His Purpose

His Purpose
91. Cravings



"Tuan ..." Nick terpaku dengan wajah tercengang.


Sementara Gibran, ia menggaruk pelipisnya sambil mendenguskan senyum tak menyangka. "Ternyata pinusnya sebanyak ini?"


"Jangan-jangan dia berniat membuat hutan mini," lanjut Gibran.


Nick meringis, "Lalu bagaimana, Tuan? Apa saya perlu minta tukang untuk mencabut semuanya?"


"Jangan. Cari arsitek untuk melakukan penataan yang lebih teratur. Aku berpikir untuk menjadikannya taman."


"Terus, lapang golf-nya?" Nick masih setengah linglung.


"Di bagian tenggara ada lahan kosong. Pindahkan ke sana," putus Gibran.


Lelaki itu berbalik berniat kembali ke Mansion. Kakinya melenggang santai dengan kedua tangan tenggelam di saku. Meninggalkan Nick yang mengerjap seakan kalimat Gibran barusan merupakan tugas paling berat yang harus ia lakukan.


"Astaga, ini pasti gara-gara bayi, Nyonya bertingkah aneh jadi tukang kebun dadakan. Baru kecebong saja sudah merugikan miliaran rupiah. Bagaimana nanti kalau sudah lahir? Yang jelas mau itu laki-laki atau perempuan, keduanya pasti gemar menghamburkan uang."


"Kokooo ...!!!"


Hap! Gibran hampir terhuyung ke depan saat dengan tiba-tiba Maria berlari dan melompat menaiki punggungnya. Gibran menggeram melirik Maria yang cengengesan seolah tak memiliki salah.


"Maria, kalau jatuh bagaimana?" Raut Gibran nampak tak senang.


Bukan ia tidak mau Maria menaiki punggungnya, tapi gerakan Maria yang terlalu lincah membuat Gibran khawatir terjadi apa-apa dengan perut wanita itu.


"Hehe, aku percaya tubuh Koko kuat, jadi berani lompat."


"Tetap saja jangan seperti ini. Jika aku terkejut aku bisa saja menjatuhkanmu. Dan lagi, benturan tadi sangat tidak baik untuk bayi kita. Mengerti?" tegas Gibran.


"Iya ... Jadi sebenarnya Koko mau atau tidak menggendongku?" sungut Maria kesal.


"Aku bahkan bisa menggendongmu menaiki bukit."


"Aku tidak menyuruh Koko untuk menyombongkan diri." Maria memutar matanya malas.


Gibran menghela nafas. Padahal ia hanya berkata jujur, tapi Maria menganggapnya sombong.


"Kamu mau ke mana?"


Senyum Maria mengembang lebar. "Tidak ke mana-mana, cuma keliling halaman Mansion. Tapi karena Koko melarangku berjalan jauh, akan lebih baik jika Koko menggendongku saja. Hal itu bisa mengurangi jumlah langkah kaki, kan?"


"Lagipula Koko harus tanggung jawab. Karena Koko melarangku bergerak lebih, maka sebagai gantinya aku akan menggunakan Koko sebagai kaki untuk berjalan."


Gibran mengecup kilat bibir Maria. "Anything for you, Baby."


Berbanding terbalik dengan kalimatnya yang terdengar manis, wajah Gibran justru nampak datar seperti biasa, sama sekali tak menunjukkan bahwa ia pria yang romantis. Namun senyum kecil yang terpatri di bibirnya berhasil meluluhlantakkan hati Maria. Juga sorotnya membuat Maria percaya pria itu bersungguh-sungguh.


Maria semakin melingkarkan lengannya di leher Gibran, menumpukan dagu di bahunya yang kekar. "Bukankah kita harus memberitahukan kabar ini pada Papa Abhi dan Papa Rayan? Kakek Roman juga harus tahu, kan?"


Gibran mulai melangkahkan kakinya dengan pelan. Pria itu terdiam cukup lama sebelum kemudian menoleh menatap Maria. Matanya menyorot lembut disertai senyum yang membuat perut Maria terasa geli.


"Jangan dulu, ya? Cukup kita dulu saja yang tahu."


"Kenapa?" tanya Maria aneh.


Gibran tak langsung menjawab. Pria itu kembali menatap ke depan meneruskan langkah. "Nanti saja."


Nanti? Nanti itu kapan?


Nick menggeleng menatap kepergian dua majikannya tersebut. Ia lantas menghela nafas. Jika Maria tahu Gibran hampir menghancurkan hotel di New York, wanita itu pasti akan mengeluarkan bayinya seketika.


"Astaga, jangan sampai Nyonya melihat sisi Tuan yang sangat menyeramkan itu. Bisa-bisa Beliau kabur atau lebih parahnya mati di tempat."


