His Purpose

His Purpose
131. Why Always Me?



Suara teriakan terdengar tak lama setelah Gibran keluar sambil memakai kembali sarung tangannya. Sosoknya terlihat kelam di bawah langit malam.


Disusul tiga jeritan lain, suasana berangsur sepi dan lengang. Anak buahnya pasti sudah selesai menebas satu persatu lengan pegawai rumah sakit itu. Sebelumnya Gibran melakukan hal yang sama terhadap orang kepercayaan Sandra. Ia sendiri yang memotong tangan pria itu dengan samurai.


Gibran menyeringai mengamati flashdisk di tangannya. "Tunggu saja, aku akan membuatmu kehilangan muka di mata dunia," ucapnya seraya memasukkan benda itu ke dalam saku.


Gibran lantas menaiki motor besarnya, memasang helm sebelum kemudian melaju membelah keheningan lalu lintas.


Sesampainya di rumah sakit ia langsung memberikan helm, jaket dan sarung tangan itu pada pria yang sedari tadi menunggu di lobi.


"Ada yang mencurigakan?"


"Aman, Tuan," sahut pria itu sembari menerima barang-barang yang diulurkan Gibran padanya.


"Oke, pergilah," ucap Gibran sambil lalu, memasuki pintu ganda rumah sakit.


Pria itu menunduk segan, lalu pergi menaiki motornya sesuai perintah Gibran.


Gibran menaiki lift untuk kembali ke lantai di mana Maria di rawat. Ia berjalan dengan raut santai seolah sebelumnya tak ada yang terjadi.


Empat bodyguard yang setia berjaga di sana langsung membungkuk begitu mendapati Gibran sudah kembali.


"Ada yang masuk selama aku pergi?"


"Tidak ada, Tuan."


"Bagus."


Gibran membuka pintu ruang rawat Maria lalu menutupnya pelan. Tujuannya tak ingin membangunkan Maria, tapi suara lirih di belakangnya berhasil membuat Gibran mematung sesaat.


"Koko dari mana?"


Gibran terdiam, sedetik kemudian ia berbalik dan berjalan mendekat ke arah ranjang.


"Dari luar. Sejak kapan bangun?"


"Belum lama. Mungkin sekitar sepuluh menit yang lalu," lirih Maria seraya melirik jam.


"Oh." Gibran mengangguk, mengerti sekaligus lega. "Kenapa bangun?" Ia menempatkan bokongnya di samping Maria, mengambil tangan kiri wanita itu dan mengusapnya pelan tanpa sedikit pun menyentuh infus. Sementara matanya menatap Maria menunggu.


"Lapar ..." jawab wanita itu.


Gibran tersenyum. Ia bersyukur meski sedang sakit nafsu makan Maria tak berubah. Apalagi sejak hamil Maria sering sekali bangun malam.


"Mau makan apa?"


Sesaat Maria terdiam seperti ragu. "Maunya sih dimsum, tapi ... sudah semalam ini pasti tidak ada yang jual."


Keluhan Maria memang masuk akal. Tapi Gibran tentu tak ingin Maria gagal mendapatkan keinginannya.


"Aku akan coba cari," cetus Gibran.


Maria berkerut menatap Gibran tak yakin. "Cari di mana?"


"Di mana saja. Tidak ada kata mustahil sebelum berusaha, kan? Kalau begitu kamu tunggu sebentar, aku keluar dulu." Gibran kembali beranjak lalu mengecup keningnya.


Maria tak menahan kepergian lelaki itu meski ia sendiri sangsi Gibran akan mendapatkan apa yang dia mau. Akan tetapi Maria lupa bahwa Gibran adalah pria paling tak bisa ditebak, ia mampu melakukan hal tersulit sekalipun.


Terbukti dari tiga puluh menit kemudian pria itu kembali membawa satu kantung plastik besar berisi sejumlah kotak makan. Adalah dimsum yang Maria minta di dalamnya.


"Banyak sekali. Koko dapat ini dari mana?" Maria mendongak penasaran.


Di mana ada kedai dimsum yang masih buka jam 2 malam?


Dengan santai dan cenderung polos Gibran menjawab. "Karena tidak ada yang buka satu pun, anak buahku menyatroni rumah salah satu pemilik kedai."


Maria menganga. "Apa?"


Gibran mengangkat bahu tak acuh. "Yah, tidak begitu mengganggu, kok. Mereka ada stok untuk besok, jadi bisa disiapkan dengan cepat."


