
"Uncle Haly!"
Harley yang sedang bermain golf kontan menghentikan ayunan tongkatnya saat mendengar seruan Alisandra.
Lelaki 35 tahun itu menoleh. Alisandra berlari dari beranda samping menghampirinya, masih dengan seragam sekolah dasar.
"Haly!" serunya lagi ketika sampai di hadapan Harley.
"Harley," timpal Harley, berusaha membenarkan panggilan Alisandra yang sejak dulu tak pernah berubah. Padahal gadis itu sudah lancar mengeja setiap kosa kata.
Alisandra melempar cengiran lebar tanpa sedikit pun raut bersalah. Wajahnya cerah dengan gigi gingsul yang menambah manis setiap kali ia tersenyum. "Haly, antar aku ke dokter."
Harley menyerah. Ia tak berusaha lagi membuat Alisandra memanggilnya dengan benar. Alih-alih begitu, ia mendadak cemas. "Ada apa? Apa Nona sakit?"
Sandra tampak baik-baik saja. Namun, gadis itu tiba-tiba menyentuh dua buah dadanya yang masih datar dengan kedua tangan. "Entahlah, aku merasa payu-daraku sangat sakit. Rasanya seperti ada semut yang menggigit saraf-sarafku," keluhnya.
Sesaat Harley terpaku pada tangan Sandra juga dada gadis itu. Wajah Harley berubah serius ketika bertanya. "Nona yakin?"
"Menurutmu aku berbohong?" sentak Sandra kesal. Ia mulai menggasak mata dengan wajah merengut seperti hendak menangis.
Hal tersebut kontan membuat Harley jadi kelabakan. "Bukan begitu, saya hanya memastikan saja. Ya sudah, saya akan antar Nona menemui dokter keluarga," putusnya sembari menyimpan tongkat golf yang sebelumnya ia gunakan ke tempat semula.
Tak pelak Harley juga merasa khawatir. Ia takut itu adalah sesuatu yang serius. Misalnya, tumor atau kanker yang menjangkiti anak-anak.
Berhubung Tuan dan Nyonya-nya sedang tidak ada, Harley pun pergi berdua saja dengan Alisandra.
Gibran tengah melakukan perjalanan bisnis bersama Nick dan adiknya, Gabriel. Sementara Maria sedang ada acara amal di luar kota. Sejak anak kedua Maria lahir, wanita itu memang aktif mengikuti kegiatan sosial. Dan seperti biasa Harley ditugaskan menjaga anak mereka selama keduanya pergi.
Kurang dari setengah jam, mereka tiba di rumah sakit Wiranata yang beberapa tahun lalu dibangun sebagai cabang di daerah tersebut. Harley langsung membawa Alisandra ke ruangan Dokter Moren, dokter pribadi keluarga Gibran setelah dokter sebelumnya yaitu Dokter Harla meninggal.
Begitu sampai, mereka disambut senyum hangat penuh keramahan dokter Moren. Binar keibuannya sama persis seperti Dokter Harla, hal yang membuat Alisandra nyaman dan betah berkonsultasi dengannya.
"Halo, Alisandra. Apa kabar?" sapanya terdengar ramah dan menyenangkan.
Moren mempersilakan keduanya masuk, sementara ia kembali duduk di kursi kebesarannya. Harley menarik kursi di depan meja dokter itu untuk Sandra, kemudian ia pun turut melesakkan diri di sampingnya.
"How are you?" tanya Moren sekali lagi. Ia melipat tangan di atas meja sambil menatap penuh Alisandra dan Harley.
Sandra sedikit meringis, melirik sejenak pada Harley yang turut memperhatikan. "I'm fine. Hanya saja ... dadaku terasa sakit."
Punggung Dokter Moren menegak. Wajah paruh bayanya kini memasang raut serius untuk bertanya. "Sakit dada?" Ia terlihat panik.
Dokter Moren pun berdiri dan berjalan memutari meja hingga sampai di hadapan Sandra. "Bagaimana detak jantungmu?" Ia mulai bersiap memeriksa dada Alisandra menggunakan stetoskop. "Apa nafasmu sesak?"
Alisandra menahan tangan wanita itu seraya berkata polos. "Itu ... maksudku ini." Jari kecilnya menunjuk dua buah dada di balik seragam. "Payu-dara."
Dokter Moren mematung sesaat, ia berkedip pelan. "Oh ..."
"Payu-dara, ya?" ringisnya setengah bergumam. "Ya sudah, kamu naik ke sini dulu, ya." Ia berbalik membuka gorden yang menjadi pembatas ranjang pasien di sana.
Alisandra dengan kaki mungilnya melangkah menuruti permintaan tersebut. Begitu pula Harley setia mengikuti dan membantu gadis belia itu menaiki ranjang pasien yang tinggi.
