His Purpose

His Purpose
61. Meet After a Long Time



Abhimanyu menatap dingin perempuan di hadapannya. Tubuhnya tegap menduduki single sofa, dengan kedua tangan bertumpu di lututnya yang menyilang. Elegan dan berkarisma. Pesona pria baya tersebut seolah enggan meninggalkan usianya yang tak lagi muda.


"Kau tak banyak berubah. Masih setampan yang terakhir kuingat." Sandra tersenyum miring.


"Tapi ... aku tidak tahu apa kau masih seperkasa dulu di atas ranjang," lanjutnya dengan suara setengah berbisik.


"Apa tujuanmu?" Abhimanyu tak menghiraukan kalimat provokatif itu.


Ia tak goyah sekalipun di hadapannya adalah Sandra, sang mantan istri.


"Tidak sabaran seperti biasa," dengus Sandra. "Baiklah. Aku tahu kau tidak suka membuang-buang waktu."


Raut Sandra perlahan berubah kaku, "Kembalikan puteraku," ucapnya rendah namun tajam.


Hening beberapa lama menyelimuti mereka. Abhimanyu maupun Sandra sama-sama terlihat kuat dengan auranya masing-masing. Sandra bersidekap menatap lurus Abhimanyu, pun Abhimanyu yang membalasnya dengan sorot serupa.


"Apa?"


"Jangan berlagak tidak tahu. Gibran menghilang dari New York, itu pasti karena ulahmu dan Tua Bangka sialan itu."


Abhimanyu tahu yang Sandra maksud Tua Bangka adalah Romanjaya, ayahnya. Dengusan kecil meluncur dari hidungnya. "Apa kau sadar apa yang kau katakan?"


Abhi mengunci netra Sandra penuh peringatan. "Mulutmu masih sebusuk dulu, Sandra."


Sudut bibir Sandra berkedut remeh, "Busuk, tapi akulah yang mengambil perjakamu untuk pertama kali. Ingat itu."


"Omong kosong. Apa maumu?"


"Mauku? Sudah kubilang aku mau puteraku kembali."


Abhimanyu mendenguskan tawa, ekspresinya terlihat sinis ketika memalingkan muka. "Apa yang terjadi? Di mana pasukan terbaik itu hingga seorang Sandra Willis harus repot-repot mencariku untuk menemukan putranya?"


"Dia putramu juga," timpal Sandra tak kalah datar.


Abhimanyu kembali menatap Sandra. "Putraku?" Sudut bibirnya terangkat miring, "Tapi aku tidak pernah barang sekali pun menemuinya selama 25 tahun ini."


Hening. Netra mereka saling bertemu dan terpaku sesaat. Keduanya nampak memiliki ego yang sama tinggi.


Sandra mendengus kecil mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Kau sudah tahu resikonya sejak awal," ucapnya dingin.


"Kalian mencekalnya."


"Kami menjaganya," timpal Sandra tak ingin kalah.


"Menjaga? Apa yang ingin kamu jaga? Lebih tepatnya kamu sengaja menghalangi pertemuan kami."


Sandra tak bicara lagi.


"Gabriel juga menghilang," pancing Abhimanyu.


Namun yang ia dapat justru keheningan. Sandra terlihat tak peduli, wanita itu justru bangkit meraih tas tangannya di atas meja, lalu berdiri seraya menatap Abhimanyu.


"Meski kamu tidak mengatakan keberadaan Gibran di mana, aku akan tetap menemukannya dengan caraku sendiri."


Kalimat itu adalah ucapan terakhirnya sebelum melenggang pergi. Abhimanyu menatap datar meja di hadapannya, kemudian ia bersuara, menghentikan langkah Sandra yang baru beberapa meter melewatinya.


"Aku tidak tahu di mana dia. Kenapa kau harus bertanya padaku yang bahkan tak pernah bertemu dengannya?" Suara Abhimanyu terdengar tanpa riak.


Sandra diam mendengarkan.


"Gibran pergi pasti karena keinginannya sendiri. Tidak bisakah kamu membiarkannya?"


Hening sesaat sebelum Sandra menjawab, "Dia akan bertunangan."


Setelah itu Sandra benar-benar pergi meninggalkan Cafe, menyisakan Abhimanyu yang bergeming tanpa ekspresi.


Jo, sang asisten langsung masuk begitu melihat kepergian Sandra. Lelaki pertengahan 40 tahun itu menghampiri Abhimanyu yang masih duduk di mejanya.


Ia tak melakukan apa pun, hanya menunggu Abhimanyu yang nampak larut dalam pikirannya. Tak lama pria tersebut bangkit, merapikan setelan jasnya lalu mengajak Jo keluar.


Jo membukakan pintu penumpang belakang untuk Abhimanyu, sementara dia berputar membuka pintu sebelah sopir. Sesaat matanya mengamati Abhi dari kaca spion dalam mobil, kemudian ia bertanya, "Apa Anda ingin langsung ke Bandara?"


"Baik, Tuan." Jo mengangguk patuh.


