
Maria terpaku dengan mulut sedikit terbuka. Matanya berkedip menatap tak percaya atas apa yang dilihatnya di depan.
Laura, Jill, dan Dean berdiri di belakang, menunggu reaksi Maria yang sejak sepuluh menit yang lalu hanya diam di samping mobil mewah pemberian Gibran.
"Really ...?" lirihnya masih dengan tubuh mematung.
Laura mendekat perlahan, ia mencondongkan tubuh untuk berbisik pada Maria. "Nyonya, sampai kapan kita akan berdiri di sini? Orang-orang sudah memperhatikan kita."
Laura tidak salah. Sejak sampai dan memarkir mobil di pinggir jalan, mereka memang sudah jadi pusat perhatian. Berpasang-pasang mata melirik terang-terangan. Raut penasaran membayangi dan sebagian besar mengarah ke mobil.
Terang saja mobil merah mengkilap itu begitu mencolok. Sangat kontras dengan situasi lingkungan yang Maria pijaki saat ini. Maria mendenguskan nafas dari mulutnya yang terbuka. Kepalanya mengedar sebentar sebelum kemudian ia memijat kening yang mendadak terasa pening.
"Apa kalian bercanda? Kenapa membawaku ke tempat seperti ini?"
Maria pikir ia akan menemui mall besar dengan toko-toko brand terkenal. Tapi alih-alih Hermes dan Chanel, Maria malah terdampar di pasar tradisional yang hanya menjual buah dan sayur.
Astaga. Apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Tidak mungkin Mansion Gibran kekurangan bahan makanan, kan?
Dean menunduk, lantas membuka suara. "Maaf, Nyonya. Kediaman Anda terlalu jauh dari kota, sementara Tuan hanya mengizinkan kita pergi tak lebih dari 10 kilometer."
Lagi-lagi Maria mendengus tak percaya. "Yang benar saja!" Kakinya menghentak kesal.
"Dari lobi ke gerbang saja jaraknya sudah hampir 3 kilo. Lalu setelah itu kita melewati hutan, perkebunan atau apalah itu, jaraknya tak beda jauh ... 2 kilo," melas Maria. "Aku bahkan belum menemukan pemukiman penduduk. Lalu sekarang sudah harus berhenti di sini? Di pasar ini?"
"Oh astaga, kepalaku serasa ingin pecah."
"Apa yang bisa kulakukan di sini? Apa pria gila itu tidak berpikir sama sekali? Jangan-jangan dia tidak ikhlas memberi izin."
"Menyebalkan." Maria terus menggerutu dengan apa yang dia alami.
Nafasnya berkali-kali terhela panjang. Dengan kesal ia membuka mantel dan membantingnya ke kap mobil. Seketika Laura mengambil mantel itu dan berusaha memakaikan kembali pada Maria.
"Nyonya, jangan buka mantelnya, udara begitu dingin. Bukankah tubuh Nyonya sensitif dengan suhu rendah?"
Maria menepis tangan Laura, tak menghiraukan kekhawatiran gadis tersebut. Demi apa, ia ingin menangis saat ini juga. Gibran benar-benar sialan. Bisa-bisanya pria itu mempermainkannya.
"Sekarang aku yakin tengah tinggal di pedalaman," gumam Maria.
"Katakan, di mana ini? Sumatera? Kalimantan? Maluku? Bali? Papua? Atau pesisir pulau Jawa?"
"Ah ... itu tidak mungkin. Kalimantan dan Sumatera lebih masuk akal. Tidak bisakah kalian katakan di mana kita sekarang?"
Melihat ketiganya yang terdiam, Maria pun mendengus sembari mencibir. "Kalian benar-benar pengikut Gibran."
Tak lama seorang kakek tiba-tiba menabrak Maria dengan gerobaknya, membuat wanita itu terdorong disertai pekikan Laura yang serta-merta menahan tubuhnya bersama Dean dan juga Jill.
Maria menganga terkejut. Kesialan apa lagi sekarang?
Namun dibanding itu, buah-buahan yang dibawa kakek tadi berjatuhan di tanah. Terang saja si kakek langsung berdiri menghadap Maria, tangannya menunjuk wanita itu dengan berani.
"Dasar orang kaya tak berguna! Kenapa kau harus berdiri menghalangi jalan seperti itu? Lihat, buah-buahku rusak dan berjatuhan," tuturnya memarahi Maria.