Di umur sebelas tahun, Alisandra terbilang memiliki tumbuh kembang sedikit lambat. Ia masih sangat pendek jika dibandingkan teman-temannya. Namun justru itu yang menurut Harley sangat menggemaskan.
Tubuh Alisandra yang berisi membuatnya terkesan bantat. Entah gadis itu menuruni gen siapa. Mungkin saja mommy nya, Maria juga pendek meski sejauh yang Harley lihat wanita itu langsing, Harley tidak tahu versi kecilnya bagaimana.
Dokter Moren mulai melakukan beberapa pengecekan. Harley memperhatikan itu dengan seksama. Ia harus tahu detail keadaan sang nona muda karena itu satu dari sekian kewajibannya yang ditugaskan menjaga Sandra.
Harley menoleh. "Harus ... dibuka?" Entah kenapa ia menanyakan hal itu.
Sementara Alisandra terlihat santai dan membiarkan Dokter Moren membuka satu persatu kencingnya.
Dokter Moren tertawa. "Tentu saja. Kalau tidak dibuka, bagaimana cara saya memeriksanya?"
"Oh ... Oke, baiklah." Harley membuang muka begitu Moren menyibak seragam sekolah Alisandra.
Harley juga tidak mengerti kenapa ia tiba-tiba merasa aneh. Padahal Alisandra hanya bocah kecil yang bahkan belum memiliki bentuk payu-dara. Tapi, mengapa wajah Harley harus sampai sepanas ini.
Sesekali Harley berdehem menenangkan ritme jantungnya yang meningkat.
"Nona tidak perlu khawatir, ini hanya efek yang dirasakan saat payu-dara seseorang hendak tumbuh," ucap Dokter Moren.
Alisandra berkedip penuh minat. "Benarkah? Jadi ini bukan penyakit mematikan?"
Moren tersenyum sembari menggeleng. "Bukan, Nona."
Tiba-tiba Alisandra bersorak. "Yeeeyy ... akhirnya buah dadaku akan membesar! Aku tidak sabar menantikan akan sebesar apa punyaku nanti. Apa akan sebesar milik Mommy?"
Harley sedikit membelalak mendengar itu. Ia semakin tak kuasa menahan tenggorokannya yang mendadak terasa kering.
Tanpa diduga tiba-tiba Alisandra menyeletuk. "Uncle Haly, kenapa wajahmu sangat merah. Mirip b a b i rebus."
Harley sampai terbatuk mendengar penuturan polos si barbie menggemaskan itu. Sementara Moren langsung tertawa dan mengejek Harley.
"Pengawalmu ini sudah lama tidak punya pacar. Iya, kan?" Moren mengerling pada Harley.
Apa-apaan dokter tua itu?
Berbeda dengan Alisandra yang berkedip polos. "Benarkah? Lalu, apa hubungannya dengan payu-daraku yang mau tumbuh?"
Moren maupun Harley tak menjawab. Dokter itu malah tersenyum penuh makna sambil mengancingkan kembali seragam sekolahnya.
"Jangan dipikirkan. Pikirkan saja dietmu, Princess. Jangan sampai tubuhmu semakin melebar dan kelebihan berat badan. Bukannya memiliki tubuh seksi saat dewasa adalah impianmu?"
Alisandra merengut. "Ini karena Mommy dan Daddy tak berhenti memberiku makan."
"Kamu memang tidak boleh berhenti makan, Sayang. Tetaplah makan, tapi hindari junkfood. Mengerti?"
Moren tahu benar Alisandra senang sekali dengan makanan-makanan instan yang dijual di pasaran. Anak itu terlalu dimanja rupanya.
"Oke. Uncle Haly, kau harus membantuku diet kali ini," celetuk Sandra.
"Apa? Ke-Kenapa saya, Nona?"
Suara gugup Harley mengundang kerutan di dahi Alisandra. Pun Moren lagi-lagi tak bisa menahan tawa seraya melempar pandangan jail yang hanya dimengerti orang dewasa.
Mereka tidak tahu betapa Harley juga kebingungan terhadap reaksinya sendiri. Sebagai seorang pria yang pernah hidup di negara yang bersifat liberal, tentu Harley memiliki banyak pengalaman mengenai wanita.
Ia sudah merasakan semua tipe wanita. Namun, ia tidak tahu apa anak yang bahkan belum memasuki masa pubertas memiliki daya tarik sek-sual juga.
Yang pasti, sejak saat itu Harley selalu mengamati pertumbuhan buah dada si kecil Alisandra.
Sial. Beberapa tahun Harley melakukan hal tersebut akhirnya ia mendapati fakta bahwa Alisandra memang tumbuh menjadi gadis yang panas.