***


"Koko capek?"


"Tidak."


Maria meneliti wajah Gibran sekasama. Padahal mereka sudah berjalan jauh sampai ke lintasan jogging yang entah berapa kilometer jaraknya, tapi Gibran hanya berkeringat sedikit. Mungkinkah karena udara dingin?


Pantas saja Gibran lebih suka olahraga berat yang menguras tenaga, rupanya berjalan seperti ini tak cukup membakar kalori.


Maria menatap kanan kiri yang dipenuhi pepohonan rindang, sangat asri dan sejuk. Suasana teduhnya mampu menentramkan hati siapa pun.


Gibran mengernyit, ia mengikuti arah pandang Maria. "Iya."


"Sudah berbuah!"


"Masih mentah."


"Aku mau!" Maria mengabaikan Gibran.


"Masih mentah, Plum."


"Tapi aku mau. Koko petik, gih ..."


"Ini masih pagi kamu sudah mau makan yang asam?"


Maria menipiskan bibir merasa gereget. Dasar tidak peka. Gibran terlalu polos atau memang tidak tahu?


Astaga, sepertinya Maria harus banyak bersabar mulai sekarang.


***


Nick hampir saja melepaskan tawa melihat raut tuannya yang dipenuhi kerutan. Mulanya ia merasa heran, tapi setelah melihat renceng mangga di tangan Maria barulah ia mengerti.


"Apa Tuan baru saja memanjat pohon?"


Gibran mendelik, "Berani kamu meledekku?"


Nick mengulum bibirnya berusaha bungkam. Keduanya menatap Maria yang kini sibuk berdiskusi dengan koki perihal olahan mangga muda.


"Mengingat Tuan sudah menantikan ini begitu lama, setidaknya Tuan sudah memiliki persiapan yang matang untuk menghadapi wanita hamil, kan?"


Gibran mendengus, "Mana kutahu dia akan seegois ini saat hamil."


Nick meringis. Sepertinya Gibran terlalu larut dalam kenikmatan hingga melupakan berbagai resiko, salah satunya perubahan sikap Maria.


Mungkin Gibran bisa membiarkan Maria merusak lapang golf, tapi Nick tahu betul tuannya itu tidak ahli dalam memanjat pohon.


Pagi berganti siang, Maria seolah tak ingin berhenti menyiksa Gibran. Betapa tidak, tak ada angin tak ada hujan wanita itu meminta menu lunch yang tak biasa.


"Koko, aku mau Soto Betawi."


"Oke. Aku akan minta Koki membuatnya."


"Tapi aku tidak mau buatan Koki."


Gibran mengalihkan perhatiannya dari tablet, melepas kacamata hingga sepenuhnya menatap Maria. "Lantas?"


Maria melempar cengiran yang entah kenapa membuat Gibran merasa waspada.


"Aku mau Soto Betawi yang ada di nikahan orang," celetuknya bagai petir di siang bolong.


"What?" Gibran berhasil dibuat speechless.


Pria itu berkedip bingung. "Maksud kamu?"


Maria berdecak keras, "Koko tidak dengar? Aku maunya Soto yang ada di nikahan orang!"


"Ke-kenapa begitu?" Tanpa sadar Gibran tergagap.


"Ya aku maunya begitu."


Lagi-lagi Maria membuatnya berpikir keras. Pasalnya mereka tinggal di daerah minim penduduk. Tidak ada acara besar apalagi pernikahan. Kalaupun ada, mustahil rasanya menemukan Soto Betawi yang dimaksud Maria.


Gibran berpikir semuanya akan selesai saat ia diam-diam meminta Koki membuatkannya, tanpa sepengetahuan Maria tentu saja. Tapi nyatanya tidak. Entah instingnya sekuat apa sampai-sampai Maria langsung menolak mentah-mentah soto tersebut.


"Plum, mereka sama-sama soto. Bahkan yang ini lebih enak dan terjamin bahan-bahannya."


"Tapi aku maunya soto di nikahan orang," rengut Maria keras kepala.


"Astaga ..." Gibran menyugar rambutnya ke belakang. Seumur hidup baru kali ini Gibran merasa ingin mengeluh habis-habisan.


Tak ada pilihan lain. Ia menelpon anak buahnya dan meminta mereka mendata satu persatu acara pernikahan di Jakarta. Dan yang paling penting menu kateringnya. Gibran akan membayar berapa pun bagi siapa saja yang menyediakan Soto Betawi.


Kalau masih tidak ada juga, Gibran akan menggelar hajatan mendadak untuk memenuhi ngidam aneh Maria. Ia ingin masalah ini cepat terselesaikan karena demi apa pun Gibran ingin menerkam Maria saat ini juga.