Saat ini Abhimanyu memang tengah berada di Chicago untuk urusan kerja. Namun tanpa diduga ia justru bertemu dengan Sandra, mantan istrinya setelah sekian lama.


***


"Nyonya, sampai kapan Anda akan menggerutu di sana?"


Laura yang sedari tadi menemani Maria di perpustakaan lama-lama merasa jengah karena sejak tadi wanita itu terus bergumul dengan berbagai kata makian.


Entah berapa umpatan yang Maria lontarkan untuk Gibran. Sang nyonya nampak begitu kesal pada suaminya. Laura tidak tahu kenapa suasana hati Maria mudah sekali berubah.


Kemarin-kemarin wanita itu nampak berbunga-bunga layaknya orang jatuh cinta. Lalu hari-hari berikutnya rautnya berubah penuh rengutan.


"Sampai hari ini aku masih kesal. Bisa-bisanya dia membahas Gabriel setelah malamnya kami bercinta hebat. Ooh ... astaga, mengesalkan sekali," gumam Maria.


"Dasar pria kaku. Bisanya hanya merusak suasana."


"Masa dia bertanya apa aku sudah melupakan Gabriel atau belum. Apa dia tidak berpikir kenapa aku mau-mau saja disentuh olehnya?"


Maria terus menggerutu, dan masih dengan kalimat sama yang beberapa hari ini Laura dengar. Ia sampai menghafal keseluruhannya saking bosan.


"Menurut saya itu wajar, Nyonya." Laura tiba-tiba menyahut.


Maria mendelik menatap gadis itu, "Apa?"


"Wajar saja Tuan bertanya seperti itu pada Nyonya, mengingat sepak terjang Nyonya bersama adiknya tak bisa dianggap biasa."


"Apalagi Nyonya dan Tuan Muda kedua cukup lama berhubungan, menurut saya wajar jika Tuan khawatir Nyonya belum melupakannya."


"Khawatir?" Maria mendengus dengan mulut menganga, "Hey, Laura. Jika saja kau melihat bagaimana ekspresinya saat itu, kau pasti juga akan berpikir bahwa dia memang menyebalkan."


"Khawatir dari mananya? Dia bahkan mengancamku," lanjut Maria bergumam.


Bibirnya melengkung ke bawah, ia masih ingat betapa menakutkannya Gibran saat mengklaim Maria sebagai miliknya.


Maria senang, tapi tidak bisakah pria itu mengatakannya dengan lebih lembut dan romantis? Maria merasa menjadi permen yang diklaim anak kecil.


Laura memutar matanya malas, "Nyonya lebih dewasa dan berpengalaman dari saya. Tapi kenapa hal seperti ini saja Anda tidak mengerti?"


"Nyonya, sebelum Nyonya menganggap Tuan menyebalkan, lebih baik Anda fahami dulu bagaimana sifat dan watak Beliau."


"Tuan itu bukan orang yang romantis, Beliau juga pria yang memiliki ego tinggi, pendiam, tak banyak bicara, dan cenderung lebih mengandalkan aksi daripada kata-kata."


"Dengan semua karakter dan kepribadian Beliau yang seperti itu, Anda jangan berharap sesuatu yang muluk-muluk. Mungkin itu cara Tuan mengekspresikan rasa cintanya."


Maria berkedip, "Apa Koko mencintaiku?" tanyanya lebih pada diri sendiri.


Mereka sudah dua kali menghabiskan malam bersama, tapi selama itu Gibran bahkan tak mengucapkan apa pun. Pria itu hanya mengklaim Maria sebagai miliknya.


Tapi hal tersebut bersifat ekstensif. Memiliki bukan berarti mencintai. Maria memang milik Gibran karena ia istrinya. Begitu pula Gibran yang meminta Maria memiliki pria itu sebagai suami.


Memikirkan itu membuat Maria kembali murung. Sebenarnya, apa arti Maria di mata Gibran?


Laura menghela nafas, ia berdecak samar dan memilih melanjutkan baca novel. Lama-lama kepalanya pengar jika terus memberi nasihat namun tak dianggap. Maria seakan menjelma menjadi wanita bodoh setiap kali dihadapkan dengan Gibran.


Tok, tok, tok.


Suara ketukan berhasil menarik keduanya dari lamunan. Maria maupun Laura sama-sama menoleh ke arah pintu. Nick berdiri di sana dengan senyum dan gestur sopan.


"Nyonya, Tuan memanggil Anda," ucapnya pada Maria.


Maria berkerut, "Ke-Kenapa dia memanggilku?"


Laura menyikut pinggang Maria hingga wanita itu meringis kecil dan melotot tak senang. Namun Laura tak peduli, ia mengisyaratkan untuk Maria lekas bangkit mengikuti Nick.


"Ayolah, Nyonya ... berhenti mengulur waktu. Jika Tuan tidak mampu mengungkapkan cintanya, maka Nyonya yang harus menghujaninya dengan cinta," bisik Laura di telinga Maria.