Entah Maria harus merasa lucu atau sedih karena tindakan semena-mena Gibran. Di sisi lain ia senang Gibran mau melakukan apa pun demi dirinya, tapi Maria juga merasa tidak enak pada orang-orang yang terdampak. Dalam kasus ini tentu saja si pemilik kedai dimsum.


"Tentu saja. Aku bayar sepuluh juta untuk itu," cetus Gibran tiba-tiba.


Maria mendongak cepat. Gibran tengah duduk di pinggir ranjang berhadapan dengannya. "Berapa?"


"Sepuluh juta ... entahlah, aku tidak ingat lebihnya berapa." Gibran terlihat santai sekali.


Maria menunduk menatap lima kotak dimsum dengan berbagai isian yang berbeda. Mulai dari daging, sayur, hingga keju dan beberapa rasa lain yang tak bisa Maria sebutkan.


Sepuluh juta, katanya? Ya ampun, dia beli laptop atau makanan?


Kalau belinya di resto bintang 10 Maria bisa memaklumi. Tapi ini hanya kedai menengah, kan?


Maria berdehem enggan menanggapi lebih. Gibran dan kebiasannya menghamburkan uang tak bisa ia ubah. Mungkin itu wataknya sejak kecil.


Maria tak membantah ketika Gibran mengambil alih sumpit dari tangan Maria. Satu hal yang Maria suka dari Gibran, pria itu peka terhadap situasi.


Seperti sekarang, ia bisa paham kondisi Maria yang tak memungkinkan menggunakan sumpit dengan tangan kiri. Sebenarnya Maria bisa makan tanpa alat, tapi Gibran langsung melotot saat melihatnya hendak melakukan itu.


"Tangan kamu nanti kotor. Kamu juga lagi pakai infus."


Sejak kapan pakai infus jadi tidak bisa makan?


"A," titah Gibran yang sudah mencocolkan dimsum pada saus, lalu mengulurkannya pada Maria.


Maria melahap dimsum itu dengan senang hati. Ia mengangguk-angguk merasakan kenyal dan gurih di mulutnya. "Enak."


Iya lah. Dimsum sepuluh juta namanya.


Gibran tersenyum hangat. Ia mengulurkan satu demi satu yang tanpa sadar Maria habiskan. Tahu-tahu tinggal sisa satu kotak.


"Ini buat Koko," cetus Maria.


Gibran mengangkat alis. "Sudah kenyang?"


"Huum." Maria bergumam dengan mulut penuh.


Gibran mengangguk meletakkan semua wadah kosong itu ke meja. Tapi ia tak memakan sisa dimsum yang Maria maksud.


"Kok, tidak dimakan?"


Gibran tersenyum. "Nanti, Plum. Kamu minum dulu."


Pria itu mengulurkan gelas berisi air putih pada Maria, yang langsung diteguk sang istri hingga habis.


Tiba-tiba Gibran tertawa mencubit pipi Maria. "Lama-lama kamu jadi mirip panda, ya."


"Ya?"


"Makan dan tidur terus. Perut kamu juga membesar," ucap Gibran menambahkan.


Lain dengan Gibran yang terlihat senang, Maria justru merasa tersinggung dengan ucapan lelaki itu.


"Maksud Koko aku gendut?"


Sontak Gibran menyadari kesalahannya. Ia langsung bungkam dan kebingungan. Terlebih ekspresi Maria kini merengut tajam dengan hidung kembang kempis seperti hendak menangis.


"Bu-bukan, maksudku kamu lucu," desis Gibran serba salah.


"Ah, aku suka wanita berisi. Dan aku senang kamu yang seperti ini."


Niat hati ingin menghibur, tapi Maria malah terisak. "Kata orang, omongan pria tak bisa dipegang. Hiks, dan aku merasa akhir-akhir ini Koko jadi sering gombal."


"Jangan-jangan selama ini banyak wanita yang menjadi korban. Jujur saja, sebelum menikah berapa banyak wanita yang berhasil Koko tiduri?"


Pertayaan tak terduga itu membuat Gibran tercengang dalam hati. Ia sampai bengong saking tidak percayanya Maria bisa menuduhnya begitu. Kenapa pembicaraan ini jadi tidak nyambung?


Dan, kenapa selalu Gibran yang terlihat salah?


"Maria, kamu serius bertanya itu padaku?"