Maria semakin terperangah. Ia pun menegakkan tubuh yang sebelumnya bertumpu pada Laura maupun Dean.
Ia menunjuk dirinya sendiri, "Aku? Kenapa aku yang disalahkan? Kakek yang mendorongnya terlalu pinggir."
Laura meringis, ia pun berbisik gemas di telinga Maria. "Nyonya memang menghalangi jalan tadi."
"Dasar anak muda tak tahu aturan. Keberadaanmu dan mobilmu saja sudah mengganggu aktivitas kami. Enyahlah, orang kaya memang merepotkan," dumel si kakek sambil memunguti buahnya.
Maria merengut setengah mendengus. Ia berbalik memutuskan kembali ke mobil. Namun kakinya berhenti tepat saat ia membuka pintu.
Maria menoleh lagi ke belakang, melihat si kakek membereskan buah-buahannya yang berserakan.
"Hey, kalian. Bantu, gih," titahnya pada Jill dan Dean yang langsung diangguki keduanya.
"Laura, borong semua dagangannya."
Laura berkedip, "Apa? Tapi ..."
"Aku tahu Koko membekalimu uang cash. Gunakan itu sekarang."
"Tapi buah di rumah masih sangat banyak, Nyonya."
"Aku tidak peduli. Bagikan saja pada setiap orang yang lewat di depan matamu."
Maria menutup pintu mobilnya meninggalkan Laura yang kini menggaruk kepala. Ia menoleh pada Jill dan Dean yang sibuk memunguti buah bersama kakek tersebut.
Laura tak bisa membantah, bukan? Titah Maria adalah kewajiban baginya.
Tak butuh waktu lama bagasi mobil yang ditumpangi Jill dan Dean disesaki sekarung besar berisi buah. Sementara Laura masuk di kursi penumpang mobil Maria dengan nafas tak beraturan juga keringat yang bercucuran.
Maria mengernyit menatap itu. Melihat Laura yang kegerahan ia malah ikutan gerah sendiri.
"Sudah?"
Laura mengangguk, "Sudah, Nyonya. Astaga, si kakek tidak berterimakasih sama sekali meski dagangannya telah diborong."
Maria tak menanggapi gerutuan tersebut, ia meminta Laura segera memasang sabuk pengaman seraya mulai menjalankan mobil, diikuti sedan mewah yang dikendarai oleh Jill di belakangnya.
Kedua mobil tersebut meninggalkan kawasan pasar, tanpa tahu mata si kakek penjual buah mengikuti dengan pandangan yang sulit diartikan.
Sesaat kemudian seorang pria bersetelan rapi menghampiri kakek tersebut. "Tuan, satu jam lagi Anda ada pertemuan. Kita harus segera kembali."
Si kakek membuka topi lusuhnya dan menoleh pada pria muda yang tengah menunduk itu. Ia pun berdecak, "Astaga, kau tidak bisa membiarkanku bersenang-senang sebentar saja."
Tubuhnya berbalik dan mulai melangkah meninggalkan tempat, "Kembalikan gerobak itu pada pemiliknya. Katakan semua dagangannya sudah laku terjual," ucapnya sembari mengulurkan amplop tebal berisi gepokan uang. Jumlahnya bahkan melebihi harga sebenarnya.
Ia menoleh lagi ke belakang. Mobil Maria dan pengawal wanitanya sudah hilang di kejauhan. Lagi-lagi ia berdecak sembari menggeleng, "Aeuuhh ... mereka sama-sama sombong. Bocah itu tidak main-main rupanya. Dia benar-benar menikahi wanita itu."
Mata si kakek beralih pada pemuda yang merupakan asistennya. "Kenapa kau diam? Cepat berikan uang itu dan kembalikan gerobaknya."
"Tuan." Pemuda tersebut mengulurkan tongkat yang langsung diterima si kakek.
"Pergilah."
"Baik, Tuan."
Pemuda itu pergi menjalankan titah si kakek. Sementara si kakek sendiri berjalan santai dengan tongkatnya, meninggalkan keramaian. Mulutnya sesekali menggumamkan nyanyian. Kepalanya pun melenggak-lenggok mengikuti irama yang disenandungkan.
"Cucu durhaka ... Dia bahkan tak mengundangku ke pernikahannya ... Ho ho ho ..." Kalimat itu ia nyanyikan dengan nada asal.