
Sandra yang sedang memomong El di pangkuannya kontan menoleh. Senyumnya menguar lebar penuh haru. Ia berdiri menghampiri Gibran dan memberi ciuman sayang di kepala pria kecil itu.
"Terima kasih, Sayang."
"Selamat hari ibu," bisik Gibran hampir tak terdengar. Ia menengadah ketika bulir air membayangi matanya.
"Kamu harus kuat. Jangan sekali-kali menangis di depan Kakek, atau dia akan memukulmu nanti, mengerti?"
"Gibran, aku lebih suka nama lahirmu ketimbang Aaron. Tapi kalau kamu mau terlihat keren di antara teman-temanmu, ya pakai saja itu, terserah."
"Kamu sudah besar, untuk apa diantar jemput Mom ke sekolah? Malu! Mulailah bergaul dengan anak-anak bule itu."
"Selamat ulang tahun, semoga kamu semakin tangguh dengan latihan bela dirimu. Samurai ini sebagai hadiah karena kamu sudah menebas penjahat kelamin yang melecehkan Mom kemarin. Kamu hebat."
"Belajarlah sedikit menurunkan nalurimu. Jika kamu ingin dihormati, maka berusahalah untuk menjadi kuat. Meski kesal, tekan emosimu dalam-dalam, jangan sampai amarah menelanmu dalam kehancuran."
Banyak sekali kenangan yang Sandra torehkan padanya. Gibran tak tahu kapan pastinya sang ibu berubah. Yang pasti semua itu juga turut mengubah kehidupan Gibran.
"Selamat beristirahat," ucap Gibran terakhir kali. Ia berbalik meninggalkan pendopo megah itu bersama sejuta kenangan sang ibu.
Bunga poppy yang ditempatkan di batu nisan melambangkan tidur abadi. Bunga poppy juga bermakna penghormatan bagi mereka yang berjuang.
Gibran menghormati Sandra sebagai ibunya, juga pahlawan yang menyelamatkan istri serta anaknya. Sandra Willis adalah wanita tangguh, ia berjuang puluhan tahun untuk meratakan bisnis gelap sang ayah yang menggurita di seluruh negara.
Jika bukan karena wanita itu, mungkin sampai saat ini Gibran masih dibayang-bayangi kewaspadaan terhadap mafia kelas kakap tersebut.
Harley melangkah pelan mendekati pusara sang nyonya. Pemuda itu meletakkan bunga krisan merah yang melambangkan cinta untuk Sandra Willis. Lagi, ia menangis tanpa suara. Kepergian Sandra sungguh menyentak nalurinya sebagai pengawal yang setia menemani wanita itu belasan tahun.
Terlepas dari sikap keras Sandra terhadapnya, Harley menyimpan rasa kagum tersendiri pada wanita itu. Perasaan yang mungkin saja terlarang bagi Sandra, awal mula sang nyonya kerap memukulinya tanpa belas kasih. Harley mengerti, Sandra pasti tahu perasaannya dan ingin ia membuang semua itu dengan cara menyiksanya habis-habisan.
Namun yang tidak Sandra mengerti adalah bagaimana cara hati itu bekerja. Harley tidak bisa memerintah hatinya untuk mencintai atau membenci sembarang orang. Butuh alasan kuat untuk mendasari semua itu.
Dan alasan Harley mencintai Sandra serta tetap setia bekerja meski dihantam berbagai siksaan, karena Sandra orang pertama yang menguar kepedulian, menyelamatkannya dari terpaan badai yang melanda Amerika puluhan tahun lalu.
Wanita itu merelakan tangan halusnya menggali salju yang mengubur Harley. Jika bukan karena Sandra, Harley sudah mati membeku dan takkan hidup sampai sekarang.
"Nyonya, Anda adalah pahlawan sekaligus cinta pertama saya, juga majikan yang akan saya kenang sampai akhir hayat. Semoga Anda tenang di samping Tuhan."
Selepas berziarah, Harley langsung melarikan mobilnya menuju rumah sakit Wiranata yang terletak jauh di pusat kota.
Membawa selembar map coklat ia memasuki ruang rawat Abhimanyu di lantai khusus VVIP. Ia menemukan Abhi yang tengah termenung di kursi roda, menatap lurus ke luar jendela yang menampilkan pemandangan industri metropolitan.
Abhimanyu sudah mendengar tentang kematian Sandra. Ia juga tahu Gibran memberikan fasilitas mewah sebagai tempat peristirahatan ibunya.
Harley mendekat dan berhenti tepat di belakang Abhi. Ia menatap pria yang merupakan mantan suami sang majikan dengan tenang. Kemudian berucap, "Maaf untuk kecelakaan itu."
"Anda boleh membawa kasus ini ke ranah hukum," lanjut Harley.
Abhi tak menjawab, pria itu masih diselimuti bungkam sampai Harley meletakkan map di pangkuannya.
"Nyonya melarang saya memberikan ini, tapi saya rasa Anda perlu tahu."
Setelah itu Harley membungkuk singkat dan meninggalkan Abhi dalam kesendirian.
Hening menaungi ruang rawat Abhi selepas kepergian Harley. Ia melirik map yang baru saja diberikan ajudan Sandra itu lalu membukanya perlahan.
Tak ada yang tahu apa isi map tersebut hingga sejurus kemudian tangisan Abhi pecah memenuhi kesunyian di sekitarnya. Pria itu terisak pilu meremas sejumlah kertas di dalamnya, juga sebuah testpack yang menampilkan garis dua merah yang menandakan bahwa Sandra tengah hamil.
Untuk kedua kalinya Abhi kehilangan calon anak tanpa tahu keberadaan janin tersebut. Kegundahan yang beberapa hari terakhir menyelimuti Abhi kini terjawab sudah. Hal apa yang membuat hati Abhi terasa kosong saat pertama bangun dari koma.
Abhi menunduk menjatuhkan kepalanya di atas tangan. Bahunya bergetar menangisi segala hal yang berturut-turut datang menimpa hidupnya.
"Lagi-lagi kau meninggalkanku dengan anak kita, Sandra," bisik Abhi di sela tangisnya.